Iman tidak harus datang melalui mujizat

“Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepada-Nya.” Yohanes 12: 37

Tiap hari, jika kita perhatikan, selalu ada berita-berita tentang keajaiban yang terjadi di berbagai sudut dunia. Bagi mereka yang percaya adanya kekuasaan Ilahi, kejadian semacam itu adalah sesuatu yang membuat mereka kagum atas kebesaran Tuhan. Sedemikian besar keinginan sebagian diantara mereka untuk meyakinkan diri bahwa Tuhan itu ada dan mahakuasa, mereka sampai-sampai mencari keajaiban dan mujizat dalam segala bentuknya dengan berziarah ke berbagai tempat yang dianggap suci, dan ke tempat dimana keajaiban pernah terjadi.

Di kalangan umat Kristen pun ada banyak orang yang selalu mencari pernyataan Tuhan dengan segala bentuknya. Ada orang-orang yang suka menafsirkan proses alami tertentu, seperti bentuk awan dan batu, sebagai penampilan Tuhan. Ada pula mereka yang menyukai orang-orang tertentu yang mengaku utusan Tuhan dan bisa melakukan hal-hal yang luar biasa . Lebih dari itu, banyak orang yang gemar mendengar pesan dari mimbar tenrang pentingnya memohon agar Tuhan memberi mujizat bagi umatNya.

Adalah hal yang menarik untuk disimak bahwa selama Yesus masih di dunia, Ia tidaklah selalu membuat mujizat di tempat-tempat yang dikunjungiNya. Tuhan Yesus memusatkan tenaganya untuk memberitakan kabar keselamatan dan mengajarkan firmanNya. Mereka yang mengikut Dia bukanlah selalu mengharapkan adanya mujizat, tetapi mereka ingin mendengar kabar baik dari Tuhan. Sebagai Anak Allah, kebesaran dan kasih Tuhan Yesus tidak perlu ditopang dengan mujizat yang memang diperbuatNya pada saat-saat tertentu. Yesus pada waktu itu adalah “bintang utama” dari kisah penyelamatan umat manusia di dunia. The Star of the greatest show on earth.

Dalam Perjanjian Baru, rasul-rasul harus bekerja keras untuk meneruskan pekerjaan yang sudah dirintis Yesus. Karena Yesus sudah tidak bersama dengan mereka, tugas untuk mengabarkan injil itu tidaklah mungkin dilaksanakan jika Roh Kudus tidak menyertai mereka. Untuk menambah otoritas mereka, Tuhan juga memberikan kemampuan untuk melakukan berbagai hal yang ajaib agar mereka yang tidak pernah melihat Yesus dan belum pernah mendengar namaNya, bisa diyakinkan bahwa Yesus adalah Tuhan yang mahakuasa. Keadaan pada zaman ini adalah berbeda, karena hampir semua orang di dunia sudah pernah mendengar nama Yesus.

Dalam ayat diatas tertulis bahwa sekalipun Yesus melakukan banyak mujizat, sebagian orang tetap tidak percaya bahwa Ia adalah Anak Allah. Bagi mereka, apa yang mereka lihat tidaklah mendatangkan iman. Mungkin hanya sekedar show. Hati mereka tertutup untuk Tuhan.

Iman adalah percaya kepada hal-hal yang tidak terlihat, kepada Tuhan yang Roh dan kepada kuasa dan kasihNya. Karena itu, apa yang terlihat manusia belum tentu bisa membawa kepada iman. Yesus memberi kesempatan kepada Tomas untuk membuktikan dengan mata kepalanya bahwa Ia sudah bangkit. Tetapi Ia juga berkata bahwa adalah lebih baik jika orang bisa percaya dan berserah kepada Tuhan tanpa perlu, dengan mata, melihat keajaiban Ilahi.

Dari manakah iman jika tidak dari perjumpaan dengan kuasa Tuhan? Pertanyaan yang benar, tetapi belum tentu dijawab dengan dengan benar. Karena jawabnya belum tentu mujizat yang kita lihat dengan mata. Iman datangnya dari Tuhan, yang sudah bekerja dalam hati seseorang. Sekalipun tidak ada mujizat yang muncul, Roh Kudus terus bekerja untuk membawa manusia kepada iman yang benar. Karena itu, adalah lebih baik bagi kita untuk memohon agar Tuhan menumbuhkan iman kita setiap hari dalam pergumulan hidup, daripada memohon agar Tuhan menghilangkan pergumulan hidup untuk menumbuhkan iman kita.

