Tuhan menuntun umat-Nya

Sebab itu perempuan-perempuan u berkata kepada Naomi: “Terpujilah TUHAN, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki.” Rut 4:14-15

Kisah perjalanan hidup Rut dan mertuanya yang bernama Naomi cukup terkenal. Rut adalah perempuan Moab yang menikah dengan pria Yahudi yang tinggal di Moab, namun ayah mertuanya, suaminya, dan serta saudara suaminya juga meninggal. Oleh karena itu Rut harus memutuskan apakah sebaiknya ia tinggal di Moab, tanah airnya, atau pergi bersama Naomi, ke tempat yang tak dikenalnya – Yehuda.

Rut mengasihi Naomi dan berbelas kasih padanya, karena ibu mertuanya itu sudah kehilangan suami dan kedua putranya. Bersama-sama, Rut dan Naomi berkelana menuju ke kota Betlehem di Yehuda, dimana mereka hendak memulai kehidupan baru. Kesaksian hidup Rut mulai menyebar, dan Boas, pemilik ladang yang tidak jauh dari kediaman mereka, mendengar tentang kesetiaan Rut.

Rut berpergian tiap hari untuk memungut jelai yang tertinggal oleh penyabit-penyabit di ladang, demi menghidupi dirinya serta Naomi. Ia bekerja di ladang Boas tanpa mengetahui bahwa Boas adalah termasuk keluarga Naomi. Boas memperhatikan Rut dan menanyakan hambanya tentang wanita itu. Sang hamba memberitahu majikannya tentang kesetiaan Rut terhadap Naomi dan kerja kerasnya di ladang.

Ketika Rut memberitahu Naomi tempat dimana ia memungut jelai, Naomi bergembira dan memberitahu Rut bahwa Boas adalah sanak dekat suami Naomi, Elimelekh; oleh karena itu, sesuai dengan adat Yahudi, Boas memenuhi syarat menjadi “penebus” kerabatnya. Pada masa tuaian jelai, Naomi menyarankan supaya Rut mendatangi Boas dan memintanya menjadi “penebus” yaitu pengganti suaminya.

Rut dan Boas kemudian menikah dan dikaruniai putra bernama Obed. Para wanita-wanita bersukacita atas kesetiaan Allah dan berkata pada Naomi, “Terpujilah TUHAN, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki.” (Rut 4: 14-15).

Para ahli Alkitab membandingkan kisah Naomi dengan kisah Ayub. Pada awalnya, mereka kehilangan segalanya. Di akhir cerita mereka, keduanya telah dipulihkan. Tuhan melipatgandakan harta milik Ayub dan memberinya tujuh putra dan tiga putri terhormat (Ayub 42:10–15). Pemulihan yang dialami Naomi lebih sederhana – sebuah rumah, keluarga, dan ahli waris suaminya, yang akan memenuhi kebutuhannya – namun itu lebih dari yang pernah ia bayangkan akan ia terima. Naomi kehilangan dua putranya, namun menantu perempuannya jauh lebih berharga.

Meskipun Naomi tampak merajuk dalam Alkitab, jika kita mempelajari dengan teliti, kita dapat melihat bahwa dia sebenarnya memiliki jiwa yang manis dan penuh perhatian. Umat ​​Kristen dapat belajar banyak dari Naomi tentang ketekunan, terutama pada saat menghadapi keadaan yang sulit. Pelajaran apa saja?

1. Tuhan Terus Bergerak Selama Kesulitan

Kita sering kali merasa ditinggalkan oleh Tuhan ketika tragedi terjadi. Tetapi kita harus ingat bahwa Naomi sudah mengalami kemalangan besar. Di negeri asing dia kehilangan suami dan kedua putranya, dan kembali ke kampung halamannya tanpa prospek dan dengan sedikit sarana untuk bertahan hidup. Saat dia dengan setia melakukan perjalanan, Tuhan masih terus bekerja – dan Dia juga bekerja dalam hidup kita, ketika kita menghadapi masa-masa tersulit.

2. Kita Dapat Membantu Orang Lain di Saat-saat Sulit

Sekilas, kita mungkin mengira Naomi sama sekali tidak melakukan apa yang berarti dalam kisah tersebut. Dia sedih karena keluarganya meninggal dan kemudian Ruth bekerja di ladang untuk menafkahi mereka berdua. Kita harus ingat bahwa Naomi tidak muda dan mungkin tidak bisa bekerja keras di lapangan. Terlebih lagi, kesedihan telah melumpuhkannya. Namun, begitu dia mengetahui kabar tentang Boas, dia memuji Tuhan dan membimbing Rut melalui adat istiadat orang Israel dalam mencari penebus sanak saudara. Dia secara eksplisit mengatakan dia ingin Ruth memiliki rumah dan suami yang baik. Kita pun bisa menjadi seperti Naomi yang tetap mau menolong orang lain sekalipun kita sendiri berada dalam kesulitan.

3. Tuhan Menebus yang Hilang

Naomi mengira garis keturunan keluarganya telah berakhir, namun Tuhan meneruskannya melalui seorang penebus sanak saudara. Dia mendapatkan seorang putra dan lebih banyak lagi di akhir Ruth. Kita melihat contoh-contoh lain di seluruh Alkitab tentang orang-orang yang berpikir bahwa mereka tidak akan mempunyai keturunan. Abraham dan Sarah baru mempunyai anak pertama ketika mereka masing-masing berusia 100 dan 90 tahun (Kejadian 21). Bahkan ketika kita menemui jalan buntu dan tidak dapat melihat manfaat apa pun dari keadaan kita, kisah Naomi mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu melakukan penebusan dan pemulihan atas umat-Nya.

Bagi orang pilihan hanya ada satu pilihan: berjuang

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7:13-14

Saat Yesus mendekati akhir dari Khotbah di Bukit (Matius 5:1-2), Dia menjelaskan serangkaian pilihan yang harus diambil oleh para pendengar-Nya. Yang pertama adalah antara gerbang sempit yang membuka jalan yang lebih sulit dan gerbang lebar yang membuka jalan yang mudah. Meskipun analogi ini sengaja dibuat sederhana, namun mengandung beberapa lapisan makna. Tetapi sebelum kita memelajarinya, kita harus menjawab pertanyaan penting: apakah kita harus berusaha keras untuk bisa diselamatkan?

Berbeda dengan kepercayaan lainnya, Tuhan Yesus Kristus mengajar kepada kita bahwa pembenaran (yaitu keselamatan) diberikan bukan karena perbuatan tetapi karena iman. Ajaran Tuhan Yesus tentang iman kembali diingatkan Rasul Paulus kepada orang Israel yang mengejar kebenaran dengan mentaati hukum Taurat. Israel berusaha keras mentaati semua tuntutan yang diminta oleh hukum Taurat. Ini adalah jalan yang mereka anggap mudah karena berada dalam kontrol mereka. Mereka tidak sadar bahwa semakin keras mereka berusaha mentaatinya, semakin mereka gagal memenuhi tuntutan hukum Taurat. Jika mereka percaya akan diselamatkan karena kesucian mereka, itu adalah impian saja (Lukas 18:9-10).

