Bagaimana Abraham bisa menerima keselamatan?

“Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.” Galatia 3: 23-26

Pertanyaan di atas seringkali membuat orang bingung. Kita tahu bahwa sejak zaman Perjanjian Baru, keselamatan datang sebagai anugerah melalui iman dalam Yesus Kristus (Yohanes 1:12; Efesus 2:8-9). Kita juga tahu bahwa Yesus adalah Jalan (Yohanes 14:6). Jika demikian, sebelum lahirnya Kristus, apakah jalan untuk menerima keselamatan? Mengapa Abraham bisa menerima keselamatan sebelum adanya hukum Taurat dan sebelum Yesus datang?

Mungkin Anda ingat bahwa dalamKejadian 22:1–19 Tuhan menguji Abraham dengan perintah-Nya untuk mengurbankan putra kesayangannya sebagai kurban bakaran. Abraham bertekad untuk taat, tanpa ragu-ragu, bertindak dengan keyakinan penuh bahwa Tuhan, bagaimanapun caranya, akan membuat segala sesuatu menjadi baik. Abraham menghentikan maksudnya hanya ketika Tuhan campur tangan. Karena kepercayaan dan ketaatannya yang mendalam, Tuhan memperbaharui dan menekankan berkat-Nya kepada Abraham dan keturunannya, serta berjanji untuk memberkati semua bangsa melalui keturunan Abraham.

Apakah Abraham yang dikatakan “bapa orang percaya” itu diselamatkan karena perbuatannya? Tidak! Sebelum ujian Tuhan datang, Ia sudah bersabda bahwa melalui keturunan Abraham, semua bangsa di bumi akan diberkati. Janji ini juga diulangi dari interaksi sebelumnya dengan Tuhan (Kejadian 12:3; 18:18), dengan tambahan bahwa berkat bagi bangsa-bangsa di bumi akan datang melalui keturunan Abraham dan bukan hanya melalui dia. Tuhan menyatakan bahwa Dia telah bersumpah “demi diri-Nya” untuk melakukan beberapa hal yang sangat spesifik bagi Abraham. Hal ini termasuk memberkati Abraham, memperbanyak keturunannya, dan memberikan kemenangan kepada keturunannya atas musuh-musuh mereka. Ini terjadi sebelum Abraham diuji oleh Tuhan!

Kita dengan demikian dapat menyimpulkan bahwa Tuhan melakukan semua itu karena Abraham telah mendengarkan suara Tuhan. Menariknya, Tuhan memberikan semua janji ini kepada Abraham tanpa mengharuskan dia untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan. Dengan demikian, janji-janji itu diberikan Tuhan semata-mata karena Ia ingin memberikannya. Dengan inisiatif Tuhan sendiri, Abraham dimasukkan sebagai alasan atas pemberian Tuhan ini.

Implikasi janji Tuhan kepada Abraham itu ternyata sangat besar. Keturunan Abraham, melalui Ishak ke Yakub dan di sepanjang sejarah, ternyata diberi berbagai peran unik sampai kelahiran Yesus terjadi. Karena Yesus, semua bangsa di bumi mempunyai kesempatan untuk diselamatkan dari dosa dan termasuk dalam keluarga Allah melalui iman kepada Yesus sebagai keturunan Abraham (Galatia 3:7), baik orang Israel maupun bukan orang Israel. Keselamatan ternyata bukan karena usaha manusia, tetapi karunia Tuhan untuk semua manusia percaya.

Di dalam Roma 4 rasul Paulus menjelaskan bahwa jalan keselamatan dalam Perjanjian Lama tidaklah beda dengan jalan Perjanjian Baru, yang adalah melalui anugerah saja, melalui iman saja. Untuk membuktikan hal ini, Paulus menunjuk kepada Abraham, yang diselamatkan melalui iman: “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Roma 4:3). Abraham tidak mungkin selamat melalui pemeliharaan hukum, karena ia hidup lebih dari 400 tahun sebelum pemberian hukum itu sendiri.

Karunia kepada Abraham tersebut diberikan tanpa syarat oleh kasih karunia Tuhan semata-mata. Lalu mengapa Musa menerima sepuluh hukum Tuhan? Apakah sesudah adanya hukum Taurat orang diselamatkan karena menjalankan hukum itu? Dalam kenyataannya, tidak ada seorang pun yang bisa menjalankan hukum Taurat dengan sepenuhnya dan secara sempurna. Dengan demikian hukum Taurat tidak bisa menjadi syarat keselamatan orang Israel. Mereka yang diselamatkan Tuhan di zaman itu juga diselamatkan hanya karena karunia-Nya. Penerima anugerah mengakui kebaikan Tuhan dan menaati perintah Tuhan. Tuhan kemudian menjadikan ketaatan si penerima sebagai alasan untuk memberikan hadiah yang seharusnya Dia berikan.

Paulus menjelaskan tujuan hukum dalam sejarah Israel sampai Kristus datang. Dia telah menjelaskan dengan jelas bahwa hukum Musa tidak dapat memberikan kehidupan. Hal ini tidak dapat menyelamatkan manusia dari dosa mereka (Galatia 3:11). Namun, hal ini memainkan peran penting bagi Israel sejak zaman Musa hingga zaman Kristus.

Paulus menggunakan ilustrasi untuk menjelaskan tujuan tersebut. Ia membandingkan hukum dengan seorang paidagōgos, atau seorang pendidik. Dalam keluarga Yunani, seorang pendidik adalah seorang budak yang dipercaya untuk melindungi dan merawat anak-anak dari usia 6 tahun hingga akhir remaja. Pedagog tidak persis sama dengan “guru”, namun ia mendisiplinkan anak-anak. Dia mengajari mereka moral dan mengoreksi mereka ketika mereka berperilaku buruk. Namun, ketika anak-anak sudah cukup besar, mereka meninggalkan sang pendidik. Kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “tutor.”

Galatia 3:23-29 merangkum gagasan bahwa Allah tidak pernah bermaksud agar hukum menjadi solusi akhir atas masalah dosa. Sebaliknya, hal itu dimaksudkan untuk ”menjaga” umat manusia, hingga kedatangan Kristus. Kebebasan dari belenggu hukum ini juga melampaui semua hambatan lainnya: ras, gender, kekayaan, kesehatan, dan budaya semuanya tidak relevan dengan hubungan kita dengan Juruselamat. Siapa pun yang menjadi milik Kristus, karena iman, dijanjikan menjadi ahli waris.

Sebuah salah paham tentang jalur keselamatan pada masa Perjanjian Lama yang masih ada di zaman ini adalah bahwa sebagian orang Yahudi masih percaya bahwa mereka akan diselamatkan melalui pemeliharaan Hukum Taurat. Dari pembacaan Alkitab kita tahu bahwa anggapan ini tidak benar. Paulus mengajarkan bahwa tujuan dari Hukum sendiri adalah fungsinya sebagai “penuntun bagi manusia sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman” (Galatia 3:24). Bagi kita, ketaatan kepada hukum Tuhan bukanlah kunci keselamatan, tetapi tanda bahwa kita sudah diselamatkan.