Tiap hari, setiap kali kita menghirup udara segar, kita harus menyadari bahwa hidup ini adalah sebuah keajaiban. Tetapi, keajaiban yang terbesar yang dilakukan Tuhan untuk kita adalah datangnya Yesus ke dunia untuk menyelamatkan kita. Inilah karunia yang terbesar, bahwa sekalipun kita sebenarnya harus mati karena dosa- dosa kita, melalui darah Yesus kita bisa menerima hidup yang kekal. Mengapa pula kita masih mendambakan datangnya mujizat lain yang tidak dapat dibandingkan dengan pengurbanan Kristus?

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibrani 11: 1

Kebodohan iman

“Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.” Matius 7: 26

Beberapa tahun yang lalu saya mengunjungi Fraser Island, sebuah pulau pasir sebelah timur Brisbane. Pulau dengan pemandangan alami yang indah ini termasuk salah satu World Heritage yang harus dipertahankan kelestariannya. Baru-baru ini Prince Harry dan Meghan Markle juga mengunjungi pulau itu sehubungan dengan kunjungan resmi mereka ke Australia.

Kebanyakan turis di Fraser Island memilih untuk tinggal di tenda ditengah alam terbuka. Karena Fraser Island tidak mempunyai jalan beraspal kecuali beberapa jalan di sekitar hotel, umumnya perjalanan di pulau itu harus dilakukan dengan mobil dan bis four wheel drive. Dengan demikian, pulau ini sangat populer diantara mereka yang senang berkelana dengan berbagai jenis kendaraan untuk tanah berlumpur dan berpasir.

Tanah berpasir di Fraser Island bisa menyulitkan pengemudi mobil yang tidak terbiasa. Seringkali mobil atau bis terperosok kedalam pasir yang nampaknya stabil tetapi ternyata lunak. Banyak orang yang kehilangan mobilnya karena terpendam dalam pasir berair laut. Pasir tidak mempunyai kestabilan yang diperlukan untuk jalan raya ataupun bangunan.

Pada waktu Yesus meyampaikan khotbah di bukit, Ia juga mengutarakan bahaya tanah pasir, sinking sand. Sekalipun Yesus biasa bekerja sebagai tukang kayu, Ia memakai perumpamaan tentang membangun rumah diatas pasir yang tidak stabil. Ia berkata bahwa orang bodoh percaya bahwa tanah pasir adalah cukup kuat untuk menyokong rumah mereka.

Ada banyak orang Kristen yang seolah mendirikan rumah diatas pasir. Mempunyai iman yang berlandaskan kekosongan; karena mereka hanya percaya, tetapi tidak mengerti apa yang mereka percayai. Dalam kebodohan mereka, mereka tidak juga tahu bahwa mereka tidak mengerti. Mereka mungkin sering ke gereja dan hidupnya kelihatan normal, tetapi tidak mengerti pentingnya mendalami firman Tuhan. Mereka rajin mendengar khotbah pendeta, tetapi tidak pernah menggumuli dan menjalankan firman Tuhan secara pribadi. Jikapun ada khotbah yang sumbang nadanya, mereka tidak akan menyadarinya. Hidup berjalan lancar selama tidak ada badai.

Pagi ini kita harus sadar bahwa badai pasti datang dalam kehidupan siapapun. Jika tidak datang pada hari ini, mungkin saja besok pagi. Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin muncul jika itu muncul:

  • mengapa ini terjadi?
  • apa salahku?
  • dimanakah engkau Tuhan?

Sebagai orang Kristen, hanya iman kepada Tuhan yang mahakuasa yang bisa menyelamatkan kita dari kehancuran. Tuhan dan firmanNya adalah bagai gunung batu yang teguh, diatas mana kita seharusnya membangun hidup kita. Hanya melalui iman yang benar dan yang berlandaskan pengenalan akan kebenaran firman Tuhan, kita bisa menjalani hidup kita tanpa rasa kuatir akan masa depan.

“Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.” Mazmur 62: 2

Dimanakah Engkau, Tuhan?

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 2 – 3

Setiap orang yang beragama umumnya percaya bahwa Tuhan ada di surga. Dengan demikian, orang berharap agar pada suatu saat akan bisa ke surga untuk menemui Tuhannya. Selama di dunia, orang berjuang untuk hidup dan hanya bisa mengharapkan agar Tuhan yang di surga sudi memberkati segala usahanya. Semua ini adalah konsep kepercayaan yang sering kita temui.

Mereka yang tergolong umat Kristen mempunyai pandangan yang berbeda. Tuhan yang di surga, pernah datang ke dunia. Yesus Kristus sudah lahir sebagai manusia, disalibkan untuk menebus dosa manusia dan kemudian kembali ke surga. Tetapi Tuhan Yesus sebenarnya tidak meninggalkan umatNya. Ia memberi umatNya seorang Penolong yaitu Roh Kudus yang membimbing dan menguatkan mereka yang percaya kepadaNya.