Bangsa Israel pada waktu itu tidak memahami bahwa tujuan Hukum Taurat diberikan Tuhan adalah untuk menyadarkan bahwa manusia adalah orang berdosa dan mustahil bisa diselamatkan melalui perbuatan. Keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus. Seperti itu, Rasul Paulus mengingatkan orang Efesus bahwa kunci orang non-Israel untuk bisa diselamatkan bukan karena menaati hukum Taurat, tetapi karena iman mereka. Mereka yang bukan orang Israel tentunya tidak mengenal hukum Taurat, tetapi hanya mengenal Yesus sebagai Sang Penebus. Di sinilah konsep jalan yang sempit itu mengena, karena siapa pun yang sudah dicelikkan matanya oleh Tuhan adalah orang yang mau berjuang untuk mengikuti Yesus yang sudah menyelamatkannya.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2:8-9

Dalam konteks ajaran dalam Matius 5-7, jelas bahwa Yesus menunjuk pada diri-Nya sendiri dan ajaran-Nya tentang kebenaran rohani sebagai “gerbang sempit”. Dengan kata lain, mereka yang memang benar-benar mengikuti-Nya akan memahami bahwa mereka harus memilih jalan yang sulit, dari sudut pandang duniawi (Matius 5:10-12). Bagaimana orang bisa menaati ajaran anak tukang kayu (Matius 13:55)? Ini bukan hal yang mudah, Karena itu, mereka yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah akan diolok-olok, menderita, dianiaya, dicela oleh dunia; namun iman merekalah akan membawa pada kehidupan.

Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 2 Korintus 4:8-9

Pilihan yang diambil oleh orang dunia adalah gerbang lebar menuju jalan yang mudah: keselamatan melalui usaha sendiri. Gambaran gerbang yang “lebar” menyiratkan sesuatu yang mudah dilihat, dan mudah untuk dilewati. Hal ini juga menunjukkan sesuatu yang mengakomodasi preferensi kita: gerbang lebar memberi kita lebih banyak pilihan mengenai cara melewatinya (banyak agama, banyak jalan ke Roma) dibandingkan gerbang sempit (keselamatan melalui Yesus saja). Karena apa yang ada di balik gerbang yang lebar itu tampaknya mudah (berbuat baik, rajin berdoa, bersedekah,menghafalkan berbagai ayat dan sebagainya), itulah pilihan yang akan diambil banyak orang.

Jalan dunia “lebih mudah”, karena membuka kesempatan untuk seseorang untuk merasa menjadi orang saleh dan puas atas amal ibadah mereka. Yesus memperingatkan para pengikut-Nya bahwa ini justru terjadi pada orang-orang yang menolak Yesus, yang memilih jalan manusia dan mengarah pada kehancuran kekal. Hal ini mempunyai implikasi yang menyedihkan dan menyayat hati bagi nasib kekal kebanyakan orang di dunia. Tapi semua itu dapat dimengerti karena orang-orang itu bukan orang yang percaya kepada Yesus. Mereka yang terpilih hanya sedikit saja.

”Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Matius‬ ‭22‬:‭14‬

Jika semua orang pilihan Tuhan akan mengerti bahwa mereka harus melalui jalan yang sempit, apakah kita harus selalu diingatkan akan hal itu? Tentu! Para pendeta yang bijak akan mengikuti teladan Yesus pada akhir Khotbah di Bukit ketika mereka mengajak umatnya untuk mengambil keputusan untuk selalu menaati Firman. Dalam bacaan hari ini, Juruselamat kita menerapkan secara final semua yang telah Dia katakan dalam Matius 5:1–7:12. Sekarang setelah kita mengetahui apa yang Dia tuntut dari orang-orang yang dipilih-Nya, kita harus memilih untuk mengikuti Dia. Pada akhirnya, Matius 7:13-27 menunjukkan kepada kita bahwa kita tahu adanya dua pilihan. Kita akan mengikuti Kristus dengan sepenuh hati atau kita akan menempuh jalan kehancuran. Tidak ada komitmen setengah hati kepada Yesus; sebab jika kita tidak berada di jalan pemuridan yang sempit, maka kita berada di jalan lebar menuju hukuman kekal (ayat13-14).

Panggilan untuk mengambil keputusan ini bukan berarti kita mampu memilih jalan yang benar sebelum kita menjadi orang Kristen. Namun, mereka yang diubahkan oleh Bapa oleh kasih karunia pasti memilih untuk melayani Kristus. Perbuatan baik, termasuk pengakuan kita akan Yesus dan ketaatan kita pada perintah-perintah-Nya, tentu timbul dari hati yang berubah. Terlebih lagi, kita masih membutuhkan kasih karunia ini bahkan setelah kasih karunia ini pertama kali mengarahkan kita pada jalan Kristus yang benar dalam pertobatan kita.

Kita harus setiap hari berpaling kepada salib dan mencari Kristus agar kita dapat menyelesaikan perlombaan ini. Pencipta kita memberikan lebih banyak rahmat kepada semua orang yang merendahkan diri, mengakui kelemahannya, dan memohon kekuatan (Yakobus 4:6-10). Seperti yang ditulis oleh penafsir Alkitab terkenal Matthew Henry: “Kita tidak dapat masuk ke surga, atau melanjutkan perjalanan iman kita, tanpa bantuan rahmat ilahi; tetapi memang benar bahwa kasih karunia ditawarkan secara cuma-cuma, dan tidak akan kekurangan bagi mereka yang mencarinya dan tunduk padanya.”

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu. Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.” Filpi 3:13-16

Siapakah yang ingin bebas dari masalah?

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4:13

Pernahkah Anda mendengar nasihat yang berbunyi “Jangan berdoa untuk kehidupan yang mudah, tetapi berdoalah untuk menjadi orang yang lebih kuat.”? Ungkapan ini pernah diucapkan oleh pendeta Phillips Brooks, dalam kata sambutan pada acara makan pagi bersama presiden Amerika John F. Kennedy pada tanggal 7 Februari 1963. Ungkapan serupa kemudian pernah juga diucapkan oleh bintang film kungfu terkenal Bruce Lee.

Unkapan di atas sangat penting artinya, mengingat begitu banyak orang yang ingin mempunyai hidup yang penuh kemudahan dan kenyamanan. Bahkan, banyak orang Kristen yang percaya bahwa menjadi anak Tuhan berarti mempunyai seorang Bapa yang mahakasih dan mahakuasa, sehingga mereka akan memiliki hidup yang berkelimpahan. Mereka yang hidupnya berkelimpahan kemudian sering merasa bahwa itu adalah bukti iman mereka, padahal lebih banyak orang Kristen yang menderita dalam sejarah gereja dari mulanya hingga saat ini.

Ayat di atas adalah ayat yang mendukung ungkapan pendeta Phillips Brooks dan iman orang Kristen sejati. Paulus secara khusus meminta dua wanita Kristen, Euodia dan Sintikhe, untuk menyelesaikan perselisihan pribadi mereka. Orang-orang Kristen lainnya didorong untuk bertindak sebagai orang-orang yang berakal budi dan dipenuhi Kristus. Paulus menyatakan bahwa pengalamannya telah mengajarnya untuk merasa puas dengan berkat materi apa pun yang ia miliki. Ketergantungan pada kuasa Kristus tidak hanya membuat orang percaya merasa puas, namun juga menghasilkan kedamaian dalam hubungan kita dengan orang Kristen lainnya. Hal ini bisa kita pilih dengan sengaja untuk mengarahkan perhatian kita pada hal-hal positif. Kemudian Paulus menyampaikan terima kasih yang tulus kepada jemaat Filipi atas dukungan mereka yang murah hati.

Meskipun sering mengalami kebutuhan dan perlakuan kasar, Paulus dengan gembira menyatakan keyakinannya bahwa Tuhan akan membiarkan dia menanggung apa pun. Perkataan Paulus mencerminkan ajaran Injil bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan (Matius 19:26; Markus 10:27; Lukas 1:37). Paulus telah menyatakan di tempat lain bahwa jika Tuhan di pihak kita, siapakah yang dapat melawan kita (Roma 8:31)?

