“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 8
Siapakah manusia yang tidak berdosa? Agaknya semua orang, dari segala bangsa dan segala agama, akan mengaku sebagai orang yang berdosa jika ditanya. Semua orang, bagaimanapun baiknya umumnya mengaku bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak sempurna. Walaupun demikian, jika ditanya apa yang sudah mereka lakukan untuk dosa-dosa mereka, mungkin tidak banyak yang bisa mereka katakan. Mungkin saja ada yang sudah bertobat dari dosa tertentu, tetapi tentunya banyak dosa-dosa lain yang tersisa. Mungkin jika dosa-dosa itu tidak terasa sebagai dosa besar, mereka dengan mudah melupakannya atau mungkin saja tidak menyadarinya.
Sebagian yang dianggap dosa, mungkin bertalian dengan etika kehidupan. Memang etika bisa menjadi pedoman praktis tentang apa yang baik dan yang buruk dalam hidup sehari-hari. Tetapi, setiap manusia, keluarga, suku atau bangsa tentunya mempunyai etika yang berbeda-beda. Apa yang bisa diterima oleh orang yang satu, belum tentu bisa diterima oleh orang yang lain.Tidaklah mengherankan jika kita melihat bahwa ada orang -orang yang dengan enaknya melakukan sesuatu yang dianggap tabu oleh orang lain. Apalagi mereka yang berkuasa dan ternama biasanya tidak lagi mempunyai rasa segan atau malu untuk melakukan hal yang salah.
Bagi orang Kristen pun ada berbagai faktor yang bisa menyebabkan perbedaan pendapat tentang apa yang baik dan apa yang buruk, antara lain pendidikan, kebiasaan, tekanan ekonomi, situasi politik dan sebagainya. Semua itu bisa membuat orang tidak peduli atau kurang peka dengan dosa-dosa yang ada pada dirinya, atau yang ada dalam masyarakat. Apa yang kelihatan sebagai dosa kemudian diterima sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari, dan bahkan mungkin sebagai kehendak Tuhan. Mereka lupa bahwa jika firman Tuhan bisa ditafsirkan seenaknya atau ada yang bisa diabaikan, hidup manusia akan perlahan-lahan jatuh kedalam kehancuran.
Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita percaya bahwa Roh Kudus diam dalam hidup kita. Roh Kudus yang pada mulanya membuat kita sadar bahwa kita perlu menerima Yesus Kristus agar kita bisa diselamatkan, adalah Roh yang tinggal dalam hati kita dan membimbing kita agar hidup kita makin lama makin baik. Tetapi, jika kita kerapkali mengabaikan suara Roh Kudus dan lebih sering mengikuti kehendak kita sendiri, lambat laun kita akan makin sulit untuk mendengarkan suaraNya karena kita sudah mendukakan Roh itu (Efesus 4: 30). Secara perlahan-lahan kita menjadi orang yang tidak peduli akan dosa kita dan dosa orang-orang di sekitar kita. Kita tidak juga peduli dengan keadaan bangsa, negara dan dunia.
Ketidakpedulian akan keadaan diri kita dan diri orang lain yang melakukan berbagai dosa, adalah sama dengan tidak mengakui dosa kita. Kita mungkin tidak lagi merasa perlu untuk berdoa memohon pengampunan dan meminta kekuatan untuk menghilangkan dosa-dosa itu dari diri kita, dari keluarga dan dari bangsa kita, karena hal-hal itu sudah kita terima sebagai kenyataan yang tidak bisa kita hindari. Mungkin saja kita berusaha melupakan hal-hal itu karena adanya keraguan bahwa Tuhan akan bertindak, dan mungkin juga karena adanya kekuatiran bahwa orang lain akan tersinggung atau marah. Dengan demikian kita berbuat dosa dengan mengabaikan kuasa Tuhan dan kebenaran hukum dan firmanNya.
Pagi ini, adakah kesadaran yang muncul dalam hati kita bahwa ada banyak dosa yang terjadi dalam hidup kita, dalam keluarga, pekerjaan, sekolah, masyarakat dan negara kita? Apakah kita masih bisa merasakan teguran Roh Kudus yang menyatakan kepada kita bahwa ada hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh umatNya? Apakah kita masih bisa mendengar bahwa kita juga terpanggil untuk memerangi dosa yang ada dalam masyarakat di sekitar kita? Adakah rasa sesal dalam hati kita bahwa selama ini kita tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan firman Tuhan dalam masyarakat? Biarlah pengakuan dosa atas ketidakpedulian kita selama ini boleh membawa perubahan sikap hidup kita pada hari-hari mendatang.
