Iman tidak harus datang melalui mujizat

“Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepada-Nya.” Yohanes 12: 37

Tiap hari, jika kita perhatikan, selalu ada berita-berita tentang keajaiban yang terjadi di berbagai sudut dunia. Bagi mereka yang percaya adanya kekuasaan Ilahi, kejadian semacam itu adalah sesuatu yang membuat mereka kagum atas kebesaran Tuhan. Sedemikian besar keinginan sebagian diantara mereka untuk meyakinkan diri bahwa Tuhan itu ada dan mahakuasa, mereka sampai-sampai mencari keajaiban dan mujizat dalam segala bentuknya dengan berziarah ke berbagai tempat yang dianggap suci, dan ke tempat dimana keajaiban pernah terjadi.

Di kalangan umat Kristen pun ada banyak orang yang selalu mencari pernyataan Tuhan dengan segala bentuknya. Ada orang-orang yang suka menafsirkan proses alami tertentu, seperti bentuk awan dan batu, sebagai penampilan Tuhan. Ada pula mereka yang menyukai orang-orang tertentu yang mengaku utusan Tuhan dan bisa melakukan hal-hal yang luar biasa . Lebih dari itu, banyak orang yang gemar mendengar pesan dari mimbar tenrang pentingnya memohon agar Tuhan memberi mujizat bagi umatNya.

Adalah hal yang menarik untuk disimak bahwa selama Yesus masih di dunia, Ia tidaklah selalu membuat mujizat di tempat-tempat yang dikunjungiNya. Tuhan Yesus memusatkan tenaganya untuk memberitakan kabar keselamatan dan mengajarkan firmanNya. Mereka yang mengikut Dia bukanlah selalu mengharapkan adanya mujizat, tetapi mereka ingin mendengar kabar baik dari Tuhan. Sebagai Anak Allah, kebesaran dan kasih Tuhan Yesus tidak perlu ditopang dengan mujizat yang memang diperbuatNya pada saat-saat tertentu. Yesus pada waktu itu adalah “bintang utama” dari kisah penyelamatan umat manusia di dunia. The Star of the greatest show on earth.

Dalam Perjanjian Lama, rasul-rasul harus bekerja keras untuk meneruskan pekerjaan yang sudah dirintis Yesus. Karena Yesus sudah tidak bersama dengan mereka, tugas untuk mengabarkan injil itu tidaklah mungkin dilaksanakan jika Roh Kudus tidak menyertai mereka. Untuk menambah otoritas mereka, Tuhan juga memberikan kemampuan untuk melakukan berbagai hal yang ajaib agar mereka yang tidak pernah melihat Yesus dan belum pernah mendengar namaNya, bisa diyakinkan bahwa Yesus adalah Tuhan yang mahakuasa. Keadaan pada zaman ini adalah berbeda, karena hampir semua orang di dunia sudah pernah mendengar nama Yesus.

Dalam ayat diatas tertulis bahwa sekalipun Yesus melakukan banyak mujizat, sebagian orang tetap tidak percaya bahwa Ia adalah Anak Allah. Bagi mereka, apa yang mereka lihat tidaklah mendatangkan iman. Mungkin hanya sekedar show. Hati mereka tertutup untuk Tuhan.

Iman adalah percaya kepada hal-hal yang tidak terlihat, kepada Tuhan yang Roh dan kepada kuasa dan kasihNya. Karena itu, apa yang terlihat manusia belum tentu bisa membawa kepada iman. Yesus memberi kesempatan kepada Tomas untuk membuktikan dengan mata kepalanya bahwa Ia sudah bangkit. Tetapi Ia juga berkata bahwa adalah lebih baik jika orang bisa percaya dan berserah kepada Tuhan tanpa perlu, dengan mata, melihat keajaiban Ilahi.

Dari manakah iman jika tidak dari perjumpaan dengan kuasa Tuhan? Pertanyaan yang benar, tetapi belum tentu dijawab dengan dengan benar. Karena jawabnya belum tentu mujizat yang kita lihat dengan mata. Iman datangnya dari Tuhan, yang sudah bekerja dalam hati seseorang. Sekalipun tidak ada mujizat yang muncul, Roh Kudus terus bekerja untuk membawa manusia kepada iman yang benar. Karena itu, adalah lebih baik bagi kita untuk memohon agar Tuhan menumbuhkan iman kita setiap hari dalam pergumulan hidup, daripada memohon agar Tuhan menghilangkan pergumulan hidup untuk menumbuhkan iman kita.

Tiap hari, setiap kali kita menghirup udara segar, kita harus menyadari bahwa hidup ini adalah sebuah keajaiban. Tetapi, keajaiban yang terbesar yang dilakukan Tuhan untuk kita adalah datangnya Yesus ke dunia untuk menyelamatkan kita. Inilah karunia yang terbesar, bahwa sekalipun kita sebenarnya harus mati karena dosa- dosa kita, melalui darah Yesus kita bisa menerima hidup yang kekal. Mengapa pula kita masih mendambakan datangnya mujizat lain yang tidak dapat dibandingkan dengan pengurbanan Kristus?

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibrani 11: 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s