Tambahkanlah imanku, Tuhan!

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 3: 8 – 9

Dari mana datangnya rasa cinta? Dari mata turun ke hati. Begitu bunyi sebuah pantun Melayu. Ada orang-orang yang percaya akan hal ini, terutama mereka yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Tetapi, banyak orang yang sekarang tidak setuju. Mereka berpendapat bahwa cinta datang dari otak. Dengan memikirkan fakta-fakta, orang mengambil keputusan untuk mencintai atau tidak.

Dari mana datangnya rasa cinta dan iman kepada Tuhan? Dari mata juga? Atau dari otak kita? Murid-murid Yesus dan pengikut lainnya memang bisa melihat bagaimana Ia mengajar, membuat berbagai mujizat, dan mati di kayu salib. Tetapi kita sekarang hanya bisa membayangkan saja karena tidak bisa melihat dengan mata kepala. Kita mungkin bisa memikirkan kebesaran Tuhan dengan melihat berbagai ciptaanNya. Tetapi orang-orang pandai yang juga melihat hal-hal itu belum tentu bisa percaya.

Ada orang-orang yang merasakan kehadiran Tuhan pada saat mereka mengalami bencana, tetapi ada juga yang tidak mau percaya kepada Tuhan karena mereka tidak melihat adanya pertolongan Tuhan. Ada orang yang bersyukur dan beriman kepada Tuhan dalam kebahagiaan hidupnya, tetapi ada juga yang merasa bahwa segalanya ada karena usahanya sendiri.

Memang jika manusia percaya adanya Tuhan sekalipun tidak melihat, itu adalah sesuatu yang ajaib. Banyak orang yang menyelidiki mengapa orang bisa percaya kepada hal-hal spiritual, dan kemudian mengajukan beberapa teori. Manusia membutuhkan adanya sesuatu yang mahakuasa dalam ketidakberdayaan mereka dan menciptakan “Tuhan” dalam pikiran mereka, begitu sebagian berspekulasi.

Bagi umat Kristen, iman adalah jelas diluar jangkauan manusia. Iman tidak diciptakan manusia atau timbul karena usaha manusia. Tuhan yang mahabesar dan yang mengirimkan AnakNya yang tunggal ke dunia, tidak bisa dijangkau oleh pikiran manusia jika tanpa bimbingan Roh Kudus. Karena itu, bagi mereka yang bukan Kristen hal ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal.

“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” 1 Korintus 2: 14

Bagaimana Tuhan yang mahakasih bisa membiarkan adanya malapetaka di dunia? Pertanyaan ini juga sering membuat manusia mengingkari adanya Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Mereka tidak menyadari bahwa dunia ini bukanlah surga, dan Tuhan selalu mempunyai rencana di balik semua peristiwa.

Jadi bagaimana kita bisa percaya adanya Tuhan dan beriman kepada Tuhan yang benar? Yesus berkata bahwa mereka yang percaya kepadaNya sekalipun tidak melihat Dia adalah orang-orang yang berbahagia (Yohanes 20: 29). Mereka yang sudah dibimbing Roh Kudus yang membuka hati mereka untuk mengaku bahwa mereka adalah orang berdosa, memperoleh iman bahwa mereka hanya bisa diselamatkan oleh darah Kristus. Mereka adalah orang-orang yang terpilih, bukan orang-orang yang memilih Tuhan.

Tuhan bekerja dalam segala aspek kehidupan seluruh umat manusia. AjakanNya kepada setiap orang, untuk menjawab panggilan keselamatanNya, selalu disertai dengan kasih karunia yang cukup untuk menumbuhkan iman. Hanya Tuhan yang bisa memberi iman dan hanya Dia yang bisa mempertahankan dan menumbuhkannya.

Kehidupan ini bisa terasa sangat berat, dan iman kita terasa kecil. Tetapi jika kita ingat bahwa iman bukan karena usaha kita sendiri, satu-satunya yang bisa kita minta dalam doa adalah agar Tuhan membuka hati kita untuk bisa tetap merasakan kasihNya dalam perjuangan hidup kita, dan untuk menambahkan iman kita dalam menghadapi masa depan.

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” Lukas 17 : 5

Bagaimana dengan masa depanku?

“Perhatikanlah orang yang tulus dan lihatlah kepada orang yang jujur, sebab pada orang yang suka damai akan ada masa depan.” Mazmur 37: 37

Membaca surat kabar dan media baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar negeri, kita tidak dapat tidak merasa sangat sedih. Betapa tidak? Gempa bumi yang menghacurkan kota Palu dan Donggala beserta daerah disekitarnya sungguh besar akibatnya pada infrastruktur dan kehidupan penduduk setempat.

Kejadian yang bisa menggoncangkan kehidupan manusia tentu saja tidak harus berupa gempa bumi. Dalam hidup ini, seringkali kita mengalami berbagai goncangan yang membuat hidup ini terasa berat. Entah itu karena persoalan ekonomi, keluarga, pekerjaan, persahabatan dan lain-lainnya, terkadang hidup manusia terlihat porak-poranda. Dan jika kita yang mengalami hal-hal itu, sudah sewajarnya kita bertanya-tanya: adakah masa depan bagiku? Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki keadaan?

