“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” Ibrani 13:17

Sejak 20an tahun yang lalu saya mengamati perubahan yang terjadi dalam hubungan antara jemaat dan pemimpin gereja di negara Australia. Jika pada masa sebelumnya, hubungan itu terlihat formal, sekarang makin banyak jemaat yang memperlakukan pendeta mereka sebagai teman. Memang di zaman ini banyak pendeta yang masih berusia muda, dan dari penampilan mereka kita mungkin tidak akan menduga bahwa mereka adalah seorang pemimpin gereja. Sebenarnya tidak ada masalah dalam hal ini, karena jika hubungan antara pendeta dan jemaatnya akrab, tentunya akan membawa kebaikan.
Mungkin jarang disadari bahwa sekalipun seorang pendeta menemui banyak orang dalam tugasnya, pelayanan bisa menjadi profesi yang sepi, karena itu adalah tugas berat yang sering harus dilakukan seorang diri. Tentu saja, kesepian merupakan masalah di seluruh masyarakat. Tetapi para pendeta menghadapi dilema yang unik, karena mencari tahu di mana ia bisa menemukan teman bisa sama sulitnya dengan membentuk hubungan itu. Mungkin mereka merasa jemaat tidak bisa berhubungan dengan mereka, dan sebaliknya anggota gereja dapat dengan mudah mengisolasi pendeta secara tidak sengaja.
Satu hal yang mulai berkurang pada zaman modern ini adalah rasa hormat kepada pimpinan gereja, terutama pendeta atau pastornya. Bagi banyak jemaat, mungkin para pimpinan gereja itu hanya orang-orang yang bekerja di gereja, seperti mereka yang bekerja di sebuah badan sosial. Apalagi, mereka sadar bahwa pendapatan pendeta bergantung pada dana gereja yang berasal dari uang persembahan jemaat. Jemaat sering lupa bahwa ada mereka adalah orang-orang yang ditentukan Tuhan sebagai gembala, dan ini tidak berubah sejak terbentuknya gereja pada zaman Perjanjian Baru.
Ayat di atas memberi tahu kita bahwa kita harus menaati dan menghormati pemimpin kita karena “mereka menjaga” jiwa kita. Para pemimpin Kristen yang saleh dan dewasa layak dan wajib kita hormati karena mereka adalah gembala-gembala yang memperhatikan pertumbuhan rohani kita. Kita harus sadar bahwa Yesus, Gembala besar kita yang Ilahi, menggunakan posisi-Nya untuk membantu kita bertumbuh menuju kedewasaan rohani melalui wakil-wakil-Nya yang ada di dunia.
“Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.” 1 Petrus 2:25
Seperti yang telah kita lihat dalam hidup banyak orang Krisen lainnya, salah satu cara kita menghormati gembala kita adalah dengan menjalani kehidupan ibadah yang tercermin dalam pujian kepada Allah dan pelayanan kepada sesama (Ibrani 13:15-16). Itu karena seorang gembala yang baik tentu mengharapkan jemaatnya untuk sepenuhnya taat kepada firman Tuhan. Ayat di atas menyatakan bahwa kita dipersiapkan oleh Tuhan untuk perjuangan iman dan menjalani kehidupan Kristen yang saleh, dengan menaati para pemimpin kita yang memberi bimbingan dalam pertumbuhan iman dan moral kita.
Sepanjang perjalanan kekristenan kita, kita mungkin sudah menghadapi banyak kesulitan dan pencobaan yang berusaha menjauhkan kita dari Yesus. Jika kita harus percaya pada usaha kita sendiri, tentu kita tidak akan pernah berhasil. Jika tidak karena kasih karunia Allah yang menopang, yang menjadi milik kita melalui kehendak-Nya, kita tidak akan bisa bertahan sampai akhir. Dalam hal ini, kasih karunia Allah bisa dinyatakan dalam berbagai bentuk, antara lain berupa gembala gereja yang melayani jemaatnya.
Allah telah menetapkan bahwa selagi Dia menjamin ketekunan kita, kita dipanggil untuk bergantung kepada Yesus; itu berarti bahwa ketekunan terjadi melalui keputusan-keputusan kita. Ketekunan bukanlah secara otomatis datang kepada setiap orang percaya. Allah memastikan keselamatan akhir bagi semua umat pilihan-Nya, tetapi Ia melakukan ini dengan menetapkan dan kemudian memberikan sarana yang dengannya umat pilihan-Nya membuat keputusan untuk tetap dalam iman yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Tuhan berdaulat, tetapi manusia harus bertanggung jawab atas hidupnya. Karena itu, menghormati gembala kita adalah tanggung jawab kita jika kita sadar akan perintah Tuhan. Tuhan memastikan bahwa kita akan membuat keputusan ini dengan memberi kita hati yang mau menuruti nasihat-Nya. Setelah Dia secara berdaulat melahirkan kita kembali, kita menerima keinginan untuk menaati perintah-Nya dan menguatkan diri kita untuk perlombaan yang akan datang (Ibrani 12:12-13).