Tuhan dengan demikian selalu ada dalam hidup kita dan menyertai kita. Benarkah demikian? Memang mudah untuk menjawab “ya”, tetapi dalam hidup ini sering kita merasa bahwa Tuhan itu jauh, terutama jika kita mengalami persoalan hidup yang berat. Kita mungkin membayangkan betapa hidup kita akan berbeda jika kita bisa melihat Yesus ada bersama kita di dunia ini. Kalau saja Yesus masih ada, semua tentu akan baik jadinya!

Dalam kenyataannya, hidup orang Kristen memang tidak selalu diisi dengan hal-hal yang indah. Ada saat-saat dimana hidup ini terasa sangat berat dan kita tidak dapat merasakan kehadiran Tuhan. Itu adalah lumrah, karena selama hidup di dunia kita tidak dapat melihat kebesaran Tuhan sepenuhnya. Walaupun begitu, jika kita mengasihi Tuhan dan percaya kepadaNya, sekalipun sekarang kita tidak melihat Dia, kita boleh bergembira karena kita telah mencapai tujuan iman kita, yaitu keselamatan jiwa kita (1 Petrus 1: 8 – 9). Ini adalah tujuan utama iman kita, yang membuat kita menjawab panggilan keselamatanNya pada saat kita menjadi orang percaya.

Pagi ini, apakah anda merasakan beratnya hidup ini? Ayat diatas mengajar kita untuk tetap bertekun dalam iman. Memang segala penderitaan dan pencobaan hidup seringkali terasa sangat berat dan benar-benar menguji iman kita; tetapi hidup tanpa perjuangan bukanlah tujuan iman kita. Ujian hidup kita itu justru akan menumbuhkan iman kita kepada Tuhan, jika kita tetap bergantung kepada bimbingan dan penghiburan Roh Kudus yang selalu ada dalam hidup kita.

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Gestur saja tidak cukup

“….Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” Matius 20: 26 – 27

Mungkin anda tahu, saat ini setiap kali kereta api jarak jauh hendak berangkat dari stasiun di Indonesia, sejumlah porter dan pegawai KAI yang bertugas berdiri menghadap gerbong kereta yang akan berangkat. Mereka meletakkan tangan di dada. Setelah itu, ketika kereta mulai beranjak, mereka menundukkan kepala hingga kereta benar-benar meninggalkan stasiun.

Gestur pegawai KAI seperti ini mirip dengan apa yang ada di Jepang. Sewaktu saya tinggal disana, pemandangan semacam itu adalah hal yang biasa. Menundukkan kepala adalah gestur untuk ucapan selamat jalan dan terima kasih. Hal seperti itu tidaklah lazim di negara barat; tetapi, di stasiun tertentu pegawai stasiun mungkin melambaikan tangan untuk mengucapkan selamat jalan kepada penumpang kereta pariwisata. Gestur yang sedemikian adalah baik, apalagi jika datang dari hati dan bukannya sekadar kebiasaan atau karena terpaksa.

Gestur (gesture) bisa diartikan sebagai gerakan tangan, raut muka dan lainya sebagai pernyataan perasaan atau pendapat. Gestur juga bisa diterjemahkan sebagai perbuatan yang menyatakan pikiran atau maksud seseorang, sekalipun tidak mempunyai kegunaan yang nyata. Gestur yang baik biasanya dapat memperkokoh hubungan antar manusia, sedangkan gestur yang buruk bisa menyebabkan perselisihan dan perpecahan dalam masyarakat.

Ayat diatas adalah ajaran Yesus kepada murid-muridNya untuk berbuat baik kepada sesama. Yesus berkata bahwa mereka yang ingin menjadi besar diantara sesamanya, haruslah mau menjadi orang yang siap melayani dan menolong orang lain. Paling tidak ada dua hal yang bisa kita pelajari dari ayat itu. Yang pertama, sebagai orang Kristen kita boleh saja berharap untuk nenjadi pemimpin. Orang Kristen bukanlah orang yang tidak diperbolehkan untuk mempunyai cita-cita besar. Yang kedua, orang Kristen yang ingin menjadi pemimpin haruslah mau untuk mengurbankan diri untuk pengikutnya. Jika kita sering melihat orang-orang yang berkuasa memerintah pengikut mereka dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas bawahan mereka (Matius 20: 25), orang Kristen yang ingin menjadi pemimpin diharuskan untuk menjadi “hamba” yang melayani pengikutnya. Hamba disini tentunya bukan berarti budak, tetapi orang yang benar-benar mau berkurban untuk orang lain.