Ayat diatas adalah ayat yang sederhana dan mudah dimengerti. Walaupun demikian, orang di zaman sekarang mungkin sudah jarang mengindahkannya. Ayat itu mengajarkan agar kita mengambil contoh dari orang yang tulus dan yang jujur. Lebih dari itu, kita harus berusaha untuk hidup dalam damai, karena bagi mereka yang suka damai akan ada masa depan yang baik.

Bagi banyak orang, ayat diatas agaknya sudah bernada kuno, sudah ketinggalan zaman. Dunia sekarang seolah mengajarkan bahwa mereka yang ingin untuk sukses di dunia harus siap dan bisa untuk melakukan apa saja. Karena itu, mereka yang mempunyai ambisi untuk mencapai kesuksesan sering terlihat memakai taktik dan cara yang tidak jujur, dan bahkan siap untuk mengorbankan perdamaian dan ketenteraman untuk mencapai maksudnya.

Dalam hidup ini, manusia memang selalu mengalami goncangan kecil dan besar. Bagi banyak orang sudah jauh dari Tuhan, hidup serasa ada dalam tangan mereka sendiri. Dalam kebodohan mereka, mereka merencanakan segala sesuatu yang baik menurut keinginan mereka, dan merasa bangga karena dapat melakukan hal itu. Mereka tidak sadar bahwa hidup ini ada di tangan Tuhan.

“Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.” Amsal 27: 1

Masa depan umat manusia sepenuhnya bergantung pada rencana Tuhan. Tidak ada seorangpun yang terkecuali, dan tidak ada satu bangsa pun yang bisa bebas dari rancangan Tuhan untuk seisi bumi ini. Mereka yang berusaha untuk mencari kehendak Tuhan adalah orang-orang yang bijaksana. Mereka yang menuruti kehendak sendiri dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan adalah orang-orang yang bodoh.

Pagi ini biarlah kita mau berdoa untuk masa depan kita, masa depan bangsa dan keadaan dunia. Kesadaran bahwa Tuhan yang mahakuasa mencintai orang-orang yang tulus, jujur dan suka damai, seharusnya menambah keyakinan kita bahwa sekalipun awan tebal menutupi langit saat ini, pada waktunya kita akan melihat sinar matahari lagi.

“Orang-orang benar diselamatkan oleh TUHAN; Ia adalah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan” Mazmur 37: 39

Berdusta berarti belum mengenal Tuhan

“Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya” Kolose 3: 9

Pernahkah anda berbohong? Pertanyaan itu jika diajukan kepada semua orang di dunia, pastilah dijawab dengan “ya”. Mungkin bukan bohong besar; tetapi bohong kecil pun adalah bohong. Mungkin jika kebohongan itu dianggap tidak berbahaya, orang menganggap white lies itu biasa dan dapat diterima. Malahan, di zaman ini banyak tokoh dan pimpinan negara yang kelihatannya ahli dalam hal membohongi rakyat.

Bagaimana kata Firman Tuhan mengenai hal berbohong? Ayat diatas menunjukkan bahwa kebohongan atau dusta adalah ciri manusia lama, mereka yang belum diperbaharui dalam darah Kristus. Seperti ular yang membohongi Adam dan Hawa di taman Firdaus, manusia lama kita cenderung untuk meniru iblis dengan segala tipu-dayanya.

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Yohanes 8: 44

Walaupun demikian, ada orang yang berbohong dengan dalih bermaksud baik. Corrie ten Boom, misalnya, menulis dalam bukunya The Hiding Place bahwa ia membohongi tentara Jerman yang menemui dia untuk mencari orang-orang Yahudi. Corrie menyembunyikan orang-orang itu dirumahnya dan membantu mereka untuk melarikan diri. Tanpa berbohong, orang-orang Yahudi itu pastilah akan ditangkap dan dimasukkan kamp konsentrasi.

Dalam Alkitab, hanya ada dua contoh mengenai hal berbohong yang nampaknya tidak dipandang sebagai hal yang salah. Yang pertama adalah bidan-bidan Mesir yang berbohong untuk menyelamatkan bayi laki-laki keluarga Ibrani (Keluaran 1: 17 – 18). Yang kedua adalah Rahab yang menyembunyikan dua pengintai Israel di kota Yerikho (Yosua 2: 1 – 15). Dalam kedua kisah ini kelihatannya dusta tidak ditulis sebagai hal yang jahat karena bertautan dengan usaha menyelamatkan umat Tuhan dari bencana. Tetapi, Alkitab tidak mengajarkan dusta sebagai hal yang baik dalam situasi apapun. Keadaan dimana dusta diperlukan untuk menghindari bencana besar pada umat manusia adalah jarang. Kebanyakan dusta dalam hidup sehari-hari adalah untuk mencari keuntungan atau mencapai tujuan manusia.

Mereka yang biasa berdusta dalam hal yang kecil, lambat laun akan terbiasa membuat dusta besar. Dari kebiasaan yang kecil, tumbuh kejahatan yang besar. Di balik semua alasan untuk berdusta, ada kenyataan bahwa orang yang berdusta tidak menyadari atau mengabaikan adanya Tuhan yang mahatahu. Mereka yang berdusta tentunya tidak mempunyai rasa takut kepada Tuhan yang mahasuci, yang tidak pernah berdusta dan membenci adanya dusta. Sebuah contoh yang tercatat dalam Alkitab tentang akibat dusta yang tragis adalah apa yang dialami oleh Ananias dan Safira, yang kehilangan nyawa mereka karena berdusta dalam hal persembahan (Kisah Para Rasul 5: 1 – 11).

