Apakah Tuhan yang memilih pasangan Anda?

“Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum – dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu.” Kejadian 24:14

Siapakah yang tahu jalan pikiran Tuhan? Tentu tidak ada seorang pun. Jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, seringkali justru kejutan yang datang. Manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Begitu anggapan sebagian orang Kristen.

Jika Tuhan tidak memberi kita kesempatan dan kemampuan untuk memilih, bagaimana pula dengan hidup pernikahan kita? Ada yang bilang bahwa pernikahan adalah seperti undian; jika kita mujur, kita akan mendapatkan seorang pasangan yang baik. Tetapi ada pula orang yang menyalahkan Tuhan jika ia mendapatkan jodoh yang dianggap kurang tepat. Selain itu ada orang yang menyesali hidup pernikahannya karena ia merasa salah pilih. Inilah masalah yang pelik, yang tidak mudah dijawab. Pada persoalan ini bergantung satu pertanyaan: apakah aku masih bisa memilih?

Pernikahan merupakan ide Tuhan untuk mempersatukan seorang pria dan wanita. Melalui pernikahan Allah memberi kesempatan kepada pria dan wanita untuk hidup bersama. Kehidupan bersama pria dan wanita ini harus didasarkan atas kasih karunia Tuhan. Pernikahan sebagai sebuah lembaga, ditetapkan oleh Allah sendiri (Kejadian 2:24), dan melukiskan persekutuan antara Kristus dan gerejaNya (Efesus 5:31-32). Dalam pernikahan suami dan istri mengikat diri dalam suatu tujuan yang kudus, untuk membangun rumah tangga bahagia dan harmonis. Sebagaimana Yesus Kristus mengasihi satu gereja dan gereja itu mengasihi satu Tuhan, demikian seorang pria dipanggil mengasihi satu wanita dan wanita mengasihi satu pria.

Pernikahan dengan demikian adalah hal mulia, yang dikaruniakan Tuhan, sejak manusia belum jatuh ke dalam dosa. Pernikahan adalah hal yang sangat penting. Kejadian 1:28 mencatat bagaimana Tuhan memberkati Adam dan Hawa sebelum mereka diperintahkan untuk beranak cucu. Karena itu, pernikahan harus ditempuh dengan rukun, sehati, setujuan, penuh kasih sayang, saling percaya, dan bersandar kepada kasih karunia Tuhan. Pernikahan tidak boleh ditempuh atau dimasuki dengan sembarangan, dirusak oleh kurangnya kebijaksanaan, direndahkan atau ditolak; melainkan hendaklah hal itu dihormati dan dijunjung tinggi oleh pria dan wanita dengan rasa takut akan Tuhan serta mengingat maksud Allah dalam pernikahan itu.

Pernikahan bisa dianggap sebagai patokan apakah manusia masih mempunyai kemampuan untuk memilih apa yang perlu dilakukan dalam hidupnya. Tetapi, terkadang kita membuat segalanya menjadi lebih rumit dari yang seharusnya. Kita menderita karena adanya kehendak Tuhan, berpikir bahwa memahaminya adalah sulit dan memakan waktu. Kita mempertimbangkan pilihan-pilihan kita secara serius, dan mengeluarkan banyak usaha dalam menentukan pilihan kita.

Memilih jodoh atau pasangan hidup memang bukan hal remeh dan mudah. Ada banyak kasus orang yang sudah menikah dan berpikir bahwa pasangannya adalah pasangan hidupnya yang tepat, tetapi pada akhirnya bercerai dengan alasan tidak cocok. Mengapa bisa tidak cocok, bahkan bercerai? Karena mereka tidak sungguh-sungguh saling mengasihi? Ataukah Tuhan jugalah yang menentukan mereka bercerai?

Tentu saja, ada kalanya pengambilan keputusan memerlukan pertimbangan yang mendalam dan langkah yang lambat serta hati-hati. Namun dalam banyak kasus, memahami kehendak Tuhan sebenarnya sederhana, dan tidak memerlukan tanda khusus dari atas atau wawasan luar biasa lainnya untuk membuat pilihan yang tepat. Kita bisa melihat hal ini dalam hal memahami kehendak Tuhan dalam panggilan kita.

Tuhan kita memberi kita prinsip-prinsip umum untuk diikuti, dan kitalah yang harus membuat keputusan berdasarkan prinsip-prinsip tersebut. Sebagai contoh, hal memilih pekerjaan. Apakah panggilan untuk bekerja yang kita rasakan adalah benar? Apakah saya mempunyai keterampilan untuk melakukannya, atau dapatkah saya memperolehnya? Apakah orang lain percaya bahwa saya mempunyai bakat untuk pekerjaan tersebut? Dapatkah saya mencukupi kebutuhan keluarga saya, dan apakah saya bisa menikmati dalam melakukannya? Jika jawaban atas semua pertanyaan sederhana tersebut adalah ya, maka jawabannya sudah jelas: saya dapat dengan bebas memilih pekerjaan tersebut.

Walaupun demikian, kita bisa memperumit masalah dalam hal memilih pasangan. Jika kita masih lajang, mungkin kita berpikir kita memerlukan wawasan khusus dari Tuhan untuk memberi tahu kita siapa yang harus kita nikahi. Jika yang sedang mencari jodoh adalah anak atau teman kita, kita mungkin mencari wahyu khusus dari Tuhan mengenai orang yang hendak dinikahinya. Mungkin kita mendapat dorongan untuk berpikir seperti itu dari ayat di atas, di mana hamba Abraham berdoa memohon tanda mengenai siapa yang harus menjadi istri Ishak.

Percayalah bahwa Allah tidak pernah menjanjikan kepada kita wahyu khusus seperti itu, dan hal menemukan istri bagi Ishak adalah sebuah kasus khusus dalam sejarah penebusan manusia. Namun, Kitab Suci memberi kita prinsip-prinsip umum untuk mengambil keputusan ini. Apakah calon pasangannya adalah orang yang beriman (2 Korintus 6:14)? Jika Anda seorang wanita, apakah calon suami adalah seseorang yang bisa diterima sebagai pemimpin? Jika Anda seorang pria, apakah calon istri adalah seseorang yang dapat Anda pimpin secara rohani dengan kasih (Efesus 5:22–33)? Apakah calon pasangan tersebut adalah kerabat yang dilarang Allah untuk dinikahi (Imamat 18:6)? Jika Anda seorang wanita, apakah calon suami adalah seorang pekerja keras yang akan menafkahi rumah tangganya (1 Tim. 5:8)? Jika Anda laki-laki, apakah calon istri itu bijaksana (Amsal 19:14)? Apakah Anda menikmati kebersamaan satu sama lain (Penghkhotbah 9:9)? Jika pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab secara positif dengan tegas, dan tidak ada keberatan yang masuk akal dari orang lain, maka tidak perlu Anda bingung atas keputusan tersebut. Calon pasangan Anda adalah pilihan yang baik, dan Anda bebas menikah dengannya.

Bagaimana pesan Alkitab kepada mereka yang sudah memilih pasangannya? Lagi-lagi merekalah yang harus memilih cara hidup mereka, yaitu untuk tetap hidup dalam satu iman sepanjang hidup mereka. Kesatuan dalam iman adalah satu hal penting dalam hubungan suami-istri. Kita yang sudah diselamatkan oleh Kristus, memiliki hubungan yang berdasarkan kasih. Dalam hal ini, doa sebagai bagian rutin dalam hubungan pasangan, merupakan praktik spiritual terpenting dalam kesuksesan hubungan mereka. Doa tidak hanya mengundang Tuhan ke dalam hubungan pada saat ketidakbahagiaan dan pergumulan, namun juga membantu pasangan menjadi lebih intim dan peduli satu sama lain. Bagaimana dengan pilihan Anda?

