Hal hutang menghutangi

“Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat”. Roma 13: 8

Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antar manusia dalam hal keuangan selalu bisa dilihat. Jual-beli di pasar, transaksi bank ataupun kegiatan perdagangan selalu membutuhkan mata uang. Bagaimana pula dengan hal pinjam-meminjam? Bolehkah orang Kristen berhutang uang?

Memang soal pinjam meminjam adalah bagian kehidupan manusia. Bukan saja ada hutang perseorangan, tetapi ada juga hutang perusahaan dan hutang negara. Berhutang kadang-kadang perlu untuk bisa mencapai tujuan baik, tetapi jika ada salah perhitungan, adanya hutang bisa mendatangkan berbagai kesulitan dan persengketaan di masa depan.

Dalam Perjanjian Lama, hal berhutang sering dibicarakan. Alkitab secara umum tidak melarang kita dalam kegiatan hutang menghutangi, tetapi mengajarkan agar kita saling mengasihi, saling memberi. Jika hal hutang-piutang bisa membawa masalah, hal dikasihi dan mengasihi selalu akan membawa kebaikan.

Adanya rasa kasih antar umat Kristen dalam hubungan sosial juga memungkinkan timbulnya rasa empati, yang memungkinkan seseorang untuk bisa menempatkan diri kedalam situasi yang dialami orang lain. Rasa sepenanggungan ini memungkinkan seseorang untuk bisa mempunyai kepekaan atas penderitaan dan kebutuhan orang lain, dan dengan demikian bisa menyatakan kasihnya kepada orang itu.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 15

Rasa empati jelas lebih baik dari rasa simpati, yang hanya merupakan pernyataan belas kasihan kepada orang lain.

Dalam hidup manusia, hal memberi dan menerima, give and take, memang lumrah. Walaupun begitu, untuk orang Kristen, memberi dengan kasih adalah lebih baik dari menerima. Itu karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi kita dengan mengurbankan AnakNya. Tambahan lagi, rasul Paulus pernah menyatakan bahwa tugas orang Kristen adalah membantu mereka yang lemah.

“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Kisah Para Rasul 20: 35

Berhutang budi dan menanam budi, dengan demikian adalah baik. Sebagaimana Tuhan sudah mengasihi kita dengan mengirimkan anakNya yang tunggal untuk menebus dosa kita, kita wajib mengasihi orang lain dengan memberi apa yang terbaik untuk mereka – yang belum tentu uang- dan itu bukannya sekedar menghutangi.

Dalam kenyataan hidup, ada orang-orang yang sulit untuk mengasihi dan kurang tertarik untuk menanam budi. Mereka mungkin mau memberi atau berbuat kebaikan hanya jika ada hasilnya. Jika memberi bantuan untuk sesama sering dikaitkan dengan mendapat laba atau keuntungan, memberi sesuatu kepada Tuhan pun selalu dengan pengharapan untuk mendapatkan pembalasan yang berlipat ganda dari Tuhan. Mereka yang mempunyai prinsip hidup seperti ini, tidak lain adalah orang yang percaya bahwa mereka bisa menghutangi Tuhan semesta alam yang sudah memberkati hidup mereka dengan berbagai hal.

Mereka yang sulit untuk menerima bantuan orang lain juga ada. Bagi mereka, rasa malu atau angkuh bisa menyebabkan mereka untuk tidak mau berhutang budi kepada orang lain. Sebagian mungkin mencurigai adanya “udang di balik batu”. Menolak kasih orang lain karena adanya pengalaman pahit di masa lalu bukanlah hal yang jarang. Begitu juga orang yang menolak uluran tangan kasih Tuhan karena adanya kepahitan hidup di masa lalu, atau karena kekuatiran bahwa mereka tidak akan mampu membalas kasih Tuhan dengan hidup menurut firmanNya.

Pagi ini kita belajar dari firman Tuhan bahwa dunia ini sudah dikuasai oleh prinsip hutang menghutangi, dan melupakan bahwa apa yang benar adalah prinsip kasih mengasihi. Jika prinsip dunia saat ini adalah dilandaskan kepentingan pribadi, prinsip surgawi adalah berdasarkan kasih kepada Tuhan dan sesama manusia. Yesus datang untuk membayar hutang yang tidak dimilikinya, karena kita memiliki hutang yang tidak dapat kita bayar. Bagaimana pula dengan sambutan kita?

Satu pemikiran pada “Hal hutang menghutangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s