Siapa yang mengerti kesedihanku?

“Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong.” Mazmur 22: 11

Alkisah ada dua orang gadis yang sudah sejak lama berteman, dan merasa bahwa mereka bisa saling mengerti. Sebagai dua sahabat kental mereka saling mengenal apa yang disukai dan dibenci oleh sahabatnya. Mereka sering pergi bertamasya bersama, menikmati perjalanan sambil beryukur bahwa mereka mempunyai seorang sahabat yang bisa dipercaya.

Pada suatu hari, berita yang tidak terduga datang, bahwa gadis yang satu tiba-tiba meninggal dunia. Apa sebabnya, tidak ada yang tahu. Namun, sudah tentu kejadian ini diluar dugaan siapapun. Orang yang masih muda, secara mengejutkan dan tanpa menunjukkan gejala sakit, bisa secara mendadak kehilangan hidupnya.

Bagi gadis yang lain, berita ini adalah berita yang sangat buruk. Ia merasa bahwa bagian hidupnya ikut hilang lenyap bersama hilangnya seorang sahabat. Apa salah sahabatku, sehingga ia harus mati dalam usia muda? Mengapa harus dia dan bukan aku? Mengapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi? Apakah Tuhan benar-benar ada? Jika Tuhan memang ada, mengapa Ia tidak bisa menolong?

Perasaan kesepian atau loneliness memang bisa timbul jika hidup kita mengalami badai. Bukan saja kesepian itu karena tidak adanya orang yang mengerti persoalan kita, tetapi juga karena kita merasa bahwa kita harus menghadapi badai itu seorang diri. Penulis Mazmur menulis ayat diatas ketika ia merasa bahwa Tuhan sudah mengecewakannya. Ia menjerit seperti Yesus sewaktu disalibkan: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Pemazmur berseru, tetapi Tuhan serasa tetap jauh dan tidak menolongnya (Mazmur 22: 1).

Pagi ini kita melihat bahwa perasaan lonely itu adalah wajar jika timbul dari dalam hidup kita. Pemazmur dan Yesus pun mengalaminya. Tidak ada hal yang salah jika kita merasa sedih karena ditinggalkan orang yang kita kasihi, atau mengalami kesulitan hidup yang besar baik dalam hal kesehatan, pekerjaan, keuangan dan keluarga. Semua itu adalah bagian kehidupan di dunia. Baik orang Kristen maupun orang yang belum percaya bisa mengalaminya.

Walaupun demikian, perbedaan yang jelas terlihat dalam Mazmur diatas adalah bahwa pemazmur sebenarnya masih yakin bahwa Tuhan itu ada dan mau mendengar doanya. Karena itu, seperti Yesus di kayu salib, pemazmur menjerit kepada Tuhan; dan ia memohon agar Tuhan tetap menyertainya.

“Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!” Mazmur 22: 19

Apakah kesulitan yang anda alami saat ini sangat besar? Tidak adakah orang yang bisa menolong anda? Jika demikian, anda bukanlah orang satu-satunya yang mengalaminya. Yesus yang pernah merasakan penderitaan di kayu salib, adalah Tuhan yang mengerti apa yang anda derita dan rasakan. Ia jugalah yang mau mendengar seruan anda dan mampu menolong anda.

“Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.” Mazmur 22: 24

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s