Gestur saja tidak cukup

“….Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” Matius 20: 26 – 27

Mungkin anda tahu, saat ini setiap kali kereta api jarak jauh hendak berangkat dari stasiun di Indonesia, sejumlah porter dan pegawai KAI yang bertugas berdiri menghadap gerbong kereta yang akan berangkat. Mereka meletakkan tangan di dada. Setelah itu, ketika kereta mulai beranjak, mereka menundukkan kepala hingga kereta benar-benar meninggalkan stasiun.

Gestur pegawai KAI seperti ini mirip dengan apa yang ada di Jepang. Sewaktu saya tinggal disana, pemandangan semacam itu adalah hal yang biasa. Menundukkan kepala adalah gestur untuk ucapan selamat jalan dan terima kasih. Hal seperti itu tidaklah lazim di negara barat; tetapi, di stasiun tertentu pegawai stasiun mungkin melambaikan tangan untuk mengucapkan selamat jalan kepada penumpang kereta pariwisata. Gestur yang sedemikian adalah baik, apalagi jika datang dari hati dan bukannya sekadar kebiasaan atau karena terpaksa.

Gestur (gesture) bisa diartikan sebagai gerakan tangan, raut muka dan lainya sebagai pernyataan perasaan atau pendapat. Gestur juga bisa diterjemahkan sebagai perbuatan yang menyatakan pikiran atau maksud seseorang, sekalipun tidak mempunyai kegunaan yang nyata. Gestur yang baik biasanya dapat memperkokoh hubungan antar manusia, sedangkan gestur yang buruk bisa menyebabkan perselisihan dan perpecahan dalam masyarakat.

Ayat diatas adalah ajaran Yesus kepada murid-muridNya untuk berbuat baik kepada sesama. Yesus berkata bahwa mereka yang ingin menjadi besar diantara sesamanya, haruslah mau menjadi orang yang siap melayani dan menolong orang lain. Paling tidak ada dua hal yang bisa kita pelajari dari ayat itu. Yang pertama, sebagai orang Kristen kita boleh saja berharap untuk nenjadi pemimpin. Orang Kristen bukanlah orang yang tidak diperbolehkan untuk mempunyai cita-cita besar. Yang kedua, orang Kristen yang ingin menjadi pemimpin haruslah mau untuk mengurbankan diri untuk pengikutnya. Jika kita sering melihat orang-orang yang berkuasa memerintah pengikut mereka dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas bawahan mereka (Matius 20: 25), orang Kristen yang ingin menjadi pemimpin diharuskan untuk menjadi “hamba” yang melayani pengikutnya. Hamba disini tentunya bukan berarti budak, tetapi orang yang benar-benar mau berkurban untuk orang lain.

“….sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Matius 20: 28

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa setiap orang Kristen bisa menjadi pemimpin, dan bahkan sudah menjadi pemimpin dalam lingkungannya. Mungkin sebagai orang tua, suami atau istri, guru, pendeta dan sebagainya. Tiap-tiap hari kita ditantang untuk bisa menolong dan melayani mereka yang kita pimpin. Menolong dan melayani orang lain tidaklah cukup dengan kebiasaan membuat gestur yang baik; tetapi kita juga harus benar-benar menghasilkan hal-hal yang berguna untuk sesama, terutama bagi mereka yang terlupakan dalam lingkungan kita. Itu adalah sebagai pernyataan rasa syukur kita kepada Kristus yang sudah menebus dosa kita.

“Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu.” Yakobus 2: 15 – 16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s