“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap” 2 Korintus 6:14

Ada berbagai motivasi penginjilan

Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik.” Filipi 1: 15

Dalam Filipi pasal 1, Paulus berterima kasih kepada jemaat di Filipi yang telah mendukung pelayanannya. Bahkan ketika Paulus dipenjarakan atau dianiaya, mereka tetap bermurah hati dan setia. Paulus menyemangati orang-orang Kristen ini dengan menjelaskan bahwa semua penderitaannya adalah untuk tujuan yang baik. Bahkan yang lebih baik lagi, upaya-upaya untuk menganiaya Paulus ini sebenarnya telah menyebabkan Injil makin menyebar. Untuk itu, Paulus bersyukur. Dia sepenuhnya berharap untuk dibebaskan, dan bertemu kembali dengan orang-orang percaya di Filipi.

Di penjara, Paulus mendapat dua macam perlawanan, baik dari luar maupun dari dalam. Antagonisme dari luar datang dari penguasa Romawi. Permusuhan dari dalam datang dari gereja! Filipi 1:12–18 menjelaskan perspektif Paulus mengenai pemenjaraannya. Secara khusus, Paulus melihat banyaknya kesulitan dalam hidupnya sebagai hal yang baik, karena satu alasan: hal itu justru membawa pada penyebaran Injil. Paulus telah dipenjara; ini memungkinkan dia untuk berkhotbah kepada para sipir penjara. Paulus telah melihat orang lain mengulangi pesannya dalam upaya untuk menyakitinya; hal ini telah menyebabkan lebih banyak orang mendengar Injil. Bagian ini memperkuat argumen Paulus selanjutnya bahwa, baik melalui hidup atau mati, ia bermaksud untuk memuliakan Allah.

Mulai dari ayat 15 hingga ayat 17, Paulus membuat katalog tentang motivasi orang Filipi untuk memberitakan Injil. Pesan mereka sama (syukurlah!), tapi motifnya berbeda. ”Karena dengki dan perselisihan” adalah perpaduan antara motif-motif jahat yang digunakan untuk mengabarkan Injil. Pesan mereka bisa diterima, tapi motifnya lain! Di ayat 18, Paulus mencatat bahwa motivasi seseorang dalam memberitakan Injil tidak mengubah fakta bahwa Injil sedang diberitakan. Tuhan bisa memakai semua pemberitaan Injil untuk maksud pelebaran kerajaan-Nya.

Selain dua motivasi yang tidak pantas ini, Paulus mencatat bahwa beberapa orang yang memberitakan Kristus di Roma melakukannya “dengan niat baik”. Mereka mempunyai motivasi yang baik dan saleh untuk membagikan Kristus, dan membantu orang-orang terhilang untuk ditemukan di dalam Yesus. Pada saat itu, di awal tahun 60an M, banyak orang yang membagikan ajaran Yesus di Roma. Tak lama kemudian, kota ini akan dianggap sebagai ibu kota Kekristenan Barat.

Beberapa orang Filipi iri dengan popularitas Paulus di kalangan umat Kristen, sehingga mereka meniru pesannya agar mereka sendiri menjadi lebih populer. Berdasarkan penganiayaan yang dialami Paulus dan orang lain karena iman mereka, hal ini jelas bukan merupakan motivasi yang umum. Yang lain melihat Paulus sebagai saingan atau pesaing dan berusaha menjadi lebih populer melalui jangkauan khotbah mereka sendiri. Mungkin juga mereka yang membenci pesan Paulus sengaja menyebarkannya, untuk mengobarkan api musuh-musuhnya (Filipi 1:17).

Di zaman ini, semua penginjil dan pendeta memberitakan Kristus. Mereka tidak memberitakan Musa atau Abraham. Mereka mungkin saja adalah hamba-hamba Allah yang luar biasa, namun mereka bukan Kristus. Yesus lebih dari sekadar manusia; dia adalah “Allah dan Juruselamat yang agung” (Titus 2:13). Dia berdiri seperti gedung pencakar langit, yang jauh lebih megah jika dibandingkan dengan sebuah gubuk. Mereka tidak selayaknya merasa sudah menjadi hamba Kristus yang paling benar dan paling hebat.

Kita tentu tahu adanya tujuh sudut gelap hati manusia, yaitu tujuh dosa utama (seven capital sins) atau tujuh dosa mematikan (seven deadly sins). Sekalipun kita bisa mengatakan bahwa angka tujuh di sini merupakan kebetulan, namun dalam tradisi bapa-bapa gereja di abad mula-mula, angka tujuh menempati posisi yang unik. Ketujuh dosa utama tersebut adalah:

Kesombongan (Pride, Superbia)
Iri hati (Envy, Invidia)
Kemarahan (Anger, Ira)
Ketamakan (Greed, Avaritia)
Nafsu-birahi (Lust, Luxuria)
Rakus (Gluttony, Gula)
Kemalasan (Sloth, Acedia)

Iri hati adalah perasaan tidak setuju mendengar keberhasilan orang lain. Istilah ini selalu digunakan dalam arti negatif atau jahat dalam Perjanjian Baru. Beberapa pengkhotbah di Roma membenci keberhasilan pelayanan Paulus. Begitu juga banyak pendeta di zaman ini membenci keberhasilan pendeta lain, terutama jika itu terlihat dalam bentuk uang persembahan yang diterima. Dengan kesombongan dan kemarahan, mungkin mereka menyerang pendeta lain dengan alasan teologi yang berbeda, tetapi juga ada orang-orang yang sealiran tapi menyerang orang lain yang dianggap sebagai kurang berpengetahuan. Gereja dari awalnya sering kali dilemahkan karena hal-hal yang mematikan ini. Bayangkan sebuah gereja yang penuh dengan orang-orang yang terancam oleh orang lain. Perselisihan tidak bisa dihindari, dan kekacauan dan kehancuran lambat laun akan terjadi.

Dibutuhkan kedewasaan untuk bersukacita atas keberhasilan orang lain. Dibutuhkan adanya rasa syukur dan rasa cukup untuk menghindari ketamakan, dan kerajinan dalam mengabarkan injil harus tetap dipupuk untuk menghindari kemunduran. Ketidakdewasaan iman selalu membawa ke arah perbandingan diri dengan orang lain dalam pengertian yang salah. Iri hati tidak hanya berarti keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain, tetapi juga berusaha merampas apa yang dimiliki orang lain. Dengan kata lain, dalam beberapa hal, rasa iri bertujuan untuk meremehkan keberhasilan orang lain. Jika sebuah gereja di kota kita diberkati dengan pertumbuhan yang signifikan, gereja lain mungkin berkata, “Yang mereka pedulikan hanyalah angka.” Iri hati tidak pernah menambah, itu selalu mengurangi kemampuan orang yang memilikinya. “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.” (Amsal 14:30); rasa iri akan membusukkan hati dan pikiran kita.

Akibat yang selalu muncul ketika seseorang merasa tersudut karena kesuksesan orang lain adalah perselisihan. Perselisihan adalah ekspresi permusuhan. Kedua kejahatan ini digabungkan menjadi satu dalam Yakobus 3:16: “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Orang-orang mencoba mengungguli dan melampaui orang lain jika terdapat rasa iri dalam motivasinya. Apa yang terjadi sebagai akibat iri hati Kain adalah pembunuhan Habel, saudara kandungnya. Begitu juga, iri hari antar orang Kristen akan memadamkan rasa kasih kepada sesama.

Pagi ini, jika kita ke gereja, itu seharusnya bukan karena kita ingin mendengarkan khotbah pendeta yang ternama atau berapi-api. Kita seharusnya ingin mendengarkan firman Tuhan yang disampaikan oleh hamba-Nya yang rendah hati dan penuh kasih. Jika kita sering mendengarkan pesan pendeta-pendeta tertentu, perhatikan apakan ada nada kasih dalam pesan mereka. Jika kita menemukan adanya pesan-pesan yang berisi kesombongan, kebencian, kemarahan, iri hati dan ketamakan, biarlah Roh Kudus membimbing kita untuk bisa menemukan pesan-pesan orang lain yang berisi kerendahan hati, kebenaran, kesabaran, ketulusan dan kasih. Biarlah Roh Kudus juga membimbing kita sendiri untuk berani berpaling dari apa yang salah kepada apa yang benar.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4:8


Arti bekerja untuk Tuhan

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Manusia memang diciptakan Tuhan untuk bekerja. Pada mulanya, pekerjaan bukanlah sesuatu yang berat ataupun hal kurang bisa dinikmati. Manusia tidak diciptakan untuk menjadi budak pekerjaan atau orang lain, sebaliknya untuk menjadi penguasa bumi, sebagai wakil Tuhan.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Walaupun manusia tidak dapat dibandingkan dengan Tuhan pencipta-Nya, dalam batas-batas tertentu manusia bisa membuat atau menciptakan sesuatu yang baik atau indah bagi sesamanya. Itu memang tugas yang diberikan Tuhan kepada manusia sejak mulanya, untuk mengatur isi bumi ini sebagai utusan-Nya. Manusia, berbeda dengan makhluk lainnya, memang diberi-Nya kemampuan untuk melakukan apa yang perlu untuk jalannya kehidupan di bumi.