Jelas bahwa kita harus menaati para pemimpin gereja yang menjaga jiwa kita. Sayangnya, ada banyak orang yang menjadi pemimpin di gereja yang tidak memiliki kepedulian terhadap kawanan domba mereka, dan berada dalam posisi mereka hanya untuk kekuasaan atau untuk ketenaran. Banyak tokoh gereja yang mahir berdebat, tetapi tidak mempunyai hati untuk pertumbuhan kerohanian jemaatnya. John Calvin, dalam komentarnya pada ayat ini, mengingatkan kita bahwa pemimpin yang seperti itu tidak pantas dihormati atau dipercaya. Pemimpin yang patut dihormati adalah orang yang taat kepada ayat ini:
“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Markus 10:43-45
Namun, kita tidak boleh membiarkan ayat ini membuat kita berharap bahwa para pemimpin kita sempurna. Selain Yesus, tidak ada hamba Allah yang sempurna. Ketika kita melihat pemimpin gereja yang saleh dan peduli, kita harus mengabaikan kesalahan kecil yang mungkin ada (ini membuktikan bahwa kita adalah manusia) dan tunduk pada bimbingan mereka. Karena dengan tunduk kepada mereka, kita menunjukkan bahwa kita tunduk kepada Kristus.
Seperti orang lain, seorang pendeta membutuhkan teman. Dan masuk akal jika ia menemukan teman dalam satu kelompok yang paling sering dijumpainya. Di sisi lain, persahabatan bisa menjadi rumit. Apakah ada risiko dalam berteman dengan orang-orang yang selalu sependapat dengan dia? Haruskah pendeta menjadi teman dekat anggota gerejanya saja?
Salah satu jawaban adalah bahwa pendeta dapat dan harus mencari persahabatan di antara jemaatnya. Yang lainnya adalah bahwa seorang pendeta dapat melayani jemaatnya dengan lebih baik jika ia mau mencari teman dekat di tempat lain dan belajar dari tokoh-tokoh gereja lain sekalipun mereka berbeda pendapat dalam banyak hal. Ini karena tidak ada hal yang sempurna di dunia ini, dan itu termasuk pengertian kita atas firman Tuhan. Pada akhirnya, mungkin tidak ada jawaban yang cocok untuk semua keadaan. Tapi mempertimbangkan pertanyaan ini dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih tepat tentang bagaimana kita bisa mendukung pendeta kita dalam pelayanannya.
Sebagai jemaat, kita harus prihatin jika pendeta kita terlihat kurang gembira dalam pelayanannya, dan mempunyai banyak keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagi jemaat. Ada kalanya, pendeta mengalami masalah ekonomi, masalah keluarga, masalah dengan organisasi gereja atau masalah dengan gereja atau pendeta lain. Itu akan terlihat dari pelayanannya yang mungkin terasa terpusat pada beberapa hal yang spesifik saja, yang mrngkin merupakan pencetusan pengalaman pribadinya.
Gereja adalah tempat yang tepat bagi orang-orang untuk saling menguatkan, menyemangati, mengasah pikiran dan mendoakan satu sama lain. Karena itu kita harus mau membina hubungan kita satu dengan yang lain untuk bisa mendukung, menasihati, dan menegur berdasarkan firman Tuhan.
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3:16
Kita memahami bahwa persahabatan bisa rumit. Tetapi hubungan apa pun bisa menjadi berat dengan masalah dan ketegangan. Pikirkan tentang mereka yang perlu dilayani. Anda sering melihat mereka dalam keadaan terburuk, ketika mereka sangat membutuhkan bantuan kerohanian dari pendeta. Jika seorang pendeta hanya sibuk dengan apa yang ada dalam hidupnya, dan memusatkan pikiran dan tenaga untuk mencetuskan apa yang ada dalam pikirannya saja, ia akan kurang dapat melayani kebutuhan jemaatnya dari hati ke hati. Tingkat kerentanan itu dapat menciptakan kegelisahan dan ketidaknyamanan dalam kehidupan jemaat sehari-hari.
Pagi ini, firman Tuhan menyatakan bawa kita harus menghormati para pemimpin gereja kita. Kita harus mendukung mereka dan menggiatkan hubungan persahbatan yang baik dengan mereka, sehingga kita bisa menyokong, menolong, menasihati dan menegur jika perlu. Kita harus bisa ikut merasakan pergumulan mereka baik secara jasmani maupun rohani. Kita harus peka akan apa yang mungkin menjadi masalah yang mereka hadapi dan bersedia untuk menolong. Hilangnya kesabaran, kelemahlembutan dan munculnya kemarahan dan keluh kesah pada diri mereka, baik di luar gereja maupun didalam gereja, bisa menunjukkan adanya masalah. Sebagai jemaat kita harus mau menolong mereka, agar mereka dapat melakukan tugasnya dengan baik dan memberitakan Injil agar makin banyak orang yang diselamatkan.