Dari mana datangnya hikmat?

“Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku.” Amsal 8:17

Jika ada orang yang mempertanyakan dari mana datangnya cinta, lagu Maluku yang berjudul “Rasa Sayange” menyatakan bahwa cinta datang dari mata turun ke hati. Tapi pandangan ini mungkin sudah berubah. Jika dahulu penampilan fisik adalah apa yang menarik dan mendorong perhatian lawan jenis, sekarang orang mungkin lebih memakai pikiran mereka sebelum jatuh cinta. Ditimbang-timbang, dipikir-pikir sebelum memutuskan untuk jatuh cinta. Orang bilang bahwa kita harus bijaksana, dan karena itu segala sesuatu harus dipertimbangkan untung-ruginya!

Sekalipun kebijaksanaan itu perlu, apa yang dikenal sebagai hikmat oleh Tuhan bukanlah apa yang secara alami dimiliki oleh semua manusia. Alkitab menyatakan bahwa orang yang tidak berhikmat, adalah orang yang tidak mengenal Tuhan. Kebijaksanaan atau hikmat yang benar adalah datang dari Allah dan Allah adalah sumber hikmat. Karena orang yang mengenal Allah adalah orang yang dipilih-Nya, mereka adalah orang yang diberi kesempatan untuk mendapatkan hikmat yang sejati.

Orang bebal berkata dalam hatinya: ”Tidak ada Allah.” Mazmur 14: 1

Allah dalam Amsal 8:17 di atas, dipersonifikasikan sebagai seorang wanita yang berseru agar orang di sekitarnya mau mendengar. Katanya: “Aku mengasihi orang yang mengasihi aku.” Hikmat adaah Allah yang berseru agar umat-nya mau mendengar (Amsal 1:20-21). Allah memanggil mereka agar mereka berhikmat dengan cara mengasihi dan menaati Dia. Hikmat adalah bagian dari karunia kreatif Allah jauh sebelum penciptaan alam semesta.

“Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan, di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya, di atas tembok-tembok ia berseru-seru, di depan pintu-pintu gerbang kota ia mengucapkan kata-katanya.” Amsal 1:20-21

Amsal 8:12–21 mencatat lebih banyak kata-kata yang merupakan personifikasi hikmat. Allah berbicara tentang nilai yang Dia berikan kepada mereka yang menemukannya. Bertentangan dengan apa yang ditawarkan oleh wanita pezinah dalam Amsal 7—kemiskinan dan aib—hikmat menawarkan kekayaan sejati, kehormatan, dan warisan.

Kasih, dalam hubungannya dengan hikmat, juga memiliki makna yang mendalam. Kasih Yesus tidak ada bandingannya. Itu adalah cinta tanpa pamrih dan penuh pengorbanan. Yohanes 13:1 menggambarkan Yesus sebagai “setelah mengasihi umat-Nya yang ada di dunia, Ia mengasihi mereka sampai kesudahannya.” Tentu saja, perwujudan kasih Yesus yang paling signifikan bagi kita adalah kematian-Nya di kayu salib. Rasul Paulus menulis dalam Galatia 2:20, “…namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”.

” Kasih Yesus kepada kita mengobarkan kasih timbal balik kepada-Nya dalam diri kita. Rasul Yohanes menulis, “Kita mengasihi karena Dialah yang terlebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4:19).

Kebijaksanaan akan ditemukan oleh mereka yang tekun mencarinya. Ini berarti bahwa mereka yang mengasihi Dia akan memperoleh kebijaksanaan. Yeremia 29:13 menerapkan gagasan yang sama kepada mereka yang mencari Tuhan, secara umum, menyatakan, “apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati.” Ayat berikut menjanjikan, “Aku akan memberi kamu menemukan Aku” (Yeremia 29:14). Yesus, sumber segala hikmat, mengundang orang-orang terhilang untuk datang kepada-Nya.

Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Yohanes 6: 37

Pagi ini kita harus menyadari bahwa jika kita memang mengasihi DIa, kita akan memperoleh hikmat dalam hidup kita. Kita tidak akan merasa ragu, kuatir atau takut dalam melangkahkan kaki kita. Kita akan terlindungi sehingga tidak jatuh terperosok dalam dosa.

”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Yohanes 14:15-17

Kesedihan mengingatkan adanya Tuhan

“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku? Mazmur 13: 1 – 2

Keadaan di Israel dan Palestina sekarang ini tentunya bukan suatu hal yang mudah diterima dengan hati yang tabah. Dengan berjalannya waktu, suasana perang ini lambat laun membuat banyak orang merasa gundah. Apalagi jika kita mendengar begitu banyaknya korban yang berjatuhan dari kedua pihak. Setiap orang di dunia tentunya merasa sedih dengan keadaan dunia saat ini. Semua ini adalah kenyataan dan bukan sebuah film drama perang.

Sekalipun orang mungkin senang menonton film drama yang bernada sedih dan bisa membayangkan keadaan yang dilukiskan dalam film itu, tentunya tidak seorang pun yang mengingini agar kejadian semacam itu terjadi pada dirinya sendiri. Sekalipun kejadian serupa mungkin saja pernah dialami oleh penonton, itu bukanlah sesuatu yang bisa dinikmati. Kesedihan adalah sesuatu yang tidak disukai manusia, tetapi bisa datang tanpa diundang. Sebagian kesedihan bisa disebabkan karena kesalahan diri sendiri, tetapi banyak juga yang datang karena perbuatan orang lain atau karena adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia.

Kesedihan adalah bagian kehidupan sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Sekalipun kita berusaha keras untuk menghindari apa yang menyedihkan, hal yang buruk dapat terjadi dalam hidup kita. Banyak orang Kristen yang mengalami musibah yang bertanya-tanya mengapa Tuhan yang mahakasih membiarkan umat-Nya untuk merasakan kesedihan yang luar biasa. Mengapa Ia tidak memberikan pertolongan, penghiburan dan kekuatan?

Hidup tidak selalu mudah. Iman kepada Tuhan tidak selalu memberikan jawaban yang mudah. Alkitab tidak menyembunyikan fakta ini. Pada ayat di atas, Daud bersama banyak orang lainnya mengungkapkan kebingungan dan frustrasinya kepada Allah. Menghadapi bahaya, Daud merasa Tuhan telah melupakannya. Pertanyaan David tentang “berapa lama?” lebih dari sekedar persoalan waktu; itu juga merupakan permohonan penjelasan. Ada perasaan “mengapa?” yang dibawa dalam keluhan ini.

Rupanya, janji Tuhan untuk mengangkat Daud menjadi raja Israel semakin pudar dalam menghadapi ancaman Saul. Daud merasa terharu saat melihat wajah Tuhan, namun kini sepertinya Tuhan menyembunyikan wajah-Nya. Daud mengungkapkan keprihatinan serupa dalam Mazmur 22:12, yang mana ia berdoa, “Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong.”