“…..Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.” Kisah Para Rasul 5: 4b

Pagi ini, jika kita bangun dan membaca berita dalam media apapun, kita melihat bahwa banyak orang di dunia ini membuat berbagai dusta untuk mencapai berbagai maksud. Semua dusta dibenci Tuhan, dan mereka yang sering atau selalu melakukannya untuk mencapai apa yang direncanakan mereka, adalah orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Bagi kita yang sudah mengenal Tuhan, kita harus berhenti melakukan kebiasaan yang sering kita lakukan dalam hidup lama kita.

Pernahkah Tuhan berduka?

“Berapa kali mereka memberontak terhadap Dia di padang gurun, dan menyusahkan hati-Nya di padang belantara!” Mazmur 78: 40

Seorang sanak saya baru-baru ini menerima kabar buruk tentang temannya yang meninggal dunia secara tiba-tiba pada usia muda. Kejadian yang tidak tersangka itu membuat sanak saya merasa sangat sedih; apalagi, ia bertemu dengan temannya belum lama berselang dan pada saat itu tidak ada firasat jelek apapun.

Kesedihan manusia jelas bisa membuatnya lemah, putus asa ataupun depresi. Apalagi, jika ada masalah yang besar yang kelihatannya tidak mungkin bisa diatasi. Bencana alam yang baru-baru ini terjadi misalnya, membuat banyak orang mengalami kesedihan yang luar biasa. Sudah tentu, penderitaan mereka bukan hanya dalam hal fisik dan materi, tetapi yang lebih sukar ditangani adalah penderitaan moril atau rohani.

Bagi mereka yang percaya adanya Tuhan, keyakinan bahwa Tuhan dapat melihat apa yang terjadi pada diri manusia, mungkin membuat mereka bertanya-tanya, apakah Tuhan bisa merasa sedih seperti manusia. Jika Tuhan memang bisa merasa sedih, apakah Ia bisa berbelas kasihan kepada mereka yang mengalami kesusahan dan kemudian berbuat sesuatu untuk mereka?

Sebagai Tuhan yang menciptakan manusia menurut gambarNya, sudah tentu Tuhan mempunyai sifat dan reaksi yang mirip dengan apa yang dipunyai manusia. Yesus, Anak Allah yang turun ke dunia, adalah Tuhan yang berwujud manusia; hanya saja Ia sempurna dan tidak berdosa. Dengan demikian, Tuhan dalam segala perasaanNya adalah mirip manusia, hanya saja Dia adalah Tuhan yang mahasuci dan mahatahu. Dia tidak akan kaget jika ada sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia.

Kesedihan Tuhan adalah murni karena kasihNya. Dia tahu apa yang akan terjadi dan bisa mengutarakan perasaaanNya ketika hal itu terjadi; tetapi, Ia sudah mempunyai rencana tentang apa yang akan diperbuatNya. Tuhan tidak perlu menyesali apa yang terjadi, dan kemudian mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu sesuai dengan situasi dan kondisi; karena apapun yang terjadi sudah ada dalam rancanganNya.

Tuhan yang mahatahu, tahu apa yang akan dilakukan manusia, bisa melihat apa yang akan terjadi dalam hidup tiap manusia. Ia bisa membaca pikiran manusia, melihat apa yang diperbuat manusia dan tahu apa kesalahan manusia. Karena itu, Ia merasa sedih jika apa yang terjadi dalam kehidupan manusia tidak sesuai dengan apa yang dikehendakiNya.

Kesedihan Tuhan adalah sesuatu yang suci dan bukan seperti kesedihan manusia yang seringkali terisi dosa. Kesedihan manusia seringkali menimbulkan berbagai hal yang negatif, seperti kekecewaan, perasaan putus asa, tidak peduli akan orang lain atau masa depan, dan kebencian. Sebaliknya, kesedihan Tuhan selalu disertai dengan rencana untuk meneruskan kasih pemeliharaanNya untuk manusia yang percaya kepadaNya.

Kesedihan Tuhan yang pertama kali muncul ketika Adam dan Hawa melanggar perintahNya untuk tidak memakan buah pengetahuan hal yang baik dan buruk. Tidak tahukah Tuhan bahwa manusia sanggup dan akan melanggar perintahNya? Sudah tentu Ia tahu! Ia tahu bahwa manusia dalam kemerdekaannya untuk mengambil keputusan yang membuat mereka jatuh kedalam dosa. Tetapi, justru karena Ia tahu, rencana penyelamatan manusia sudah disiapkanNya.

