“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” Galatia 6: 1
Di Indonesia istilah EGP (Emangnya Gue Peduli) adalah istilah yang sangat populer, yang dipakai untuk menyatakan bahwa orang yang mengucapkannya tidak mau memikirkan hal atau isu yang dibicarakan. Dalam bahasa Inggris, istilah “do I care” juga mengandung arti dan nada yang serupa. Walaupun istilah EGP seringkali ditulis dengan setengah bercanda, jika dipakai untuk mengomentari kesulitan yang dialami seseorang, nadanya terdengar sinis dan egois.
Sebenarnya sikap yang bernada EGP itu sering dipakai orang dalam hidup sehari-hari di Australia. Jika orang berjumpa dengan teman sekantor di pagi hari, mungkin mereka saling menyapa dengan “how are you” yang artinya “apa kabar”. Tetapi, dengan mengucapkan sapaan itu, sebenarnya mereka tidak mengharapkan untuk mendapat jawaban. Memang di zaman ini, orang tidak peduli atas apa yang terjadi pada orang lain, dan sapaan semacam itu hanya untuk sopan santun saja.
Ada banyak orang yang berpendapat bahwa sebagai manusia yang ingin hidup tenteram, sebaiknya mereka tidak melihat, mendengar atau membuat komentar apa-apa atas apa yang terjadi di sekelilingnya. Jika ada hal-hal yang tidak baik yang terjadi, lebih baik tidak ikut campur. See no evil, hear no evil, say no evil. Jika orang tidak usil, tidak mencampuri urusan orang lain, hidupnya akan terasa damai. Ignorance is bliss. Memang jarang orang yang mau menolong orang lain, persis seperti yang diungkapkan dalam perumpamaan orang Samaria yang baik hati (Lukas 10: 30 – 37).
Semua ketidakpedulian seperti diatas bukanlah sikap yang patut ditiru; tambahan lagi, ajaran dunia untuk “mind your own business” dalam hal-hal tertentu bisa bertentangan dengan prinsip kasih orang Kristen. Paulus menulis kepada jemaat di Galatia, bahwa sebagai orang percaya kita harus peduli atas apa yang terjadi pada orang lain dan mempunyai rasa empati dan simpati. Tidak hanya jika kita melihat orang yang menderita secara jamani, jika kita menjumpai orang yang sakit rohaninya, maka kita harus mau memimpin orang itu ke jalan yang benar dengan lemah lembut, sambil menjaga diri sendiri, supaya kita sendiri jangan kena pencobaan. Sikap EGP atas kerohanian orang lain bukanlah sikap orang Kristen yang baik, dan sikap peduli kepada orang lain bukan hanya tugas para pendeta.
Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa jika kita tidak peduli atas cara hidup orang lain, kita secara tidak langsung membiarkan mereka jatuh dalam kesulitan atau hidup dalam dosa. Dapatkah kita melaksanakan hukum kasih selagi kita tidak peduli akan keadaan orang lain? Sudah tentu itu tidak mungkin. Yesus berkata bahwa hukum kasih yang kedua yang harus kita lakukan selagi kita hidup adalah untuk mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri, dan dengan demikian kita harus selalu peduli akan keadaan orang lain dengan maksud untuk menolong mereka.
“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10
Di zaman ini, jika saya pergi ke shopping centre selalu ada saja produk baru yang kelihatannya menarik perhatian. Dari bungkusnya saja, saya sering bisa menduga berapa harganya. Produk yang harganya mahal pasti punya bungkus atau kotak yang didesain sedemikian rupa, sehingga orang yang melihatnya lebih tertarik untuk membeli.
Tahukah anda bahwa Prince Harry dan Meghan Markle, The Duke and Duchess of Sussex, akan melakukan tour luar negeri pertama ke Australia pada bulan Oktober tahun ini? Persiapan yang dilakukan Australia untuk menyambut kedatangan mereka di Sydney, Dubbo, Melbourne dan Fraser Island sudah dimulai. Mereka yang tinggal ditempat-tempat itu sangat bersemangat untuk memberikan acara welcome yang sebaik-baiknya karena mereka adalah anggota keluarga Ratu Inggris yang juga Ratu Australia.
Ada dua hal yang tidak dapat dihindari manusia yaitu kematian dan pajak. Nothing is certain but death and taxes. Begitulah pernyataan yang diucapkan oleh beberapa tokoh dunia, dan barangkali untuk pertama kalinya oleh Daniel Defoe, dalam bukunya yang berjudul The Political History of the Devil, pada tahun 1726. Ungkapan ini agaknya terasa sarkastik, tetapi ada benarnya. Setiap orang agaknya harus bekerja untuk hidup dan membayar pajak selama hidup, baik secara langsung atau tidak langsung, dan akhirnya menemui kematian. Ungkapan ini seolah berkata bahwa dalam kehidupan manusia yang penuh ketidakpastian, yang pasti justru adanya hal yang tidak enak.
Hari ini adalah hari Jumat di Indonesia dan Australia, dan besok adalah hari libur. Apa yang anda rencanakan untuk akhir pekan? Keluar kota? Ikut lomba lari sehat? Ataukah sekedar rileks di rumah? Mungkin anda sudah mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu sejak lama. Mungkin juga anda belum mempunyai rencana, tetapi akan memikirkannya nanti malam.
Hari ini saya melihat adanya ucapan selamat hari Yom Kippur di WA saya. Saya terperangah. Setahu saya tidak ada satupun teman saya yang merayakannya. Malahan, saya duga hampir semua tidak tahu maknanya. Apa sih Yom Kippur itu?
Apakah bayangan anda tentang Tuhan ketika sedang berdoa? Apakah anda membayangkan Dia seperti seorang raja dengan segala kemegahannya? Apakah anda membayangkan Dia dalam rupa Yesus seperti yang ada dalam berbagai buku Kristen? Bagaimana anda tahu dengan pasti bahwa Yesus mempunyai wajah seperti apa yang dipertunjukkan dalam film “The Passion of the Christ“?
Tidak dapat dipungkiri, sejak adanya berbagai sosial media banyak orang menjadi sangat bersemangat untuk berkomunikasi dengan “teman”. Dengan berbagai aplikasi orang bisa berkomunikasi langsung melalui pesan tertulis ataupun pesan lisan kapan saja. Orang biasanya merasa senang bercanda, saling menggoda dan juga mengirimkan gambar-gambar lucu yang kadang-kadang agak “miring”.