Menjadi bijak di masa depan

“Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” Amsal 19: 20

Sepandai-pandainya manusia, mereka hanya bisa menduga-duga apa yang akan terjadi di masa depan, dan mencoba-coba mencari jalan keluar dari kesulitan yang sekarang ada. Dalam hal ini, mereka yang bijaksana akan mau belajar dari keadaan dan dari orang lain agar bisa mengambil keputusan yang terbaik. Ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan.

Kepercayaan pada diri sendiri yang semakin besar sesuai dengan bertambahnya usia, seringkali bisa membuat orang tidak merasa perlu untuk mendengarkan pendapat atau nasihat orang lain. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak tokoh dunia yang dikenal sebagai orang yang tidak pernah belajar dari orang lain dan tidak mau menerima nasihat para pembantunya. Orang yang sedemikian mungkin selalu merasa bahwa ia adalah orang yang selalu benar dan merasa bahwa orang lain selalu salah.

Kapankah orang harus mau menerima nasihat orang lain? Perlukah seseorang menerima nasihat dan didikan sepanjang hidupnya? Ayat di atas kelihatannya memang lebih cocok diterapkan pada kaum muda, tetapi sebenarnya juga berlaku untuk setiap orang yang masih mempunyai masa depan. Jika masa depan masih ada, tentunya setiap orang seharusnya ingin untuk menjalani hidup yang ada dengan kebijaksanaan, dan itu tentunya harus didapat dari nasihat dan didikan orang lain.

Mereka yang lebih muda bisa belajar dari yang lebih tua karena pengalaman yang dipunyai mereka, tetapi yang lebih tua pun harus mau belajar dari yang lebih muda karena mereka mempunyai pendidikan yang lebih relevan untuk zaman sekarang. Ini berbeda dengan adat istiadat kuno di mana orang yang lebih muda harus selalu belajar dari yang lebih tua, yang merasa sudah tahu tentang segala hal.

Bagi setiap orang yang masih mempunyai masa depan, selalu ada yang harus dipelajari setiap hari. Dengan demikian, hampir semua manusia yang masih bisa menggunakan pikirannya seharusnya mau mempertimbangkan nasihat dan didikan orang lain supaya bisa menghadapi masa depan dengan baik. Bagi umat Kristen, ini juga berarti mau mendengarkan nasihat dan didikan berdasarkan firman Tuhan dari saudara-saudara seiman selama masih hidup di dunia.

Masa depan bagi kita adalah masa di mana kita masih dapat hidup untuk memuliakan Tuhan. Tetapi, setiap hal yang terlihat baik untuk masa depan, belumlah betul-betul baik untuk dilaksanakan jika itu tidak sejalan dengan apa yang ditulis dalam Alkitab. Dengan demikian, umat Kristen tidak hanya harus mau dengan rendah hati mendengarkan pendapat dan nasihat orang lain, tetapi juga mau mendalami firman Tuhan sehingga apa yang nantinya dilaksanakan tidaklah menyalahi perintah Tuhan.

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Dalam kenyataannya, sesukar-sukarnya orang mendengarkan nasihat dan didikan orang lain, masih lebih sulit untuk mau mendengarkan nasihat dan didikan Tuhan. Seringkali orang Kristen menghindari nasihat dan didikan Tuhan yang ada dalam Alkitab karena dianggap sudah kurang sesuai dengan keadaan zaman sekarang. Tambahan lagi, mereka mungkin cenderung memilih firman yang dirasa bisa mendukung pandangan hidup sendiri. Dalam hal ini, ada orang Kristen yang segan untuk menerima nasihat dan didikan Tuhan karena mereka malas untuk belajar, tidak mau dihalangi, atau tidak ingin diingatkan bahwa apa yang diperbuat mereka adalah tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Mereka yang kurang mau menekankan pentingnya hidup baik sering kali adalah mereka yang sangat menekankan kenyataan bahwa Tuhan memilih umat-Nya semata-mata karena kehendak-Nya, bukan karena kebaikan manusia. Ini tentu saja adalah kebenaran karena tidak ada seorang pun yang layak di hadapan Tuhan. Walaupun demikian, kita harus sadar bahwa Tuhan yang menghendaki kita untuk diselamatkan, adalah Tuhan yang juga menghendaki kita untuk tunduk kepada hukum, firman dan bimbingan-Nya. Kehendak-Nya secara khusus sudah dinyatakan dalam Alkitab, dan kita tidak dapat mengingkarinya.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa selama kita masih hidup dan bisa memikirkan langkah kehidupan kita, masa depan masih ada. Masa depan adalah hidup yang harus diisi dengan segala yang baik dan sesuai dengan firman Tuhan. Jika kita segan mempelajari apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita, kita tidak akan dapat memperoleh nasihat dan didikan yang benar. Dengan itu kita akan kehilangan kesempatan untuk menjadi bijak di masa depan. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang tidak mau belajar dari firman Tuhan akhirnya menjadi orang yang bodoh di mata Tuhan dan kemudian menjadi orang yang tidak mempunyai masa depan yang baik.

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan. Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” 1 Tesalonika 5:21-23

Dosa yang bisa membinasakan kita

“Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa.” 1 Yohanes 5:16

Salah satu kepastian sebagai umat Tuhan adalah keyakinan bahwa doa kita akan didengar dan dijawab dengan tegas oleh Tuhan ketika kita meminta sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya (Matius 7: 7-8). Dalam perikop hari ini, Yohanes berbicara tentang doa, memberi tahu kita apa yang bisa kita yakini saat kita saling mendoakan.

Secara khusus, Yohanes memberi tahu kita bahwa jika kita berdoa untuk keselamatan seorang saudara yang melakukan dosa yang tidak membawa maut, Allah akan memberikannya kepada dia. Di sisi lain, ada dosa yang menyebabkan kematian, dan meskipun Yohanes tidak benar-benar melarang berdoa untuk saudara yang melakukannya, bahasanya menunjukkan bahwa kita tidak perlu merasa adanya keharusan untuk mendoakan mereka yang melakukan dosa yang menyebabkan kematian.

Apakah dosa yang menyebabkan kematian, dan apakah dosa yang tidak menyebabkan kematian? Kalau kita tidak tahu apa arti kedua dosa itu, kita bisa-bisa tidak mendoakan mereka yang seharusnya didoakan, atau mendoakan mereka yang tidak perlu didoakan. Dan jika masa depan mereka sudah ditentukan, kita tidak perlu mendoakan mereka. Selain itu, apakah kita juga perlu berdoa terus menerus untuk keselamatan kita sebagai orang yang tidak melakukan dosa yang tidak membawa kebinasaan? Bagaimana kita tahu bahwa seseorang atau kita sendiri tidak melakukan dosa yang membawa maut?

Sebagian orang Kristen mengambil cara yang mudah untuk memisahkan dosa yang membawa kematian dari dosa yang tidak membawa kematian. Mereka mendefinisikan dosa yang tidak membawa kematian adalah dosa apa pun yang dilakukan oleh orang pilihan, sedangkan dosa yang sama jika dilakukan oleh orang bukan pilihan akan membawa kematian. Mereka sendiri merasa yakin bahwa Tuhan sudah memilih untuk diselamatkan, sekalipun masih melakukan berbagai macam dosa yang tidak perlu dipisahkan dalam dua jenis.

Pendapat sedemikian agaknya kurang mementingkan adanya dosa tertentu yang dalam ayat di aas, yang bisa menyebabkan amarah Tuhan yang tidak terpadamkan, dan karena itu harus dihindari semua orang Kristen. Selain itu, pendapat ini menunjukkan bahwa Tuhan bukanlah Oknum Ilahi yang mahaadil jika Ia mengizinkan orang pilihan untuk terus berbuat dosa. Kita harus menyadari bahwa ketika umat manusia menghadapi pengadilan Tuhan, tidak ada seorang pun yang bisa menuduh Tuhan tidak adil karena menerima hukuman Tuhan yang tidak sesuai dengan kejahatannya. Sesuatu yang jahat dan mematikan itu haruslah bisa didefinisikan, karena jika tidak, kita akan tidak merasa tenteram (apalagi kalau didoakan orang lain), karena kita tidak tahu apakan kita sendiri melakukan dosa yang membinasakan.