Pagi ini, jika kita merasa sedih karena berbagai hal, dan berpikir bahwa tidak ada seorangpun yang bisa ikut merasakannya, kita harus ingat bahwa Tuhan juga ikut berduka bersama kita. Mungkin kita menyesali apa yang terjadi dalam hidup ini, merasa kecewa akan tindakan orang lain, atau mungkin merasa malu atas kesalahan kita sendiri. Tuhan tahu semua itu akan terjadi. Jika kita berduka, Ia pun bisa ikut merasakannya. Tetapi Ia yang mahatahu dan mahakuasa, Ia jugalah yang sudah mempunyai rencanaNya untuk kita. Keputusan, kehendak dan rencanaNya adalah sempurna, tidak bisa diubah atau perlu diubah. Semuanya akan terjadi pada waktunya. Apa yang harus kita lakukan dalam kesedihan kita adalah percaya bahwa Tuhan yang mengasihi kita, adalah seperti Yesus, Imam Besar kita, yang mengerti perasaan kita dan yang akan memberikan apa yang terbaik untuk kita.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Ibrani 4: 15 – 16

Hal pemeliharaan Tuhan

“Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan pemeliharaan-Mu menjaga nyawaku.” Ayub 10: 12

Beberapa tahun yang lalu, seorang sanak saya mengalami kecelakaan. Ketika ia mengendarai mobilnya disepanjang motorway, sebuah truk tiba-tiba memotong jalan dan menghantam mobilnya. Mobil kecil itu terhempas ke tengah jalur pemisah jalan, terguling dua kali sebelum tergeletak di tengah rerumputan. Banyak yang menduga bahwa mobil yang ringsek itu tentunya membuat penumpangnya luka berat. Tetapi heran, sanak saya keluar dari mobil itu tanpa luka sedikitpun.

Mujizat tidak terjadi setiap hari, tetapi kejadian seperti diatas jelas adalah ajaib. Hal yang supranatural. Bila satu hal yang semestinya terjadi, kemudian tidak terjadi, itu adalah keajaiban. Demikian pula dengan sesuatu yang seharusnya tidak terjadi, tetapi kemudian terjadi diluar dugaan; itu juga suatu yang ajaib. Bila orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan akan menghubungkan hal-hal diatas dengan “nasib”, orang percaya mengatakan itu adalah kehendak Tuhan; yang jika membawa kebaikan, akan disebut sebagai mujizat.

Tuhan memang memelihara seisi semesta alam ini sehingga semuanya berjalan secara teratur menurut hukum yang berkaitan. Jika Tuhan tidak menciptakan berbagai sistim dan hukum alam, pastilah dunia dan segala isinya akan kacau balau. Kenyataan bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan “aturan main” tertentu, menunjukkan bahwa Tuhan memberikan pemeliharaan kepada semua yang ada di jagad raya. Itu adalah pemeliharaan atau providensia Tuhan yang umum (general providence).

Banyak orang yang merasa jika hidupnya berjalan seperti biasa, Tuhan tidak menunjukkan keajaibanNya. Tetapi, bagi umat Kristen, matahari yang terbit setiap pagi dan udara yang segar adalah dimungkinkan karena pemeliharaanNya, seperti yang ditulis dalam kitab Kejadian.

Tuhan yang mahakuasa adalah yang menciptakan hukum fisika, hukum kimia, hukum astrofisika dan sebagainya. Tetapi, sebagai Tuhan, Ia tidak harus tunduk kepada hukum ciptaanNya. Ia bisa dan bebas untuk bekerja tanpa menuruti hukum-hukum itu, jika memang perlu. Itulah yang disebut pemeliharaan Tuhan yang khusus. Jika ini terjadi, keajaiban dikatakan terjadi. Keajaiban ada diluar pengertian manusia tentang hukum alam. Walaupun demikian, apa yang dikenal manusia sebagai keajaiban, mungkin saja sesuatu yang tidak atau belum dimengerti manusia. Karena itu ada orang-orang yang tertipu oleh adanya “mujizat” di sekelilingnya.

Memang banyak orang Kristen yang mendambakan datangnya mujizat. Maria ibu Yesus juga begitu ketika mereka menghadiri perjamuan kawin di Kana. Ia mengharapkan Yesus untuk berbuat sesuatu ketika tuan rumah kehabisan anggur. Tetapi Yesus berkata bahwa saatNya belum tiba. Mujizat adalah providensia Tuhan yang khusus, dan itu tidak dapat ditentukan atau dipaksakan oleh kehendak manusia.

Yesus mengubah air menjadi anggur di Kana, dan itu adalah mujizat karena bertentangan dengan akal budi manusia. Mengapa itu terjadi? Seperti halnya pemeliharaan umum, mujizat adalah pemeliharaan yang khusus, yang terjadi untuk kemuliaan Tuhan.

“Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.” Yohanes 2: 11

Pagi ini kita mungkin membaca koran dan merasa masygul karena adanya peristiwa-peristiwa yang menyedihkan. Mungkin itu sehubungan dengan bencana alam yang memakan banyak korban. Hati kita merasa sedih dan pikiran pun mulai bertanya-tanya: apakah Tuhan itu ada? Keadaan yang kocar-kacir seolah membutuhkan Tuhan untuk melakukan mujizatNya. Dimanakah Engkau Tuhan?

Seperti Ayub yang merasakan bahwa Tuhan seolah menjauhi dia, begitu juga kita mungkin merasa bahwa Tuhan membenci kita di saat malapetaka terjadi. Tetapi Ayub sadar bahwa jika ia masih tetap bisa hidup, itulah juga sebuah mujizat. “Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan pemeliharaan-Mu menjaga nyawaku”, begitulah ia berpikir. Hidup kita adalah bukti adanya mujizat Tuhan, karena Yesus Kristus sudah mati untuk menebus dosa kita. Yesus adalah cukup bagi kita. Jesus is enough for us. Dengan itu, kita bisa selalu memuliakan Tuhan dan siap berjuang untuk menolong sesama kita yang dalam penderitaan. Kita tidak lagi selalu mendambakan mujizat Tuhan, karena mujizatNya yang luar biasa sudah terjadi pada setiap orang yang percaya kepada Yesus. Mereka yang belum percaya seharusnya bisa melihat mujizat Tuhan melalui hidup kita.