Perspektif ini juga dapat ditemukan dalam Perjanjian Lama. Yeremia 32:17 mencatat bahwa tidak ada yang terlalu sulit bagi Tuhan. Ayub 42:2 menyatakan Tuhan mampu melakukan apa saja. Para pengikut Tuhan yang setia telah lama mengetahui bahwa bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil, baik itu Ishak, anak perjanjian Abraham, umat Israel yang menyeberangi Laut Merah, maupun umat yang memasuki Tanah Perjanjian di bawah kepemimpinan Yosua. Tuhan menyediakan tepat pada waktunya, pada waktuNya, setiap saat. Keyakinan Paulus dapat ditemukan di seluruh tulisannya (2 Korintus 3:4; 7:16; 8:22; 10:2; 11:17; Galatia 5:10; Efesus 3:12; 2 Tesalonika 3:4).

Namun, ayat ini dapat diambil di luar konteks. Komentar Paulus secara khusus mengacu pada kemampuan seorang Kristen untuk bertahan dalam kesukaran dan penganiayaan. Meskipun penggunaan kata-kata tersebut bermaksud baik, ayat ini tidak mengajarkan bahwa seorang Kristen diberi kuasa untuk bisa menyelesaikan masalah apa pun hanya karena mereka diselamatkan. Hidup setiap orang di dunia selalu mempunyai masalah, sekalipun sebagian orang tidak mau mengakui atau bisa menyadarinya.

Filipi 4:10–20 menjelaskan bagaimana orang Kristen dapat mengatasi kekhawatiran dan keinginan duniawi, apa pun keadaan mereka. Dengan membuat keputusan untuk merasa puas dalam setiap keadaan, orang percaya dapat mempercayai Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kita yang sebenarnya, dan tidak termakan oleh materialisme atau kecemasan. Paulus telah mempelajari keterampilan ini melalui banyak pencobaan dan pengalaman pelayanannya. Paulus juga mengungkapkan keyakinannya bahwa Allah akan memberkati setiap orang yang bermurah hati kepada sesamanya dalam beryukur kepada Tuhan. Bagaimana dengan sikap Anda dalam menghadapi masalah kehidupan yang ada? Apakah Anda hidup dalam ketabahan dan pengucapan syukur?

Harga karcis masuk surga

”Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Lukas 14:26

Seorang Farisi mengundang Yesus ke jamuan makan malam formal. Di sana, Yesus mengajarkan pelajaran tentang ajakan untuk menjadi umat Tuhan dengan menggunakan undangan pesta sebagai temanya. Hal ini menekankan kerendahan hati orang yang diundang dan pentingnya tidak membuat alasan untuk tidak datang. Setelah makan malam, Yesus memperingatkan bahwa mereka yang berusaha mengikuti-Nya akan mengalami kesulitan. Mengapa? Orang-orang beriman harus “menghitung dampak menjadi pengikut Kristus” dan memahami aspek-aspek apa saja di dunia ini yang mungkin harus mereka tinggalkan.

Lukas 14:25–33 melanjutkan pelajaran Yesus tentang siapa yang akan masuk ke dalam kerajaan Allah. Orang yang rendah hati, murah hati, dan tanggap akan menerima berkat Tuhan (Lukas 14:1–24). Tetapi, mereka yang ingin menjadi murid Yesus harus memperhitungkan harga yang harus dibayar untuk mengabdikan hidup mereka kepada-Nya dan memastikan bahwa mereka bersedia membayarnya. Masuk kerajaan Tuhan itu gratis karena karunia semata-mata, tapi menjadi warga negara surgawi yang berguna butuh pengorbanan. Bagian mengenai biaya pemuridan ini mirip dengan Matius 10:37–38.

Yesus memberikan definisi kepada orang banyak tentang seperti apa pemuridan itu. Kata “tidak dapat” dalam ayat di atas mempunyai arti non-realitas. Apa maksudnya? Menjadi murid Yesus berarti menjadikan Dia sebagai prioritas tertinggi: bahkan di atas orang-orang terkasih dan kehidupan. Jika tidak, itu bukanlah realitas. Mereka yang merasa Kristen tetapi tidak mau memprioritaskan Tuhan dalam hidup mereka, bukanlah orang Kristen sejati, tetapi orang yang hidup dalam impian sebab TUhan memberi kemampuan untuk itu kepada umat-Nya.

Ayat di atas agaknya sulit dimengerti. Alkitab dimaksudkan untuk ditafsirkan langsung, dalam arti bahwa Alkitab memaksudkan apa yang dikatakannya – namun apa yang dikatakannya tidak selalu dimaksudkan untuk berasal dari pembacaan kata-kata yang kaku, mekanis, dan dangkal. Para penulis Alkitab menggunakan metafora, antropomorfisme, dan kiasan lain termasuk hiperbola. “Hiperbola” adalah pernyataan yang dilebih-lebihkan untuk mengungkapkan bobot pesan meskipun mungkin tidak mengungkapkan pesan yang spesifik. “Saya sangat lapar sehingga saya bisa makan seekor kuda” adalah contoh ungkapan hiperbola dalam bahasa Inggris modern. Contoh lainnya dalam bahasa Indonesia adalah ketika orang tua berkata kepada anaknya, “Aku sudah bilang padamu jutaan kali…”

Kita tahu bahwa Yesus berbicara secara hiperbolik karena ayat-ayat harus selalu dibaca sesuai konteks: dalam bagian tersebut, dalam kitab tersebut, dalam kitab-kitab lain yang ditulis oleh penulis yang sama, dan dalam keseluruhan Alkitab. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memerintahkan kita untuk menghormati orang tua kita, dan itu didorong oleh kasih agape (Keluaran 20:12; Efesus 6:1–3). Suami juga harus mengasihi istrinya (Efesus 5:28). Selanjutnya, salah satu sub-konteks yang ada di seluruh Alkitab adalah bahwa orang tua yang baik secara alami mengasihi anak-anak mereka (Lukas 11:11-13; Efesus 6:4). Mengasihi keluarga kita memang adalah hal yang alkitabiah. Tetapi itu tidak boleh melebihi kasih dan penghormatan kita kepada Tuhan. Jika kita dihadapkan kepada dua pilihan: menurut perintah orang tua atau perintah Tuhan, kita harus memilih Tuhan. Ini jelas merupakan hal yang sulit dilaksanakan, terutama dalam kebudayaan Timur.

Matius membahas ajaran serupa di mana Yesus menggunakan kata-kata yang sedikit berbeda: “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Matius 10:37). Seperti itui juga, Lukas memberikan konteksnya: kita harus memilih untuk mengikuti Yesus meskipun anggota keluarga kita tidak mau mengikuti Yesus, meskipun hal itu akan memecah hubungan keluarga (Lukas 12:51–53).

Yesus juga mengontekstualisasikan perkataan-Nya tentang membenci hidup sendiri. Kita harus rela kehilangan nyawa di bumi jika ingin hidup kekal. “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Lukas 9:25). ” Selamjutnya “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Markus 8:36-37). Secara khusus, kita tidak boleh takut akan penganiayaan agama yang mengancam jiwa (Lukas 12:4-5) dan kita tidak boleh menghabiskan seluruh energi kita untuk memastikan bahwa kita memiliki kebutuhan hidup ketika kita perlu berfokus untuk mengikuti Yesus (Lukas 12: 22–23).

Jika diabaikan, ayat-ayat seperti itu bisa menjadi hal yang menakutkan. Mengapa? Jika disederhanakan, ayat-ayat itu menyatakan bahwa mereka yang tidak mau segera melepaskan hubungan keluarga mereka tidak bisa diselamatkan. Bagi banyak orang, hal itu bukanlah sesuatu yang dapat mereka pahami. Untuk mengutamakan Tuhan di atas kekayaan dan kenyamanan saja sultnya bukan main, apalagi meninggalkan orang-orang yang dikasihi. Namun jika kita membaca dalam konteks Kitab Suci, kita akan sadar bahwa untuk menjadi orang yang dapat menaati Yesus, kita harus mengalami pengudusan, yang merupakan proses yang panjang. Tak satu pun dari kita akan menjadi sempurna ketika kita mati. Belajar untuk menghargai Yesus lebih dari sekedar persekutuan duniawi yang kita miliki dengan orang-orang terdekat kita, dan lebih dari semua aspek kehidupan kita sendiri, adalah salah satu dari banyak hal yang harus kita kembangkan.