Jelas bahwa hal ini adalah perikop yang sangat sulit, terutama karena tidak jelas apa sebenarnya yang Yohanes maksudkan dengan dosa yang membawa maut. Yohanes sama sekali tidak membahas soal orang pilihan atau tidak, tetapi ia menyebut adanya dua macam dosa. Kematian yang dibicarakan sudah tentu mengacu pada kematian kekal; dengan demikian, sepertinya Yohanes mengerti bahwa setidaknya ada satu dosa yang tidak dapat diampuni. Berbagai kemungkinan untuk dosa ini telah dikemukakan oleh para teolog, seperti penghujatan Roh Kudus yang tidak dapat diampuni dan yang disebutkan oleh Yesus sendiri (Markus 3:28-30). Penafsir Alkitab yang lain menyebutkan bahwa dosa yang khusus itu adalah penolakan terus-menerus untuk menerima Injil. Meskipun sulit dipastikan, berbagai kemungkinan ini tidak dapat dipisahkan secara tegas.

Penghujatan terhadap Roh Kudus umumnya dipahami sebagai penolakan manusia yang disengaja atas pekerjaan Roh Kudus dalam mengajak dia untuk menerima Yesus, terutama jika orang itu sebenarnya tahu siapakah Yesus itu. Kemurtadan manusia (apostasis) yang tidak mau menerima Yesus dan kebenaran-Nya sampai mati tentu memenuhi syarat kategori ini, karena kemurtadan hanya dapat dilakukan oleh mereka yang sudah memiliki pengetahuan tentang kebenaran tetapi sengaja menolaknya. Penghujatan seperti itu secara alami akan menghasilkan hati yang tidak mau menanggapi Injil dengan iman, sekalipun orang itu terlihat dari luar sebagai orang percaya. Istilah apostasi berasal dari kata Yunani apostasia (“ἀποστασία“) yang berarti pembelotan atau pemberontakan. Istilah ini juga digambarkan sebagai “sengaja”, atau memberontak melawan kebenaran Kristen.

Jika kita pikirkan dalam-dalam, implikasi nyata Yohanes bahwa seorang saudara dapat melakukan dosa ini tidak berarti bahwa orang Kristen tidak dapat murtad. Istilah “saudara” dapat digunakan untuk setiap orang yang mengaku Kristen, apakah orang tersebut memiliki iman yang menyelamatkan atau tidak. Jelas Yohanes mengetahui bahwa orang percaya sejati tidak akan melakukan dosa yang membawa maut. Meskipun kita bukanlah orang yang tidak bisa berbuat dosa, sebagai orang percaya yang sejati, kita tidak akan terus melakukan dosa tertentu secara sadar dan terus menerus, dan tidak pernah bertobat, sehingga dosa itu mengarah pada pengerasan hati sampai mati.

Firman Tuhan mengingatkan kita untuk meneliti hidup kita untuk tidak mengabaikan dosa-dosa tertentu yang kita sengaja lakukan dengan kepercayaan bahwa kita tidak melakukan apa yang melanggar kebenaran Tuhan. Jika kita melihat hal yang sedemikian diperbuat orang-orang lain, mumgkin kita merasa bahwa mereka sudah melakukan dosa yang mendatangkan maut. Tetapi, karena kita yang melakukannya kita dengan mudah menampik keserupaan kita dengan mereka, karena kita merasa sudah tergolong orang pilihan. Memang firman Tuhan berkata bahwa kita yang sudah lahir baru, menerima perlindungan Yesus dari ancaman iblis. Tetapi, itu bukan berarti bahwa kita tidak bisa dengan kehendak diri sendiri menjadi orang yang melakukan apostasis tanpa menyadarinya.

Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya. 1 Yohanes 5:18

Alkitab menyatakan bahwa apostasi akan semakin bertambah buruk seiring waktu kedatangan Kristus yang mendekat. Matius 24: 10 menyatakan bahwa “banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang.” Paulus menekankan kembali perkataan Yesus di dalam tulisan-tulisannya yang diilhamkan oleh Allah. Rasul Paulus berkata kepada jemaat di Tesalonika bahwa kemurtadan yang luar biasa akan mendahului kedatangan Yesus yang kedua (2 Tesalonika 2:3) dan pada akhirnya akan ditandai dengan masa tribulasi dan munculnya nabi-nabi palsu. Masa tribulasi itu adalah masa yang akan menjadi titik akhir bagi Allah mendisplinkan bangsa Israel dan sekaligus menjadi titik permulaan bagi Allah untuk menghakimi seisi dunia.

“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!” 2 Timotius 3:1-5

Pagi ini marilah kita lebih berhati-hati dengan penerapan ibadah kita, sebagai orang Kristen sejati. Ini sangatlah penting, terutama di masa-masa sekarang, yang menjadi lebih penting daripada masa sebelumnya. Setiap orang-percaya harus berdoa untuk mendapatkan hikmat, supaya bisa menghindari apostasi dan berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang pilihan Allah. Janganlah keyakinan atas predikat umat pilihan justru membuat kita terlena dan jatuh!

Apa yang dilakukan Allah membuktikan kemahakuasaan-Nya

“Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia” Pengkhotbah 3:14

Bagaimana seseorang bisa menyadari adanya Allah? Ini adalah pertanyaan yang sulit dijawab oleh sebagian orang. Tetapi, ada banyak orang yang sadar bahwa Allah ada karena melihat berbagai karya-Nya. Roma 1:20 menyatakan bahwa “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. ” Manusia yang tidak dapat melihat Allah yang mahakuasa, dapat melihat pikiran dan karya Allah melalui segala yang dikerjakan-Nya. Itu jika mata mereka dicelikkan oleh Roh Kudus; sebab sekalipun semua itu nyata, tidak semua orang percaya bahwa itu dilakukan oleh Allah.

Ayat di atas bukan menyangkut semua hal yang terjadi dalam hidup kita, dan karena itu, memakai ayat itu dalam pengertian fatalis adalah keliru. Allah tidak bertanggungjawab atas cara hidup, dosa dan kejahatan manusia di dunia, dan Allah tidak memaksa manusia untuk melakukan sesuatu (Lihat Pengakuan Wesminster Bab 3 Poin 1). Ayat di atas adalah tentang apa yang dikehendaki Allah dan sudah dinyatakan-Nya kepada manusia, karena apa yang belum atau tidak dinyatakan kepada manusia tentunya tidak dapat dilihat atau dirasakan mereka. Di antara semua yang sudah dinyatakan Allah adalah penciptaan alam semesta, apa yang terjadi dalam alam semesta, dan apa yang sudah tertulis dalam Alkitab. Tetapi apa yang terbesar dari segala yang sudah dilakukan Allah adalah mengirim Anak-Nya ke dunia, sehingga barangsiapa percaya kepada-Nya tidak akan binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Ketika Tuhan sudah menghendaki sesuatu, maka sesuatu itu akan tetap ada untuk selama-lamanya. Ketetapan dan keputusan Tuhan tetap berlaku dan tidak akan pernah berubah. Itulah kesaksian iman dalam Pengkotbah 3:14. Melalui ayat ini kita akan mendapatkan nilai kebenaran yaitu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya bahkan tidak dapat ditambah atau dikurangi. Hal ini pada umumnya disebut kehendak Tuhan. Apa yang dikehendaki Tuhan tidak bisa diubah, dengan demikian manusia diharapkan untuk memiliki rasa takut akan Tuhan.

Untuk pengertian kita, sebenarnya kehedak Tuhan itu bisa dibagi menjadi tiga macam:

(a) Kehendak mulak: yaitu dekrit yang berdaulat, kehendak yang dengannya Allah mewujudkan apa pun yang Dia tetapkan. Ini tersembunyi bagi kita sampai itu terjadi. Jika itu sudah dinyatakan kepada manusia, mereka tidak bisa mengabaikannya dan seharusnya mempunyai rasa takut kepada Allah dan kebesaran-Nya. Banyak hal yang terjadi dalam alam semesta berasal dari penetapan mutlak-Nya.

(b) Kehendak preseptif: adalah hukum atau perintah Allah yang diwahyukan, untuk mana kita bisa mengabaikan, tetapi tidak membatalkan. Isi Alkitab tidak bisa diubah, tetapi manusia bertanggungjawab untuk meresponi kehehendak-Nya.

(c) Kehendak watak: kehendak yang menggambarkan sikap atau watak Allah. Ini mengungkapkan apa yang berkenan kepada-Nya. Ini pun sesuatu yang bisa diaabaikan orang. Setiap manusia bertanggungjawab atas apa yang diyakininya dalam pengertian akan karakter Tuhan yang mahakuasa, mahasuci dan mahakasih.

Adalah kelemahan manusia bahwa sampai sekarang manusia ingin mengetahui apa kehendak mutlak Tuhan, yang tidak bisa mereka ketahui sampai saat Tuhan menyatakan hal itu. Manusia terobsesi dengan apa yang akan terjadi sehingga sebagian ingin melaksanakan rencananya secepat-cepatnya agar dapat memperoleh hasilnya. Tetapi, ada orang-orang yang tidak mau atau tidak bisa melaksanakan rencana mereka sebelum ada “kepastian” bahwa itu adalah apa yang dikehendaki Tuhan. Sebaliknya ada orang-orang yang merasa tahu apa kehendak mutlak Tuhan sehingga mereka yakin untuk berhasil. Semua itu adalah pandangan yang kurang benar karena tidak ada seorang pun yang tahu apa yang secara mutlak dikehendaki-Nya, sampai itu terjadi.