“…namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. ” Galatia 2: 20a

Tetap teguh dalam menghadapi masalah

“Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.” Mazmur 91: 7

Graham Stuart Staines (1941 – 23 January 1999) adalah seorang misionaris Australia yang bersama dua putranya, Philip (umur 10) and Timothy (umur 6), dibakar hidup-hidup oleh sebuah kelompok ekstrim ketika mereka sedang tidur dalam mobil mereka di desa Manoharpur, distrik Odisha, India pada tanggal 23 January 1999. Pada tahun 2003, Dara Singh terbukti bersalah dalam memimpin gang yang membunuh Graham Staines dan kedua putranya, dan dijatuhi hukuman seumur penjara hidup.

Graham sudah bekerja di Odisha diantara penduduk desa yang miskin dan penderita kusta sejak tahun 1965. Beberapa kelompok agama setempat kemudian merasa kurang senang dan menuduh bahwa ia secara paksa membuat orang setempat untuk menjadi Kristen. Karena itu mereka membuat rencana untuk membunuh Graham.

Istri Graham, Gladys, membantah bahwa mereka memaksa penduduk untuk berganti agama. Walaupun Gladys mengalami peristiwa yang sangat menyedihkan itu, ia tinggal di India untuk melayani penderita kusta sampai ia kembali ke Australia pada tahun 2004. Pada tahun 2005, ia menerima penghargaan dari pemerintah India untuk jasanya dalam menolong penderita kusta di Odisha. Pada tahun 2016, ia menerima penghargaan the Mother Theresa International Award for Social Justice.

Apakah yang membuat orang Kristen seperti Gladys untuk tetap tabah dalam menghadapi bencana kehidupan? Bagaimana mereka bisa menerima kenyataan bahwa sebagai orang Kristen, mereka juga bisa mengalami malapetaka?

Ayat diatas sering dipakai sebagian orang Kristen untuk menegaskan bahwa sekalipun orang disekeliling mereka mengalami kehancuran, mereka tetap jaya dan tidak terpengaruh, karena adanya pemeliharaan Tuhan. Bahkan, sering diceritakan bahwa ketika ada bencana alam dan semua gedung hancur berantakan, gedung gereja dengan ajaib tetap bisa berdiri. Bukankah itu tanda kebesaran Tuhan? Orang yang benar selalu dibebaskan dari bencana, orang yang mengalami malapetaka adalah orang yang jahat. Begitu mungkin anggapan mereka.

Graham Stuart Staines dan kedua putranya tewas secara tragis di tangan orang jahat. Dimanakah Tuhan sewaktu hal itu terjadi? Dimanakah janji Tuhan untuk melindungi semua umatNya? Mereka yang mengartikan ayat diatas secara literal akan kecewa. Pada waktu banyak orang melakukan tarian kematian untuk Graham, Philip dan Timothy, Tuhan seolah mengabaikan mereka. Tetapi Tuhan jelas tidak pernah meninggalkan umatNya. Malahan, semua yang terjadi di dunia berjalan sesuai dengan rencanaNya. Oleh karena itu, apapun yang ada, hal yang baik maupun yang buruk, seharusnya memberi kesempatan bagi kita untuk belajar lebih jauh untuk mengerti kehendakNya.

Benarkah Tuhan akan melindungi kita sekalipun ada ribuan orang tewas disekitar kita? Penulis Mazmur tidak secara terperinci menjelaskan keadaannya pada waktu itu. Mungkin pada waktu itu ia merasakan perlindungan Tuhan ketika ada kehancuran disekelilingnya. Tetapi, sebagai orang Kristen kita tidak bisa selalu luput dari penderitaan dan bencana. Bahkan dalam sejarah orang Kristen, banyak yang tersiksa, dianiaya dan dibunuh karena iman mereka. Yesus berkata bahwa itu adalah bagian dari panggilan iman kita. Tuhanlah yang memungkinkan kita untuk tetap teguh dalam iman, sekalipun keadaan disekeliling kita sangat menyedihkan.

“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Matius 5: 10

Dengan keyakinan bahwa Tuhan menyertai umatNya, biarlah kita bisa menunjukkan kepada masyarakat di sekeliling kita bahwa Tuhan yang sudah memberi kita kekuatan dalam menghadapi kehancuran disekeliling kita, adalah Tuhan yang juga bisa menolong mereka. Melalui ketabahan dan keyakinan kita biarlah makin banyak orang yang mengenal Tuhan.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Mengapa Tuhan membiarkan adanya bencana?

“Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.” Pengkhotbah 9: 12

Gempa bumi yang terjadi di Indonesia secara berturut-turut baru-baru ini, membuat semua orang di dunia ikut prihatin. Salah satu pertanyaan rumit yang sering muncul jika ada hal-hal semacam ini adalah mengapa itu harus terjadi jika Tuhan itu ada.