Mungkin karena menghadapi kemungkinan besar akan menjadi korban kekejaman Saul, Daud berseru kepada Tuhan karena frustrasi. Dalam keadaannya, dia merasa ditinggalkan dan tidak dicintai. Dia memohon kepada Tuhan untuk mempertimbangkan situasinya dan menjawabnya. Daud tidak sekadar meminta bantuan; dia meminta penjelasan. Meskipun begitu, Daud tetap percaya kepada Tuhan dan melakukannya dengan penuh keyakinan. Karena Tuhan sudah membuktikan diri-Nya, Daud memilih beriman kepada Tuhan.

Kita mungkin pernah mengidentifikasi diri dengan perasaan seperti yang dialami Daud. Masalah mungkin menekan kita, sehingga kita berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan kita dan tidak peduli lagi. Namun, Apalagi jika tidak ada seorang pun yang peduli, atau yang bisa menolong kita. Tetapi, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan orang percaya, dan Dia memeliharanya (Ibrani 13:5; 1 Petrus 5:7). Perjuangan Daud tidak membuat dia menolak Tuhan; sebaliknya, dia akan menanggapi ketakutannya dengan iman (Mazmur 13:5–6). Kita pun bisa mejadi seperti Daud.

Pagi ini, pertanyaan kita mungkin: adakah guna kesedihan sehingga Tuhan membiarkan umat-Nya untuk mengalaminya? Ada! Kesedihan bisa membimbing manusia untuk menyadari bahwa mereka tidak berkuasa atas apa pun juga yang terjadi di dunia. Penderitaan bisa juga menginsafkan manusia untuk tidak mengulangi kekeliruan di masa lalu. Kesedihan bisa memperkuat iman kita agar kita mau bergantung kepada Tuhan. Kesesakan hidup juga bisa membuat kita untuk mau berjalan bersama Dia. Lebih dari itu, adanya kesedihan bisa memberi keyakinan kepada kita bahwa Yesus yang sudah mengalami penderitaan yang luar biasa, tidak akan membiarkan kita untuk mengalami penderitaan yang lebih besar dari kekuatan kita.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10: 13

Hal mengasihi orang yang tidak kita sukai

“Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” Lukas 6:35

Alkisah, ada seorang perempuan Kristen yang sudah cukup lama menikah, tetapi masih harus berjuang keras untuk bisa menikmati hidup bersama suaminya. Setelah hampir sepuluh tahun, dia masih bertanya-tanya dengan penuh kesungguhan: “Tuhan, apakah dia memang jodohku?” Perempuan itu tidak mau mengakuinya secara terang-terangan – dan dia tahu Tuhan telah menempatkan pria itu dalam hidupnya – tetapi dia sebenarnya tidak menyukai suaminya! Setiap hari, dia bertanya-tanya bagaimana dia bisa menaati panggilan Tuhan untuk mencintai sang suami, jika ia tidak tahan lagi berada di dekatnya. Menurutnya, pria yang satu ini adalah tipe orang yang membosankan, tak henti-hentinya mengeluh, jarang mau mendengarkan, suka berperang mulut, jarang tersenyum, tetapi suka bergosip. Dapatkah ia mengasihi orang yang tidak disukainya?

Alkitab memberi tahu kita bahwa kehendak Allah adalah agar kita mengasihi orang lain dengan kasih yang ilahi. Kita dipanggil untuk “mengasihi musuh kita, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kita; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kita; berdoalah bagi orang yang mencaci kita.” (Lukas 6: 27-28). Yesus berkata kepada murid-murid-Nya pada malam sebelum penyaliban-Nya, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34).

Dalam masing-masing contoh di atas, kata Yunani untuk kasih adalah agapao yang mempunyai sifat pengorbanan diri sebagai ciri utamanya. Ini bukanlah cinta kasih sayang persaudaraan (phileo), atau hubungan cinta yang didasarkan nafsu (eros) seperti yang sering dipikirkan orang zaman sekarang. Sebaliknya, cinta agapao atau agape mencari yang terbaik untuk objeknya. Kasih yang rela berkorban tidak didasarkan pada perasaan, melainkan suatu tindakan yang penuh tekad, tekad yang penuh sukacita untuk mendahulukan kesejahteraan orang lain di atas kesejahteraan kita sendiri. Jelaslah, cinta seperti ini tidak mungkin terjadi jika kita memiliki kekuatan sendiri. Hanya melalui kuasa Roh Kudus kita mampu menaati perintah Tuhan, termasuk perintah mengasihi.

Yesus berkata kita harus mengasihi sebagaimana Dia mengasihi kita, lalu bagaimana Dia mengasihi? “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8). Tentu saja kita tidak akan menyukai semua orang, dan kita juga tidak terpanggil untuk menyukai semua orang. Meski begitu, saat kita mulai mencintai seseorang dengan kasih Tuhan, sikap kita terhadap orang tersebut akan berubah. Secara ajaib, kita tidak akan mampu memiliki sikap dan tindakan yang tidak konsisten. Ketika kita mulai menunjukkan kasih melalui tindakan kita, sikap kita pun akan mengikuti. Mengasihi akan tetap menjadi sebuah pilihan, namun lambat laun akan menjadi pilihan yang lebih rela dan siap dilakukan oleh hati. Bukan karena terpaksa.

Ketika kita melihat interaksi Yesus dengan orang lain, kita melihat bahwa Dia rela berhubungan dengan semua jenis orang—orang berdosa, pemungut cukai, orang Farisi, Saduki, orang Roma, Samaria, nelayan, wanita, anak-anak—tanpa mempedulikan pandangan masyarakat. Yesus mengasihi orang-orang ini dan memperlakukan mereka berdasarkan kasih tersebut, namun hal itu tidak selalu terlihat menyenangkan. Dia mengucapkan kata-kata kasar kepada orang-orang yang menentang-Nya, namun Dia melakukannya karena itu yang terbaik bagi mereka. Dia mengorbankan waktu-Nya, energi emosional-Nya, dan kebijaksanaan-Nya bagi mereka yang membenci-Nya karena Dia tahu hal itu akan membawa mereka pada pengetahuan yang menyelamatkan tentang Dia dan menjauhkan mereka dari dosa untuk selamanya. Apa pun yang terjadi, mereka mendapat manfaat dari masukan-Nya. Inilah inti dari mengasihi musuh kita—mengatakan kebenaran dengan kasih kepada mereka (Efesus 4:15), tidak peduli seberapa besar biaya yang harus kita keluarkan untuk melakukan hal tersebut.

Sudah tentu, ini tidak berarti bahwa Anda akan menyukai setiap orang atau bahkan menghormati mereka tanpa memikirkan cara hidup mereka. Tuhan telah memberi kita pikiran untuk membedakan, sampai batas tertentu, hati orang lain. Kita juga diciptakan menurut gambar Allah dan tidak boleh membahayakan diri kita sendiri dengan memercayai seseorang yang tidak layak untuk dipercaya. Yesus menjauh dari orang banyak karena Dia mengetahui isi hati mereka dan Ia perlu melindungi diri-Nya (Yohanes 5:13; 6:15). Namun, ketika kita menaruh kepercayaan kita sepenuhnya kepada Kristus dan mengejar hikmat dan kekudusan melalui doa dan Kitab Suci, kita secara alami akan mengembangkan kasih terhadap orang lain—kasih ilahi yang mengorbankan diri demi mencari yang terbaik bagi mereka—baik disertai dengan atau tidak dengan rasa suka kita terhadap mereka dan cara hidupnya.