Hari ini kita harus sadar bahwa pada masa gereja mula-mula dan juga pada masa kini, mengutamakan hidup bersama Kristus adalah pilihan yang harus diambil oleh semua orang percaya: pilihan antara iman kepada Kristus atau hidup untuk orang-orang, hal-hal, dan benda-benda yang kita sayangi. Ini tidak mudah. Penolakan masyarakat dan bahkan penganiayaan jasmani maupun rohani sering kali menjadi bagian dari mengikut Yesus. Walaupun demikian kita harus sadar bahwa dalam kenyataannya murid Kristus adalah orang-orang yang mau terus belajar untuk mengutamakan Dia terlebih dahulu dan sepenuhnya, melebihi apapun. Bukan orang- orang yang hanya mengaku Kristen.

Apa kehendak Tuhan untukku?

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6:33

Ini adalah salah satu ayat kunci dalam seluruh ajaran Yesus, yang biasa digunakan dalam kutipan, tulisan, karya seni, dan khotbah. Seperti halnya pelajaran lain dari Kristus, pelajaran ini harus dipahami dalam konteks ayat-ayat sebelumnya. Sering kali, kata-kata Yesus di sini disingkirkan dari konteks tersebut dan digunakan untuk memberi kesan bahwa Allah akan memberikan berkat materi yang tidak ada habisnya jika anak-anak-Nya terlebih dahulu mencari Dia. Sama sekali bukan itu maksud dari kalimat ini. Ayat ini bukan tentang syarat untuk hidup makmur dan berkelimpahan.

Matius 6:25–34 mengakhiri bagian Khotbah di Bukit ini dengan ajaran Yesus tentang kekhawatiran. Kepada orang-orang yang sangat miskin pada saat itu, Yesus berpesan untuk tidak khawatir mengenai makanan atau pakaian. Tuhan memberi makan burung-burung dan mendandani bunga lili dengan indah, dan anak-anak-Nya jauh lebih berharga daripada burung. Emosi cemas tidak dapat menambah satu jam pun dalam hidup seseorang. Sebaliknya, Yesus mengatakan kepada para pengikut-Nya untuk memercayai Allah untuk menyediakan apa yang benar-benar mereka perlukan. Namun, konteks dari apa yang kita “butuhkan” adalah kehendak Allah – yang mungkin terlihat sangat berbeda dari apa yang kita inginkan (Matius 5:3-12).

Konteks “semuanya itu” adalah kebutuhan dasar hidup: sandang dan pangan, bukan segala kemewahan, kenyamanan dan kebesaran. Yesus telah memerintahkan para pengikut-Nya untuk tidak terus-menerus khawatir tentang bagaimana mereka akan mendapatkannya, bahkan jika mereka tidak tahu dari mana makanan berikutnya akan datang. Dia ingin mereka memercayai Bapa surgawi untuk menyediakan apa yang dibutuhkan anak-anak-Nya karena Dia sangat mengasihi mereka (Matius 6:25–32). Daripada terus-menerus hidup dalam kekhawatiran yang sia-sia, Yesus memberikan para pengikut-Nya jalan keluar yang berbeda untuk menyalurkan energi mereka: mencari kerajaan Allah, memercayai kebenaran-Nya, dan berserah kepada-Nya untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup kita.

Panggilan untuk “mencari dahulu” kerajaan dan kebenaran Allah berhubungan dengan ajaran lain yang Yesus berikan dalam Khotbah di Bukit ini (Matius 6:1–2, 5–6, 16–17). Motif itu penting, dan hanya dengan ketulusan dalam mendahulukan Tuhan kita bisa mengejar kebenaran. Pengikut Kristus hendaknya memprioritaskan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah Dia ajarkan (Matius 6:24; Yohanes 14:15). Pesan awal Yesus sama dengan pesan Yohanes Pembaptis, “”Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Matius 4:17). Keselamatan dan kebahagiaan dalm Kristus adalah jauh lebih berharga dari hal-hal duniawi. Kasih Kristus juga lebih berharga dari apa yang bisa diberikan teman-teman atau sanak kita di dunia.

Mencari kerajaan Allah dan kebenaran-Nya berarti hidup dalam pertobatan terus-menerus dari dosa, dan menjalani gaya hidup yang tulus, dari hati, dan mengabdi kepada Allah seperti yang Yesus gambarkan. Sebagai tanggapan, Tuhan akan menyediakan apa pun yang benar-benar kita butuhkan (bukan apa yang kita inginkan) untuk mencapai kehendak-Nya. Yesus mengajarkan bahwa Allah memberi imbalan atas perbuatan yang dimotivasi oleh pengabdian yang tulus kepada-Nya, bukan karena persetujuan atau anjuran dari orang lain.

Banyak orang Kristen yang tergoda oleh semboyan bahwa uang dan teman adalah sumber kebahagiaan. Tetapi, bukan itu yang diajarkan firman Tuhan. Kehendak Tuhan bagi umat-Nya adalah untuk mencari kerajaan Allah dan kebenarannya. Barangkali Anda, seperti banyak orang Kristen lainnya, merasa bahwa ini tidak mudah dilakukan. Mengapa? Sekalipun Anda mengetahui kehendak Tuhan ini, Anda masih dapat memilih untuk menaati atau tidak menaati-Nya. Karena satu dan lain hal, mungkin Anda memilih untuk tidak melakukannya. Itu bukan karena kehendak Tuhan.

Godaan dalam hidup memang banyak, namun pada akhirnya, Tuhan tetap memegang kendali. Kehendak-Nya akan terjadi. Ketidaktaatan kita tidak dapat menggagalkan rencana utama Tuhan. Sebaliknya, ketidaktaan kita bisa membawa masalah dalam hidup. Kalau ini terjadi, jamganlah kita menyalahkan Tuhan. Tuhan tidak hanya membimbing Anda dari luar diri Anda. Jika Anda benar-benar telah mempercayakan hidup Anda kepada Yesus, Roh Kudus-Nya tinggal di dalam Anda. Roh Kuduslah yang bisa menolong Anda untuk kembali ke jalan yang benar.

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6:10

Saat ini, jika Anda ingin mengetahui apa yang Tuhan ingin Anda lakukan, tanyakan kepada-Nya, dan Dia akan dengan senang hati memberi tahu Anda, karena Dia selalu siap memberikan hikmah yang melimpah kepada semua orang yang meminta kepada-Nya; Dia tidak akan membenci mereka. Namun ketika Anda bertanya kepada-Nya, pastikan Anda benar-benar mengharapkan Dia memberi tahu Anda (Yakobus 1:5-6). Tuhan ingin Anda menjalani proses mencari kehendak-Nya tanpa mempercayai kebohongan Iblis yang mencoba mematahkan semangat Anda. Jika Anda memercayai tipu daya iblis itu, Anda akan kesulitan melihat Tuhan sebagai Bapa yang mahakasih.

Apakah Anda percaya bahwa Tuhan itu benar-benar mahatahu?

Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” Kejadian 22:12

Kejadian 22:1–19 terjadi selama beberapa hari, ketika Ishak mungkin masih remaja. Sebagai ujian terhadap iman dan ketaatan Abraham, Tuhan memerintahkan Abraham untuk melakukan hal yang mengerikan: membunuh dan mempersembahkan putranya yang dia cintai, sebagai korban bakaran. Abraham bertekad untuk taat tanpa ragu-ragu, setelah belajar memercayai kebaikan Tuhan melalui berbagai kesalahan yang diperbuatnya sebelumnya.