Sebagai manusia yang bisa berkarya, salah satu kewajiban manusia dalam membuat sesuatu hasil, baik itu kecil ataupun besar, adalah untuk merampungkan tugasnya dengan baik sehingga mereka yang memakai atau menggunakannya akan mendapat manfaat dan bukannya masalah.

Apapun peranan kita dalam hidup sehari-hari, kita harus bisa menjadi orang yang berguna untuk orang lain. Ini, jika dilihat dari sudut pandangan kekristenan, adalah sesuatu yang seharusnya karena Tuhan yang menciptakan manusia juga mempunyai prinsip yang sama: jika Ia bekerja, Ia bekerja sampai tuntas. Jika Ia mencipta, Ia menciptakan segala sesuatu sampai selesai dan berfungsi dengan baik.

“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.” Kejadian 1: 31

Orang Kristen yang sadar bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk memuliakan Sang Pencipta tentu mengerti bahwa apapun yang mereka kerjakan, haruslah membawa kebaikan – seperti Tuhan yang sudah menciptakan segala sesuatu sehingga terlihat sangat baik dan berfungsi dengan sempurna. Dalam hal ini, pria maupun wanita yang mengurus rumah tangga sudah tentu adalah contoh pekerja yang baik, yang membawa kebahagiaan bagi pasangan dan anak-anak mereka.

Dalam kenyataannya, banyak manusia yang bekerja hanya untuk uang, sebagai keharusan, atau demi keuntungan dan kemasyhuran diri sendiri. Mereka sering kali bekerja secara asal-asalan dan tanpa memikirkan risiko untuk dirinya dan orang yang disekitarnya; dan karena itu bisa mendatangkan kekacauan dan penderitaan bagi orang lain. Manusia juga sering merasa malang karena harus bekerja keras untuk “mencari sesuap nasi” dan bekerja demi kesejahteraan orang lain. Tetapi, Alkitab justru menyatakan bahwa bekerja dalam bentuk apa pun adalah mandat yang datang dari Tuhan.

“Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” Efesus 4:28

“Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.” 2 Tesalonika 3:10-12

Umat Kristen didesak untuk saling mengasihi melalui panggilan mereka, yang mencakup upaya membantu memenuhi kebutuhan orang lain dan bahkan melayani orang-orang yang bekerja bersama mereka (Efesus 4:28). Namun bukan hanya itu yang harus kita lakukan dalam panggilan kita: selain mengasihi orang lain melalui pekerjaan kita, kita juga harus bekerja keras dalam panggilan kita (2 Tesalonika 3:10–12).

Paulus mengkritik mereka yang “bermalas-malasan” dan “tidak sibuk bekerja”. Mengingat desakannya untuk bekerja demi kebaikan orang lain, tidak sulit untuk melihat mengapa dia tidak senang dengan mereka yang tidak bekerja dengan rajin. Gagal bekerja dengan tekun dalam tugas yang diberikan kepada kita adalah tindakan yang tidak menimbulkan kasih sayang bagi rekan kerja kita, karena hal itu memaksa mereka untuk mengambil alih tugas tersebut. Lebih jauh lagi, kegagalan untuk bekerja keras adalah kegagalan untuk mengasihi bawahan dan pemimpin kita. Kita juga melayani mereka dalam pekerjaan kita, dan kita tidak mencintai dan melayani mereka dengan baik dengan upaya yang sesedikit mungkin atau dengan membuang-buang waktu.

Rasul Paulus juga mengeluarkan kata-kata tegas bagi mereka yang menolak bekerja, dengan memberi tahu kita bahwa gereja harus menunjukkan kebijaksanaan dan kebijaksanaan dalam melayani mereka yang membutuhkan. Sederhananya, orang yang tidak mau bekerja “tidak boleh makan”. Jelas sekali, Paulus tidak memaksudkan mereka yang tidak bisa bekerja karena penyakit, cacat parah, atau penderitaan berat lainnya. Ia juga tidak berbicara tentang orang-orang yang dengan tekun mencari pekerjaan namun belum juga menemukannya. Sebaliknya, ia berbicara tentang mereka yang mampu bekerja namun tidak mau bekerja.

Umat Tuhan harus bermurah hati terhadap orang sakit, terhadap orang lemah, dan terhadap mereka yang sedang mencari pekerjaan namun tidak dapat menemukannya karena hal-hal di luar kendali mereka. Inilah salah satu alasan mengapa gereja harus berhati-hati dalam memilih pemimpin yang tidak hanya berbelas kasih tetapi juga cerdas. Mereka harus memberikan bantuan secara bijaksana, tidak menutup hati terhadap yang membutuhkan tetapi juga memberikan semangat kepada mereka yang mampu menghayati etos kerja tinggi berdasarkan Alkitab.

Faktanya, orang-orang beriman harus menjadi pekerja terbaik, apa pun panggilan mereka, karena kita telah diberikan dua motivasi kuat dalam bekerja: cinta terhadap sesama dan kemuliaan Tuhan. Kita semua harus mengingat komentar John Calvin: “Umat beriman harus sungguh-sungguh menjalankan panggilan mereka, dan mengabdikan diri mereka pada pekerjaan yang halal dan terhormat, yang tanpanya kehidupan manusia akan sengsara.”

Perintah Tuhan untuk mengasihi sesama kita bukanlah sebuah prinsip abstrak atau sebuah panggilan untuk sekedar sentimen belaka. Sebaliknya, kita harus mengasihi sesama kita secara nyata, dan kasih itu harus ditunjukkan bahkan ketika kita sedang bekerja dalam pekerjaan kita. Kita harus bertanya pada diri sendiri apakah orang lain akan melihat kita sebagai pekerja yang rajin. Orang juga bisa menilai apakah kita benar-benar suka menolong sesama pekerja. Jika tidak, itu mungkin berarti kita tidak mengasihi sesama kita sebagaimana seharusnya.

Hari ini marilah kita memikirkan apa yang perlu kita persiapkan dan lakukan di hari-hari mendatang. Firman Tuhan berkata bahwa Ia sudah menciptakan apa yang baik untuk kita, dan karena itu kita harus bisa memakai dan mengelolanya dengan baik. Biarlah kita mau bekerja untuk kemuliaan Tuhan dan bukan sekadar memenuhi kewajiban kita!

Saat keadaan menjadi sulit, mereka yang kuat akan terus berjalan

“Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.” 1 Petrus 3: 14

Sebuah semboyan berbahasa Inggris yang populer, “when the going gets tough, the tough get going” bisa diartikan sebagai “ketika situasi menjadi sulit, orang-orang yang kuat mampu mengambil tindakan dan mengatasinya”. Semboyan ini dikaitkan dengan ayah dari presiden Amerika John F. Kennedy dan pelatih sepakbola Amerika Knute Rockne, dan sebuah lagu dengan judul yang sama dipopulerkan oleh penyanyi Billy Ocean.

Di Indonesia, semboyan yang mirip dengan itu adalah “maju terus, pantang mundur” atau “ever onward, no retreat” sudah dikenal sejak lama di Indonesia, dan sering muncul pada saat Presiden Soekarno berkuasa. Semboyan ini sangat populer karena dimaksudkan untuk memberi semangat kepada mereka yang berjuang untuk menghadapi tantangan hidup.