Kebanyakan disaster yang terjadi di dunia ini bisa dicari sebabnya. Ilmu pengetahuan sudah sedemikian maju sehingga kita bisa mengerti mengapa bencana alam, kecelakaan dan berbagai malapetaka bisa terjadi. Kita juga tahu bahwa tidak semua bencana bisa dihindari. Tidak ada bencana yang terjadi tanpa sebab; tetapi, masalahnya adalah mengapa Tuhan membiarkan itu terjadi. Tuhan yang mahakuasa seharusnya bisa mencegah hal itu. Dengan demikian, ada orang yang beranggapan bahwa terjadinya bencana atau malapetaka membuktikan tidak adanya Tuhan.

Sekalipun kita percaya bahwa Tuhan itu ada, pergumulan hidup diatas  bisa menimbulkan berbagai keraguan:

  1. Apakah Tuhan itu mahakasih tetapi tidak mahakuasa?
  2. Apakah Tuhan itu mahakuasa tetapi tidak mahakasih?
  3. Apakah Tuhan itu mahakuasa dan mahakasih tetapi tidak mahaadil?
  4. Apakah Tuhan sekarang ini sudah mengabaikan ciptaanNya?

Karena adanya dosa, dunia yang diciptakan Tuhan sudah menjadi dunia yang harus kita diami dengan menghadapi berbagai masalah. Bencana alam sering terjadi sebagai bagian dinamika alam semesta. Tetapi, bagi Tuhan yang mahakasih, penderitaan manusia bukan sesuatu yang disenangiNya. Jika seluruh jagad raya dapat tetap berjalan seperti yang seharusnya dan tidak hancur berantakan, pastilah itu karena adanya pemeliharaan dan kasih Tuhan. Dengan demikian, Tuhan yang selalu menjagai seluruh ciptaanNya adalah Tuhan yang hidup, yang mahakuasa, mahakasih dan mahaadil.

Malapetaka bisa terjadi karena dosa dan kesalahan manusia yang kurang bisa mengantisipasi kemungkinan datangnya hal-hal itu. Dalam dunia manusia bisa memilih prioritas hidup, tetapi mereka yang hidup sesuai dengan kehendakNya, akan bekerja dengan sebaik-baiknya untuk mengatasi tantangan hidup, baik yang ada sekarang, maupun yang bisa terjadi di masa depan.

Walau hal-hal yang jahat bisa terjadi di dunia, Tuhan tetap mencintai  anak-anakNya dan tidak membiarkan malapetaka datang atas mereka tanpa alasan. Tuhan jugalah yang mau memberi mereka ketabahan. Adanya bencana justru seharusnya membuat manusia makin sadar bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencana Tuhan.

Tuhan yang menciptakan taman Firdaus dulu, tidak  pernah berubah  sifatnya.  Namun kadangkala Ia mengizinkan kita mendapat pelajaran dari pengalaman kita, barangkali agar kita bisa lebih menurut kepada pimpinanNya dan tidak mengandalkan pikiran dan pilihan kita sendiri. Mungkin juga Tuhan memakai kejadian seperti itu untuk menggerakkan anak-anakNya untuk lebih bijaksana dalam hal menggunakan berkat-berkatNya yang sudah ada, dan lebih bisa untuk mengasihi mereka yang lagi menderita.

Pagi ini, kita tahu mengapa ada bencana di bumi, tetapi tidak ada seorangpun yang tahu dengan pasti apa maksud Tuhan jika hal-hal yang buruk terjadi pada hidup anak-anakNya. Jalan pikiranNya tidak terjangkau manusia dan rencanaNya tidak dibatasi oleh waktu. Hanya satu hal yang kita tahu, rencana Tuhan pasti terjadi pada waktunya dan maksud Tuhan adalah selalu baik untuk umatNya. Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana!

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Hal hutang menghutangi

“Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat”. Roma 13: 8

Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antar manusia dalam hal keuangan selalu bisa dilihat. Jual-beli di pasar, transaksi bank ataupun kegiatan perdagangan selalu membutuhkan mata uang. Bagaimana pula dengan hal pinjam-meminjam? Bolehkah orang Kristen berhutang uang?

Memang soal pinjam meminjam adalah bagian kehidupan manusia. Bukan saja ada hutang perseorangan, tetapi ada juga hutang perusahaan dan hutang negara. Berhutang kadang-kadang perlu untuk bisa mencapai tujuan baik, tetapi jika ada salah perhitungan, adanya hutang bisa mendatangkan berbagai kesulitan dan persengketaan di masa depan.

Dalam Perjanjian Lama, hal berhutang sering dibicarakan. Alkitab secara umum tidak melarang kita dalam kegiatan hutang menghutangi, tetapi mengajarkan agar kita saling mengasihi, saling memberi. Jika hal hutang-piutang bisa membawa masalah, hal dikasihi dan mengasihi selalu akan membawa kebaikan.

Adanya rasa kasih antar umat Kristen dalam hubungan sosial juga memungkinkan timbulnya rasa empati, yang memungkinkan seseorang untuk bisa menempatkan diri kedalam situasi yang dialami orang lain. Rasa sepenanggungan ini memungkinkan seseorang untuk bisa mempunyai kepekaan atas penderitaan dan kebutuhan orang lain, dan dengan demikian bisa menyatakan kasihnya kepada orang itu.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 15

Rasa empati jelas lebih baik dari rasa simpati, yang hanya merupakan pernyataan belas kasihan kepada orang lain.