Dalam ketaatan penuh, Abraham bersiap untuk membunuh Ishak saat dia terbaring terikat di altar. Tetapi Abraham dihentikan oleh suara dari surga yang memanggil namanya. Seorang malaikat Tuhan berseru: “jangan kauapa-apakan dia….” Ini adalah rencana Tuhan selama ini, dan Abraham telah lulus ujian imannya dari Tuhan. Karena ketaatan Abraham, Tuhan memperbarui dan menekankan janji-janji-Nya tentang berkat, keturunan yang berlipat ganda, dan kemenangan atas musuh-musuh Israel di masa depan.

Malaikat Tuhan, sesungguhnya Tuhan dalam wujud lain, melanjutkan: “..sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” Dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Lama, “takut akan Tuhan” berarti memiliki rasa hormat dan penghargaan yang besar terhadap kuasa dan kebenaran Tuhan sehingga seseorang menaati Dia di atas segalanya.

Ujian dari Tuhan ini menjawab pertanyaan apakah Abraham “takut” akan Tuhan. Walaupun demikian, perlu kita perhatikan bahwa Abraham tidak mempunyai iman yang bodoh atau buta. Sebaliknya, dia memilih untuk memercayai Tuhan berdasarkan pengalaman sebelumnya. Berkali-kali Tuhan membuktikan bahwa Abraham tidak perlu memahami setiap detail dari firman-Nya, ia hanya perlu taat. Tuhan akan bekerja untuk membuktikan kebenaran-Nya sendiri pada akhirnya. Sekali lagi, hal ini terbukti benar, meskipun dalam bentuk yang jauh lebih mencekam dan dramatis.

Perlu dicatat bahwa Allah menyebut Ishak sebagai “anakmu yang tunggal” kepada Abraham. Kita tidak boleh mengabaikan adanya kemiripan ungkapan ini dengan apa yang ada dalam Yohanes 3:16: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Di sini kita sadari bahwa Allah menuntut kesetiaan umat-Nya karena Ia sendiri adalah setia kepada mereka.

Jika Allah mengatakan bahwa Ia sekarang tahu bahwa Abraham takut akan Dia setelah Abraham tidak segan-segan untuk menyerahkan anaknya, sebagian orang Kristen memertanyakan apakah Allah tidak tahu sebelumnya bahwa Abraham takut kepada-Nya? Penganut ajaran Teisme Terbuka (Open Theism) menyimpulkan bahwa karena Tuhan harus mengetahui apa yang akan dilakukan Abraham, Tuhan harus selalu mengikuti dan belajar dari apa yang terjadi. Namun jika kita berasumsi bahwa Tuhan harus belajar, maka masalah lain akan muncul. Tuhan bukan lagi Tuhan yang kita kenal.

Teisme terbuka menyatakan bahwa karena Tuhan dan manusia itu sama-sama mempunyai kehendak bebas, pengetahuan manusia tentang Tuhan bersifat dinamis dan dengan itu, pemeliharaan Tuhan bersifat fleksibel. Sementara beberapa aliran Kristen klasik menggambarkan pengetahuan Tuhan tentang masa depan sebagai lintasan yang tunggal dan tetap, teisme terbuka melihatnya sebagai beragam kemungkinan yang bervariasi, dengan beberapa kemungkinan yang kemudian menjadi stabil seiring berjalannya waktu. Dengan kata lain, tindakan Tuhan harus bergantung pada “sikon”.

Dengan demikian, masa depan, serta pengetahuan Tuhan tentangnya, bersifat terbuka (karenanya, disebut “teisme terbuka”). Versi lain dari teologi Kristen klasik berpendapat bahwa Tuhan sepenuhnya menentukan masa depan, yang berarti tidak ada kebebasan memilih (masa depan tertutup dan manusia seperti robot). Namun versi lain dari teisme klasik berpendapat bahwa, meskipun ada kebebasan memilih, kemahatahuan Tuhan membuat Tuhan mengetahui terlebih dahulu pilihan bebas apa yang akan diambil manusia. Ini berarti manusia bukan seperti robot dan Tuhan adalah mahatahu.

Penganut teisme terbuka berpendapat bahwa semua versi teisme klasik tidak sesuai dengan konsep alkitabiah tentang Tuhan; tentang kebebasan ilahi dan kebebasan yang diberikan Tuhan kepada ciptaan-Nya. Mereka cenderung menekankan bahwa ciri karakter Tuhan yang paling mendasar adalah kasih dan sifat ini tidak dapat diubah. Mereka juga (berbeda dengan teisme klasik) cenderung berpendapat bahwa gambaran alkitabiah adalah tentang Tuhan yang sangat tergerak oleh ciptaan-Nya, mengalami berbagai perasaan sebagai tanggapan terhadap tingkah laku ciptaan tersebut. Ini tentunya aneh karena Tuhan yang mahakuasa bisa dipengaruhi oleh tindakan ciptaan-Nya.

Jika Tuhan tidak tahu apakah Abraham akan membunuh Ishak atau tidak, lalu tahukah Tuhan jika Abraham akan membawa Ishak ke bukit, menyuruh Ishak untuk membawa kayu tersebut, dan segudang keputusan lain yang harus diambil dalam rangka agar semuanya berhasil? Tentunya tidak. Itu adalah hanya keinginan Tuhan yang penuh harapan, berharap Abraham akan melakukan apa yang pada akhirnya Tuhan ingin dia lakukan. Tuhan yang sedemikian bukanlah mahakuasa dan mahatahu. Lebih jauh lagi, bagaimana Tuhan tahu bahwa begitu Abraham mengangkat pisaunya, maka pada saat-saat terakhir, Abraham tidak akan batal membunuh putranya? Menurut teisme terbuka, Tuhan sebenarnya tidak mengetahuinya karena ada saat lain di mana Abraham bisa berubah pikiran.

Firman Tuhan dalam Kejadian 22:12 diucapkan setelah Abraham hendak mengorbankan Anaknya Ishak di atas mezbah. Abraham mengangkat pisau yang akan digunakannya untuk membunuh Ishak, dan saat itulah Tuhan menyuruh Abraham untuk berhenti. Allah berfirman, “…sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah”. Apakah ini berarti Tuhan tidak tahu pasti apa yang akan dilakukan Abraham sampai Dia melihat pisau yang teracung? Apakah ini juga berarti bahwa Tuhan tidak tahu apakah Abraham takut atau tidak kepada-Nya sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut?

Teisme terbuka dihadapkan pada suatu masalah karena Tuhan yang mahatahu tentu mengetahui semua yang ada saat ini secara lengkap dan total. Jika Tuhan mengetahui segala sesuatu yang ada saat ini secara mendalam, bukankah Tuhan mengetahui keadaan hati Abraham mengenai rasa takut Abraham terhadap Tuhan? Ayat 1 Tawarikh 28:9 mengatakan, “…TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.” Karena Allah mengetahui maksud hati semua manusia, maka Dia mengetahui apa maksud hati Abraham selama tiga hari perjalanan menuju tempat pengorbanan, serta takut atau tidaknya Abraham kepada-Nya. Jelaslah Dia pasti tahu bahwa Abraham takut kepada-Nya, dan ujian tidak diperlukan untuk membuktikan fakta ini.

Kita dapat memperhatikan bahwa Kejadian 22:5 menulis bahwa Abraham berkata kepada kedua bujangnya: ”Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” Abraham siap mengorbankan putranya, tetapi dia mengharapkan Allah untuk membangkitkan Ishak. Inilah yang dikatakan dalam bahasa Ibrani. 11:19, “Karena ia (Abraham) berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati….”. Jadi, Allah tentu tahu bahwa Abraham percaya sepenuhnya kepada Dia. Lalu mengapa Allah masih perlu menguji Abraham?