Sebagian orang sadar akan adanya Tuhan karena Tuhan sudah bekerja dalam hidupnya. Itu terjadi melalui berbagai pengalaman luar biasa yang dialaminya, seperti apa yang terjadi pada Paulus yang bertobat setelah menjumpai Tuhan dalam perjalanan ke Damaskus. Baik pengalaman pahit maupun manis bisa membuat orang sadar bahwa Tuhan yang membuatnya untuk menunjukkan kuasa-Nya sehingga terbentuk rasa takut akan Dia. Ini bukan berarti bahwa Tuhan yang membuat segala yang terjadi pada hidup sesorang, karena sebab-sebab sekunder yang berasal dari manusia dan seisi alam semesta bisa terjadi pada hidup seseorang yang dimungkinkan oleh Tuhan untuk terjadi. Jika seorang mengalami musibah karena perbuatannya sendiri, ia tentu saja tidak dapat menyalahkan Tuhan; sekalipun ia patut merasa takut kepada Tuhan yang membiarkan itu terjadi pada dirinya.

Dengan demikian, apa yang kita lakukan sehubungan dengan kehendak Tuhan (b) dan (c) adalah tanggung jawab dalam kebebasan kita untuk menaati dan menghormati Tuhan. Jika kita tidak mau tunduk kepada (b) dan (c), kita telah berbuat dosa. Banyak contoh di Alkitab yang menunjukkan manusia yang mengalami berbagai masalah karena tidak mau melaksanakan apa yang dituntut oleh kehendak Tuhan dalam bentuk (b) dan (c). Ini jelas terlihat dalam perbuatan Adam dan Hawa di taman Eden, ketika mereka melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buan terlarang (Kejadian 3: 3).

Ayat di atas secara tidak langsung menyatakan bahwa manusia boleh dan bisa merencanakan segala hal, tetapi harus sadar bahwa rencananya akan berhasil jika itu sesuai dengan seluruh kehendak Tuhan. Sebaliknya, jika manusia tidak mau membuat rencana, apa yang kemudian terjadi mungkin tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Kita harus sadar bahwa kita tidak dapat melawan kehendak mutlak Tuhan. Karena itulah takut akan Tuhan akan memberi kita kebijaksanaan dalam melangkahkan kaki kita selama hidup di dunia. Jika kita percaya kepada Tuhan yang mahakuasa, kita akan selalu mencari semua kehendak-Nya yang sudah dinyatakan kepada semua umat-Nya sebelum kita bertindak.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat kita melangkah, tetapi sebagai ciptaan-Nya yang bertanggung jawab kita harus melangkah dengan rasa takut kepada Dia. Jika kita melangkah sesuai dengan firman dan sifat keilahian-Nya, Tuhan akan memakai kita dan membimbing kita untuk mencapai apa yang direncanakan-Nya.

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Roma 11:36

Lemah lembut bukan berarti lemah

“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” Matius 5: 5

Suatu hal yang dapat kita lihat dari pertumbuhan jasmani seorang bayi ialah adanya perubahan yang terjadi pada kekuatan tubuhnya. Pada saat baru dilahirkan, seorang bayi kebanyakan hanya bisa tidur dan kalau merasa lapar, ia akan bangun dan menangis. Tetapi, setelah beberapa bulan, ia mulai bisa tetap bangun untuk beberapa jam dan malahan ingin bermain setelah diberi minum.

Seorang manusia akan bertumbuh makin kuat secara badani hinga mencapai umur sekitar 25-30 tahun, dan kemudian menurun kemampuannya. Jika otak Anda mencapai kemampuan maksimum sekitar umur 20 tahun, otot Anda paling kuat ketika Anda berusia 25 tahun. Meskipun demikian, untuk 10 atau 15 tahun ke depan Anda akan bisa mempertahankan kekuatan fisik jika Anda mau melatih tubuh Anda dengan berolahraga. Setiap manusia pada umumnya mulai menurun kekuatan fisiknya setelah melewati umur 40 tahun, tetapi mungkin ia bisa lebih kuat dalam hal kemampuan mentalnya, karena berbagai pengalaman yang diperolehnya.

Ayat Matius 5: 5 diatas nampaknya sederhana, tetapi seringkali menjadi pertanyaan orang percaya. Didalam dunia yang penuh persaingan ini, nampaknya sulit dimengerti bagaimana orang yang lemah lembut bisa menmperoleh keberhasilan dan kemenangan atas mereka yang vokal dan agresif. Apalagi dikatakan bahwa orang yang lemah lembut akan memiliki bumi tempat dimana mereka berada.

Bertentangan dengan ayat diatas, beberapa filsuf pernah mengatakan bahwa kelemahlembutan tidak mungkin bisa mencapai kesuksesan di dunia ini. Menurut mereka, hanya yang kuat dan yang bisa menekan orang lain akan menang. Orang yang tidak menunjukkan kekuatannya tidak mungkin bisa menundukkan orang lain. Mana yang benar?

Dalam kenyataan hidup kita, penampilan yang lemah lembut itu belum tentu menunjuk kepada orang yang lemah.  Seperti peribahasa “Air tenang menghanyutkan” kita bisa mengerti bahwa seorang yang pendiam belum tentu kurang bisa, justru orang pendiam sering mampu melakukan  pekerjaan yang hebat. Peribahasa senada dalam bahasa Inggris, “Still waters run deep”  yaitu “Air yang tenang menunjukkan kedalaman”, dapat diartikan sebagai “Orang yang pendiam dan halus tampak luarnya, sering mempunyai karakter yang baik dan kemampuan yang hebat”.

Adalah kenyataan hidup bahwa tiap -tiap orang mempunyai karakternya sendiri sejak dilahirkan.  Karakter manusia memang bermacam-macam dan tidak selalu bisa dilihat dari penampilan luarnya. Tetapi  orang Kristen yang benar akan mempunyai karakter baru yang bisa terlihat dari luar karena pekerjaan Roh Kudus dalam hidupnya. Karakter baru, luar dan dalam.

 “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Setelah seseorang menerima Yesus sebagai juruselamatnya, perubahan hidup harus terjadi dan sifat-sifat dan cara hidup yang lama akan perlahan-lahan diisi dengan hal-hal yang baik seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Galatia 5:22). Jadi, dari apa yang kelihatan dari hidup seseorang,  kita akan dapat mengenali apakah orang itu sudah menjadi “air tenang yang dalam”. Orang yang bukan hanya terlihat sabar dan lemah lembut, tetapi juga mempunyai banyak sifat-sifat lain yang baik, yang tumbuh karena mereka berlatih setiap hari.

“Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9: 25-27

Memang agaknya dunia sering lebih memihak kepada mereka yang bisa memaksa dan menindas orang lain secara fisik maupun mental. Tetapi, kita tahu bahwa orang yang demikian hidupnya seringkali tidak tenang atau damai. Sejarah membuktikan bahwa kekacauan di berbagai gereja dan negara, dan bahkan peperangan di dunia sering disebabkan oleh ulah dan ambisi para pemimpin. Sebaliknya,  masyarakat yang hidup damai dan bersatu pada umumnya disebabkan oleh adanya pemimpin yang baik yang bisa mengayomi anak buahnya. Bukan seorang diktator.

Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang bisa mengendalikan hidupnya sendiri dan hidup dalam kedamaian sehingga tidak ada keraguan diantara mereka yang disekelilingnya. Seorang pemimpin dihormati bawahannya karena ia seperti “air tenang yang menghanyutkan”. Apapun kedudukan dan tugas kita, adalah panggilan bagi kita untuk menjadi orang yang lemah lembut. Kelemahlembutan tidak sama dengan kelemahan. Yesus adalah contoh pemimpin yang baik, karena Ia mempunyai kesabaran dan kelemahlembutan yang membungkus kekuasaan Ilahi-Nya. Kita harus belajar dari Dia.

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Matius 11: 29

Dalam hidup berkeluarga, dalam bekerja, dalam bermasyarakat, juga dalam bergereja dan bernegara, mereka yang mau memperoleh lingkungan yang mendukung mereka, haruslah bisa menjadi orang yang lemah lembut. Sesuai dengan Matius 5: 5, kelemahlembutan yang didasari kasih akan membawa keberhasilan di “bumi” mana pun, dimana pun kita berada. Semoga hidup baru kita bisa terlihat oleh orang disekitar kita yang bisa menyadari bahwa sekalipun kita nampak sebagai air yang tenang, kuasa Tuhan yang besar ada bersama kita!