Dalam hidup manusia, hal memberi dan menerima, give and take, memang lumrah. Walaupun begitu, untuk orang Kristen, memberi dengan kasih adalah lebih baik dari menerima. Itu karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi kita dengan mengurbankan AnakNya. Tambahan lagi, rasul Paulus pernah menyatakan bahwa tugas orang Kristen adalah membantu mereka yang lemah.

“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Kisah Para Rasul 20: 35

Berhutang budi dan menanam budi, dengan demikian adalah baik. Sebagaimana Tuhan sudah mengasihi kita dengan mengirimkan anakNya yang tunggal untuk menebus dosa kita, kita wajib mengasihi orang lain dengan memberi apa yang terbaik untuk mereka – yang belum tentu uang- dan itu bukannya sekedar menghutangi.

Dalam kenyataan hidup, ada orang-orang yang sulit untuk mengasihi dan kurang tertarik untuk menanam budi. Mereka mungkin mau memberi atau berbuat kebaikan hanya jika ada hasilnya. Jika memberi bantuan untuk sesama sering dikaitkan dengan mendapat laba atau keuntungan, memberi sesuatu kepada Tuhan pun selalu dengan pengharapan untuk mendapatkan pembalasan yang berlipat ganda dari Tuhan. Mereka yang mempunyai prinsip hidup seperti ini, tidak lain adalah orang yang percaya bahwa mereka bisa menghutangi Tuhan semesta alam yang sudah memberkati hidup mereka dengan berbagai hal.

Mereka yang sulit untuk menerima bantuan orang lain juga ada. Bagi mereka, rasa malu atau angkuh bisa menyebabkan mereka untuk tidak mau berhutang budi kepada orang lain. Sebagian mungkin mencurigai adanya “udang di balik batu”. Menolak kasih orang lain karena adanya pengalaman pahit di masa lalu bukanlah hal yang jarang. Begitu juga orang yang menolak uluran tangan kasih Tuhan karena adanya kepahitan hidup di masa lalu, atau karena kekuatiran bahwa mereka tidak akan mampu membalas kasih Tuhan dengan hidup menurut firmanNya.

Pagi ini kita belajar dari firman Tuhan bahwa dunia ini sudah dikuasai oleh prinsip hutang menghutangi, dan melupakan bahwa apa yang benar adalah prinsip kasih mengasihi. Jika prinsip dunia saat ini adalah dilandaskan kepentingan pribadi, prinsip surgawi adalah berdasarkan kasih kepada Tuhan dan sesama manusia. Yesus datang untuk membayar hutang yang tidak dimilikinya, karena kita memiliki hutang yang tidak dapat kita bayar. Bagaimana pula dengan sambutan kita?

Hal menempatkan diri

“Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Lukas 18: 13

Di dunia ini ada berbagai manusia dan sifatnya. Ada orang yang sabar, tetapi ada juga yang mudah naik darah. Ada yang rendah hati, ada juga yang sombong. Tidak ada manusia yang sama, dan mungkin saja latar belakang, pendidikan, dan status mereka mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan mereka. Walaupun demikian, segala sifat, sikap dan tingkah laku yang bisa dilihat juga dipengaruhi oleh keadaan disekitarnya. Manusia bisa menempatkan dirinya untuk menyesuaikan diri dengan keadaan disekitarnya, dan dengan siapa ia berkomunikasi. Manusia yang bijak, selalu tahu diri dan mawas diri.

Dalam hubungannya dengan Tuhan yang mahakuasa, semua manusia adalah seperti tanah liat ditangan penjunan. Tanah liat yang tidak berharga, bisa dibentuk menjadi bejana yang indah hanya karena tangan pembuat periuk.

“Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.” Yesaya 64: 8

Karena itu, manusia yang bijaksana akan sadar bahwa ia tidak dapat menempatkan dirinya sederajat dengan Penciptanya. Kesalahan yang diperbuat oleh Adam dan Hawa di taman Firdaus, tidaklah perlu diulangi lagi. Manusia yang sadar akan kebesaran Tuhan, akan selalu merendahkan dirinya di hadapan Tuhan Sang Pencipta, dan tidak juga menyombongkan diri di depan sesamanya.

Pada pihak yang lain, banyak orang yang tidak tahu bagaimana kedudukan mereka. Seperti seorang Farisi yang digambarkan Yesus, mereka merasa lebih baik dari orang lain.

Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” Lukas 18: 11 – 12

Dalam kehidupan gereja, kita mungkin melihat adanya orang-orang yang tinggi hati karena merasa bahwa mereka mempunyai hubungan yang istimewa dengan Tuhan, mempunyai karunia khusus dari Tuhan, atau kedudukan penting dalam organisasi. Ada juga yang merasa bahwa mereka saja yang mempunyai cara ibadah yang benar. Itulah kesombongan manusia.

Di hadapan Tuhan, semua umat manusia adalah sama, mereka adalah tanah liat. Karena itu, baik memuja atau merendahkan orang lain adalah keliru. Hanya Tuhan yang patut dipuja dan dikagumi. Sebagai manusia, kita semua adalah orang berdosa.