Dalam Kejadian 3:9, setelah Adam berdosa, Allah memanggil dia dan bertanya, “Di manakah engkau?” Apakah kita bisa mengatakan bahwa Tuhan tidak tahu di mana Adam berada di taman itu? Tentu saja tidak. Tuhan sering membuat pernyataan yang dirancang untuk mengungkapkan kepada manusia sebuah kebenaran yang perlu disampaikan. Memang, Tuhan sering mengajukan pertanyaan yang Dia sudah tahu jawabannya. Dalam kasus Adam, kata “di mana” berhubungan dengan kondisi spiritual, bukan lokasi fisik. Dalam kasus Abraham, Tuhan hanya menyampaikan hubungannya dengan Abraham sesuai dengan apa yang Abraham pahami, khususnya setelah kejadian nyata dengan Ishak di altar. Kata-kata “Telah kuketahui sekarang” bukan untuk Tuhan, tapi untuk Abraham yang perlu mendengar Tuhan menegaskan kesetiaannya.

Hari ini, biarlah kita yakin bahwa Tuhan mengetahui kondisi hati kita saat ini, karena Tuhan mahatahu. Tuhan tahu apakah kita takut kepada-Nya. Tuhan sudah mengetahui, berdasarkan Kejadian 22:5, apakah kita berharap bahwa Tuhan akan menolong kita pada saatnya. Tuhan tidak melupakan hal ini ketika kita mengalami ujian hidup. Memang kita manusia mempunyai kehendak bebas,tetapi Ia yang sudah memilih kita akan ikut bekerja dalam setiap kesempatan untuk membawa kita ke arah kebaikan. Bisakah kita mempercayai Tuhan yang tidak pernah membuat kesalahan?

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Apakah Tuhan sudah menentukan apa yang akan terjadi di tahun ini?

“Aku katakan ”di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan – kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya – supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.” Efesus 1:11-12

Benarkah ayat di atas menyatakan bahwa Tuhan membuat segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak-Nya? Terkadang orang berkata, “Tidak, tidak, tidak. Dia hanya berbicara tentang predestinasi atau penyelamatan orang Kristen.” Tetapi, Alkitab secara garis besar mengatakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan manusia, pada akhirnya, adalah kehendak Tuhan.

Jika Anda memberikan perhatian yang lebih cermat, yang Anda sadari adalah bahwa Paulus menggunakan kata ” segala sesuatu” sebagai pernyataan umum tentang Allah yang mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya sebagai dukungan terhadap pernyataan spesifik tentang predestinasi. Kita semua tahu bahwa penerapan spesifik dari pernyataan umum tidak meniadakan atau membatasi kebenaran pernyataan umum.

Misalnya, jika saya mengatakan bahwa teman saya (yang tahu cara mengemudikan semua jenis mobil) bisa mengendarai mobil listrik tanpa instruksi pada saat pertama kali ia mengendarainya, Anda tidak akan mengira dia hanya tahu cara mengendarai mobil listrik. Tentu saja, jika kita mengaku bisa mengendarai mobil listrik, itu hanya menunjukkan bahwa kita mampu mengendarai semua jenis mobil. Hal yang spesifik bisa terjadi karena adanya hal yang umum.

Ketika Paulus berkata, “Allah, yang mengerjakan segala sesuatu menurut kehendak-Nya, telah menentukan kita sejak semula,” itu bukan berarti “Dia benar-benar tidak mengerjakan segala sesuatu menurut kehendak-Nya; Dia hanya menentukan takdir kita.” Hal ini justru bertolak belakang dengan cara Paulus berargumentasi.

Tuhan mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Ketika Ia mengatakan segalanya, tidak ada alasan untuk mengasumsikan pengecualian apa pun di sini (karena Ia mahakuasa dan mahabijaksana). Tetapi bagaimana pula dengan manusia yang sejak mulanya sudah diberinya kemampuan untuk bertindak menurut kebijaksanaan mereka?

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ”Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1:28

Izin Tuhan bagi manusia untuk bertindak juga adalah bagian dari rancangan dan kendali akhir Tuhan. Ada orang yang berkata, “Tuhan tidak mengendalikan segalanya, tapi Dia mengizinkan banyak hal.” Itu benar. Dia tentu saja mampu mengizinkan banyak hal sekalipun manusia ingin bertindak semaunya sendiri. Tuhan yang mahakuasa tidak takut bahwa rencana-Nya akan batal jika sesuatu yang tidak disukai-Nya terjadi. Apalagi Tuhan sudah tahu apa yang akan terjadi. Lalu bagaimana seharusnya kita memahami Tuhan yang Mahatahu, dengan pengetahuan awal yang sempurna, mengizinkan sesuatu dalam kebijaksanaan-Nya yang tidak terbatas?

Inilah yang Yesus katakan dalam Lukas 22:31-32: “Simon, Simon, lihat, iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”.” Perhatikan bahwa Yesus tidak mengatakan, “kalau engkau nanti insaf lagi,” tetapi “jika engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”

Dengan kata lain, “Ya, Aku akan memberikan izin kepada iblis untuk menyaring engkau seperti gandum, dan Aku tahu ini akan melibatkan tiga penyangkalan. Aku tahu engkau akan melarijan diri, tetapi Aku akan membawamu kembali sesuai dengan doa-Ku adalah agar engkau dapat menguatkan saudara-saudaramu.”

Susah tentu, dalam situasi di mana Tuhan mengizinkan, Dia memang sengaja mengizinkannya, buka karena Dia tersudut dan tidak mempunyai jalan lain. Ketika Anda mengizinkan sesuatu dan Anda tahu apa yang akan terjadi dan Anda tahu semua hasilnya dan Anda mungkin akan terus maju dan mengizinkannya, Anda mengizinkannya dengan bijak jika Anda adalah Tuhan. Karena Tuhan adalah mahabijaksana, segala sesuatu akan sesuai dengan pola keseluruhan diri-Nya dalam merencanakan dan melakukan.

Saat ini saya ingin bertanya kepada Anda. Apakah Alkitab mempunyai contoh-contoh di mana manusia itu pernah diminta Tuhan untuk bertanggung jawab? Tentu! Jika demikian, manusia pasti diharapkan untuk bertanggung jawab. Karena itu ada manusia yang dipuji Tuhan, atau dicela atas apa yang dilakukannya. Alkitab penuh dengan kisah tentang manusia dengan karakter yang berlainan. Tuhan tidak menyenangi mereka yang tidak mau bertanggungjawab, yang culas, suka berbohong dan melanggar firman Tuhan. Kedaulatan Tuhan tidak mengurangi akuntabilitas manusia.

Pada awal tahun 2024 ini, pertanyaan untuk Anda adalah, di dunia mana Anda lebih suka tinggal? Di dunia di mana manusia atau iblis berkuasa, atau di tempat di mana faktor kebetulan mengatur apa yang terjadi pada diri Anda? Ataukah di dunia, di mana Tuhan yang sangat mahakasih, mahabijaksana, dan penuh kuasa yang tak terbatas, bekerja bersama-sama dengan segala sesuatu demi kebaikan orang-orang yang percaya kepada-Nya dan demi kemuliaan-Nya?

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Ingatlah bahwa Tuhan itu mahakuasa

“Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu.” Ulangan 4: 9

Perayaan Natal dan Tahun Baru sudah lewat dan bagi banyak orang, apa yang sudah mereka alami sudah dilupakan. Apakah pada akhir tahun ini pengalaman yang serupa akan kita alami? Tidakkah ada yang berbeda antara tahun yang lalu dengan tahun ini?