Rasa takut yang bisa menghilangkan ketakutan

Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.” Mazmur 25: 12

“Ketakutan adalah respons untuk kelangsungan hidup kita,” kata seorang psikolog. Beberapa orang – penggemar roller-coaster dan penggemar film horor – menikmatinya, sementara orang lain menghindarinya. Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa bisa begitu?

Ketakutan dialami dalam pikiran Anda, tetapi memicu reaksi fisik yang kuat dalam tubuh Anda. Segera setelah Anda mengenali rasa takut, amigdala Anda (organ kecil di tengah otak Anda) mulai bekerja. Ini mengingatkan sistem saraf Anda, yang membuat respons ketakutan tubuh Anda bergerak. Hormon stres seperti kortisol dan adrenalin dilepaskan. Tekanan darah dan detak jantung Anda meningkat. Anda mulai bernapas lebih cepat. Bahkan aliran darah Anda berubah – darah benar-benar mengalir dari jantung Anda ke anggota tubuh Anda, sehingga lebih mudah bagi Anda untuk mulai melawan, atau melarikan diri demi hidup Anda. Tubuh Anda sedang bersiap untuk mermpertahankan kelangsungan hidup Anda.

Saat beberapa bagian otak Anda berputar, yang lain mati. Ketika amigdala merasakan ketakutan, korteks serebral (area otak yang mengatur penalaran dan penilaian) menjadi terganggu — jadi sekarang sulit untuk membuat keputusan yang baik atau berpikir jernih. Akibatnya, Anda mungkin berteriak dan melarikan diri saat didekati oleh seorang yang bertopeng di rumah hantu, karena tidak dapat merasionalisasi bahwa ancaman tersebut tidak nyata.

Tetapi mengapa orang-orang yang menyukai roller coaster, rumah hantu, dan film horor bisa menikmati saat-saat yang menakutkan dan menegangkan itu? Karena sensasinya belum tentu berakhir saat atraksi atau film berakhir. Melalui proses transfer eksitasi, tubuh dan otak Anda tetap terangsang bahkan setelah pengalaman yang menakutkan berakhir. Selama pengalaman ketakutan secara bertahap, otak Anda akan menghasilkan lebih banyak zat kimia yang disebut dopamin, yang menimbulkan rasa senang.

Ketakutan adalah emosi manusia yang kompleks yang bisa positif dan sehat, tetapi juga bisa berdampak negatif. Takut akan Allah adalah kondisi alami dan biologis yang seharusnya kita punyai. Penting bagi manusia untuk merasa takut kepada oknum Ilahi yang menciptakan mereka. Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, mereka takut akan Tuhan karena sadar akan konsekuensinya. Sebaliknya, Daud merasa tenteram sekalipun dalam ancaman bahaya, karena adanya kesadaran bahwa Tuhan yang nyata dan mahakuasa, adalah Tuhan yang melindungi-Nya.

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

Jelas bahwa kebahagiaan umat Kristen bergantung pada pandangan hidup mereka. Mereka yang selalu berpikir negatif tentang dirinya sendiri, yang selalu merasa bersalah di hadapan Tuhan, yang selalu merasa bahwa Tuhan adalah penyebab penderitaan mereka, akan mengalami masa depan yang suram. Tetapi mereka yang menyadari bahwa Tuhan adalah mahakasih dan maha pengampun, akan menemukan kebahagiaan dalam hidup di dunia. Pada pihak yang lain, mereka yang selalu berpikir positif tentang dirinya sendiri, yang selalu merasa benar atau bebas di hadapan Tuhan, akan menemui masa depan yang suram; tetapi mereka yang menyadari bahwa Tuhan adalah mahasuci dan mahakuasa, akan menemukan kebahagiaan dalam hidup kudus yang bersandar pada anugerah pengampunan dan keselamatan yang sudah mereka terima.

Bagaimana kita bisa mempunyai pandangan hidup yang benar? Ajaran “positive thinking” sekarang populer di kalangan kaum motivator yang mencari penghasilan dari menjual nasihat yang nampaknya bijaksana kepada orang lain. Memang mereka yang berusaha untuk membangkitkan semangat orang lain, tentunya tidak memberikan nasihat yang bernada suram. Selain motivator, banyak juga pendeta dan penginjil populer yang menyuarakan hal yang sama: kita bisa menjadi orang yang berhasil, apa saja, jika kita percaya. Jika kita berani bertindak, Tuhan akan menyertai kita.

Positive thinking adalah baik, jika ditinjau dari segi psikologi. Tetapi itu belum tentu sesuai dengan iman Kristen. Iman Kristen memang menyangkut cara berpikir positif, tetapi yang bukan berasal diri kita sendiri; bukan dengan keyakinan bahwa kita adalah baik, cantik, mampu, bijak dan kuat. Tetapi, orang Kristen berpikir positif dengan percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa mengasihi semua anakNya, dengan tidak memandang siapa mereka dan bagaimana keadaan mereka. Orang Kristen juga percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa senantiasa membimbing mereka yang taat dan takut kepadaNya. Tuhan membimbing kita jika kita mengikuti jalan yang sudah ditentukan-Nya.

Orang Kristen adalah orang yang mempraktikkan positive thinking dengan pertama-tama menempatkan dirinya sebagai orang yang membutuhkan Tuhannya. Orang yang takut akan Tuhan. Yesus Kristus sudah menebus dosa setiap orang yang percaya melalui darah-Nya. Dengan itu kita mempunyai masa depan yang baik karena seluruh dosa dan kelemahan kita tidak lagi membebani hidup kita. Kita tahu bahwa apapun keadaan kita, jika kita sudah mengaku dosa kita dan menerima Yesus sebagai Juruselamat kita, Tuhan itu setia dan adil dan Ia akan ada di pihak kita dan menyertai kita.

Positive thinking sebagai orang Kristen dengan demikian juga membawa keyakinan bahwa Tuhan yang sudah menerima kita sebagai anak-anak-Nya, tentu adalah Tuhan yang memelihara mereka selama hidup di dunia. Tuhan adalah mahabijaksana, dan Ia tahu segala kebutuhan kita sebelum kita mengucapkannya. Tuhan juga tahu apa yang terbaik untuk anak-anak-Nya, dan Ia selalu mau membimbing mereka yang mau dibimbing-Nya. Mereka adalah orang-orang yang takut dan tunduk kepada Dia.

Pagi ini, ayat diatas menggaris bawahi the power of positive thinking, kekuatan yang ada dari cara berpikir positif. Ayat itu mengajarkan bahwa jika kita mau mempunyai masa depan yang baik, baiklah kita percaya dan berserah kepada Tuhan yang mahakuasa, agar Ia menunjukkan jalan yang terbaik untuk kita. Dengan berpikir positif, kita tidak lagi bergantung pada kesombongan, kekuatan, keinginan dan impian kita; tetapi kita akan menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan kita. Dalam rasa takut akan Tuhan, kita akan menghilangkan ketakutan yang kita alami selama hidup di dunia.

Hal menghindari kebohongan

Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Amsal 30: 8

Bersediakah anda untuk berbohong? Pertanyaan ini lebih sulit untuk dijawab daripada pertanyaan “Apakah anda pernah berbohong”. Setiap orang tentunya pernah berbohong, baik itu bohong kecil ataupun bohong besar, dan setiap orang bisa mengakuinya. Memang manusia tidak ada yang sempurna. Walaupun demikian, pertanyaan apakah kita mau berbohong tidaklah mudah dijawab. Dengan sejujurnya kita pernah berbohong di masa lalu karena suatu sebab; dan jika ada sebab yang kuat di masa depan, mungkin saja kita tidak ragu-ragu untuk berbohong lagi.

Dalam kegiatan apa pun, terutama dalam bidang politik dan bisnis, kita bisa melihat banyak orang yang mampu dan mau untuk berbohong pada saat tertentu. Berbohong memang adalah suatu kemampuan yang ada pada diri manusia sejak awalnya, dan yang bisa dikembangkan sesuai dengan keadaan yang sering dihadapinya. Selain dari kemampuan untuk berbohong, orang juga mampu membuat alasan untuk berbohong. Sudah tentu semua ini harus dibedakan dari kemampuan dan kebijaksanaan yang datang sebagai karunia Tuhan.