Sangat mudah kita melihat kesombongan orang lain. Tetapi, jika kita tidak mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, itu juga berarti sebuah kesombongan. Pemungut cukai dalam perumpamaan diatas bukan saja sadar bahwa Tuhan adalah mahakuasa, ia juga tahu bahwa Tuhan adalah mahasuci. Karena itu ia tidak menganggap dirinya layak untuk menemui Tuhan di bait Allah. Ia berdiri jauh-jauh, tidak berani menengadah ke langit, dan meminta ampun akan segala dosanya.

Pagi ini, biarlah kita merenungkan bagaimana kita menempatkan diri kita di hadapan Tuhan. Apakah kita sering merasa bahwa Tuhan adalah oknum yang harus selalu mendengar doa kita dan memenuhi keinginan kita? Ataukah Dia Tuhan yang kita sembah dan muliakan sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci? Kita harus bersyukur bahwa karena Yesus kita bisa memanggil Dia sebagai Bapa, tetapi itu bukan berarti bahwa kita tidak perlu menempatkan diri secara benar seperti si pemungut cukai di hadapan hadiratNya.

Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Lukas 18: 14

Aku membutuhkan Tuhan dalam hidupku

Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Yohanes 14: 8

Apabila Tuhan adalah satu-satunya yang anda punyai, Tuhan adalah satu-satunya yang anda butuhkan. If God is all you have, you have all you need. Begitulah bunyi sebuah ungkapan yang cukup terkenal. Ungkapan ini rupanya berdasarkan ayat diatas.

Pada waktu itu, Tuhan Yesus menjelaskan kepada murid-muridnya bahwa Ia akan pergi meninggalkan mereka untuk menjumpai BapaNya yang mempunyai banyak tempat kediaman. Ia menghibur murid-muridNya dan berkata bahwa kemana Ia pergi, murid-muridNya akan kesana juga.

Kemana Yesus akan pergi? Tomas tidak tahu, dan karena itu bertanya bagamana mereka bisa kesana jika mereka tidak tahu kemana Yesus pergi. Yesus kemudian menjawab bahwa Ia akan pergi menjumpai BapaNya; dan hanya melalui Dia, manusia bisa menjumpai Bapa. Dengan jawaban Yesus itu, Filipus meminta agar Yesus menunjukkan Bapa itu, karena jika ia kenal Bapa, itu sudah cukup baginya. Apabila Tuhan adalah satu-satunya yang Filipus punyai, Tuhan adalah satu-satunya yang dibutuhkannya.

Jika Tuhan adalah satu-satunya yang kita miliki, itu mungkin diartikan oleh sebagian orang bahwa kita adalah orang yang miskin dan malang. Jika kita tidak mempunyai rumah, harta, karir, kesuksesan, kesehatan, keluarga dan segala yang dianggap kenikmatan di dunia ini, kita mungkin dianggap sebagai orang-orang yang tidak diberkati. Itu pendapat dunia. Sebaliknya, bisa kita lihat bahwa mereka yang mempunyai berbagai hal dalam hidup mereka, justru sering adalah orang-orang yang selalu merasa kurang puas atau tidak bahagia dalam hidup mereka. Hati mereka tidak terisi denganTuhan saja, tetapi juga dengan berbagai hal duniawi. Karena itu, mereka tidak pernah mengenal rasa cukup dalam hidup.

Di kalangan gereja pun, banyak yang percaya bahwa kita tidak dapat hidup dengan Tuhan saja. Kita harus bisa memperoleh kelimpahan dan kesuksesan dari Tuhan, begitu kata mereka. Padahal, Alkitab mengatakan bahwa kita tidak bisa berbahagia karena hal-hal duniawi.

Pada suatu ketika, Tuhan Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya Yesus merasa sangat lapar. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Apa jawab Yesus?

“Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Matius 4: 4

Walaupun Yesus lapar, Ia tahu bahwa selama komunikasi dengan Allah tetap ada, hidupNya akan tetap terlindungi dan rasa bahagia tetap ada.

Adalah kekeliruan besar jika manusia merasa bahwa hidupnya bergantung kepada berkat Tuhan, dan bukannya kepada Tuhan. Adalah suatu dosa jika kita berkata bahwa kita tidak dapat hidup tanpa berkat Tuhan. Yang benar adalah kita tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Hidup kita bergantung kepada Tuhan, bukan kepada apa yang diberikanNya. Kita memuji Tuhan, bukan memuji berkatNya.

Kita bisa hidup tanpa segala kekayaan dan kenikmatan, jika kita hidup didalam Tuhan yang tahu dan mau memberikan apa yang terbaik untuk kita. Tuhan jauh lebih besar daripada apa yang kita lihat dan kita terima. Karena itu motivasi utama kita dalam berbakti kepada Tuhan adalah untuk bisa dekat denganNya, dan bukan untuk memperoleh berkatNya.

Pagi ini, adakah yang anda sangat butuhkan dan rindukan? Mungkin ada sesuatu yang terasa sebagai kebutuhan yang harus ada dalam hidup anda saat ini. Anda mungkin merasakan tekanan hidup dan sangat menderita karena tidak adanya hal-hal itu. Tetapi, apakah anda tetap memiliki Tuhan dalam hidup ini? Jika benar begitu, anda mungkin seperti Filipus yang percaya jika ia bisa melihat adanya Tuhan, itu sudah cukup baginya.

Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Mazmur 42: 1