“….sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Matius 20: 28

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa setiap orang Kristen bisa menjadi pemimpin, dan bahkan sudah menjadi pemimpin dalam lingkungannya. Mungkin sebagai orang tua, suami atau istri, guru, pendeta dan sebagainya. Tiap-tiap hari kita ditantang untuk bisa menolong dan melayani mereka yang kita pimpin. Menolong dan melayani orang lain tidaklah cukup dengan kebiasaan membuat gestur yang baik; tetapi kita juga harus benar-benar menghasilkan hal-hal yang berguna untuk sesama, terutama bagi mereka yang terlupakan dalam lingkungan kita. Itu adalah sebagai pernyataan rasa syukur kita kepada Kristus yang sudah menebus dosa kita.

“Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu.” Yakobus 2: 15 – 16

Apakah Tuhan itu benar mahakasih?

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Teringat saya akan kejadian sewaktu saya masih di SMP. Seorang teman tiba-tiba meninggal dunia tanpa sebab yang jelas. Bagi orang luar, kejadian itu nampaknya sangat tragis karena teman saya adalah anak tunggal. Tetapi, orang tua teman saya waktu itu kelihatan tetap tabah dan tidak terpengaruh dalam kegiatan sehari-hari mereka.

Mengapa ada orang yang begitu tabah dalam menghadapi bencana kehidupan? Sebagian orang mungkin tidak mempunyai alternatif lain. Tuhan dipercaya sebagai Oknum yang menentukan dan bahkan membuat semua itu. Karena itu, tidak ada gunanya untuk bersusah hati. Siapa yang bisa melawan Tuhan? Malapetaka adalah nasib yang ditentukan Tuhan untuk orang-orang yang dipilihNya. Pandangan semacam itu dinamakan fatalisme.

Bagi umat Kristen, adanya bencana belum tentu datang dari Tuhan. Memang, jika orang hidup dalam dosa, Tuhan bisa memberi peringatan dan bahkan hukuman. Kekeliruan manusia dalam mengambil keputusan juga bisa menyebabkan datangnya bencana. Misalnya, pemerintah yang kurang memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, bisa memungkinkan timbulnya korban bencana alam yang besar karena kurangnya persiapan.

Bagi orang Kristen, Tuhan adalah mahakasih. Ia tidak pernah bermaksud untuk memberi bencana bagi anak-anakNya yang taat. Ada kalanya Ia membiarkan adanya penderitaan dan malapetaka terjadi, seperti apa yang terjadi kepada Ayub. Tetapi Tuhan jugalah yang memberi kekuatan kepada mereka yang percaya, agar mereka tetap teguh selama hidup di dunia. Dunia ini penuh semak duri, tetapi Tuhan membimbing dan menguatkan orang beriman.

Ayat diatas sering dipakai untuk menghibur orang Kristen yang mengalami penderitaan. Tetapi ayat itu juga sering disalah tafsirkan sehingga orang bukannya terhibur, tapi justru sebaliknya. Mengapa begitu?

Memang dalam menghadapi bencana kehidupan, tidak mudah bagi kita untuk mengerti bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Kalau Allah itu baik, mengapa Ia membiarkan adanya malapetaka? Kalau Ia memelihara orang yang mengasihiNya, mengapa bencana bisa terjadi pada umat percaya?

Tuhan jelas mengasihi seluruh umat manusia dengan mengutus Yesus untuk menebus dosa orang yang percaya. Bagi orang-orang yang sudah menjadi anakNya, jaminan keselamatan sudah ada. Tetapi selama hidup di dunia, setiap orang bisa mengalami bencana. Penderitaan di dunia adalah bagian kehidupan semua orang. Apalagi, sebagai orang Kristen kita justru sering menderita karena iman kita kepada Kristus.

Apa yang dialami Yesus di dunia, bukan hanya sehubungan dengan penyelamatan orang percaya. Penderitaan di dunia yang dialamiNya adalah juga untuk meyakinkan kita bahwa Ia tahu apa yang kita rasakan dalam menghadapi bencana hidup. Yesus yang seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian (Yesaya 53: 7), sudah memberikan contoh ketabahan dengan mempercayakan diriNya kepada rencana Allah Bapa. Ia yakin bahwa rencana Allah adalah baik, dan Allahlah yang bisa membuat agar apa yang baik bisa timbul dari apa yang kelihatannya sangat buruk.

Pagi ini, dalam membaca ayat diatas, marilah kita meminta agar Roh Kudus membuka hati dan pikiran kita untuk dapat menyelaminya. Memang tidak mudah bagi kita untuk mengerti rencana Tuhan dalam hidup kita, tetapi satu hal yang harus kita yakini ialah kasihNya yang tidak pernah berubah.

“Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” 1 Korintus 1: 9

Aku mau menurutiMu

Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Lukas 5: 5

Bagi mereka yang senang membaca atau mendengar nasihat motivator, semboyan “Jika kamu belum berhasil, coba dan coba lagi” tentunya pernah dijumpai. Maksud semboyan ini adalah baik, karena kemauan keras dan usaha seringkali bisa membuat apa yang sulit dicapai, akhirnya bisa tercapai melalui semangat yang tidak kunjung padam. Walaupun demikian, seringkali orang dalam perjuangannya hanya memikirkan keinginan diri sendiri, tanpa memikirkan apakah yang dicarinya benar-benar sesuai dengan kehendak Tuhan.

Sebagai orang percaya, kita yakin bahwa konsep “ora et labora” atau ” berdoa dan bekerja” adalah baik adanya. Adalah realita hidup bahwa mereka yang ulet dan keras kepala pada akhirnya bisa lebih sukses daripada mereka yang gampang menyerah. Tetapi mereka yang “ngotot” untuk mencapai maksudnya belum tentu bisa bahagia atau puas dengan apa yang dicapainya, jika itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Disinilah pentingnya unsur doa itu, yaitu untuk mencari bimbingan dan pertolongan dari Tuhan dalam kita bekerja.

Dalam ayat diatas, diceritakan bahwa Simon Petrus bersama nelayan-nelayan yang lain sudah berusaha keras untuk mencari ikan di danau Genesaret. Tetapi, mereka tidak menangkap apa-apa sekalipun sudah bekerja sepanjang malam. Karena itu mereka berhenti bekerja dan pergi ke pantai. Adanya perahu di pantai memberi kesempatan bagi Yesus untuk menggunakannya guna mengajar orang-orang yang mengikutNya dari posisi lepas pantai.

Setelah Yesus selesai memberitakan firmanNya, Ia mengajak Simon untuk berlayar guna mencari ikan. Yesus tentu tahu apa yang terjadi sebelumnya, yaitu bahwa Simon dan nelayan lainnya sudah mengalami “nasib sial”, tidak berhasil menangkap ikan malam sebelumnya. Memang, penangkap ikan dimanapun tentu pernah mengalami “hari sepi” dimana ikan-ikan seolah bersembunyi, menghilang dari muka air. Tetapi Yesus mempunyai maksud lain, Ia ingin mengajar Simon dan rekan-rekannya, bahwa Ia berkuasa atas segala sesuatu.

Simon yang sudah ikut mendengarkan Yesus sewaktu Ia mengajar dari atas perahu, tentunya merasa bahwa Yesus mempunyai kharisma yang besar. Karena itu, walaupun ia ragu apakah ada gunanya untuk pergi mencari ikan lagi, ia menurut ajakan Yesus. Karena Yesus yang menyuruh, Simon mau menurutinya. Ketaatan Simon membawa hasil yang luar biasa; begitu banyak ikan yang ditangkap mereka, sampai perahu-perahu mereka hampir tenggelam.

Kisah Simon, Yakobus dan Yohanes yang kemudian menjadi penjala manusia adalah luar biasa. Disinilah kita melihat adanya unsur ketiga dalam hidup umat Kristen. Bukan hanya berdoa dan bekerja, tetapi juga ketaatan kepada perintah Tuhan. Tuhan tahu apa yang sudah terjadi dalam hidup kita, dan Ia juga tahu apa yang akan terjadi. Lebih dari itu, seperti Ia mempunyai rencana untuk menjadikan ketiga nelayan diatas untuk menjadi penjala manusia yang ulet, Ia mempunyai rencana yang baik untuk setiap umatNya.

Pagi ini marilah kita memikirkan hidup kita. Apakah kita selalu giat dalam bekerja? Itu baik, karena kemalasan bukanlah sesuatu yang disukai Tuhan. Apakah kita juga giat berdoa untuk memohon kekuatan dan bimbinganNya? Itupun baik, karena Tuhanlah sumber kekuatan dan kemampuan kita. Tetapi, ada satu hal lagi yang perlu kita pikirkan. Pertanyaan untuk kita pagi ini yaitu apakah kita sudah taat kepada perintah Tuhan dan bukannya hanya menuruti kemauan dan keinginan diri kita sendiri dalam berdoa dan bekerja. Bagaimana jawab kita? Dapatkah kita menjawab seperi Simon?

Tuhan aku tidak yakin bahwa itu baik bagiku. Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan melakukannya juga.

Beda pria dan wanita

“Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Galatia 3: 27 – 28

Dalam sejarah manusia, kaum wanita seringkali mengalami hal-hal yang tidak nyaman dan bahkan berbagai bentuk pelecehan, sehubungan dengan penampilan dan kedudukan mereka dalam masyarakat. Keadaan sedemikian biasanya sering muncul di tempat dimana hukum dan hak azasi manusia belum sepenuhnya bisa diterapkan. Walaupun intensitasnya mungkin berbeda, hal ini bisa terjadi dimana saja di muka bumi, dan bukan hanya ditemui di negara-negara tertentu.