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9
Jika anda rajin membaca berita media, tentu anda menyadari bahwa media apapun di zaman ini selalu berusaha menampilkan berita-berita yang membuat banyak orang menjadi tertarik untuk membacanya. Bagi pengusaha media, jumlah pembaca umumnya dapat dihubungkan dengan penghasilan uang. Makin banyak pembaca atau pemirsa, makin banyak pemasukan uang dari langganan dan iklan.
Tetangga saya yang cukup berada mempunyai dua orang anak remaja, putra dan putri, yang baru lulus SMA. Kedua anak itu terlihat cukup baik karakternya dan sekarang membantu orang tuanya dalam menjalankan bisnis konstruksi mereka. Memang di Australia, tidak semua lulusan SMA akan melanjutkan ke universitas. Mereka yang lebih menyukai pertukangan misalnya, akan memilih untuk magang dan mencari pengalaman, untuk kemudian bisa mempunyai bisnis sendiri. Orang tua anak-anak itu tentunya berharap agar kedua anak itu akan sukses di hari depan, tetapi masa depan mereka tentunya tidak ada yang bisa memastikan.
Di Australia, lampu bertenaga surya sekarang sangat populer. Dengan harga yang tidak terlalu mahal, lampu ini bisa menyala tanpa memerlukan tenaga listrik PLN. Dengan memakai lampu jenis LED yang bertenaga rendah, pemakaian solar power ini menjadi atraktif di beberapa negara bagian karena membutuhkan biaya yang lebih rendah dari lampu-lampu tradisional lainnya.
Beberapa bulan yang lalu, saya dan beberapa sanak saya pergi ke sebuah cafe di daerah Southbank, Brisbane, untuk makan pagi. Hari Sabtu dan masih pagi, dan kami pun menjadi langganan pertama yang datang. Ketika kami baru mulai makan, dari seberang jalan terdengar suara berisik yang berasal dari mesin penghancur beton yang dijalankan beberapa pekerja kotamadya. Suara berisik itu terasa sangat mengganggu, tetapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Saya kemudian hanya bisa makan tanpa bisa berbincang-bincang karena adanya kebisingan yang membuat saya tidak bisa mendengar suara orang lain.
Sistim pendidikan di berbagai negara adalah berlain-lainan, tetapi semua tentunya bertujuan untuk memberi murid pengetahuan yang cukup untuk nantinya bisa digunakan untuk mencari nafkah. Di Australia, pendidikan SD, SMP dan SMA negeri adalah serupa dengan apa yang di Indonesia dan secara umum bebas biaya.
Dalam hidup ini kita melihat pemerintah manapun berusaha menegakkan keadilan di negaranya. Tidak hanya dalam bidang hukum, tetapi juga dalam bidang sosial, ekonomi, dan lainnya. Prinsip bahwa semua orang harus diberikan hak dan kesempatan yang sama, pernah muncul di Prancis dengan semboyan liberté, égalité, fraternité (bahasa Prancis untuk “kebebasan, keadilan, persaudaraan”). Sekarang, slogan ini adalah moto resmi dari Republik Prancis dan Republik Haiti, dan bahkan sudah menjadi bagian dari artikel pertama dari Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia dari PBB pada tahun 1948:
Apakah anda mempunyai cita-cita? Pernahkah anda mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu? Yakinkah anda bahwa anda bahwa cita-cita atau rencana anda akan tercapai? Mungkin ada yang menjawab bahwa keyakinan kita tentunya bergantung pada besar-kecilnya rencana; jika rencana itu kecil saja tentunya tidak akan sulit untuk dilakukan, tetapi jika rencana itu besar dan kompleks tentunya kita tidak bisa selalu yakin untuk bisa terlaksana. Segala sesuatu ada resikonya dan itu termasuk resiko gagal.
Dalam bidang teknologi komputer, baik perangkat keras maupun perangkat lunak adalah penting. Sehubungan dengan perangkat lunak, istilah WYSIWYG dikenal sebagai singkatan dari What You See Is What You Get (yang berarti Apa Yang Anda Lihat Adalah Apa Yang Anda Dapatkan). Istilah ini dipakai untuk suatu sistem di mana konten yang sedang disunting akan terlihat sama persis dengan output atau hasil akhir, yang mungkin berupa dokumen cetak, halaman web, slide presentasi, atau bahkan pencahayaan yang dipakai untuk acara teater.