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Yohanes 8: 44

Pada waktu penciptaan manusia, Allah telah memperlengkapi kehendak manusia dengan kebebasan kodrati yang tidak dipaksa dan tidak ditentukan oleh keharusan alamiah apa pun untuk berbuat baik atau jahat. Ketika masih berada dalam kedudukan tidak berdosa, Adam dan Hawa memiliki kebebasan dan kuasa yang membuatnya mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik dan berkenan dan kepada Allah. Akan tetapi, dalam hal itu mereka bisa dipengaruhi keadaan di sekitarnya, sehingga bisa jatuh. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa karena perbuatan mereka sendiri, dan sejak itu kebohongan manusia dan iblis adalah bagian dari kehidupan sehari-hari msnusia.

Berbohong terkadang dihubungkan dengan pekerjaan atau kedudukan seseorang di masyarakat. Menurut survey di Australia, penjual mobil (car salesmen) adalah orang yang paling tidak bisa dipercaya. Sebaliknya. mereka yang bekerja sebagai jururawat, apoteker dan dokter dianggap sebagai orang yang paling bisa dipercaya. Ini berbeda dengan keadaan di Indonesia, dimana banyak orang yang kurang bisa mempercayai dokter karena adanya anggapan bahwa mereka adalah orang kaya yang mata duitan. Tidaklah mengherankan bahwa ada orang yang tidak mau ke dokter sekalipun sudah sakit parah.

Memang orang sering jatuh ke dalam dosa kebohongan karena soal harta. Alkitab sendiri mengatakan karena cinta uang (alias cinta kedudukan) orang bisa jatuh ke dalam pencobaan.

“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 9 – 10

Walaupun demikian, setiap orang dalam kenyataannya sering berbohong bukan saja sewaktu butuh uang, tetapi juga sewaktu kelebihan uang. Kebohongan di zaman ini agaknya sudah menjadi norma kehidupan manusia dari segala tingkatan, jika mereka ingin sukses dan ingin selalu menang bersaing dengan orang lain. Mereka yang ingin jujur terus, justru dianggap orang bodoh yang tidak mau memanfaatkan kesempatan. Ini bahkan bisa terlihat juga di banyak negara, dimana mereka yang ingin berkuasa mungkin harus bisa melakukan berbagai tipu daya dan menutupi ketidak-jujuran. Sebaliknya, rakyat yang hidup dalam penderitaan seringkali juga terdesak untuk melalui jalan yang curang agar bisa tetap hidup.

Dalam ayat pembukaan di atas, Agur bin Yake memohon kepada Tuhan untuk menjauhkan dirinya dari kecurangan dan kebohongan. Ia lebih lanjut meminta agar ia tidak mengalami kemiskinan atau kekayaan, karena keduanya bisa mendorongnya untuk berlaku curang dan melakukan kebohongan. Apa yang diharapkannya adalah kesempatan untuk menikmati apa yang ada, yang sudah menjadi bagian hidupnya. Ini tidak mudah, karena banyak orang yang justru tidak merasa puas dengan apa yang sudah dipunyainya. Lebih parah lagi, di zaman ini banyak “guru” yang mengajarkan agar kita tidak puas dengan prestasi kita.

Dalam hidup di dunia ini, selalu ada saja ketidakadilan yang kita jumpai. Hal-hal semacam itu bisa membuat kita berpikir mengapa Tuhan seolah membiarkan mereka yang tidak jujur untuk menduduki posisi tinggi, dan mereka yang jahat untuk berkuasa dan bertindak dengan sewenang-wenang. Mungkin seperti itu jugalah perasaan penulis Mazmur ketika ia melihat orang-orang jahat yang hidupnya terlihat nyaman:

“Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain.” Mazmur 73: 2 – 5.

Kejadian dimana orang yang jahat, curang dan tidak jujur seolah hidup jaya dan membuat Tuhan seolah tidak ada, memang seringkali muncul dalam hidup kita sehari-hari dengan berbagai bentuk dan ukuran. Mungkin jika hal-hal itu tidak terlalu mencolok mata, kita bisa mengabaikannya. Lain halnya jika kita melihat mereka yang jelas-jelas melakukan hal-hal yang jahat, justru bangga atas “keberhasilan” mereka. Tetapi pemazmur berkata bahwa bagaimanapun juga, kita tidak boleh sakit hati karena adanya orang yang berbuat jahat, atau iri hati kepada orang yang berbuat curang. Kejayaan mereka, yang kita lihat dari luar, belum tentu seperti apa yang kita bayangkan; dan apa yang mereka nikmati sekarang ini, tidaklah akan abadi.

“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” Matius 13: 30.

Jika kita mempunyai rasa iri hati atas keberhasilan orang-orang yang tidak jujur di sekeliling kita, marilah kita menenangkan diri dan mencari kedamaian dalam Tuhan. Tuhan memang sering membiarkan mereka yang jahat dan curang hidup bersama-sama dengan pengikut-Nya, seperti lalang yang hidup diantara gandum. Tuhan bisa memakai apapun yang ada di dunia untuk memenuhi rancangan-Nya, dan karena itu kita tidak perlu hidup dalam keresahan dengan adanya orang-orang yang kelihatannya jaya dalam kecurangan mereka. Tetapi sebagai orang beriman, kita tidak perlu meragukan bahwa Tuhan yang maha adil pada akhirnya pasti bertindak tegas.

Pagi ini, marilah kita memikirkan apa saja yang masih kita ingini dalam hidup ini. Tidak ada salahnya jika kita memohon apa yang kita butuhkan dalam hidup kita. Tuhan yang mahakasih selalu mau mendengarkan doa-doa kita. Walaupun demikian, pernahkah kita memohon agar kita diberi kemampuan untuk merasa cukup dengan apa yang sudah kita terima? Rasa cukup atas apa yang ada akan menjauhkan kita dari dosa kebohongan dan kecurangan. Rasa cukup juga akan menghindarkan kita dari hidup Kristen yang penuh kepalsuan.

Hubungan antara kesehatan rohani dan kesehatan jasmani

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Mens sana in corpore sano adalah suatu semboyan bahasa Latin yang bisa diartikan “jiwa yang sehat ada dalam tubuh yang sehat”. Semboyan ini biasanya dipakai untuk menekankan pentingnya olahraga dan kesehatan tubuh untuk menjaga kesehatan kejiwaan. Presiden pertama RI, Bung Karno, mempopulerkan semboyan ini karena tekadnya untuk menjadikan Indonesia salah satu dari 10 besar dunia di bidang olahraga.

Kita sekarang menyadari bahwa hubungan antara kesehatan jasmani dan kesehatan rohani tidaklah semudah yang diutarakan semboyan itu. Tubuh tidak lebih penting dari jiwa dan tidak menjamin sehatnya jiwa. Dalam tubuh yang sehat mungkin saja ada jiwa yang sakit, dan sebaliknya dalam tubuh yang sakit mungkin saja ada jiwa yang sehat. Kita mungkin sering menjumpai olahragawan dan olahragawati yang prestasinya hebat tapi kesehatan jiwanya perlu dipertanyakan karena cara hidupnya yang berantakan. Sebaliknya, ada banyak orang yang sakit atau tidak sempurna fisiknya tetapi mampu mencapai prestasi kehidupan yang hebat, dengan menggunakan pikiran dan hati mereka secara bijaksana.

Rasul Paulus sendiri ternyata adalah orang yang kurang sehat jasmaninya. Ia menulis dalam 2 Korintus 12: 7 bahwa ia diberi suatu duri dalam tubuhnya, mungkin suatu penyakit kronis dan menyusahkan dia, yang hanya bisa kita duga tetapi tidak bisa kita pastikan jenisnya. Walaupun demikian, dalam penderitaannya Paulus bisa menulis banyak pengajaran dan nasihat kepada banyak umat kristen di berbagai tempat. Tuhan memberi Paulus jiwa yang sehat walaupun tubuhnya merasakan penderitaan sampai akhir hayat.

Sebagai orang kristen memang kita percaya bahwa tubuh manusia mempunyai dua bagian, tubuh jasmani dan tubuh rohani, yang dinamakan tubuh dan jiwa (sebagian orang kristen membagi rohani dalam dua jenis yaitu jiwa dan roh). Karena tubuh jasmani kita ini akhirnya akan lenyap pada saat yang ditentukan Tuhan, banyak orang berpikir bahwa tubuh adalah tidak penting dan kurang berharga jika dibandingkan dengan jiwa. Tetapi pandangan semacam itu tidak dapat dibenarkan karena dalam penciptaan, Tuhan secara khusus membentuk tubuh manusia – lelaki dan perempuan – dan memberi mereka jiwa.