Mengapa kaum wanita sering mengalami hal yang sedemikian? Alkitab menulis bahwa sejak manusia jatuh kedalam dosa, hubungan pria dan wanita menjadi rusak. Wanita yang secara fisik biasanya lebih lemah dari pria, kemudian harus menghadapi kenyataan bahwa hidup di dunia adalah tidak seindah yang diharapkan.

Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” Kejadian 3: 16

Kedatangan Kristus ke dunia tidak hanya membawa keselamatan bagi mereka yang percaya, tetapi juga memberi nuansa baru bagi hubungan antara pria dan wanita. Apa yang rusak karena dosa, bisa diperbaharui dalam darahNya. Segala cara hidup yang lama, berubah menjadi hidup baru yang berintikan kasih kepada Tuhan dan sesama. Dengan pengurbanan Kristus yang tersedia untuk semua orang, di hadapan Tuhan tidak lagi ada lagi perbedaan hak diantara bangsa-bangsa, atasan dan bawahan, ataupun antara pria dan wanita. Inilah yang menjadi salah satu ajaran Kristen yang sudah membawa kemajuan sosial dan hukum di banyak negara.

Harus diakui bahwa adanya prinsip persamaan hak antar umat manusia, juga bisa membawa dampak yang negatif jika manusia melupakan bahwa setiap orang mempunyai kewajiban dan fungsi yang berbeda dalam masyarakat. Tuntutan untuk memperoleh hak yang sama bukanlah harus membuat pria dan wanita menjadi 100% sama, karena kedua jenis manusia itu diciptakan Tuhan dengan tujuan untuk saling melengkapi. Keduanya harus bisa saling menghargai, menghormati hak yang lain, dan saling menolong.

Pagi ini, jika kita mengingat bahwa dalam Kristus tidak lagi ada perbedaan diantara mereka yang percaya, marilah kita juga sadar bahwa adalah panggilan semua orang Kristen untuk menegakkan kebenaran dan keadilan diantara umat manusia. Dimulai dalam kehidupan keluarga kita, biarlah kita belajar untuk mengasihi dan menghargai setiap orang tanpa memandang apakah mereka pria atau wanita. Pada pihak yang lain, kita harus juga menyadari bahwa setiap orang mempunyai peranan khusus dalam hidup ini untuk bisa memuliakan Tuhan dengan sepenuhnya.

“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.” Galatia 3: 26

Kenal tapi tak peduli?

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Roma 1: 21

Apakah Australia adalah negara Kristen? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Setelah tahun 1788, sejak tentara Inggris membawa orang-orang tahanan ke Australia, jumlah orang yang mengaku Kristen berkembang terus dan mencapai 96.1% pada saat negara Australia bersatu pada tahun 1901. Tetapi, hasil sensus tahun 2016 menunjukkan bahwa hanya 52.1% penduduk Australia sekarang mengaku sebagai orang Kristen.

Australia memang menjamin kebebasan beragama, tetapi tidak mempunyai agama resmi dalam hidup kenegaraan . Australia mempunyai hukum yang secara total memisahkan agama dari pemerintahan. Data dari tahun 2002 menunjukkan bahwa 24% penduduk Australia adalah atheis, walau survei kecil tahun 2009 menunjukkan bahwa 68% penduduk percaya adanya “tuhan” atau “kuasa ilahi”. Sebanyak 49% rakyat Australia saat ini merasa bahwa agama tidak lagi penting dalam kehidupan.

Di banyak negara, adanya Tuhan secara resmi diakui. Bahkan ada negara-negara yang pemerintahannya berdasarkan agama tertentu atau setidaknya berlandaskan kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. Walaupun demikian, hal itu belum tentu menjamin bahwa negara-negara itu secara kolektif lebih baik dalam hal kesalehan dari negara lain. Memang, soal iman adalah soal pribadi, dan apa yang dipercayai oleh seseorang secara individual biasanya hanya berpengaruh pada hidupnya sendiri.

Ayat diatas ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Roma 2000 tahun yang lalu, tetapi tetap aktuil untuk zaman sekarang. Betapa tidak? Paulus berkata bahwa sekalipun banyak orang mengenal Tuhan, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Tuhan atau mengucap syukur kepadaNya. Sebaliknya hidup mereka dibaktikan kepada hal-hal  yang sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Memang, sekalipun dalam beberapa negara kepercayaan kepada Tuhan itu digembar-gemborkan atau dipakai sebagai pedoman, itu tidak menjamin bahwa seluruh rakyat mereka mau memuliakan Tuhan dan hidup menurut jalan yang baik.