Tidak salah lagi bahwa Yesus memanggil umat-Nya untuk mengasihi orang-orang yang tidak kita sukai – di dalam dan di luar gereja. Di dalam dan di luar rumah. Kasih yang Dia ajarkan kepada kita tidak didasarkan pada kesamaan alami atau kepentingan bersama. Kita tidak menatap tetangga kita, seperti beberapa orang yang memicingkan mata ke awan tak berbentuk, mencoba melihat sesuatu yang menarik di dalamnya – yang bisa kita sukai – sebelum kita bertindak. Apa yang diperlukan untuk menunjukkan kepedulian kita terhadap siapa pun di planet ini hanyalah perintah Yesus: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Lukas 10:27).

Memang menjengkelkan bahwa kita tidak bisa memilih siapa yang pindah ke rumah sebelah atau siapa yang tergeletak bersimbah darah di pinggir jalan (Lukas 10:25-37). Lebih payah lagi, suami atau istri yang kita pilih, selang berapa tahun mungkin menjadi orang yang tidak seperti yang kita bayangkan. Apakah kasih kita menjadi hilang karena adanya hal-hal yang tidak sesuai dengan selera kita?

Pagi ini, harapan Tuhan terhadap kasih, inti dari perintah-Nya, adalah agar kita dapat memperluas wawasah kasih kita kepada mereka yang secara alami tidak atau belum kita sukaii. Yesus bahkan lebih jauh lagi memanggil kita untuk mengasihi orang-orang yang membenci kita.

Sendirian dalam iman, sendirian dalam kematian

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14:12

Pernahkah Anda membaca cerita Sam Pek Eng Tay? Ini adalah cerita rakyat Tiongkok yang mengisahkan percintaan Sam Pek dan Eng Tay. Legenda ini sering dianggap sebagai Romeo dan Juliet versi Tionghoa.

Eng Tay adalah seorang gadis muda dari Shangyu, Zhejiang, putri tunggal dari sebuah keluarga kaya yang pergi ke Hangzhou untuk belajar. Dalam perjalanannya, ia berkenalan dengan Sam Pek, yang berasal dari Kuaiji. Di sekolah Eng Tay jatuh cinta dengan Sam Pek. Namun orang tua Eng Tay memaksanya untuk menikahi orang lain. Sam Pek sakit hati dan akhirnya meninggal dunia.

Pada hari pernikahan Eng Tay dengan orang pilihan orang tuanya, rombongan pengantin wanita tidak dapat pergi ke rumah mempelai laki-laki karena terhadang badai di dekat kuburan Sam Pek. Engtay pergi ke kuburan tersebut dan meminta agar kuburan tersebut terbuka. Tiba-tiba Eng Tay meloncat ke dalam kuburan Sam Pek. Jiwa mereka dilahirkan kembali sebagai sepasang kupu-kupu yang terbang bersama. Kisah sehidup semati yang berkesan indah, tetapi sebenarnya tidak cocok untuk orang Kristen. Mengapa demikian?

Terlepas dari cara Eng Tay untuk menyatakan cintanya kepada Sam Pek yang sudah mendahuluinya, orang Kristen mengerti bahwa tidak semua orang akan bisa ke surga. Sekalipun ada dua orang Kristen yang saling mengasihi, hanya orang Kristen sejati yang akan masuk surga. Keselamatan adalah hal pribadi yang tidak bisa dibagi dengan orang lain. Begitu juga kematian, karena hanya kematian orang yang sudah ditebus akan berakhir dengan kehidupan kekal di surga.

Martin Luher perbah menyatakan: “Every man must do two things alone; he must do his own believing and his own dying“. Artinya: setiap orang harus melakukan dua hal sendirian; ia harus menjalankan imannya sendirian dan ia harus mati sendirian. Tidak ada orang yang bisa sehidup semati dengan orang lain. Karena jika kita mau bertekad untuk hidup sebagai orang Kristen sejati, itu harus merupakanh perjuangan pribadi kita; dan jika kita meninggalkan dunia ini kita harus menhadapi Tuhan sendirian.

Dalam kutipan Martin Luther di atas, ia merangkum esensi dari perjalanan pribadi dan tanggung jawab utama yang kita pikul sebagai individu. Pada intinya, kutipan tersebut menunjukkan bahwa ada dua aspek mendasar dalam hidup yang tidak dapat dialami oleh siapa pun: percaya dan mati. Percaya, dalam konteks ini, mencakup tindakan mengembangkan keyakinan, nilai, dan perspektif diri sendiri. Hal ini memerlukan eksplorasi ide secara independen, hubungan pribadi dengan Tuhan. Kepercayaan memaksa kita untuk mempertanyakan, merenungkan, dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup. Ini adalah proses yang sangat pribadi dan intim yang membentuk opini kita, memengaruhi keputusan kita, dan memberi makna pada keberadaan kita.

Demikian pula, bagian kedua dari ucapan Luther itu membahas realitas kematian manusia yang tak terelakkan. Kematian adalah aspek kehidupan yang tidak dapat dihindari dan kita masing-masing akan menghadapinya secara individu. Terlepas dari sistem pendukung eksternal apa pun, di akhir perjalanan kita, kita dihadapkan pada kesendirian dan finalitas dari kematian kita sendiri. Kita tidak bisa mengandalkan orang lain untuk melakukan pengalaman ini atas nama kita; itu milik kita pribadi.

Makna kutipan ini terletak pada penekanannya pada akuntabilitas dan otonomi pribadi. Hal ini mendorong kita untuk mengendalikan keyakinan kita, memastikan bahwa keyakinan tersebut lahir dari introspeksi dan keyakinan mendalam, bukan kepatuhan membabi buta terhadap ajaran pendeta atau keyakinan orang lain. Terlebih lagi, hal ini mengingatkan kita bahwa kitalah yang memiliki kepemilikan tunggal atas hidup kita dan pilihan-pilihan yang kita buat hingga akhir.

Tiap orang harus memikul salibnya sendiri. Memikul salib berarti menaruh kepercayaan penuh kepada Tuhan di tengah badai dan pertempuran dalam hidup Anda. Artinya, meskipun Anda berada dalam situasi yang sangat sulit atau menyakitkan, adalah keputusan Anda untuk selalu percaya bahwa Tuhan menyertai Anda di tengah penderitaan Anda. Lebih dari itu, sebagai orang Kristen, kita sendiri harus berusaha menjalani hidup kita sesuai dengan kehendak Tuhan.

