“Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” 2 Korintus 5: 15
Alkisah, ketika Yesus memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”. Yesus memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, dan kemudian tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”. Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Kisah nyata yang sangat menarik dan dalam artinya. Yesus datang ke desa itu untuk menyembuhkan sepuluh orang kusta, bukan hanya satu. Sepuluh orang mendapat kesembuhan, tetapi hanya satu yang diselamatkan. Mengapa Yesus peduli terhadap kesepuluh orang kusta, jika Ia tahu bahwa hanya satu yang nantinya kembali menemui Yesus dan memuji Allah? Kita tidak dapat menerka apa yang ada dalam pikiran Yesus, tetapi sudah tentu Ia menyembuhkan kesepuluh orang kusta itu karena kasihNya. Kesepuluh orang kusta itu mendapat kesempatan yang sama untuk memperoleh kasih Kristus, tetapi hanya satu yang menyambutnya dengan rasa syukur dan hormat.
Jika kisah diatas adalah mengenai kesembuhan jasmani, Yesus sebenarnya datang ke dunia dengan prioritas untuk menyembuhkan orang yang sakit rohaninya. Orang yang sehat tak perlu dokter, kataNya. Karena itu Ia datang ke dunia untuk orang berdosa. Siapakah orang yang berdosa? Tentu saja semua orang yang hidup di dunia. Seperti Kristus datang ke desa itu untuk menyembuhkan semua orang yang sakit kusta, Ia datang ke dunia untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, sekalipun tidak semua pada akhirnya akan mau memuliakan Dia. Yesus tidak peduli bahwa Ia harus mati di kayu salib untuk menebus dosa seluruh umat manusia, sekalipun sebagian manusia akan menolak Dia.
“Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Matius 9: 12 – 13
Kita harus menyadari bahwa kesempatan sudah diberikan kepada semua orang untuk menerima kematian Kristus sebagai pengurbanan Anak Allah untuk menebus dosa-dosa manusia. Kristus ingin agar pengurbananNya diterima oleh manusia sebagai berkat yang harus disyukuri. Karena pengubanan Kristus, kita yang seharusnya mati karena penyakit dosa, memperoleh kesempatan untuk hidup baru didalam Dia. Walaupun kasih Kristus itu sangat besar, tidak semua orang bisa atau mau menghargainya. Mereka yang melihat keajaiban besar yang diperbuat Yesus untuk setiap orang, belum tentu mau untuk kembali ke jalan yang benar, untuk menghormati Dia sebagai Tuhan dengan pengucapan syukur.
Sore ini, kepada mereka yang menerima kasihNya dan kemudian mengikut Dia dan hidup untuk Dia, Yesus berkata: “Imanmu telah menyelamatkan engkau”. Dengan demikian, kita yang sadar bahwa Kristus telah menyembuhkan dan menyelamatkan kita, tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi hidup dalam kebenaran untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk kita.
“Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” 1Petrus 2: 24
Mazmur 25 adalah salah satu mazmur Daud yang terkenal. Ada 21 ayat dalam Mazmur 25, dan semuanya bisa dinyanyikan sebagai bait-bait lagu himne “To Thee I lift my soul” atau “Kepada Tuhan kuangkat jiwaku” yang diciptakan pada abad ke 18. Mazmur 25 memang adalah sebuah doa permintaan ampun dan perlindungan yang disampaikan Daud kepada Tuhan pada saat ia berusia lanjut, mungkin ketika ia mengalami pemberontakan putranya, Absalom. Dalam kesedihan dan kegundahannya, Daud teringat bahwa ia adalah manusia yang mempunyai berbagai cacat-cela dan dosa (ayat 7) dan sudah sepantasnya kalau Tuhan menghukum dia. Tetapi raja Daud juga percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih, dan karena itu ia memohon agar Tuhan tetap mau menolong dia.
Kejadian menarik terjadi ketika Paus Francis melakukan tour Asia pada tahun 2015, dimana ia mengunjungi negara Filipina. Pada waktu itu ia menjumpai seorang anak yang bertanya mengapa hal-hal yang menyedihkan terjadi pada anak-anak. Bukannya menjawab pertanyaan itu dengan jawaban teologis, Paus berkata kepada orang disekitarnya: “Kalau engkau tidak belajar menangis dengan orang yang menderita, kamu bukanlah orang Kristen yang baik”. Mengapa begitu?
Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal, yang dipakai oleh banyak orang Kristen sebagai landasan iman mereka. Melalui ayat diatas, kepercayaan mereka diperkuat karena adanya keyakinan bahwa:
Di zaman ini iklan bermunculan dimana-mana; bukan saja di koran dan TV, tetapi juga di telepon genggam selagi anda mencari informasi atau menggunakan media sosial melalui internet. Memang dengan kemajuan teknologi, orang bisa memasarkan produk-produk yang saat ini menjadi perhatian anda, karena adanya informasi yang pernah anda kirimkan atau cari melalui internet. Dengan memakai teknik artificial intelligence atau kecerdasan buatan, perusahaan-perusahaan di dunia memasarkan produk mereka melalui digital marketing atau pemasaran digital.
Menurut kamus bahasa Indonesia kata arif berarti bijaksana, cerdik dan pandai, atau berilmu. Kata bijaksana sendiri berarti selalu menggunakan akal budi (pengalaman dan pengetahuan), arif atau tajam pikiran. Dengan demikian kata arif bijaksana agaknya menggabungkan pengetahuan (knowledge) dan kebijaksanaan (wisdom). Memang kedua hal ini adalah penting untuk dimiliki dalam hidup ini. Banyak orang yang berpengetahuan (knowledgeable) tetapi kurang bijak, dan banyak orang yang bijaksana (wise) tetapi tidak berilmu. Dengan demikian, arif bijaksana adalah sebuah kemampuan yang penting bagi manusia untuk hidup di dunia yang penuh dengan tantangan.
Jika kita membaca berita dalam surat kabar atau dari media eletronik, pastilah kita bisa melihat bahwa setiap hari selalu ada saja kabar buruk yang terjadi di dunia. Tidak hanya berita tentang adanya kekacauan di bidang sosial, ekonomi dan politik di berbagai tempat, tetapi juga adanya penderitaan yang dialami manusia karena adanya kelaparan, penyakit, penganiayaan, kejahatan, perang atau kecelakaan. Apalagi, ada kejadian-kejadian dimana sejumlah besar manusia yang nampaknya tidak bersalah, menemui kematian pada waktu yang bersamaan akibat suatu bencana, seperti jatuhnya sebuah pesawat udara. Mereka yang mempunyai perasaan tentu merasa sedih bahwa hal-hal yang sedemikian bisa terjadi tanpa adanya peringatan atau tanda-tanda.
Bagi penduduk Australia, memiliki sebuah rumah adalah sebuah cita-cita. Karena itu, kebanyakan orang meminjam uang dari bank untuk bisa membeli rumah. Pinjaman uang untuk membayar harga rumah biasanya bisa dilunasi setelah jangka waktu yang cukup lama, sekitar 30 tahun. Dengan demikian, peminjam yang tidak bisa melunasi hutang dalam jangka waktu yang lebih singkat akan membayar bunga yang sangat besar. Resiko bukan hanya itu saja; jika rumah itu akhirnya dijual, ada kemungkinan bahwa pemiliknya mengalami kerugian.
Life is short, make it sweet. Hidup itu singkat, jadikan itu manis. Itulah salah satu semboyan hidup yang terkenal. Hidup ini singkat, karena itu isilah dengan hal-hal yang menyenangkan. Semboyan ini pernah juga muncul dalam sebuah lagu country yang muncul baru-baru ini.