Kepercayaan kepada adanya Tuhan sebenarnya adalah hal yang sulit untuk dijabarkan.  Karena itu ada banyak orang yang merasa kenal akan Tuhan, tetapi sebenarnya tidak demikian. Yang pertama, adanya “tuhan” yang beraneka ragam menurut berbagai kepercayaan, bisa membuat bingung manusia. Manusia dengan demikian mungkin saja berbakti kepada “tuhan”  yang ada menurut pengertian, kebiasaan, atau adat-istiadat mereka saja. Kedua, seringkali “tuhan” yang dikenal manusia adalah oknum yang diharapkan untuk bisa memberi kehidupan yang nyaman kepada manusia. Tuhan untuk mereka bukanlah oknum yang mahakuasa dan mahasuci, yang membenci mereka yang merasa saleh tetapi tetap hidup dalam dosa. Dan yang ketiga, Tuhan bagi banyak umat manusia adalah oknum ilahi yang dapat dihampiri manusia dengan cara berbuat amal atau hidup menurut kaidah agama.

Pagi ini, firman Tuhan memperingatkan kita, bahwa kita jika benar-benar mengenal Tuhan, itu adalah karena Tuhan sudah memanggil kita dan memberikan pengertian secara pribadi kepada kita. Tuhan yang benar adalah Oknum yang mahakuasa dan mahasuci yang tidak dapat dicapai oleh usaha manusia sendiri. Hanya melalui darah Kristus, Tuhan dapat melupakan dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Dengan pengampunanNya, kita harus mau  mempersilakan Dia untuk mengubah hidup kita; dari hidup lama yang mementingkan diri sendiri, menjadi hidup baru untuk memuliakan Tuhan. Kepercayaan kepada Tuhan yang benar adalah iman dan bukan agama, karena agama diciptakan manusia sedang iman adalah pemberian Tuhan. Karena itu, dalam hidup keKristenan, kita menjalankan firman Tuhan karena sebagai orang-orang yang sudah menerima keselamatan, kita mau memuliakan Tuhan. Perbuatan baik kita adalah tanda bahwa hidup kita sudah diubahNya dan bukanlah usaha untuk mendapatkan keselamatan di surga atau kenyamanan hidup di dunia.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Siapakah sahabatmu?

“Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Yakobus 4: 4

Anda penggemar sosial media seperti Facebook atau WhatsApp? Mungkin anda sering melihat berbagai meme dan slogan yang mendukung persahabatan seperti “Sahabat sejati adalah sahabat di hari tua” dan semacamnya. Sekalipun hanya di dunia maya, nampaknya orang merindukan adanya sahabat yang setia.

Persahabatan sebenarnya selalu dirindukan oleh setiap insan di dunia, karena rasa kesepian akan datang jika tidak ada sahabat yang bisa diajak untuk berbincang-bincang atau menikmati aktivitas bersama. Mungkin bagi sebagian orang, sahabat yang terbaik adalah pasangan hidup mereka; tetapi, siapapun orangnya tentu orang itu mempunyai pengaruh atas hidup anda.

Rasul Yakobus dalam ayat diatas menyebutkan kata “persahabatan”, tetapi sebenarnya ia menggunakan kata itu sebagai kiasan. Ia tidak memakai kata itu dalam konteks teman, tetapi dalam konteks pengaruh. Walaupun demikian, seperti seorang teman dapat mempengaruhi tingkah laku kita, apa yang kita sukai di dunia ini dapat mempengaruhi hidup kita.

Keadaan dunia ini adalah sedemikian sehingga banyak orang yang terpikat untuk menikmatinya dan melupakan bahwa kita diciptakan Tuhan untuk memuliakan Dia. Dengan demikian, mereka yang bersahabat dengan dunia ini akan terpengaruh oleh apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang dunia, yang tidak mau menuruti firman Tuhan.

Apa yang menjadi ciri-ciri orang dunia? Ayat diatas berhubungan dengan apa yang disebutkan dalam Yakobus 3. Dalam dunia ini, banyak orang yang ingin mencapai keinginannya dengan berbagai cara. Ada yang menggunakan lidahnya untuk melakukan hal-hal yang jahat dan berusaha menghancurkan orang lain demi untuk mencapai keberhasilan (Yakobus 3: 9 – 10). Mereka tidak menyadari bahwa sebagai ciptaan Tuhan, mereka harus menggunakan lidahnya untuk hal-hal yang baik yang berkenan di hadapan Tuhan.

Hidup a la dunia juga sering membuat orang untuk iri hati, menyombongkan diri dan melawan kebenaran. Adalah kenyataan bahwa hal-hal itulah yang mendorong manusia  cenderung  untuk mengejar kesuksesan duniawi dengan harga apapun, terutama mereka yang berstatus pemimpin. Mereka tidak sadar bahwa semua itu adalah perbuatan jahat yang dibenci Tuhan.