Bagi orang lain, natal-natal yang lalu masih teringat sampai sekarang. Mungkin saja karena Natal kali itu dirayakan di tempat tertentu, atau bersama dengan orang tertentu. Tetapi mungkin juga di saat itu, Natal dirayakan seorang diri tanpa kehadiran orang yang dikasihi. Barangkali pada Natal saat itu ada hal besar, sesuatu yang baik atau buruk, yang terjadi dan yang tidak bisa dilupakan.

Kebalikan dari hal mengingat apa yang terjadi pada masa lalu, orang sering mudah melupakan apa yang terasa sebagai hal yang terasa biasa dalam hidup mereka. Jika hidup terasa normal, tidak ada gejolak yang berarti, orang lupa bahwa dibalik semua itu tentu ada penyebabnya. Pada pihak yang lain, jika ada hal yang tidak diingini, manusia juga sering berusaha melupakannya tanpa menyadari bahwa segala sesuatu terjadi bukannya tanpa sebab dan tujuan. Manusia sering lupa bahwa Tuhan yang mahahadir adalah Tuhan yang ada dan kita jumpai selagi kita mengalami peristiwa apapun.

Pesan Musa kepada bani Israel dalam Ulangan 4 menggaris-bawahi pentingnya bagi umat Israel untuk tidak melupakan bahwa Tuhan ada dalam setiap kejadian yang mereka lihat. Baik hal yang menyenangkan maupun yang menyedihkan, mereka harus yakin bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mengasihi dan yang mempunyai rencana yang baik bagi orang yang takut kepadaNya. Oleh sebab itu sampai sekarang mereka tetap harus mengajarkan hal itu kepada semua anak-anak, cucu dan cicit mereka.

Pagi ini, kita tahu bahwa ada berbagai hal yang sudah lewat yang akan kita lupakan. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa ada hal-hal tertentu yang pernah kita alami yang meyakinkan kita akan kuasa Tuhan. Marilah kita selalu ingat akan apa yang sudah dilakukan Tuhan dalam hidup kita dan mau memberitakan kebesaran Tuhan kepada orang di sekitar kita.

“Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia.” Ulangan 4: 35

Apakah Anda orang Kristen sejati?

”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Yohanes 14:15

Sekalipun memakai pernyataan yang singkat dan sederhana, ayat ini bisa dilebih-lebihkan atau sebaliknya, bisa diabaikan. Ketika itu,Yesus meyakinkan para murid pada saat Dia mendekati saat kematian dan kebangkitan-Nya. Salah satu bagian dari hal ini adalah dukungan-Nya kepada para murid bahwa pengenalan mereka tentang Dia, adalah jalan menuju Allah (Yohanes 14:4-6). Mereka yang percaya kepada-Nya mempunyai kesempatan untuk melakukan “pekerjaan yang lebih besar” daripada yang pernah Dia lakukan (Yohanes 14:12). Ungkapan tepat sebelum ayat ini merupakan janji bersyarat bahwa Yesus akan melakukan apa pun, asalkan diminta “dalam nama-Nya.” Kondisi ini menolak penafsiran yang menjadikan Tuhan sebagai hamba manusia.

Langsung dari hal tersebut, Yesus menghubungkan kasih seseorang kepada-Nya dengan ketaatan mereka terhadap ajaran-ajaran-Nya. Ada dua kemungkinan ekstrim yang dapat dijadikan sasaran ayat ini. Salah satunya adalah legalisme, atau keselamatan berdasarkan perbuatan. Cara lainnya adalah dengan mengesampingkan pernyataan tersebut seolah-olah perilaku seseorang tidak menunjukkan apa pun tentang takdir kekalnya. Keduanya salah. Kristus baru saja memperjelas bahwa Dialah, bukan para pengikut-Nya, yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka (Yohanes 14:5-6; Titus 3:5). Ia juga menunjukkan bahwa pengikut yang sah masih memerlukan “pembersihan” tertentu dari dosa (Yohanes 13:10; 1 Yohanes 1:9-10). Jelas bahwa semua manusia harus bertanggungjawab atas cara hidup dan tingkah laku mereka sekalipun mereka diselamatkan oleh Kristus.

Yesus dengan tegas mengajarkan bahwa mereka yang mengikuti-Nya wajib menunjukkan kasih terhadap orang lain (Yohanes 13:12–15, 34). Itu adalah tanda utama iman kepada dunia luar (Yohanes 13:35). Di sini, Dia menunjukkan bahwa ketaatan terhadap perintah-perintah-Nya adalah tanda utama kasih kita kepada-Nya. Seseorang tidak dapat mengaku mengenal Kristus dan membenci orang Kristen lainnya (1 Yohanes 4:20). Seseorang juga tidak dapat mengaku mengenal Kristus namun mengabaikan ajaran-ajaran-Nya (1 Yohanes 2:4).i

Dalam sebagian besar situasi duniawi, gagasan seperti ini tidak kontroversial. Semuanya jelas, hitam atau putih. Misalnya, kaum “pecinta damai atau pasifis” sejati tidak akan memulai peperangan. Kaum “vegetarian” sejati tidak makan daging. Tetapi heran, ada yang menolak pandangan bahwa “orang Kristen” yang sudah dilahirkan kembali tidak akan mempunyai kebiasaan mengabaikan ajaran Yesus. Mereka menolak hal ini dengan mengatakan bahwa tidak ada orang yang diselamatkan karena sudah sempurna. Sedah tentu bukanlah orang percaya itu sempurna, tetapi justru mereka tahu bahwa diri mereka adalah jauh dari kesempurnaan (1 Yohanes 1:9-10).

Pelajaran di sini bukanlah bahwa perilaku yang baik menghasilkan atau menjaga keselamatan seseorang (Roma 11:6). Walaupun demikian, orang yang menyebut dirinya sebagai “Kristen” dan hidup bertentangan dengan pesan Kristus adalah seperti seorang penghasut perang yang suka makan daging yang kemudian mengaku sebagai “vegetarian pasifis”. Itu hanya kebohongan. Tidak ada orang Kristen sejati yang tidak mau berbakti kepada Tuhan dan berusaha mati-matian untuk menurut segala perintah-Nya. Orang yang benar-benar percaya akan menyambut Yesus dan berusaha berbuat baik seperti yang dilakukan Zakheus (Lukas 19:1-10).

Memang untuk hidup sebagai orang Kristen sejati itu tidak mudah. Tetapi, Yohanes 14:15–31 memuat ramalan tentang Roh Kudus. Yesus menyebut hal ini sebagai Roh Kebenaran, dan berjanji bahwa Roh akan datang untuk membantu para murid melanjutkan hidup setelah Yesus naik ke surga. Sepanjang bagian ini, kasih seseorang kepada Kristus, ketaatan mereka terhadap ajaran-ajaran-Nya, dan berdiamnya Roh Kudus sadalah aling berkaitan. Seperti dalam pernyataan sebelumnya, Yesus berfokus pada penghiburan dan dorongan. Dia akan terus menekankan perlunya menjaga iman, berdasarkan semua yang telah Dia katakan dan lakukan sejauh ini. Kemudian, setelah peringatan sebelumnya tentang apa yang akan dihadapi umat Kristen (memikul salib!), Yesus kembali menjelaskan pekerjaan dan tujuan Roh Kudus di bawah perjanjian baru.