Sebuah buku dengan judul yang sama, yang diterbitkan pada tahun 1964 oleh “Komando Operasi Tertinggi”, merupakan catatan penting dari sebuah ekspedisi ilmiah pertama di Irian Jaya. Ekspedisi Cenderawasih yang diinisiasi Soekarno pada 1963 itu merupakan kerja sama antara banyak ahli, termasuk mereka yang berasal dari Universitas Cenderawasih dan Kyoto University.

Maju terus, pantang mundur: lebih mudah mengatakannya daripada melakukannya. Memang dalam hidup ini tidaklah mudah untuk maju terus jika orang tidak yakin akan hasilnya. Mereka yang sudah mengalami jatuh-bangun dalam hidup, bisa merasakan bahwa untuk bangun kembali setelah mengalami pengalaman pahit tidaklah mudah. Tiap kali kita jatuh, sebagian rasa percaya diri ikut hilang bersama dengan datangnya rasa sakit dan malu.

Selain itu, banyak orang yang maju terus dan pantang mundur, tetapi tidak pernah menggunakan cara atau jalan lain. Hasilnya seringkali berupa kegagalan demi kegagalan. Memang kita harus berani maju terus, tetapi itu tidak berarti bahwa kita harus melakukan hal yang sama. Tetapi, jalan mana yang harus kita pilih adalah sesuatu yang memerlukan iman.

Memang dalam hidup kita selalu berhadapan dengan berbagai tantangan. Mungkin juga kita harus berjuang jatuh bangun, dan itu tidak mudah. Banyak orang yang ingin menghindari tantangan hidup, yang takut bersusah-payah, akan memilih jalan pintas untuk mendapatkan hasil secara mudah. Pelanggaran hukum dan etika adalah biasa untuk orang-orang yang menginginkan hasil yang besar dengan menghalalkan segala cara.

Walaupun godaan untuk menghindari tantangan hidup selalu ada, ayat diatas menyatakan bahwa sebagai orang Kristen kita harus siap menderita karena kebenaran selama hidup di dunia ini. Kita tidak boleh takut untuk berpegang pada kebenaran karena kita akan berbahagia pada akhirnya. Memang iman yang teguh pasti membawa kebaikan kepada mereka yang taat kepada Tuhan.

Komitmen kepada Kristus tidak bisa dilakukan setengah-setengah; dibutuhkan niat yang bulat untuk terus maju dan menaati Dia bahkan ketika keadaan menjadi sulit (Lukas 16:16). Kita tidak melakukan hal ini dengan kekuatan sendiri, namun ini adalah anugerah kasih karunia Allah, dan ini adalah sesuatu yang harus kita minta agar Tuhan berikan terus-menerus kepada kita. Selain itu, ketika kita memahami musuh-musuh utama kita terhadap pertumbuhan Kristen, kita akan melihat lebih banyak lagi alasan mengapa kita memerlukan kekuatan dari Dia.

Martin Luther mengatakan bahwa umat Kristiani menghadapi tiga musuh utama: dunia, kedagingan, dan iblis. Jelas sekali, musuh-musuh ini saling terkait. Sifat kedagingan kita, yaitu kecenderungan yang masih ada sekalipun kita sudah lahir baru, tersisa karena adanya dosa dalam hidup kita. Kedagingan didorong oleh iblis agar kita mengasihi dunia dan bukannya Yesus Sang Juruselamat. Namun, sebagai orang Kristen sejati kita seharusnya dapat membedakan musuh-musuh ini, karena saat ini kita tentunya sedang menghadapi berbagai tantangan dari dunia.

Ketika kita berbicara tentang dunia sebagai musuh, kita berbicara tentang sistem dunia yang telah jatuh dan bertentangan dengan Kristus. Dunia ini sendiri pada mulanya sangat baik (Kejadian 1), namun pada saat kejatuhan Adam, dunia ini bertentangan dengan Penciptanya. Dengan demikian, banyak orang membenci Yesus karena kesaksian-Nya mengenai kesombongan dan kefasikan mereka yang telah jatuh, dan karena itu, mereka membenci semua orang yang bersatu dengan Kristus (Yohanes 7:7).

Dunia adalah lingkungan, atau sekelompok orang, yang tidak memiliki kasih sayang terhadap hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan. Dunia ada dalam pertentangan serta ketegangan melawan kerajaan Tuhan. Namun Pencipta kita mengasihi dunia bahkan dalam kejatuhannya, dan setelah mengutus Putra-Nya untuk menyelamatkan dunia, menugaskan kita sebagai duta kasih karunia bagi dunia (Yohanes 3:16; 20:21). Sebagai orang-orang yang diutus ke dunia, kita mudah tergoda untuk mengikuti cara-cara dunia, maka Yesus berdoa bagi kita agar kita tidak menjadi bagian dari dunia dan berada di bawah pengaruh itu meskipun kita masih berada di dunia (Yohanes 17: 14-16).

Panggilan untuk masuk dan bukannya keluar dari dunia ini sangatlah penting, karena menekankan poin alkitabiah bahwa Allah tidak menyelamatkan kita untuk mengambil kita keluar dari dunia atau agar kita dapat hidup terisolasi dalam lingkungan Kristen kita sendiri. Sebaliknya, seperti Yesus, kita harus melayani di dunia di mana pun kita berada kepada orang-orang, tidak peduli dari mana mereka berasal, sekalipun mereka tidak menyenangi kita.

Ketika kita berusaha untuk berbuat baik kepada semua orang, memang akan ada tekanan untuk menyesuaikan diri dengan dunia, untuk hanya mengasihi mereka yang mengasihi kita. Pada pihak yang lain, kita mungkin berusaha untuk menerima semua filsafat dan cara hidup apa saja yang ada di dunia karena ingin dianggap toleran. Bahaya filsafat yang sia-sia mengintai di setiap sudut. Namun solusinya adalah dengan tidak mengabaikan hal-hal tersebut atau mengubah pesan kita agar lebih dapat diterima oleh dunia. Jawabannya adalah tetap berada di dunia dan menghadapi dunia, tentu saja dengan penuh kemurahan hati, dengan berdasarkan pada kebenaran Injil. Semua itu pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan kepada kita dan orang lain yang mengasihi Dia.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Selalu belajar dari lahir sampai mati

“Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” Amsal 19: 20

Pernahkah anda mendengar sebuah slogan yang berbunyi “Ancora imparo“? Slogan ini berasal dari Italia dan seringkali dihubungkan dengan seorang jenius dari abad Renaisans: Michelangelo. Menurut kepercayaan umum, ia membuat slogan ini pada waktu berumur 87 tahun. Benar atau tidaknya hal ini tentu tidak ada orang yang tahu, tetapi yang pasti apa yang dikatakannya ada benarnya. Arti semboyan itu adalah “saya masih belajar”. Kalau betul Michelangelo menemukan slogan itu ketika ia berumur 87 tahun, tentulah ia benar-benar hebat. Kebanyakan orang seumur itu tidak lagi mau atau mampu untuk belajar.

Sejak kapan manusia bisa belajar sesuatu? Menurut sains, seorang bayi yang masih berada dalam kandungan sudah bisa mendengarkan suara dan musik dari luar. Apa yang didengar bayi ini akan mempengaruhi hidupnya setelah dilahirkan. Sesudah itu, manusia tidak akan berhenti belajar selama ia masih mampu.

Memang dalam hidup ini ada banyak hal yang bisa dan harus dipelajari. Walaupun begitu, ada saja orang-orang yang tidak pernah mau belajar selama mereka masih bisa. Mereka adalah orang-orang yang merasa sudah tahu atau orang-orang yang sombong dan keras kepala, yang tidak mau belajar dari orang lain.

Sejak kapan manusia bisa belajar dari Tuhan? Sejak dapat melihat keindahan dan kebesaran ciptaan Tuhan, manusia tidak dapat berdalih untuk menolak adanya Tuhan. Walaupun demikian, mereka yang sudah melihat dengan mata adanya mukjizat Tuhan, belum tentu akan percaya kepada-Nya. Manusia tidak akan dapat mengenal Tuhan jika Ia tidak membuka mata rohani mereka.

