Kebodohan iman

“Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.” Matius 7: 26

Beberapa tahun yang lalu saya mengunjungi Fraser Island, sebuah pulau pasir sebelah timur Brisbane. Pulau dengan pemandangan alami yang indah ini termasuk salah satu World Heritage yang harus dipertahankan kelestariannya. Baru-baru ini Prince Harry dan Meghan Markle juga mengunjungi pulau itu sehubungan dengan kunjungan resmi mereka ke Australia.

Kebanyakan turis di Fraser Island memilih untuk tinggal di tenda ditengah alam terbuka. Karena Fraser Island tidak mempunyai jalan beraspal kecuali beberapa jalan di sekitar hotel, umumnya perjalanan di pulau itu harus dilakukan dengan mobil dan bis four wheel drive. Dengan demikian, pulau ini sangat populer diantara mereka yang senang berkelana dengan berbagai jenis kendaraan untuk tanah berlumpur dan berpasir.

Tanah berpasir di Fraser Island bisa menyulitkan pengemudi mobil yang tidak terbiasa. Seringkali mobil atau bis terperosok kedalam pasir yang nampaknya stabil tetapi ternyata lunak. Banyak orang yang kehilangan mobilnya karena terpendam dalam pasir berair laut. Pasir tidak mempunyai kestabilan yang diperlukan untuk jalan raya ataupun bangunan.

Pada waktu Yesus meyampaikan khotbah di bukit, Ia juga mengutarakan bahaya tanah pasir, sinking sand. Sekalipun Yesus biasa bekerja sebagai tukang kayu, Ia memakai perumpamaan tentang membangun rumah diatas pasir yang tidak stabil. Ia berkata bahwa orang bodoh percaya bahwa tanah pasir adalah cukup kuat untuk menyokong rumah mereka.

Ada banyak orang Kristen yang seolah mendirikan rumah diatas pasir. Mempunyai iman yang berlandaskan kekosongan; karena mereka hanya percaya, tetapi tidak mengerti apa yang mereka percayai. Dalam kebodohan mereka, mereka tidak juga tahu bahwa mereka tidak mengerti. Mereka mungkin sering ke gereja dan hidupnya kelihatan normal, tetapi tidak mengerti pentingnya mendalami firman Tuhan. Mereka rajin mendengar khotbah pendeta, tetapi tidak pernah menggumuli dan menjalankan firman Tuhan secara pribadi. Jikapun ada khotbah yang sumbang nadanya, mereka tidak akan menyadarinya. Hidup berjalan lancar selama tidak ada badai.

Pagi ini kita harus sadar bahwa badai pasti datang dalam kehidupan siapapun. Jika tidak datang pada hari ini, mungkin saja besok pagi. Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin muncul jika itu muncul:

  • mengapa ini terjadi?
  • apa salahku?
  • dimanakah engkau Tuhan?

Sebagai orang Kristen, hanya iman kepada Tuhan yang mahakuasa yang bisa menyelamatkan kita dari kehancuran. Tuhan dan firmanNya adalah bagai gunung batu yang teguh, diatas mana kita seharusnya membangun hidup kita. Hanya melalui iman yang benar dan yang berlandaskan pengenalan akan kebenaran firman Tuhan, kita bisa menjalani hidup kita tanpa rasa kuatir akan masa depan.

“Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.” Mazmur 62: 2

Satu pemikiran pada “Kebodohan iman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s