“Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum. Ibrani 6:4-6

Kemurtadan (apostasi) secara ringkas berarti berpaling dari iman. Istilah Apostasi berasal dari kata Yunani apostasia (“ἀποστασία”) yang berarti pembelotan atau pemberontakan. Seorang yang murtad adalah orang yang pernah mengaku sebagai orang Kristen, tetapi telah meninggalkan Kekristenan secara permanen. Ini bisa dibayangkan seperti seorang anak yang hilang yang sudah kembali ke rumah bapanya, tetapi tidak mau bekerja dengan jujur, dan kemudian pergi menghilang untuk selamanya. Sang bapa sudah memberi segala sesuatu, baik bimbingan, dukungan, dan kesempatan kepada anak itu, tetapi ia memutuskan untuk tidak mau tunduk kepada bapanya.
Kemurtadan secara tegas merupakan perbuatan serong manusia yang berlawanan dengan iman yang menuntut kesetiaan orang Kristen kepada Yesus dalam hidupnya. Seorang murtad adalah orang yang pernah mengaku sebagai seorang pengantin Kristus, tetapi telah menanggalkan dan meninggalkan ikatan suci itu secara permanen.
Alkitab menggambarkan hal murtad seperti sebuah koin yang mempunyai dua sisi; namun, dalam kenyataannya ada orang Kristen yang terlalu menekankan pentingnya satu sisi saja. Di satu sisi, Alkitab memperingatkan orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus: Allah pada akhirnya tidak akan menyelamatkan mereka jika mereka tidak bertekun dalam iman dan melakukan perbuatan baik. Di sisi lain, Alkitab menghibur para pengikut Kristus yang sejati dengan kepastian: Allah melestarikan iman semua orang Kristen sejati sebagai jaminan abadi (dengan pemeliharaan-Nya) dan semua orang Kristen sejati akan bisa memakai iman itu (dengan ketekunan).
Kemurtadan, pelestarian, ketekunan, dan kepastian adalah empat konsep teologis berbeda yang saling berhubungan dalam hal iman. Sulit untuk membicarakan salah satu dari mereka tanpa membicarakan tiga lainnya. Tetapi kita perlu untuk menyadari bahaya kemurtadan. Apa yang terjadi jika pemberitaan gereja hanya menekankan pentingnya kepastian keselamatan dari Allah (dengan pelestarian-Nya)? Kalau ini terjadi, ada bahaya bahwa jemaat tidak akan mengerti perlunya orang Kristen sejati melanjutkan iman (dengan ketekunan) sampai mati.
Lalu bagaimana jika pemberitaan gereja terlalu mementingkan pentingnya ketekunan untuk hidup baik? Ada risiko bahwa jemaat gereja akan berlomba-lomba melalukan hal-hal yang dianggap dapat membeli keselamatan. Tetapi, kemungkinan ini secara logis tentunya lebih baik dari yang pertama jika kita benar-benar orang pilihan; karena dengan ketekunan kita nama Tuhan bisa dipermuliakan. Ini adalah satu hal yang harus diingat, terutama karena Yesus menyatakan bahwa moralitas kita harus lebih baik dari orang Farisi.
“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 5:20
Mengenai kemungkinan murtad, ada semacam ketegangan di seluruh Perjanjian Baru antara perlunya pesan Alkitab yang berisi peringatan dan penghiburan. Di satu sisi, Allah memperingatkan orang-orang yang mengaku beriman, bahwa pada akhirnya Ia tidak akan menyelamatkan mereka jika mereka tidak bertekun dalam iman dan perbuatan baik. Di sisi lain, Tuhan menghibur orang Kristen sejati, bahwa Dia akan memelihara mereka sampai akhir. Mengambil kedudukan yang seimbang antara kedua fungsi ayat Alkitab ini terkadang sulit dilakukan oleh mereka yang memilh salah satu dan merasa bahwa Tuhan sudah memberi pengertian yang paling benar.
Sisi 1: Tuhan akhirnya tidak akan menyelamatkan Anda jika Anda tidak bertekun dalam iman dan perbuatan baik
Martin Luther pernah berkata bahwa manusia diselamatkan hanya oleh iman saja, tetapi bukan oleh iman yang tidak menghasilkan perbuatan. Tidak semua orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus sebenarnya adalah pengikut Kristus (Matius 7:21–23). Apa yang tampak sebagai iman yang sejati bisa jadi sebenarnya palsu (Matius 13:1–23). Itulah sebabnya Alkitab berulang kali memperingatkan mereka yang mengaku Kristen untuk berhati-hati terhadap bahaya kemurtadan (misalnya, Yohanes 15:1–8; 1Korintus 15:1–2).
Bagian-bagian peringatan adalah sarana yang ditetapkan Allah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan Allah. Yaitu, mereka adalah salah satu cara Tuhan memastikan bahwa semua orang percaya sejati akan bertahan. Tetapi, peringatan-peringatan ini juga memberi gambaran bagaimana orang yang tidak benar-benar beriman akan gagal menghasilkan buah-buah yang baik selama hidupnya.
Sisi 2: Tuhan akan menjaga orang Kristen sejati sampai akhir
Seseorang yang pernah mengaku Kristen bisa menjadi murtad. Tetapi seorang Kristen sejati tidak bisa menjadi murtad. Mereka yang murtad dan meninggalkan persekutuan orang beriman, menunjukkan bahwa mereka tidak pernah menjadi orang Kristen sejati: “Mereka keluar dari kita, tetapi mereka bukan dari kita; karena jika mereka adalah dari kita, mereka akan terus bersama kita. Tetapi mereka keluar, agar menjadi jelas bahwa mereka semua bukan dari kita” (1Yohanes 2:19).
Allah memelihara semua orang Kristen sejati melalui pelestarian. Pelestarian (atau pengamanan kekal) adalah karya berdaulat Allah untuk memelihara semua orang Kristen sejati melalui iman sebagai jaminan keselamatan kekal (Yohanes 6:39). Semua orang yang benar-benar percaya memiliki keamanan kekal dan tidak dapat kehilangannya karena Allah itu setia dan mahakuasa. Semua orang Kristen sejati bertekun dalam iman. “Mereka tidak akan binasa sampai selama-lamanya” (Yohanes 10:28).
Itu tidak berarti bahwa orang Kristen sejati tidak pernah kehilangan iman mereka untuk sementara waktu, menentang Allah, atau berbuat dosa. Orang Kristen adalah pendosa~pendosa yang sudah bertobat, tetapi bukan orang yang sudah sempurna. Dalam hal ini, mereka yang mengaku Kristen harus berhati-hati dengan iman palsu. Merasa aman dengan jaminan palsu (bahwa setiap orang yang mengaku Kristen adalah orang pilihan) bisa berakhir dengan neraka, bertentangan dengan harapan mereka (Matius 7:21-23). Maka itu, mereka yang mengaku Kristen harus rajin meneguhkan panggilan dan pilihannya dengan memupuk kualitas iman, kebajikan, pengetahuan, pengendalian diri, ketabahan, kesalehan, kasih persaudaraan, dan kasih (2 Petrus 1:5–7, 10) . Orang Kristen harus memupuk “iman yang bekerja oleh kasih” (Galatia 5:6).
“Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya, Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.” Yudas 1:24-25