Mereka yang mengenal Tuhan tentu akan mengenal suara-Nya. Tetapi itu belum menjamin bahwa mereka akan mau mendengar segala perintah, didikan dan peringatan Tuhan. Manusia memang cenderung mau mendengar apa yang dikehendakinya saja. Manusia dari awalnya ingin untuk merdeka berbuat apa yang mereka ingini. Manusia selalu berusaha memakai alasan apa saja unyuk menghindari tanggung jawab mereka sebagai ciptaan dan hamba Tuhan.

Ayat di atas memperingatkan semua umat Tuhan untuk berhati-hati. Jangan sampai kita menolak didikan Tuhan, dan jangan sampai kita merasa bosan akan peringatan-Nya. Selama kita hidup di dunia, Tuhan ingin agar kita selalu taat dan mau belajar dari Dia yang mahabijaksana.

Tidak peduli berapa umur kita atau setinggi apa pendidikan kita, kita harus dengan rendah hati mau belajar untuk menjadi pengikut-Nya yang setia setiap hari. Mereka yang mau belajar akan bertambah hikmatnya sehingga makin sadar bahwa mereka perlu untuk tetap setia belajar hari demi hari, tidak hanya dari firman-Nya, tetapi juga dari nasihat orang tua, suami, istri dan saudara seiman, sampai saat terakhir. Hanya orang yang bodoh yang mengabaikan suara Tuhan dalam hidupnya dan itu akan membuatnya tersesat ke jalan yang keliru dan mengalami hal-hal yang tidak baik.

Kepercayaan pada diri sendiri yang semakin besar sesuai dengan bertambahnya usia, seringkali bisa membuat orang tidak merasa perlu untuk mendengarkan pendapat atau nasihat orang lain. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak tokoh dunia yang dikenal sebagai orang yang tidak pernah belajar dari orang lain dan tidak mau menerima nasihat para pembantunya. Orang yang sedemikian mungkin selalu merasa bahwa ia adalah orang yang selalu benar dan merasa bahwa orang lain selalu salah.

Kapankah orang harus mau menerima nasihat orang lain? Perlukah seseorang menerima nasihat dan didikan sepanjang hidupnya? Ayat di atas kelihatannya memang lebih cocok diterapkan pada kaum muda, tetapi sebenarnya juga berlaku untuk setiap orang yang masih mempunyai masa depan. Jika kehidupan di masa depan masih ada, tentunya setiap orang seharusnya ingin untuk menjalani hidup yang ada dengan kebijaksanaan, dan itu tentunya harus didapat dari nasihat dan didikan orang lain. Mereka yang muda bisa belajar dari yang lebih tua karena pengalaman yang dipunyainya, tetapi yang lebih tua pun harus mau belajar dari yang lebih muda karena mereka mempunyai pendidikan yang lebih relevan untuk zaman sekarang. Ini berbeda dengan adat istiadat kuno dimana orang yang lebih muda harus selalu belajar dari yang lebih tua, yang merasa sudah tahu tentang segalanya.

Bagi setiap orang yang masih mempunyai masa depan, selalu ada yang harus dipelajari setiap hari. Dengan demikian, hampir semua manusia yang masih bisa menggunakan pikirannya seharusnya mau mempertimbangkan nasihat dan didikan orang lain supaya bisa menghadapi masa depan dengan baik. Bagi umat Kristen, ini juga berarti mau mendengarkan nasihat dan didikan berdasarkan firman Tuhan dari saudara-saudara seiman.  Setiap hal yang terlihat baik untuk masa depan, belumlah betul-betul baik untuk dilaksanakan jika itu tidak sejalan dengan apa yang ditulis dalam Alkitab. Dengan demikian, umat Kristen tidak hanya harus mau dengan rendah hati mendengarkan pendapat dan nasihat orang lain, tetapi juga mau mendalami firman Tuhan sehingga apa yang nantinya dilaksanakan tidaklah menyalahi perintah Tuhan.

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Dalam kenyataannya, sesukar-sukarnya orang mendengarkan nasihat dan didikan orang lain, masih lebih sulit bagi mereka untuk mau mendengarkan nasihat dan didikan Tuhan. Seringkali orang menghindari nasihat dan didikan Tuhan yang ada dalam Alkitab karena dianggap sudah kurang sesuai dengan keadaan zaman sekarang. Tambahan lagi, mereka mungkin cenderung memilih tindakan yang bisa menguntungkan diri sendiri secara jasmani. Dalam hal ini, mereka segan untuk menerima nasihat dan didikan Tuhan karena mereka malas untuk belajar, tidak mau dianggap salah, atau tidak ingin diingatkan bahwa tingkah lakunya kurang baik. Selain itu, ada orang Kristen yang percaya bahwa karena dirinya adalah orang pilihan, tidak perlu lagi baginya untuk berusaha memperbaiki cara hidupnya.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa selama kita masih hidup dan bisa memikirkan langkah kehidupan kita, masa depan masih ada. Masa depan yang harus diisi dengan segala yang baik dan sesuai dengan firman Tuhan. Jika kita segan mempelajari apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita, kita tidak akan dapat memperoleh nasihat dan didikan yang benar. Dengan itu kita akan kehilangan kesempatan untuk menjadi bijak di masa depan. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang tidak mau belajar dari firman Tuhan akhirnya menjadi orang yang bodoh di mata Tuhan dan kemudian menjadi orang yang tidak mempunyai masa depan.

“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.” Amsal 3: 11

Dapatkah kita bertanggung jawab atas hidup kita?

Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius 25:21

Dua kebohongan besar telah dipromosikan dalam berbagai media sosial terutama dalam 20 tahun terakhir ini:

  1. “Jika kamu bekerja cukup keras, kamu bisa menjadi apapun yang kamu inginkan.”
  2. “Kamu bisa menjadi yang terbaik di dunia.”

Kebohongan ini telah diterima dan dipromosikan oleh banyak orang Kristen maupun non-Kristen. Kesuksesan, yang diartikan sebagai hasil penguasa nasib sendiri, telah menjadi idola masyarakat. Itu sebabnya ada banyak orang yang menjadi influencer dan agar bisa sukses dan kaya raya, karena mumpung masih ada orang-orang yang bisa ditipu!

Syukurlah, Alkitab memberi kita penawar yang kuat terhadap gagasan sukses yang salah arah. Melalui Perumpamaan Yesus tentang Talenta (Matius 25:14-30) kita belajar bahwa Kerajaan Surga itu seumpama seorang majikan yang akan melakukan perjalanan yang jauh. Sebelum dia pergi, dia memberi ketiga pelayannya sejumlah uang yang berbeda, berdasarkan kemampuan masing-masing. Kepada hamba yang pertama, orang itu memberikan lima talenta; yang kedua, dua talenta; dan yang terakhir, satu talenta—masing-masing sesuai dengan kesanggupannya.

Sekembalinya, sang majikan bertanya apa yang mereka lakukan dengan uang itu. Hamba pertama dan kedua telah melipatgandakan investasi mereka dan menerima pujian majikan mereka. Namun, hamba yang ketiga telah menjaga uang itu tetapi tidak melakukan apa pun untuk menambahnya. Akibatnya, dia dikutuk oleh tuannya karena tidak mau bekerja.

Perumpamaan tentang talenta mengajarkan kita lima hal penting tentang makna kesuksesan menurut Alkitab.

Pertama, perumpamaan ini mengajarkan kita bahwa kesuksesan adalah hasil kerja kita.

Dalam pasal pembuka kitab Kejadian, kita menemukan mandat budaya yang di dalamnya Allah memerintahkan Adam untuk bekerja dengan mengelola dan mengembangkan sumber daya yang telah diberikan kepadanya. Amanat ini dimaksudkan bukan hanya bagi Adam dan Hawa, namun juga bagi kita. Sebagai umat Kristiani, kita mempunyai misi yang Tuhan ingin agar kita selesaikan saat ini. Kita dipanggil untuk mengelola semua yang telah diberikan kepada kita sambil menunggu kembalinya Juruselamat kita.