Rasul Paulus dalam ayat diatas mengajarkan bahwa kita harus memakai tubuh kita sebagai persembahan yang kudus untuk Allah, yang berarti kita harus juga menghargai tubuh kita sama seperti jiwa kita. Jasmani dan rohani keduanya penting. Inilah yang sering dilupakan oleh umat kristen, bahwa selama kita hidup di dunia ini, kita harus memelihara dan memakai tubuh yang ada, dengan apa yang mampu kita lakukan, sesuai dengan maksud penciptaan-Nya, untuk kemuliaan Tuhan. Sekalipun kita mungkin tidak lagi mempunyai tubuh yang sehat, apa yang masih kita punyai tetap harus dipakai untuk memuliakan Tuhan.

​Sayang sekali banyak orang yang tubuh dan jiwanya sehat tetapi tidak mau memakainya untuk memuliakan Tuhan. Ada pula orang yang sengaja menyia-nyiakan atau menyalah-gunakan tubuhnya. Juga patut disayangkan kalau ada orang yang menunggu sampai saat dimana tubuh atau pikiran mulai kurang sehat untuk baru mau bekerja untuk Tuhan. 

Semua orang yang masih hidup di dunia punya kewajiban untuk memelihara tubuh dan jiwa mereka dan menggunakannya sesuai dengan maksud penciptaan. Siapa yang segan menggunakannya akan menemui masalah karena apa yang tidak digunakan dengan baik, akan diambil Tuhan. Orang yang menelantarkan tubuhnya akan kehilangan kesehatannya, yang menelantarkan pikirannya akan cepat linglung, orang yang malas menggunakan kakinya akhirnya tidak kuat berjalan, orang yang segan berdoa lama-lama canggung untuk berdoa, dan orang yang tidak pernah menguji imannya lama kelamaan menjadi orang yang tidak percaya. Itu adalah prinsip hukum Tuhan.

“….Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.” Lukas 19: 26

Pada pihak yang lain, dengan bermunculannya banyak gym di kota-kota besar banyak orang yang sekarang tergila-gila untuk berolahraga, tidak hanya mencari kesehatan, tetapi juga penampilan yang baik. Hedonisme dalam hal olahraga mungkin dipandang lumrah. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Berolahraga berubah fungsinya, dari tujuan yang baik, yaitu untuk kesehattan, menjadi sesuatu yang berkonotasi buruk, yaitu penampilan tubuh dan kesombongan. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa sekarang ini banyak orang yang menggunakan berbagai suplemen dalam bentuk makanan khusus, vitamin, dan bahkan hormon-hormon serta obat-obat terlarang untuk mempercepat pertumbuhan otot mereka.

Bahwa kemampuan tubuh dan jiwa kita akan berkurang dengan bertambahnya umur, itu bisa dimengerti. Itu ditentukan sejak jaman Adam dan Hawa setelah jatuh dalam dosa.  Mereka yang tidak mau menggunakan kesempatan yang masih ada untuk berbuat baik, akan cepat kehilangan kesempatan untuk itu.  Karena itu, kita harus sadar bahwa sebagai orang percaya, apa yang masih bisa digunakan untuk memuliakan Tuhan, baik tubuh maupun jiwa,  harus digunakan; hingga tiba saatnya kita menghadap Sang Pencipta. Tetapi, semua itu harus dilakukan dengan cara dan tujuan yang baik.

Adanya pandemi COVID-19 yang baru lalu mempunyai segi positif bahwa pentingnya kesehatan makin disadari manusia. Pengalaman pahit yang dialami manusia selama 3 tahun terakhir membuat mereka makin sadar bahwa selama hidup di dunia mereka harus berusaha untuk memelihara kesehatan mereka dengan berbagai cara seperti makanan sehat, olahraga, gaya hidup sehat, lingkungan sehat, menghindari stres dan sebagainya. Berbagai brosur, buku, situs internet dan juga hoax bermunculan tiap hari, yang semuanya mengajarkan trik-trik untuk menjaga kesehatan, mengobati penyakit dan hidup sehat. Walaupun demikian, banyak orang yang belum tahu bahwa Alkitab adalah sebuah buku yang juga mengajarkan prinsip-prinsip kesehatan menurut Firman Tuhan.

Yang pertama, Alkitab mengatakan bahwa hidup manusia dan kesehatan adalah pemberian Tuhan. Sesuai dengan kitab Kejadian, kita harus sadar bahwa hidup manusia terjadi semata-mata oleh kasih Tuhan. Tuhan sangat mengasihi dan menghargai manusia dan memberikan apa yang diciptakan-Nya di alam semesta untuk dikelola dan dinikmati manusia. Karena itu, kita juga harus menghargai hidup dan kesehatan kita karena itu sebenarnya milik Tuhan. Dalam Alkitab kita juga bisa menyadari bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan menerima Roh Kudus yaitu Roh Allah. Roh tinggal dalam tubuh kita selama kita masih di dunia. Karena itu, tubuh kita adalah rumah Tuhan yang harus kita pelihara dan hormati. Kesehatan tubuh tidak boleh diabaikan karena menelantarkan tubuh berarti merusak bait Allah.

Kedua, Alkitab juga menulis bahwa tiap orang dikaruniai dengan kemampuan, keadaan dan berkat-berkat yang berbeda, sesuai dengan rancangan dan kehendak Tuhan. Karena itu, semua orang mempunyai wajah, penampilan, dan juga faktor genetik yang berbeda. Faktor genetik dan faktor lingkungan bisa mempengaruhi kesehatan kita sesuai dengan apa yang kita punyai dan dimana kita hidup. Namun, hal itu bukanlah alasan untuk kita menyesali keadaan dan membenci Tuhan karena tiap orang harus menerima keadaan masing-masing sambil bersyukur, mau memelihara dan mengembangkannya untuk kemuliaan Tuhan.

Yang ketiga, apapun yang kita lakukan dalam hidup kita bisa mempengaruhi kesehatan kita. Hidup sehat, diet, olahraga dan berbagai kegiatan lainnya bisa meningkatkan kesehatan kita. Tetapi, jika kita tidak berhati-hati, kita bisa diperhamba oleh semuanya. Hidup kita harus dipakai untuk memuliakan Tuhan dan bukan ilah-ilah lain yang tidak dapat menambah umur kita satu haripun.

Yang keempat, manusia sering dalam kelemahannya, berusaha mengingkari kodrat Ilahi dengan menutupi masalah kesehatan dan proses penuaan yang ada. Berbagai perawatan tubuh, kosmetik maupun medis, sekarang sangat populer, sekadar untuk menipu penglihatan manusia. Selain itu, penampilan pakaian dan gaya hidup mungkin diusahakan sebagian orang untuk mengecoh pengaruh umur. Tetapi Tuhan melihat hati dan bukan tampak luar kita. Selain itu, apa yang kita perbuat tidak akan mengubah rencana-Nya.

Dan yang kelima, Alkitab menulis bahwa manusia diciptakan dari debu dan kemudian Allah meniupkan nafas kehidupan-Nya, yang membuat manusia bisa hidup sebagai peta dan teladan-Nya. Sayang, karena dosa semua manusia harus kembali menjadi debu pada akhirnya. Walaupun demikian, mereka yang percaya kepada Yesus akan diselamatkan dan roh mereka akan pergi ke surga. Karena itu, walaupun kesehatan jasmani adalah penting dan berguna untuk hidup di dunia, Tuhan lebih menekankan jiwa kita yang harus kita pelihara sesuai dengan firman-Nya.

Pagi ini, marilah kita kembali kepada prinsip-prinsip kesehatan menurut Alkitab. Paulus mengajak kita untuk tidak melupakan kemurahan Tuhan dan mau mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Baik jasmani maupun rohani kita, keduanya adalah penting untuk dipelihara dan digunakan untuk kemuliaan Tuhan.

Melarikan diri dari kenyataan

“Aku dirundung takut dan gentar, perasaan seram meliputi aku. Pikirku: “Sekiranya aku diberi sayap seperti merpati, aku akan terbang dan mencari tempat yang tenang.” Mazmur 55:5-6

Ada banyak kata-kata dalam bahasa Indonesia yang tidak pernah saya jumpai pada waktu saya masih tinggal di Indonesia. Maklum, setelah sekitar 45 tahun absen dari Indonesia, bahasa Indonesia nampaknya sudah berkembang pesat sehingga banyak kata-kata dan istilah baru yang muncul. Salah satu istilah yang tidak pernah saya kenal sebelum ini adalah kata eskapisme yang bahasa Inggrisnya escapism. Walaupun demikian, saya mengerti bahwa istilah “lari dari kenyataan” yang sering saya temui sebelum saya ke luar negeri adalah sama artinya dengan eskapisme, yang diartikan sebagai reaksi defensif yang melibatkan penggunaan fantasi sebagai sarana untuk menghindari konflik dan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Ayat di atas adalah Mazmur Daud yang merasa hidupnya dalam tekanan rasa takut karena banyaknya musuh-musuh yang ingin menghancurkan dia. Dalam tekanan seperti itu, sebagai manusia tentu Daud merasa hidupnya tidak nyaman karena adanya rasa takut dalam menghadapi maut. Dalam keadaan sedemikian, bukan saja pikiran yang terpengaruh, tetapi juga tubuh jasmani menjadi lemah. Karena itu, Daud membayangkan betapa enaknya jika ia bisa menjadi seekor merpati yang bisa terbang ke tempat yang aman. Ini adalah eskapisme yang sering terjadi karena manusia yang merasa tidak berdaya, secara sadar atau tidak, berusaha untuk tetap hidup.