Meskipun kutipan Luther menyoroti tanggung jawab individu, keyakinan dan keputusan kita bergema dalam lingkup yang lebih luas dari keberadaan manusia. Perjalanan hidup orang beriman dan akhir hidup dari setiap orang Kristen adalah suatu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Meskipun pada akhirnya kita bertanggung jawab atas hidup kita sendiri dan harus menghadapi proses kematian, hubungan dan interaksi yang kita dengan Tuhan sumber kehidupan kita memberi kita keyakinan bahwa semua itu akan kita jalani bersama Tuhan sendiri. Dalam kenyataannya, kita tidak dapat bergantung pada kasih orang lain, tetapi kepada kasih Tuhan.

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: ”Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8:35-39

Apa arti nama Anda?

Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: ”Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”Yohanes 1:42

Nama selalu penting dalam kehidupan manusia. Ketika saya dan istri mencoba memilih nama untuk anak-anak kami, kami selalu membanding-bandingkan beberapa pilihan. Apakah nama itu baik artinya? Apakah nama itu cocok bunyinya dengan nama keluarga kami? Apakah nama itu tidak akan membuat orang lain sulit menyebutkannya? Semua faktor penting! Suka atau tidak suka, nama seseorang terikat pada arti, bunyi dan persepsi.

Beberapa tahun yang lalu ada orang tua di Tiongkok yang memilih nama depan yang sangat pendek untuk bayi mereka. Nama itu hanya terdiri dari satu huruf @, yang berbunyi “at‘ dalam bahasa Inggris dan digunakan untuk nama email. Untunglah pemerintah setempat melarang penggunaan nama itu karena bisa membawa olok-olokan untuk anak mereka di kemudian hari. Sekalipun nama itu praktis dan tidak membawa arti buruk, nama itu bisa mendatangkan persepsi yang buruk.

Mungkin Yudas adalah nama dari Alkitab yang tidak Anda sukai. Yudas adalah nama untuk anak laki-laki yang berasal dari Yunani. Ini adalah kata Yunani dari kata Ibrani Yehuda, yang berarti “terpuji.” Meskipun nama alkitabiah ini agaknya sinonim dengan Yudas Iskariot yang mengkhianati Yesus, arti sebenarnya adaah baik. Yudas adalah pilihan nama yang tepat jika Anda ingin menunjukkan kepada si kecil betapa Anda menghargai kehadirannya. Tetapi, karena adanya asosiasi dengan Yudas Iskariot, nama Yudas di dunia barat tidak pernah populer dan bahkan di Indonesia mungkin tidak ada orang yang mau memakainya.

Yohanes 1:29–42 adalah percakapan antara Yesus dan Yohanes Pembaptis, dan mencatat momen ketika Yesus merekrut dua murid pertama-Nya. Yesus diidentifikasikan sebagai “Anak Domba Allah,” dan “Anak Allah.” Yohanes Pembaptis menggambarkan penglihatannya tentang Roh Kudus, dalam bentuk seekor merpati, hinggap pada Yesus. Ini menegaskan bahwa Dia adalah Mesias. Yohanes Pembaptis menyuruh dua pengikutnya, Yohanes dan Andreas, untuk pergi dan mengikuti Yesus. Mereka, pada gilirannya, memperkenalkan Yesus kepada Simon.

Andreas sudah memberitahu saudaranya Simon bahwa pria yang ditemuinya adalah “Mesias”, yang berarti “Yang Diurapi”. Istilah Yunaninya adalah Christos, yang kemudian menjadi kata dalam bahasa Indonesia “Kristus”. Ini adalah nama kelima dari tujuh nama Yesus yang disebutkan Yohanes dalam pasal 1. Yesus segera memberi tahu Simon bahwa dia akan memiliki nama baru yaitu “Kefas.” Ini sebenarnya adalah sebuah kata dari bahasa Aram yang berarti “batu.” Dalam bahasa Yunani aslinya, Yohanes menerjemahkan Kefas sebagai Petros, yang darinya kita mendapatkan nama “Petrus”.

Teman-teman Simon mungkin menganggap aneh bahwa seseorang yang dikenal emosional dan tidak stabil kini menggunakan nama “Batu”. Jauh sebelum Petrus melakukan hal-hal yang patut diperhatikan, Yesus sudah bisa melihat potensinya, dan memberinya nama yang pantas untuk masa depannya. Tentu saja, kita sekarang tahu bahwa nama Petrus itu sangat tepat untuk seseorang yang setia kepada imannya sampai mati.

Sekarang, bolehkah saya bertanya siapakah nama Anda? Mungkin jika Anda ke gereja besok pagi, tidak banyak orang di jalan yang tahu nama Anda, tetapi mereka pasti tidak ragu memanggil memanggil Anda dengan nama “orang Kristen”. Seperti itulah murid-murid Yesus yang di Antiokhia dinamakan orang Kristen untuk pertama kalinya (Kisah Para Rasul 11:26). Kristen bukan nama sembarang nama. Nama itu seharusnya membawa arti, bunyi dan persepsi yang baik. Seharusnya, tetapi belum tentu.

Hari ini, sadarkah Anda bahwa masyarakat di sekitar Anda mengenal Anda sebagai “orang Kristen”? Sadarkah Anda bahwa arti nama itu adalah “pengikut Kristus”? Apakah nama Anda merupakan sesuatu yang bunyinya merdu untuk orang lain, karena mereka dapat melihat cara hidup Anda yang penuh kasih dan kesalehan, yang berbeda dari orang lain? Apakah orang lain mempunyai persepsi yang baik atas diri Anda? Semoga.

Mengapa lebih baik memberi daripada menerima?

“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Kisah Para Rasul 20:35

Kisah Para Rasul 20:28–35 mencatat kata-kata terakhir Paulus kepada para pemimpin dan penatua gereja di Efesus, dan itu ditulis bukan kepada para jemaat. Ia telah mengingatkan mereka akan pengabdiannya yang setia kepada mereka dan gereja. Dia telah memberitahu mereka bahwa dia akan pergi ke Yerusalem dimana dia akan dipenjarakan; mereka tidak akan pernah melihatnya lagi (Kisah 20:18–27). Kemudian, ia menasihati mereka untuk mengikuti teladannya dalam memimpin gereja, melindungi umatnya dari guru-guru palsu, dan mengorbankan keuntungan duniawi untuk membawa orang lain kepada Kristus. Paulus akan membuktikan poin terakhir ini ketika dia menghabiskan lima tahun berikutnya dalam tahanan namun masih berkhotbah dan menulis kepada gereja-gereja (Kisah 28:30-31).

Sekarang dalam perjalanan kembali ke Yerusalem, Paulus bertemu dengan para penatua gereja. Dia mengingatkan mereka akan pelayanannya dan memperingatkan mereka tentang kedatangan guru-guru palsu. Dia juga memberi tahu mereka bahwa dia akan dipenjara dan mereka tidak akan melihatnya lagi. Sekarang, dia memberikan instruksi terakhir kepada mereka saat dia menugaskan mereka untuk setia memimpin gereja mereka (Kisah 20:17-34). Kemudian Paulus melanjutkan pesannya agar para pemimpin gereja membantu orang-orang yang lemah karena adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.