John Calvin mendefinisikan talenta sebagai anugerah Tuhan yang berupa panggilan dan kemampuan alamiah seseorang. Gagasan tentang panggilan atau panggilan pertama-tama adalah tentang dipanggil oleh Tuhan, untuk melayani Dia dalam dunia-Nya. Oleh karena itu, bekerja dipandang sebagai suatu kegiatan yang dengannya umat Kristiani dapat memperdalam iman mereka. Melakukan apa pun untuk Tuhan, dan melakukannya dengan baik untuk kemuliaan-Nya, merupakan ciri mendasar dari iman Kristen yang sejati.

Perumpamaan tentang Talenta mengajarkan bahwa kesuksesan yang alkitabiah adalah bekerja dengan tekun di sini dan saat ini. Hamba yang mempunyai lima talenta itu rajin, karena ia “segera pergi dan menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta (Matius 25:16). Dia menggunakan semua bakat yang diberikan tuannya—tanpa ragu-ragu—untuk menghasilkan keuntungan yang diharapkan.

Kedua, perumpamaan tentang talenta mengajarkan bahwa Allah sudah memberi kita semua yang kita perlukan untuk melakukan panggilan-Nya.

Talenta dalam Perjanjian Baru kemungkinan besar berupa uang dalam jumlah besar, bahkan mungkin mencapai satu juta dolar dalam mata uang saat ini. Kita mungkin tergoda untuk merasa kasihan pada hamba yang hanya menerima satu talenta, namun kenyataannya, dia menerima sebanyak satu juta dolar dari tuannya dan menguburkannya di halaman belakang rumahnya. Apakah mengherankan jika tuannya begitu marah?

Sang majikan dalam perumpamaan tentang talenta mengharapkan hamba-hambanya melakukan lebih dari sekadar menjaga secara pasif apa yang telah dipercayakan kepada mereka, karena ia mengatakan kepada hamba yang malas itu, “Seharusnya engkau menginvestasikan uangku pada para bankir, dan ketika aku pulang, aku harus menerima apa yang menjadi milikku dengan bunganya” (Matius 25:27). Demikian pula, Tuhan mengharapkan kita untuk menghasilkan keuntungan dengan menggunakan bakat kita untuk tujuan yang produktif. Seperti para hamba dalam perumpamaan ini, Allah telah memberi kita lebih dari cukup untuk melaksanakan tugas ini. Terserah kita untuk menggunakan talenta kita dengan bijak atau mengabaikannya.

Ketiga, Perumpamaan Talenta mengajarkan bahwa kita semua tidak diciptakan sama.

Bagian cerita yang paling seing diabaikan adalah bagian kedua ayat 15: “masing-masing menurut kesanggupannya.” Sang majikan memahami bahwa hamba yang mempunyai satu talenta tidak mampu menghasilkan sebanyak hamba yang mempunyai lima talenta. Kita mungkin ingin memprotes ketidakadilan ini. Namun kita diberitahu bahwa perbedaan kemampuan ini berdasarkan keanekaragaman yang ada dalam jalinan penciptaan. Walaupun demikian, meskipun kita tidak diciptakan sama dalam hal talenta, kita masih melihat kesetaraan dalam perumpamaan tentang talenta.

Dibutuhkan usaha yang sama besarnya bagi hamba yang memiliki lima talenta untuk menghasilkan lima talenta, seperti yang dibutuhkan oleh hamba yang memiliki dua talenta untuk menghasilkan dua talenta lagi. Inilah sebabnya mengapa pahala yang diberikan kepada masing-masing guru adalah sama. Sang majikan mengatakan hal yang sama kepada setiap hambanya yang setia: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:23). Sang majikan mengukur kesuksesan berdasarkan tingkat usaha hambanya, begitu pula cara Tuhan mengukur tanggung jawab kita.

Keempat, Perumpamaan tentang Talenta mengajarkan bahwa kita bekerja untuk Majikan kita, bukan untuk tujuan egois kita sendiri.

Uang yang diberikan kepada para pelayan itu bukan milik mereka. Mereka tidak menyimpan uang yang mereka hasilkan dengan modal dari majikan mereka. Para pelayan hanya mengelola investasi sang majikan, dan sang majikan mengukur kualitas pengelolaannya. Kita harus memaksimalkan penggunaan talenta kita bukan untuk tujuan egois kita sendiri, tapi untuk menghormati Tuhan. Dia peduli dengan sikap kita, motivasi di dalam hati kita.

Kelima, Perumpamaan Talenta menunjukkan bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban.

Perumpamaan tentang talenta bukanlah tentang keselamatan ataupembenaran Tuhan karena perbuatan manusia, tetapi tentang bagaimana kita menggunakan pekerjaan dan hidup kita untuk memenuhi panggilan duniawi kita. Hamba yang tidak setia dalam perumpamaan ini tidak menghambur-hamburkan uang tuannya, tetapi dia menyia-nyiakan kesempatan. Akibatnya, ia dinilai jahat dan malas. Suatu saat kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita lakukan untuk Tuhan dengan apa yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Jadi bagaimana kita mendefinisikan arti kesuksesan menurut Alkitab?

Jawabannya hampir berlawanan dengan intuisi. Memang, ketika kita bekerja untuk Tuhan dalam segala hal yang kita lakukan, termasuk panggilan pekerjaan kita, kita akan benar-benar menemukan tujuan, kepuasan, dan kepuasan yang sangat kita cari. Tetapi ini bukan dengan ukuran harta kita atau kemasyhuran kita. Kita bekerja atas kehendak Tuhan, dan harus didorong oleh kasih kita kepada Tuhan. Satu-satunya keinginan kita adalah untuk mendengarkan Dia berkata, “Bagus sekali hamba-Ku yang baik dan setia, masuklah ke dalam sukacita-Ku.”

Orang Kristen yang malang

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Roma 1: 21

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Begitu kata pepatah lama. Kita tak pernah tahu kapan badai yang begitu dahsyat akan datang menimpa kehidupan kita, pun kita tidak pernah tahu keberuntungan apa yang akan datang menghampiri. Itu ada benarnya karena Alkitab pun menyatakan bahwa Allahlah yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang (Yesaya 45: 7). Walaupun demikian, kemalangan bisa terjadi karena kebodohan manusia dalam melawan apa yang dikedendaki Allah. Dalam hal ini kemalangan bisa dikatakan sebagai akibat dosa atau kebodohan manusia sendiri, yang secara sadar atau tidak sadar sudah dilakukan mereka. Jika demikian, manusialah yang sepenuhnya bertanggung jawab atas apa yang terjadi.

Ayat di atas agaknya menyatakan bahwa ada orang-orang yang mengenal Allah, mereka tetapi tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Karena itu, pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Tetapi, kita mungkin melihat adanya banyak orang yang menjalani hidup dalam kegelapan, dan karena itu tidak dapat mengenal Tuhan dan bersyukur kepada-Nya.

Alkitab jelas menyatakan bahwa rasa takut, hormat dan bersyukur kepada Tuhan adalah kunci kebahagiaan manusia di dunia. Pemazmur sebagai contoh menulis:

Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Mazmur 112: 1

Ini sudah tentu bertentangan dengan pandangan dunia yang menyatakan bahwa takut akan Tuhan justtu membuat manusia tidak bebas untuk menikmati apa yang ada di dunia. Lebih lanjut, Raja Salomo menulis;

“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” Amsal 1: 7

Dengan demikian, Paulus dalam ayat pembukaan di atas tentunya tidak menyatakan bahwa manusia yang tidak mengenal Allah, yang cara hidupnya tidak baik, akan menjadi manusia yang tidak dapat memuliakan Dia atau bersyukur kepada-Nya. Sebaliknya, mereka yang tahu adanya Allah, tetapi memilih untuk tidak memuliakan Dia atau bersyukur kepada-Nya, akan menjadi orang yang malang di dunia. Ini termasuk mereka yang merasa sudah menjadi orang Kristen, tetapi kurang menghargai karya penebusan Kristus dan memilih untuk tetap hidup dalam dosa.