Eskapisme adalah upaya untuk mengabaikan pikiran negatif atau realitas yang tidak menyenangkan dengan mengalihkan diri darinya. Pelarian dari kenyataan yang pahit atau menakutkan bisa datang dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah fantasi. Seringkali, eskapisme bermanifestasi melalui kesenangan dan ketenangan dalam kenikmatan semu seperti tidur, makanan, minuman keras, olahraga, obat-obatan, atau seks.

Kata pelarian dari kenyataan cenderung membawa konotasi negatif, dengan asumsi bahwa orang yang ingin lari dari realitas hidup mereka, adalah orang yang tidak bertanggung jawab dan menghindari “kehidupan nyata”. Eskapisme bisa menjadi hal yang berbahaya jika metode melarikan diri pada dasarnya berbahaya (seperti menggunakan narkoba) atau jika tidak terkendali. Namun, jika seseorang untuk sementara “melarikan diri” untuk beristirahat sejenak dari aspek kehidupan sehari-hari, ini tidak selalu merupakan hal yang buruk.

Ada banyak urusan yang harus kita tangani setiap hari: bekerja, menjalankan tugas, mengalami masalah kesehatan, mengurus keluarga, dll. Ketika kita beristirahat dan menikmati hiburan atau kegiatan rekreasi, seperti menonton film, mendaki gunung, membaca, atau bermain game, secara mental kita “melarikan diri” dari tekanan yang menyertai hal-hal tersebut. Hidup sehat dengan memiliki ritme kerja dan istirahat yang seimbang; adalah apa yang dianjurkan di Alkitab (Keluaran 34:21). Hal-hal ini mungkin merupakan contoh cara sehat untuk bersantai atau beristirahat dari tekanan kenyataan hidup yang dinamakan relaksasi, yaitu proses membuat otot dan pikiran lebih rileks dan tenang.

Eskapisme berbeda dari relaksasi, karena secara umum istilah eskapisme merujuk pada aktivitas yang diikuti dengan tujuan menghilangkan pikiran atau pikiran kita dari dunia nyata. Eskapisme dalam hal ini bisa menjadi sesuatu yang tidak sehat karena mungkin berakar pada keinginan untuk hidup dalam fantasi daripada kenyataan. Penghindaran adalah motif di balik pelarian ke arah imajinasi, karena ini adalah upaya yang lebih disengaja untuk melupakan dan menghindari kenyataan daripada berusaha mengubahnya menjadi lebih baik. Bahayanya, jika seseorang hidup dalam pelarian terlalu lama, hampir tidak mungkin bagi mereka untuk bisa menghadapi kenyataan dan membuat perubahan.

Imajinasi sebenarnya adalah anugerah dari Tuhan. Tetapi, penting bagi kita intuk tidak berkutat dalam fantasi dan membiarkannya menguasai kita. Ini membuatnya beralih dari penangguhan hukuman dari tekanan realitas ke pola pikir pelarian yang tidak sehat yang menyebabkan kita menyangkal kenyataan yang benar-benar ada. Tuhan mendorong kita untuk beristirahat, tetapi Dia tidak membenarkan kemalasan atau perilaku melarikan diri. Fantasi bisa berakibat positif atau negatif, tetapi berdiam di dalamnya pasti akan menciptakan hasil yang berupa penolakan atau ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan kehidupan nyata.

Salah satu dari hal yang bisa membuat kita tetap tinggal dalam alam fantasi dan bahkan kecanduan adalah keyakinan bahwa segala sesuatu sudah ditentukan Tuhan. Dalam alam fantasi ini, banyak orang Kristen yang merasa bahwa Tuhan sudah memberitahu mereka bahwa apa yang terjadi adalah kehendak-Nya. Mereka merasa bahwa tidak ada lagi yang bisa dikerjakan untuk masa depan, dan tidak ada yang hal yang bisa dipelajari dari masa lalu. Mereka juga merasa bahwa semua manusia sudah berdosa, dan tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghindarinya. Mereka dengan demikian berusaha menghilangkan beban tanggung jawab kehidupan sebagai umat Tuhan, dan berfantasi bahwa apa pun yang mereka alami dan lakukan adalah hasil akhir yang baik menurut Tuhan.

Memang tidak dapat disangkal bahwa realitas bisa membuat stres dan kita tidak selalu tahu apa yang perlu dilakukan atau bagaimana kita bisa membuat segalanya berbeda. Tetapi, Alkitab membawa kabar baik bahwa kita yang percaya kepada Tuhan adalah anak-anak-Nya. Dia membantu kita membuat perubahan yang kita perlukan. Ketika kenyataan sulit dalam hidup kita tidak dapat diubah, Tuhan membantu kita untuk bertahan guna melewatinya. Dia selalu bersama kita dan mampu bekerja sama dalam segala hal untuk kebaikan kita dan tujuan kerajaan-Nya (Roma 8:28-29). Dengan demikian, apa yang kita alami saat ini belum tentu merupakan hasil akhir pekerjaan Tuhan.

Jika eskapisme adalah sesuatu yang harus kita hindari, pagi ini kita harus ingat bahwa Yesus mendorong kita untuk beristirahat dari beban hidup kita dan berganti memikul beban-Nya: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” (Matius 11:28–30). Melalui Yesus, kita memiliki pengharapan akan datangnya dunia yang lebih baik dan kita memiliki kekuatan untuk menjalani hidup kita di bumi pada hari ini.

Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah. Mazmur 55: 22

Tujuan hidup bukan kesuksesan atau kenyamanan

“Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.” Mazmur 146: 2

Hidup bukanlah suatu kebetulan. Ada tujuan dan makna untuk setiap kehidupan. Orang Kristen percaya bahwa Tuhan menciptakan bumi dan segala sesuatu yang hidup di atasnya. Tuhan mengenal setiap orang secara individu, dari bayi yang baru lahir hingga nenek yang merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Tuhan menciptakan semua orang dan Dia mengasihi mereka. Dia sebenarnya menciptakan manusia untuk menyembah Dia dan menikmati hubungan yang baik dengan Dia selamanya. Tuhan ingin kita mengasihi Dia – dan mengasihi satu sama lain.

Alkitab mengatakan bahwa Allah menjadikan manusia ‘menurut gambar-Nya’. Itu bukan tentang keserupaan fisik – ini mengacu pada kualitas lain seperti memiliki hati nurani dan mengetahui perbedaan antara benar dan salah; memiliki kapasitas untuk mencintai; memiliki keinginan akan keadilan; dan memiliki kreativitas yang luar biasa. Kemampuan lain yang membedakan kita dari ciptaan alam semesta lainnya adalah bahwa kita mampu menjalin hubungan dengan Tuhan sendiri.

Sebelum jatuh ke dalam dosa, manusia memiliki kebebasan dan kuasa yang membuatnya mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik dan berkenan dan kepada Allah. Tetapi karena dosa, manusia sama sekali kehilangan kemampuan menghendaki apa yang baik.

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa Allahlah membuat kita bertobat dan memindahkan kita ke kedudukan sebagai seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskan kita dari perhambaan dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan kita mampu lagi untuk menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Akan tetapi, karena kerusakan yang masih tinggal pada diri kita, kita tidak selalu menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, tetapi sering juga menghendaki apa yang jahat. Itu berarti bahwa dalam hidup kita harus selalu berjuang untuk menjalani hidup baru dengan bimbingan Roh Kudus. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, tujuan hidup kita harus berubah dari apa yang kita punyai sebelum bertobat.

Apakah tujuan hidup atau purpose of life kita? Mungkin ada orang yang menjawab bahwa ia ingin menjadi orang yang sukses, orang yang pandai atau orang yang berguna untuk masyarakat dan negara. Semua ini adalah cita-cita. Tujuan hidup adalah sesuatu yang lebih luas dan menyeluruh jika dibandingkan dengan cita-cita dan karir. Tujuan hidup juga sering berbentuk abstrak dan tidak dapat dilihat atau diukur. Walaupun demikian, adanya tujuan hidup adalah penting untuk membuat orang kuat dalam menghadapi semua tantangan. Orang boleh mengejar cita-cita dan senang ketika itu tercapai, namun jika tujuan hidup tidak terwujud, semua yang dicapai mungkin tidak berarti. Sebaliknya, mereka yang tidak mencapai kedudukan tinggi atau mendapat kekayaan yang berlimpah bisa saja berbahagia jika tujuan hidupnya tercapai.