Apa yang dipesankan Paulus kepada penatua gereja agaknya berbeda dari kecenderungan masa kini. Pada zaman ini adalah biasa jika pendeta menerima perhatian utama dan pemberian jemaat. Bahkan banyak pendeta yang sekarang menjadi orang yang kaya raya karena menuntut berbagai pemberian dan fasilitas kenyamanan dari jemaat dengan memakai kedok persembahan untuk Tuhan. Apa yang kita lihat, jemaat Kristen juga ikut-ikutan merasa bahwa adalah lebih enak untuk menerima berkat Tuhan daripada membagikan berkat itu kepada orang lain. Ini bertentangan dengan ajaran Paulus di atas.

Lebih berbahagia memberi daripada menerima karena memberi akan membunuh sifat mementingkan diri sendiri, menghilangkan cinta akan uang dan kenyamanan, dan mendorong misi kita untuk membantu mereka yang membutuhkan. Karena kita telah diberikan segala yang kita butuhkan di dalam Kristus, kita tidak perlu mengharapkan imbalan apa pun saat memberi. Kita menjadi bahagia atau diberkati ketika kita memikul salib dan menyangkal diri kita sendiri, seperti yang Yesus ajarkan dalam Lukas 9:23.

“Kata-Nya kepada mereka semua: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”

Paulus melaksanakan ajaran ini dalam Kisah Para Rasul 20:24-25, ketika ia berkata: “Tetapi aku tidak menganggap hidupku berharga atau berharga bagi diriku sendiri, asal saja aku dapat menyelesaikan kursus dan pelayanan yang aku terima dari Tuhan. Yesus, untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.”

Kita dapat memberikan waktu, bakat, dan harta kita kepada mereka yang membutuhkan karena pekerjaan Injil kasih karunia yang dilakukan Allah di dalam dan melalui kita. Setiap anugerah sumber daya yang ditawarkan akan membunuh keegoisan kita dan menempatkan ketergantungan dan iman yang lebih dalam kepada Tuhan. Ketika kita percaya bahwa memberi adalah hal yang lebih berbahagia, kita menaruh iman kita pada janji bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan dan mengabaikan kita.

Tuhan menciptakan kita untuk menjadi saluran rahmat-Nya. Ketika kita memberi, kita mencerminkan kemurahan dan pengorbanan-Nya. Pemberian keuangan dan sumber daya dengan pengorbanan kita secara alami akan memberikan peluang untuk tidak hanya membantu orang miskin dan membutuhkan, tetapi juga membuat orang beriman untuk kaya di dalam Kristus.

Pagi ini, kita percaya bahwa Dia menyediakan semua kebutuhan kita, sama seperti Dia menyediakan kebutuhan burung di udara (Matius 6:26-34). Kita harus percaya bahwa ketika kita memberi, Dia ada untuk kebaikan kita, dan menggunakan segala sesuatu untuk kemuliaan-Nya (Roma 8:28). Pemberian yang kita berikan tidak akan pernah sia-sia, apalagi jika kita memberi dengan hati yang rela dan gembira.

Pernahkah Anda merajuk karena keputusan Tuhan?

Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: ”Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.” Tetapi firman TUHAN: ”Layakkah engkau marah?” Yunus 4:1-4

Yunus adalah seorang nabi yang mempunyai temperamen yang agak “aneh”. Tetapi, dalam keadaan tertentu kita mungkin juga bisa berlaku seperti Yunus. Dalam ayat di atas, kita melihat bahwa dalam doanya Yunus marah kepada Tuhan dan mengasihani dirinya sendiri karena Tuhan menyelamatkan Niniwe. Seperti Yunus, kita juga membuat dosa serupa yang berupa kemarahan, pembenaran diri dan kesombongan. Sebagai orang pilihan, kita mungkin merasa bahwa Tuhan seharusnya selalu “mengalah” kepada kita.

Setelah perjalanan pengabarannya di Niniwe, Yunus sebenarnya punya banyak alasan untuk merasa bahagia. Dia seharusnya bersyukur, gembira, bersyukur, bersukacita. Dia telah berkhotbah selama tiga hari dan seluruh kota telah bertobat kepada Tuhan. Tidak banyak pengkhotbah yang mendapat tanggapan positif yang begitu besar terhadap khotbah mereka.

Tapi Yunus tidak bersukacita, dia malah merajuk. Dia tidak senang, dia kesal. Dia “sangat tidak senang dan menjadi marah”. Mengapa? Dia terkejut dengan anugerah Tuhan terhadap kota Niniwe dan dia sama sekali tidak menyukainya. Hal ini juga membuat Yunus menjadi sombong. “Dia berdoa kepada Tuhan, ‘Ya Tuhan, bukankah ini yang aku katakan ketika aku masih di rumah?’ “Yunus menanggapi kasih TUhan kepada orang Niniwe dengan merajuk kekanak-kanakan dan membiarkan kepahitan menguasai dirinya.

Ada kemarahan yang benar, ada kemarahan yang baik; tapi ada juga kemarahan penuh dosa yang muncul karena sikap egois dan mementingkan diri sendiri ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita makin marah karena orang yang tidak kita senangi justru mendapatkannya. Kemarahan seperti ini merupakan gejala dari masalah yang lebih dalam. Ini adalah bel peringatan yang perlu kita perhatikan. Kemarahan yang disadarkan rasa iri hati dan kesombongan seperti ini mengarah pada dosa-dosa lainnya (ingat Tujuh Dosa yang Membinasakan).

Alkitab menampilkan dua doa Yunus. Yang pertama di dalam perut ikan, yang kedua di Niniwe. Dalam doanya yang pertama dia berseru minta ampun kepada Tuhan, dalam doa kedua dia marah kepada Tuhan. Tadinya di perut ikan dia rendah hati dan menyesal, sekarang dia sombong dan merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Dalam doa pertama, dia merasa kosong dalam dirinya sendiri; kemudian sesudah diampuni Tuhan, dia merasa penuh dengan dirinya sendiri. Dalam kesombongannya, Yunus merasa dia lebih tahu daripada Tuhan. Secara harafiah keluhannya berbunyi, “Bukankah ini perkataanku ketika aku masih di rumah?”

Inilah Yunus, nabi yang melarikan diri dan tidak taat, yang kemudian memberi tahu Tuhan apa yang harus dilakukan, menguliahi Tuhan. Inilah nabi lemah yang merasa lebih bijaksana daripada Tuhan yang mahakuasa. Karena segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan harapannya, dia menuduh Tuhan tidak adil; seperti pemain sepakbola yang menantang keputusan wasit; “Kamu membuat keputusan yang buruk; itu adalah keputusan yang salah.” Tetapi, kita pun sering berlaku seperti Yunus sekalipun tidak sadar akan hal itu.

Banyak di antara kita yang terjebak dalam pemikiran bahwa kita lebih tahu daripada Tuhan; berpikir kita mempunyai rencana yang lebih baik, sehingga kita dapat memperbaiki apa yang sedang Tuhan lakukan. Seperti Marta yang merajuk karena kematian Lazarus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” (Yohanes 11: 21).