Kristus meyakinkan para pengikut-Nya bahwa iman kepada-Nya adalah iman kepada Allah. Mengenal Kristus berarti mengetahui ”jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6). Kata-kata, tindakan, dan mukjizat Yesus harus memberikan keyakinan kepada umat Kristen bahwa Dia akan menepati janji-janji-Nya. Diantaranya adalah jaminan-Nya bahwa Dia sedang bersiap datang menjemput kita, sehingga kita bisa berada di tempat Dia berada. Yesus juga menubuatkan berdiamnya Roh Kudus dalam diri umat-Nya. Ini hanya tersedia bagi orang yang benar-benar percaya, dan Penolong ini bertindak untuk membimbing, mengajar, dan mengingatkan kita. Baik bagi para murid, maupun bagi orang-orang Kristen masa depan, kata-kata ini dimaksudkan untuk menghibur selama masa-masa sulit. Karena Kristus telah mengetahui sebelumnya apa yang akan terjadi, kita dapat lebih yakin lagi untuk memercayai-Nya. Apakah Anda orang Kristen sejati?

Apakah Anda masih mau dididik Tuhan?

“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.” Amsal 3: 11

Pasal Amsal ini ditulis oleh raja Salomo. Kata “anakkku” mungkin berlaku bagi salah satu murid Salomo di istananya atau bagi salah satu putra kandungnya. Penerapan hikmat dalam Amsal 3 menunjukkan manfaat percaya kepada Tuhan dengan segenap hati. Salomo menghubungkan ketaatan dan kepercayaan kepada Tuhan atas umur panjang, kesuksesan, bimbingan, kesehatan, pahala yang melebihi kekayaan moneter, kenikmatan, kedamaian, keamanan, kepercayaan diri, hubungan antar manusia yang unggul, berkat dan perkenanan Tuhan, serta kehormatan. Seperti halnya semua peribahasa, baik yang alkitabiah maupun yang lainnya, tujuannya adalah untuk memberikan hikmat secara umum, bukan nubuatan khusus untuk seseorang.

Amsal 3:1–12 merupakan nasihat dari Salomo yang mendesak mereka yang lebih muda untuk mengindahkan ajarannya dan percaya sepenuh hati kepada Tuhan. Dia mengutip beberapa hasil berharga dari ketaatan dan kepercayaan. Bagian ini didasarkan pada nasihat yang Salomo berikan dalam Amsal 2. Tuhan yang memberi petunjuk, menghilangkan rintangan, dan memberikan rezeki yang berlimpah bagi umat-Nya dapat dipercaya untuk mendisiplin mereka demi kebaikan dan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, Salomo berpesan kepada muridnya untuk tidak memandang rendah didikan Tuhan atau menjadi bosan terhadap teguran-Nya. Meremehkan didikan Tuhan berarti menolak atau meremehkannya. Dalam penggunaan umum dalam Alkitab, ini menunjukkan kebalikan dari apa yang sering dilakukan manusia duniawi yang ingin hidup bebas tanpa batasan.

Bosan terhadap teguran Allah bisa berarti muak atau benci terhadap-Nya. Didikan Tuhan bukanlah hukuman; itu adalah perbaikan. Kita belajar banyak dengan disiplin. Kita belajar untuk mengidentifikasi tindakan-tindakan yang tidak menyenangkan Tuhan dan menghambat kemajuan rohani kita. Ketika Tuhan mendisiplin Yunus karena sikapnya yang memberontak, Dia menyiapkan seekor ikan besar untuk menelan Yunus. Paus adalah utusan Tuhan untuk menyelamatkan Yunus dari badai laut, namun juga merupakan sarana yang digunakan Tuhan untuk mengajar Yunus untuk menaatinya (Yunus 1:10 – 2:10). Didikan Tuhan adalah alat efektif yang Dia gunakan untuk membentuk kita menjadi orang yang mempunyai hubungan yang harmonis dengan Dia, bukan untuk membuat orang membenci Dia.

Walaupun Tuhan mendidik umat-Nya karena kasih-Nya, banyak orang yang merasa bahwa Tuhan bersikap totaliter kepada mereka. Sering kali, mereka yang kurang mempunyai hubungan baik dengan orang tua, merasa bahwa Tuhan adalah Oknum yang sewenang-wenang dan memaksakan kehendak-Nya. Tuhan itu seperti orang berumur yang bawel, begitulah ada orang mengeluh. Ia suka sekali menggurui manusia dan mengatur segala segi kehidupan manusia. Karena itu sebagian orang merasa bosan terhadap hubungannya dengan Tuhan. Malahan ada orang-orang yang marah atau tersinggung kalau mendapat peringatan Tuhan baik melalui Firman maupun lewat saudara seiman. Tuhan itu “bossy” dan “boring”, kata sebagian orang. Mereka tidak mau terlalu dekat dengan Tuhan karena tetap mau hidup “berdikari” alias berdiri diatas kaki sendiri. Mereka mau merdeka dari kungkungan Tuhan dan tidak mau terlalu diatur oleh Tuhan.

Mengapa Tuhan bisa terasa membosankan? Karena Tuhan sepertinya kuno, ketinggalan zaman.

  1. Tuhan tidak memperbolehkan manusia beriman kepada rasul-rasul, nabi-nabi, orang suci, pemimpin gereja dan orang-orang terkenal lainnya, baik sudah mati maupun masih hidup. Padahal mereka itu adalah anak-anak Tuhan yang jempolan.
  2. Tuhan tidak memperbolehkan manusia membaktikan diri kepada kekayaan, kesuksesan, kepopuleran, kepandaian, kesenangan dan semacamnya. Padahal itu adalah tujuan hidup manusia yang diajarkan dalam berbagai media.
  3. Kita tidak diperbolehkan menyebut nama Tuhan secara sembarangan, sekalipun itu bisa menunjukkan bahwa kita adalah pengikut Tuhan.
  4. Tuhan mengharuskan kita menghormati Dia khususnya pada hari Sabat/Minggu, padahal hari itu hari libur kita yang bisa dipakai untuk bersenang-senang.
  5. Kita selalu diingatkan untuk menghormati orang tua, padahal mereka sendiri tidak pernah mengeluh atas perlakuan kita.
  6. Tuhan melarang kita membunuh seolah kita ini memang bertampang pembunuh. Apalagi jika kita tidak diperbolehkan membenci orang lain karena itu dianggap sama dengan membunuh.
  7. Manusia tidak diperbolehkan untuk berbuat zinah, cabul, kawin-cerai, hidup diluar pernikahan, atau berhubungan dengan kaum sejenis, padahal banyak orang modern dan ternama berbuat begitu di siang hari bolong pun.
  8. Kita tidak diperbolehkan untuk mengambil keuntungan secara tidak benar karena itu dianggap mencuri. Padahal semua orang harus berbuat begitu kalau mau sukses dalam hidup.
  9. Kita tidak boleh menjelekkan nama orang lain sekalipun orang itu sering memfitnah kita. Inipun sulit dijalankan karena dalam bisnis dan politik sudah biasa manusia bersaing dan saling menyerang atau menjelekkan.
  10. Manusia dilarang mengiri kesuksesan orang lain, padahal rasa ingin seperti orang lain bisa menjadi pendorong kesuksesan kita. Kekaguman kita atas hidup orang lain, prestasi orang lain, harta, pasangan, dan anak-anak mereka sering digolongkan sebagai rasa iri.

Hari ini kita bisa melihat bahwa Tuhan kita itu terasa berlebihan dalam mengatur hidup kita. Karena itu sering kita ingin berjalan sendirian dalam hidup kita. Kita sering bosan untuk hidup “terlalu alim”, kita ingin kebebasan. Tetapi yang tidak kita sadari adalah bahwa semakin lama dan jauh kita hidup tanpa Tuhan, semakin jauh juga kita tersesat dalam kegelapan dosa dan tidak dapat merasakan kebahagiaan yang sejati. Dalam hal ini, Yesus mengingatkan kita bahwa jika kita benar-benar pengikut-Nya, kita tidak akan menolak terang-Nya.

”Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.“ Mazmur‬ ‭119‬:‭105‬ ‭