Persahabatan dengan nilai-nilai kebenaran Tuhan mengharuskan kita  untuk mempunyai iktikad yang murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak berpihak dan tidak munafik (Yakobus 3:17). Tetapi, semua itu adalah kebodohan bagi mereka yang bersahabat dengan nilai-nilai duniawi. Bagi manusia duniawi, kesuksesan harus bisa dicapai dengan segala cara.

Apa yang kita lihat dalam hidup sehari-hari adalah adanya banyak orang yang siap untuk melukai dan bahkan membunuh sesamanya untuk mendapat apa yang diingininya. Mereka menjadi iri hati karena tidak mencapai keinginan mereka, dan kemudian bertengkar dan berkelahi dengan sesama (Yakobus 4: 2). Kekacauan terjadi dalam masyarakat karena mereka lupa bahwa Tuhan raja surga, juga berkuasa atas dunia. Manusia juga lupa bagaimana mereka harus memuliakan Tuhan yang membenci hal-hal yang jahat di dunia.

Pagi ini, mungkin kita tidak secara sengaja menjadikan diri kita musuh Tuhan. Sebab siapakah yang sadar, yang berani menjadi lawan Tuhan? Kita tahu bahwa Tuhan menghendaki manusia ciptaanNya untuk hidup menurut apa yang diperintahkanNya. Kita juga tahu bahwa Ia yang cemburu, ingin agar kita menghormati Dia dalam setiap langkah kehidupan kita. Ia jugalah yang menentang orang yang sombong, tetapi mengasihani orang yang rendah hati (Yakobus 4: 6).

Persahabatan kita dengan dunia pasti akan membawa bencana. Keinginan duniawi tidak hanya akan menyesatkan hidup kita di dunia, tetapi juga menjauhkan diri kita dari sumber kehidupan kita yang sebenarnya. Jika kita pagi ini sadar bahwa Tuhan kita adalah mahakuasa dan mahakasih, patutlah kita selalu taat kepada firmanNya setiap saat.

“Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” Yakobus 4: 7

Mengapa terus kuatir?

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” 2 Timotius 1: 7

Tahukah anda bahwa bukan hanya manusia yang bisa mengalami anxiety atau perasaan kuatir? Anjing saya kemarin seharian tidak berani untuk mendekati dapur sewaktu saya sedang memakai oven yang mengeluarkan bunyi detik terus menerus. Rupanya bunyi aneh yang tidak dipahaminya itu membuatnya sangat takut. Saya merasa kasihan kepada anjing saya yang bodoh itu, tetapi kemudian dalam hati mengakui bahwa saya sendiri dalam hidup ini juga sering merasa kuatir tanpa alasan yang jelas.

Memang, kekuatiran bisa dialami manusia karena berbagai sebab. Ini biasanya bermula dengan kekuatiran kecil, tetapi yang lambat laun bisa menjadi besar jika tidak teratasi. Kekuatiran bisa saja terjadi karena kita berbuat salah, mengalami persoalan hidup atau terancam bahaya. Apapun sebabnya, kita mungkin kuatir karena kita tidak yakin untuk bisa mengatasinya. Selain itu, hal yang memperburuk situasi ialah kekuatiran bahwa iman kita masih belum cukup besar. Bukankah sebagai orang percaya seharusnya kita tidak kuatir akan apapun? Bukankah kita tahu bahwa kekuatiran hanya menambah kesusahan yang ada?

“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Matius 6: 25

Sebenarnya kita tidak perlu merasa susah dengan adanya rasa kuatir yang timbul sewaktu-waktu. Kekuatiran adalah lumrah untuk manusia yang tidak dapat mengerti apa yang terjadi dan yang tidak dapat menentukan apa yang akan terjadi di masa depan. Tetapi, karena tiap hari ada kekuatirannya sendiri, kuatir untuk masa depan akan membuat kekuatiran yang ada terasa sangat besar untuk bisa dihadapi dengan keberanian dan iman yang kita punyai. Kekuatiran juga bisa menimbulkan dosa jika kita mulai meragukan kebesaran Tuhan.

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6: 34

Pagi ini ayat pembukaan diatas mengingatkan kita bahwa Tuhan sudah memberikan Roh Kudus kepada setiap umatNya, yang seharusnya makin kita pelihara apiNya, untuk bisa membangkitkan kekuatan, kasih dan disiplin untuk menghadapi segala tantangan hidup. Jika adanya kekuatiran bisa membawa ketakutan, kesadaran bahwa Tuhan kita adalah mahakuasa dan mahakasih akan menguatkan kita dan membuat kita lebih bisa mengasihi Tuhan dan sesama kita, melalui hidup dalam ketaatan kepada firman Tuhan.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7