Kita sering melakukan ini juga. “Tuhan, mengapa Engkau membiarkan hal itu terjadi?” “Jika orang itu tidak mengatakan hal itu, aku tentu tidak akan marah.” “Jika Tuhan menjagaku tetap sehat, semua ini tidak akan terjadi.” Kita jatuh ke dalam sikap yang sama seperti Yunus. Kita pikir kita lebih tahu daripada Tuhan dan kita menyalahkan Dia atas apa yang tidak kita sukai, dan kita berani mengatakan kepada-Nya apa yang harus Dia dilakukan. Dalam kesombongan kita, kita berselisih dengan Tuhan. Kita cukup sombong untuk berpikir bahwa kita pantas untuk merajuk kepada Tuhan.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah mahaadil dan mahabijaksana. Seperti Dia mengasihi nabi Yunus, Tuhan juga mengasihi kita yang berdosa. Tuhan mau kita sadar bahwa Ia mengasihi semua ciptaan-Nya dan memberikan berkat-Nya sesuai dengan kebijakan-Nya. Kita tidak patut merajuk kepada Tuhan karena adanya hal-hal yang tidak kita sukai. Jika kita saat ini marah kepada Tuhan, firman-Nya kepada kita: ”Layakkah engkau marah?”

Kita tidak perlu meniru orang Israel

Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.” Keluaran 3: 14 – 15

Pada saat ini, banyak orang yang rajin membaca berita tentang keadaan di Timur Tengah. Peperangan antara Israel dan Hamas membuat orang ingin tahu lebih banyak tentang latar belakang perseteruan antara Israel dan Hamas, dan juga antara Israel dean beberapa negara Arab. Karena itu banyak orang mungkin tertarik untuk mempelajari cara hidup, budaya dan agama orang Israel.

Seperti yang kita ketahui, bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah, dari mana Yesus dilahirkan. Allahlah yang menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dan membimbing mereka untuk masuk ke tanah perjanjian. Namun, karena bangsa itu kemudian berpaling dari Allah, mereka kemudian diceraiberaikan Allah, sampai-sampai kehilangan negaranya. Hanya setelah berakhirnya perang dunia kedua, dan setelah mengalami malapetaka yang disebabkan oleh Nazi Jerman, negara Israel kemudian terbentuk lagi hingga sekarang.

Apakah bangsa Israel yang sekarang ada, masih tetap merupakan bangsa pilihan Allah? Jawaban pertanyaan ini tidaklah mudah ditemukan. Maklum, bangsa Israellah yang membuat Yesus disalibkan, dan sampai sekarang sebagian besar orang Yahudi masih menantikan datangnya Mesias. Sebagian orang Kristen kemudian menganggap bahwa eksistensi bangsa Israel sekarang tidak lagi relevan dalam teologi Kristen. Sebaliknya, banyak orang Kristen yang percaya bahwa bangsa ini sampai sekarang masih bangsa pilihan yang pada akhirnya akan diselamatkan.

Dalam masyarakat Yahudi, Yahweh adalah pengucapan dari nama perjanjian Tuhan, YHVH atau YHWH. Tuhan pertama kali menggunakan nama ini ketika Dia berbicara dengan Abram (Abraham) dalam Kejadian 15: 7. Nama YHVH juga diturunkan kepada Musa di Gunung Sinai ketika Tuhan menampakkan diri kepada Musa di semak yang terbakar. Musa menanyakan nama-Nya dan Tuhan menjawab “Aku adalah Aku”(Keluaran 3:14).

Sebenarnya, Tuhan dikenal dengan berbagai nama dalam kitab Kejadian. Dia disebut “El Elyon” (Tuhan Yang Maha Tinggi), “El Shaddai” (Tuhan Yang Maha Kuasa), “El Roi” (Tuhan yang melihatku), dan nama-nama lainnya. Walaupun demikian, Abraham, Nuh, Ishak, Yakub, dan Laban mengenal Tuhan sebagai YHWH, atau Yahweh.

Yahweh adalah nama yang Tuhan nyatakan kepada Musa agar diingat oleh umat-Nya, Israel, pada saat itu. Selalu diingat, tidak boleh dilupakan. Tuhan memang sedang mempersiapkan umat-Nya untuk mengenali Mesias yang akan datang, “benih” yang dijanjikan di taman Firdaus (Kejadian 3:15). Dari Alkitab kita bisa membaca tentang Tuhan yang mengungkapkan banyak segi dari tujuan dan rencana penebusan-Nya dan lebih banyak lagi tentang siapa Dia, yang tidak pernah berubah. Karena itu, Tuhan adalah Tuhan. Yahweh yang tidak ada duanya.

Dalam kitab Keluaran agaknya nama YHWH sudah dilupakan. Itulah sebabnya tidak disebutkan nama ilahi dalam Keluaran 1 dan 2. Kita harus ingat bahwa umat Israel telah menjadi budak di Mesir selama 400 tahun. Musa telah berada di Midian dengan ayah mertuanya yang tidak mengenal Tuhan selama 40 tahun. Walaupun ada orang-orang yang takut akan Tuhan, dan juga orang-orang yang berseru dalam penderitaan mereka kepada Tuhan, tidak ada yang memanggil nama YHWH. Dengan melupakan Tuhan yang tidak pernah berubah dan Tuhan yang mahakuasa, dan yang rancangan penyelamatan-Nya pasti terjadi, dalam penderitaan umat Israel tidak bisa mengerti siapakah Tuhan mereka, YHWH, yang akan membawa mereka keluar dari tanah Mesir.

Untuk kita, implikasi dari nama yang luar biasa ini, AKU ADALAH AKU, adalah bahwa Allah yang tak terbatas, mutlak, dan menentukan nasib sendiri ini telah datang untuk kita di dalam Yesus Kristus. Dalam Yohanes 8: 56–58, Yesus menjawab kritik dari para pemimpin Yahudi. Dia berkata, “Abraham bapamu bersukacita bahwa ia telah melihatnya dan ia bersukacita. ” Orang-orang Yahudi kemudian berkata kepadanya, “UmurMu belum sampai lima puluh tahun, dan Engkau telah melihat Abraham?” Yesus kemudian berkata kepada mereka, “Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham jadi, Aku telah ada. AKU ADALAH AKU!

Haruskah kita sekarang memanggil Tuhan dengan nama Yahweh seperti orang Yahudi? Tidak! Di zaman Perjanjian Lama, Tuhan berbicara melalui para nabi-Nya dan bernubuat tentang Mesias yang akan datang. Selama pelayanan-Nya di bumi, Yesus memberikan penjelasan lebih lanjut tentang tujuan dan rencana Bapa yang tidak berubah. Setelah Yesus datang ke dunia dan mati di kayu salib, mereka yang percaya kepada-Nya akan menerima keselamatan. Mereka diangkat menjadi anak-anak Allah. Sebab itu, kita tidak memiliki roh yang membuat kita takut lagi; tetapi karena Yesus sudah memperdamaikan kita dengan Tuhan, kita tidak boleh lupa bahwa kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah. Oleh Roh itu kita memanggil: “ya Abba, ya Bapa!”. Kita boleh percaya bahwa pada saatnya, bangsa Israel juga akan memanggil Yahweh sebagai Bapa, jika mereka menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka.