Hidup orang-orang Kristen yang hidup secara kedagingan akan membuat pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh (Roma 1: 22). Semua itu bukanlah Tuhan yang menyebabkan, tetapi manusialah yang harus bertanggung jawab atas cara hidupnya yang keliru. Karena itu, Tuhan melepaskan tangan perlindungan-Nya dan meyerahkan mereka kepada keinginan mereka agar mereka mengalami berbagai masalah di dunia.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen yang mengenal Allah melalui iman, kita wajib menghormati dan memuliakan Dia sebagai Allah dan selalu mengucap syukur kepada-Nya. Kita tidak boleh mempersalahkan Tuhan yang kita anggap menyebabkan derita atau masalah dalam hidup kita. Dalam keadaan apa pun kita tidak boleh lupa bahwa karunia-Nya yang terbesar adalah pembebasan kita dari kuasa dosa.

“Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” Roma 6: 17-18

Sebagai umat-Nya kita tidak boleh menyerah kepada tantangan kehidupan, apalagi berhenti memulakan Tuhan dan bersyukur kepada-Nya. Dalam segala sesuatu yang ada, marilah kita tetap setia kepada-Nya dan hidup serta bekerja untuk kemuliaan nama-Nya!

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Apa arti kedaulatan Tuhan dalam hidup manusia?

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Kedaulatan Tuhan mengacu pada fakta bahwa Tuhan memegang kendali penuh atas alam semesta. Kepercayaan akan kedaulatan Tuhan berbeda dengan fatalisme, yang mengingkari kehendak bebas manusia. Manusia mampu membuat pilihan sejati yang mempunyai konsekuensi nyata. Tuhan tidak secara langsung menyebabkan segala sesuatu terjadi, namun Dia mengijinkan semua itu terjadi. Dan pada akhirnya, kehendak Tuhan akan terkabul. Pada awalnya pernyataan-pernyataan ini mungkin tampak tidak penting bagi kehidupan sehari-hari seseorang dan lebih cocok untuk diskusi teologi. Namun kedaulatan Tuhan cukup praktis dan mempunyai dampak yang signifikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Untuk pengertian kita, sebenarnya kehedak Tuhan itu bisa dibagi menjadi tiga macam:

(a) Kehendak mulak: yaitu dekrit yang berdaulat, kehendak yang dengannya Allah mewujudkan apa pun yang Dia tetapkan. Ini tersembunyi bagi kita sampai itu terjadi.

(b) Kehendak preseptif: adalah hukum atau perintah Allah yang diwahyukan, untuk mana kita bisa mengabaikan, tetapi tidak membatalkan.

(c) Kehendak watak: kehendak yang menggambarkan karakteratau watak Tuhan. Ini mengungkapkan apa yang berkenan kepada-Nya. Ini pun sesuatu yang bisa diaabaikan orang.

Dengan demikian, apa yang kita lakukan sehubungan dengan kehendak Tuhan (b) dan (c) adalah tanggung jawab dalam kebebasan kita untuk menaati dan menghormati Tuhan. Jika kita tidak mau tunduk kepada (b) dan (c), kita telah berbuat dosa. Banyak contoh di Alkitab yang menunjukkan manusia yang mengalami berbagai masalah karena tidak mau melaksanakan apa yang dituntut oleh kehendak Tuhan dalam bentuk (b) dan (c). Ini jelas terlihat dalam perbuatan Adam dan Hawa di taman Firdaus, ketika mereka melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buan terlarang (Kejadian 3: 3). Dengan demikian, ketika kita berdoa, “Jadilah kehendak-Mu,” kita memohon kepada Tuhan untuk meningkatkan kebenaran di dunia, membawa lebih banyak orang kepada pertobatan, dan memajukan kerajaan Putra-Nya. Ini juga menyangkut penyerahan hidup kita kepada-Nya.

Kedaulatan Tuhan (a) berdampak pada kehidupan sehari-hari karena menghilangkan semua alasan untuk khawatir. Kita dapat percaya bahwa pernyataan Alkitab tentang karakter Allah didukung oleh kemampuan-Nya. Tuhan tidak hanya mengasihi kita, tetapi Dia mempunyai kemampuan untuk memelihara kita. Mereka yang menjadi bagian dari keluarga Allah dapat menuntut janji dalam Roma 8:28 di atas. Kita dapat yakin bahwa Tuhan kita mampu melakukan segala sesuatu demi kebaikan kita, sekalipun kita tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana hal itu bisa terjadi.

Kedaulatan Tuhan berdampak pada kehidupan sehari-hari dimana kita dapat mempercayai pekerjaan pengudusan Tuhan dalam diri kita. Sering kali orang-orang Kristen merasa bahwa kedewasaan iman sepenuhnya bergantung pada mereka, seolah-olah Tuhan menyelamatkan kita dan kemudian mengharapkan kita melakukan sisanya. Orang-orang Kristen memang berperan dalam kedewasaan mereka sendiri. Sesuai dengan kehendak Tuhan (b) di atas, kita tentu saja dipanggil untuk taat, dan apa yang kita lakukan penting. Namun, dengan menyadari bahwa Allah berdaulat, kita juga percaya bahwa Dia akan membawa kita kepada kedewasaan (Galatia 3:3 dan Filipi 1:6). Ayat selanjutnya dari Roma 8 berbuntyi:

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8:29

Kalau begitu, apa yang harus kita katakan sebagai tanggapan terhadap hal-hal ini? Jika Tuhan di pihak kita, siapa yang bisa melawan kita? Keselamatan kita telah menjadi rencana kedaulatan Allah sejak kekekalan. Daripada fokus pada kinerja kita sendiri, kita bisa bersandar pada karakter Tuhan dan berfokus untuk benar-benar mengenal Dia sesuai dengan kehendak Tuhan (c).

Bahwa Allah berdaulat berdampak pada identitas kita. Ketika kita memahami betapa berkuasanya Tuhan dan betapa Dia mengasihi kita, kita dapat mengetahui bahwa kita aman di dalam Dia. Sebagai objek kasih Tuhan yang berdaulat, kita membiarkan Tuhan mendefinisikan kita dan memberi kita nilai hidup yang berbeda dengan standar duniawi. Ketika kita memahami bahwa Tuhan memegang kendali penuh, kita dibebaskan untuk menjalani hidup kita. Kita tidak perlu takut akan kegagalan atau kehancuran akhir (Roma 8:1). Kita tidak perlu takut akan ketidakberhargaan. Kita dapat yakin bahwa Tuhan akan menentukan jalannya dan itu akan baik. Kita dapat percaya bahwa Dia yang mengatakan bahwa Dia mengasihi kita mampu bertindak berdasarkan kasih itu dalam segala hal. Kita dapat percaya bahwa, bahkan ketika dunia tampak di luar kendali, Tuhanlah yang memegang kendali. Kita tahu karakter-Nya, jadi kita bisa memercayai Dia dengan kehidupan sehari-hari kita.

Pagi ini, kita harus menyadari bahwa kedaulatan Allah seharusnya berdampak positif pada kehidupan kita saat ini karena kedaulatan Allah membebaskan kita dari ketakutan dan kekhawatiran, memberi kita keyakinan pada Firman-Nya dan sifat-Nya, meyakinkan kita akan kasih-Nya yang terus-menerus bagi kita, dan ini memungkinkan kita menghadapi masa depan tidak menentu dengan keyakinan dan sukacita.

Hidup adalah penantian akan yang terbaik

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.” 1 Petrus 1: 3 – 5

Beberapa hari yang lalu, pemerintah Australia mengumumkan bahwa El Nino secara resmi sudah terjadi di negara ini. El Nino adalah fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah. Pemanasan SML ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah Australia dan juga Indonesia serta banyak negara lain. Lalu apa saja efek El Nino bagi sebuah negara? Singkatnya, El Nino akan memicu terjadinya kondisi kekeringan untuk wilayah itu secara umum. Lebih dari itu, hal-hal lain akan terjadi:

  • Panas udara yang eksrem
  • Kematian manusia, hewan dan tumbuhan
  • Gagal panen
  • Kebakaran hutan dan lahan
  • Ekonomi negara tersendat
  • Ancaman bahaya kelaparan

Hidup ini memang tidak mudah, apalagi sejak terjadinya pandemi. El Nino akan membuat hidup setiap orang makin berat.