Dalam hidup ini memang kesibukan sehari-hari sering menyita waktu dan karena itu kita mungkin tidak sempat memikirkan apakah tujuan hidup kita sudah tercapai. Apakah kepuasan hidup sudah tercapai, sedang mendatangi ataukah belum terasa, mungkin tidak pernah dipikirkan dalam-dalam. Walaupun demikian, sering kali ketika orang mengalami suatu kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidup, secara tiba-tiba ia mungkin terbangun dan sadar bahwa hidup yang ada sampai saat ini adalah hampa. Jika pada saat-saat yang lalu ia tidak memikirkan apa arti hidupnya, dengan memeriksa realitas kehidupan kemudian timbul kesadaran bahwa apa yang dipunyainya bukanlah tujuan hidupnya.

Apakah kita sudah mencapai tujuan hidup kita?  Kita bisa memeriksa hidup kita sendiri. Reality check untuk apa yang sudah kita capai secara jasmani mudah dilakukan, tetapi bukan itu saja yang dituju dalam hidup manusia. Penulis Mazmur di atas menyatakan keinginannya untuk memuliakan Tuhan selama ia hidup, dan bermazmur bagi Dia selagi  masih bisa. Memuliakan Tuhan dan memuji Dia adalah suatu sikap yang harus diambil setiap orang Kristen dan seharusnya menjadi tujuan hidup kita juga. Tujuan hidup yang indah  ini seringkali lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan dalam kesibukan sehari-hari. Sekalipun sebagai orang percaya kita mungkin ingin hidup seperti pemazmur, bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan dan bermazmur untuk Dia sepanjang waktu dalam hidup kita?

Untuk bisa mempunyai hidup yang memuliakan dan memuji Tuhan, tidaklah cukup dengan pergi ke gereja setiap minggu, atau aktif dalam kegiatan gereja. Jika itu adalah tujuan hidup kita, kita harus bisa melakukannya setiap saat. Dalam hal ini banyak orang Kristen yang berpikir bahwa mereka dapat mencapai tujuan ini secara rohani, melalui perenungan, pemikiran, dan perasaan. Itu benar, tetapi tidak sepenuhnya. Jika kita memang ingin untuk memuliakan dan memuji Tuhan di setiap waktu, itu berarti bahwa apa  saja yang kita kerjakan sehari-hari harus bisa menyatakan hal itu. Tujuan hidup orang Kristen bukan sekedar konsep rohani, tetapi sesuatu yang nyata.

Pagi ini, ayat di atas menantang kita untuk berpikir dalam-dalam. Jika kita memang mengasihi Tuhan dan sesama kita, apakah yang kita kerjakan hari ini yang bisa membuktikan hal itu? Jika kita ingin memuliakan dan memuji Tuhan, apakah yang bisa kita lakukan pada setiap saat dalam hidup kita? Mungkin kita berpikir bahwa tidak ada hal-hal yang signifikan yang bisa kita lakukan dalam hidup kita saat ini. Mungkin karena umur, kesehatan, pendidikan, pekerjaan atau lingkungan, kita merasa tidak mampu untuk melakukan hal-hal yang “besar”. Tetapi, memuji Tuhan dan memuliakan-Nya tidak harus berarti berbuat sesuatu yang hebat dalam pandangan manusia. Tujuan hidup kita ini bisa dicapai dalam keadaan apa pun kalau saja kita sadar bahwa segala sesuatu yang kita perbuat, kita bisa melakukannya untuk memuji-Nya.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Hendaklah kamu menjadi sempurna

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5: 48

Adakah orang yang sempurna di dunia ini? Kebanyakan orang berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna, sekalipun mereka belum tentu percaya bahwa semua orang penuh dosa. Walaupun begitu, ada orang-orang yang mengajarkan bahwa kesempurnaan dapat dicapai manusia dengan melakukan hal-hal tertentu. Selain itu, ada yang percaya bahwa orang-orang tertentu adalah penjelmaan dewa-dewa, dan karena itu mereka adalah manusia yang sempurna.

Bagi umat Kristen, semua orang sudah berbuat dosa dan karena itu tidak ada yang sempurna. Dosa sering kita lakukan, setiap hari, setiap saat, sekalipun kita tidak menyadari atau mau mengingat hal itu. Hanya Tuhan yang sempurna, dan yang pernah turun ke dunia dalam bentuk Yesus, adalah manusia yang tidak berdosa. Jika ayat diatas menuliskan firman Yesus agar kita menjadi sempurna seperti Allah Bapa, tentu saja ini bisa menimbulkan tanda tanya. Siapakah yang bisa menjadi manusia yang sempurna?

Sudah tentu ajakan Yesus untuk umatNya bukanlah ajakan agar kita berusaha untuk menjadi manusia yang suci. Kesempurnaan hanya terjadi jika Tuhan menyambut umatNya di surga. Selama di bumi, kita berusaha untuk menjadi umat Tuhan yang baik; dan pengampunan dosa ada melalui darah Kristus, tetapi itu tidak akan membuat kita menjadi orang yang sempurna. Lalu bagaimana kita bisa melaksanakan perintah Yesus itu?

Banyak orang Kristen yang yakin bahwa menjadi umat Tuhan cukup dengan iman. Mereka dengan mulut mengaku percaya, tetapi dalam hidup tetap menjalankan kebiasaan lama. Dengan demikian perlu dipertanyakan apakah tujuan mereka untuk menjadi umat Tuhan, jika tidak untuk hidup dalam kasih sesuai dengan perintah Tuhan dan untuk memuliakanNya? Mungkin mereka sudah puas dengan keyakinan bahwa keselamatan mereka tidak akan hilang sekalipun tetap melakukan berbagai kejahatan di hadapan Tuhan.

Yesus menegaskan bahwa kecuali kebenaran seseorang melebihi orang Farisi dan ahli Taurat, mereka tidak akan masuk kerajaan surga (Matius 5:20). Dia tidak meminta lebih banyak ketaatan pada hukum, tetapi untuk bentuk ketaatan yang lebih dalam yang berasal dari hati. Dia kemudian membahas beberapa contoh ketaatan dalam lima hal: pembunuhan, perzinahan dan perceraian, pengambilan sumpah, pembalasan, dan mengasihi musuh. Ayay 48 kemudian mengakhiri bagian dari Khotbah di Bukit ini dengan peringatan, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna“. Ini mirip Imamat 19:2, yang menggunakan kata “kudus” dan bukan “sempurna”.

“Sempurna” adalah terjemahan dari kata teleios, yang muncul sembilan belas kali dalam Perjanjian Baru. Yesus memberi tahu penguasa muda yang kaya, “”Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Matius 19:21).

Dalam perspektif Alkitab, tujuan hidup yang utama berdasarkan ayat diatas adalah untuk menjadi seperti Yesus. Dengan tujuan ini, kita bisa memilih apa yang perlu dilakukan dan cara hidup yang harus dijalani. Ayat ini tidak menyatakan bahwa kita harus mencapai kesempurnaan agar dapat mencapai keselamatan. Kita tahu bahwa keselamatan adalah karunia Tuhan. Tetapi Yesus dengan ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya dalam Matius 5 menetapkan tujuan hidup yang seharusnya dilaksanakan setiap orang Kristen, agar mereka menjadi manusia dewasa yang hidup dalam kasih seperti Tuhan mengasihi kita.

Sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam Pengakuan Westmister Bab 9 Poin 4 dan 5, tujuan Yesus untuk semua anak-Nya adalah kedewasaan penuh, yang akan menjadi kesempurnaan di surga. Dengan demikian, pengertian yang cocok untuk itu adalah, “Bertumbuh menuju kedewasaan penuh, sama seperti Bapa surgawimu sempurna.”

Bapa kita sempurna, dan anak-anaknya harus terlihat seperti dia. Ini berarti kita menetapkan ukuran penuh kedewasaan sebagai tujuan kita, dan akhir dari proses itu adalah kesempurnaan di surga. Tapi itu adalah sebuah proses, jadi kita perlu bertanya pada diri kita sendiri, dimana titik lemah kita? Apakah itu kemarahan? Nafsu? Kecurangan? Kebencian? Marilah kita memeriksa hati kita dan meminta hikmat dan kekuatan dari Tuhan untuk mengejar ketaatan yang lebih dalam yang datang dari hati. Hanya dengan begitu tindakan kita akan benar-benar berubah, dan akan bergerak menuju kedewasaan dan akhirnya kesempurnaan.