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roma 8: 14 – 15

Bolehkah kita berbohong kecil?

“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” Efesus 4:25,

Keyakinan saya sendiri adalah bahwa berbohong tidak pernah benar secara moral. Tapi ini bukan berarti saya tidak pernah berbohong. Berbohong didefinisikan sebagai “membuat pernyataan yang tidak benar dengan maksud untuk menipu.” Kebohongan kecil merupakan pernyataan yang tidak benar, namun biasanya dianggap tidak penting karena tidak menutupi kesalahan yang serius. Kebohongan kecil memang menipu, namun bisa juga bersifat sopan atau diplomatis. Ini bisa jadi dianggap sebagai kebohongan yang “bijaksana” untuk menjaga perdamaian dalam suatu hubungan; atau bisa jadi itu adalah kebohongan yang “membantu” yang seolah-olah menyenangkan orang lain; itu bisa menjadi kebohongan “kecil” untuk membuat diri kita terlihat lebih baik di depan banyak orang.

Bagaimana kita tidak boleh berbohong jika kita menghadapi masalah yang sulit? Dalam situasi sulit, seharusnya kita percaya Tuhan akan memberikan alternatif agar kita bisa melakukan apa yang benar di mata Tuhan, namun tidak berbohong. Tetapi ini bukannya mudah untuk dilaksanakan karena kita sering tidak sabar untuk menunggu jawaban-Nya.

Jika kita menelusuri Alkitab berapa kali muncul larangan untuk berbohong, mengatakan apa yang tidak benar, memberikan kesaksian palsu, dan sebagainya. Ada banyak ayat berulang kali di mana Tuhan jelas memerintahkan kita untuk tidak berbohong. Tentu saja, kita melihat hal ini dalam 10 perintah Tuhan: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” (Keluaran 20:16) namun jika kita melihat Perjanjian Baru, Paulus berkata dalam Efesus 4:25, “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.”. Dalam Kolose 3:9, dia berkata, “Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya.”.

Adalah penting bagi kita untuk menyadari bahwa meniru karakter Tuhan adalah dasar untuk tidak berbohong. Tuhan tidak pernah berbohong. Faktanya, Ibrani 6:18 mengatakan bahwa Tuhan tidak mungkin berbohong. Titus 1:2 mengatakan bahwa Dia adalah Tuhan yang tidak berdusta, Tuhan yang tidak pernah berbohong.

Selain itu, Yesus tidak pernah berbohong. Itu adalah argumen lain yang mendukung gagasan bahwa kita tidak boleh berpikir bahwa kita terpaksa berbohong. Kita bisa membahas panjang lebar contoh-contoh naratif mengenai beberapa kebohongan dalam Kitab Suci – misalnya Rahab berbohong kepada tentara Yerikho untuk melindungi mata-mata yang datang ke rumahnya – tetapi contoh naratif tersebut tidak membatalkan kesimpulan bahwa Tuhan memerintahkan kita untuk tidak berbohong dan tidak menegaskan kebohongan.

Jika kita mau mengaku bahwa berbohong adalah dosa (Imamat 19:11; Amsal 12:22), bagaimana dengan “kebohongan kecil” atau white lies yang hanya mengandung “sedikit” kebohongan? Bagaimana jika mengatakan kebenaran justru bisa menyakiti seseorang? Kita hidup dalam masyarakat yang mengkondisikan kita untuk berbohong dengan mengatakan bahwa, dalam banyak situasi, kebohongan itu dibenarkan. Sekretaris “melindungi” atasan yang tidak ingin diganggu; penjual melebih-lebihkan kualitas produknya; pelamar pekerjaan menmbesar-besarkan resumenya. Alasannya, selama tidak ada yang dirugikan atau hasilnya bagus, sedikit kebohongan pun tidak masalah. Malahan ada yang percaya bahwa jika kebohonagn bisa membesarkan nama Tuhan, kebohongan itu tentunya baik.

Memang benar bahwa beberapa dosa membawa akibat yang lebih buruk dibandingkan dosa lainnya. Dan memang benar bahwa berbohong kecil tidak akan menimbulkan dampak yang sama seriusnya dengan, misalnya, membunuh seseorang. Namun semua dosa sama-sama menyinggung Allah (Roma 6:23a), dan itu adalah alasan bagus untuk menghindari semua kebohongan.

Keyakinan bahwa kebohongan kecil itu “membantu” berakar pada gagasan bahwa tujuan menghalalkan segala cara. Jika kebohongan menghasilkan persepsi “baik”, maka kebohongan itu dibenarkan. Namun, kutukan Tuhan atas kebohongan dalam Amsal 6:16-19 tidak mengandung klausul pengecualian. Juga, siapa yang bisa mendefinisikan “kebaikan” yang dihasilkan dari kebohongan? Seorang penjual yang berbohong mungkin akan menjual produknya – suatu hal yang “baik” baginya -tetapi bagaimana dengan pelanggan yang dimanfaatkan?

Mengatakan kebohongan kecil untuk bersikap “bijaksana” atau untuk menjaga perasaan seseorang juga merupakan hal yang tidak boleh dilakukan. Seseorang yang terus-menerus berbohong untuk membuat orang lain merasa senang pada akhirnya akan menunjukkan siapa dirinya: pembohong. Mereka yang memakai kebohongan dalam bisnisnya akan merusak kredibilitasnya.

Kebohongan kecil mempunyai cara untuk menyebar dan berkembang. Kebohongan sering menimbulkan gosip yang menyebarkan kebohongan lain. Menceritakan lebih banyak kebohongan untuk menutupi kebohongan awal adalah prosedur standar, dan kebohongan tersebut semakin lama semakin besar. Mencoba mengingat kebohongan apa yang diberitahukan kepada orang lain juga memperumit hubungan dan membuat kebohongan seterusnya semakin mungkin terjadi.

Mengatakan kebohongan putih demi keuntungan diri sendiri hanyalah keegoisan. Ketika perkataan kita dimotivasi oleh keangkuhan hidup, kita sedang jatuh ke dalam pencobaan (1 Yohanes 2:16). Kebohongan kecil sering kali dilakukan untuk menjaga perdamaian, seolah-olah mengatakan kebenaran akan menghancurkan perdamaian. Namun Alkitab menyajikan kebenaran dan perdamaian sebagai sesuatu yang ada bersama-sama: “Cintailah kebenaran dan perdamaian” (Zakharia 8:19). Para penutur kebohongan kecil percaya bahwa mereka berbohong karena “cinta”; namun, Alkitab memerintahkan kita untuk mengatakan “kebenaran dengan kasih” (Efesus 4:15).

Pagi ini kita menyadari bahwa terkadang mengatakan kebenaran tidaklah mudah; kenyataannya, hal ini bisa sangat tidak menyenangkan. Namun kita dipanggil untuk menjadi juru bicara kebenaran. Bersikap jujur sangat berharga di mata Tuhan (Amsal 12:22); itu menunjukkan takut akan Tuhan. Lebih jauh lagi, mengatakan kebenaran bukanlah sebuah anjuran, melainkan sebuah perintah!