Pernahkah Anda mengalami kesulitan besar dalam hidup, sedemikian rupa sehingga Anda merasa bahwa hidup ini terlalu sulit untuk ditempuh dan barangkali lebih enak kalau Anda bisa ke surga sekarang juga? Mungkin Anda belum pernah mengalami perasaan semacam ini. Walaupun demikian, setiap hari di dunia ini ada banyak orang Kristen yang membandingkan pilihan untuk terus hidup dalam perjuangan dan penderitaan di dunia, dengan kesempatan untuk ke surga. Rasul Paulus pun pernah membandingkan hal hidup dan mati baginya.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.” Filipi 1: 21 – 22

Sudah tentu Paulus tidak bisa menentukan kapan ia akan dipanggil ke surga; karena itu, ia memutuskan bahwa selama masih hidup, ia akan berjuang untuk memuliakan nama Tuhan. Memang adalah baik jika kita bisa seperti Paulus, tetap kuat menghadapi hidup di dunia ini. Tetap bisa memakai kesempatan apapun untuk melayani Tuhan dan sesama. Tetapi, ada kalanya hidup ini sangat berat dan kita merasa lelah dan berputus asa, apalagi jika usia mulai menua.

Mungkin kita tidak bisa membayangkan bagaimana dalam perjuangan hidupnya, Paulus bisa tetap bisa tabah dalam iman dan yakin bahwa ia akan bisa menerima keselamatan. Banyak umat Kristen yang menjadi ragu untuk keselamatan yang dijanjikan Tuhan, bukan karena kuatir bahwa Tuhan akan melupakan janji-Nya, tetapi karena keraguan apakah mereka tetap bisa hidup bertahan menghadapi segala persoalan. Hidup memang bisa menjadi sangat berat, dan jika Tuhan tidak menolong mereka, bagaimana mereka bisa bertahan dalam iman dan tetap diselamatkan?

Ayat-ayat pembukaan diatas adalah tulisan rasul Petrus yang ditujukan kepada jemaat Kristen di beberapa tempat yang mengalami berbagai pencobaan. Petrus menulis bahwa Yesus Kristus dengan kasih-Nya yang besar, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, akan membawa kita kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima hidup yang kekal. Petrus lebih lanjut menulis bahwa kita akan dipelihara Allah karena iman kita, sementara kita menantikan keselamatan yang telah tersedia.

Pagi ini, jika kita meragukan apakah keselamatan itu akan tetap tersedia untuk kita karena hidup kita saat ini bagaikan perahu yang diombang-ambingkan ombak, firman-Nya berkata bahwa Tuhanlah yang akan memelihara kita. Iman bukanlah hasil jerih payah kita; iman berasal dari Tuhan yang sudah diberikan kepada kita, besar ataupun kecil, menurut ukuran yang sesuai dengan kehendak-Nya (Roma 12: 3). Selama kita tetap berpegang pada iman itu, Tuhan akan memelihara dan melindungi kita sehingga keselamatan itu tidak bisa lenyap. Tuhan tidak berjanji untuk menghilangkan ombak kehidupan kita, tetapi Ia berjanji untuk memelihara kita sampai akhir zaman!

“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” 1 Petrus 1: 6

Paradoks kehidupan orang percaya

“Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.” 2 Korintus 7: 10-11

Allah menganugerahkan pengampunan kepada kita atas segala pelanggaran kita, setelah melunasi hutang dosa kita dan membatalkan tanggung jawab kita terhadap hukuman di kayu salib. Dia tidak pelit dalam memberikan belas kasihan, namun mengaruniai kita pengampunan dosa, sesuai dengan kekayaan kasih karunia-Nya. Kita bebas dari segala penghukuman. Namun, pada saat yang sama, kita tentu sedih jika ingat atas dosa-dosa kita di masa lalu, merasakan kerusakan yang masih kita alami, dan melihat perbuatan dosa kita yang masih berlanjut. Ini adalah perasaan orang Kristen yang sejati, yang tidak hidup dalam “mimpi indah” sebagai orang pilihan.

Martin Luther memakai ungkapan Latin simul justus et peccator untuk menyatakan keadaan orang percaya, yang berarti “secara bersamaan adil (atau benar) dan berdosa.” Dalam frasa ini, beliau mengkomunikasikan pemahaman teologis bahwa orang Kristen itu dibenarkan/benar dan sekaligus berdosa. Melalui iman, umat Kristiani dibenarkan di hadapan Allah karena dosa-dosa mereka diampuni dan kebenaran Kristus diperhitungkan kepada mereka. Namun, dalam kehidupan kita sebagai umat Kristen, masih ada perjuangan melawan dosa yang mengecilkan hati dan, sayangnya, dapat membawa konsekuensi yang sangat buruk selama hidup di dunia. Jadi, bagaimana kita, yang dibenarkan di dalam Kristus, menghadapi dosa yang terus berlanjut?

Pertama, kita harus mengingat siapa diri kita sebagai orang-orang yang dipersatukan dengan Kristus oleh iman. Rasul Paulus menulis dalam Efesus 1 bahwa kita telah ditebus, diangkat anak, diampuni, dan diberi berkat rohani, telah memperoleh warisan, dan banyak lagi. Ini adalah gambaran luar biasa tentang apa yang kita miliki di dalam Kristus karena anugerah Allah. Oleh karena itu, hubungan kita dengan dosa telah diubah sepenuhnya, dan cara kita menanggapi dosa berasal dari pemahaman kita tentang siapa diri kita di dalam Kristus. Sebagai orang Kristen sejati, kita harus terus-menerus mengingatkan diri kita sendiri tentang siapa kita di dalam Kristus dan apa yang telah Kristus lakukan bagi kita.

Sekalipun dengan pemahaman kita tentang siapa diri kita di dalam Kristus, kita masih sering menghadapi godaan. Godaan setiap orang Kristen tidaklah sama, namun kita semua bergumul melawan dosa ketika kita berusaha mengejar kekudusan yang Allah inginkan. Rasul Paulus sekali lagi memanggil kita untuk berdiri teguh dengan mengenakan “seluruh perlengkapan senjata Allah” (Efesus 6:10–20). Kita memerlukan ikat pinggang kebenaran, pelindung dada kebenaran, perisai iman, ketopong keselamatan, dan pedang Roh.

Kiasan tentang pertempuran melawan iblis sangatlah tepat. Kita harus berperang melawan hal-hal yang dapat menyebabkan kita menjauh dari Tuhan. Ini adalah perjuangan terus-menerus yang tidak akan berakhir sampai kita mencapai surga. Syukurlah, Roh Kudus sedang bekerja di dalam kita dan akan menolong kita dalam pergumulan kita hingga hari dimana kita akan dimuliakan dan pergumulan kita melawan dosa pada akhirnya akan berakhir.

Pada pihak yang lain, salah satu cara paling efektif dari iblis untuk mempermainkan orang Kristen adalah dengan berusaha meyakinkannya kalau dosa-dosanya tidak benar-benar diampuni, yang merupakan penghinaan bagi Firman Allah. Jika kita benar-benar menerima dan beriman percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat, tapi masih memiliki kekhawatiran mengenai ada tidaknya pengampunan yang sejati, bisa jadi kita sedang diserang oleh Iblis.

Iblis tidak suka ketika orang-orang dibebaskan dari cengkeraman mereka. Iblis akan selalu mencoba untuk menanam benih keragu-raguan dalam pikiran mereka mengenai realitas keselamatan mereka. Iblis berusaha membuat hidup orang Kristen tidak bahagia. Sebagai salah satu tipu daya Iblis , ia akan terus-menerus mengingatkan kita atas dosa masa lalu, yang ia gunakan untuk “membuktikan” bahwa Allah tidak mungkin mengampuni atau memulihkan kita. Oleh sebab itu, banyak orang Kristen yang berusaha berbuat ini dan itu untuk memastikan keselamatan mereka. Serangan Iblis ini merupakan tantangan nyata bagi kita untuk bisa sepenuhnya bersandar pada janji Allah dan percaya pada kasih-Nya.

Kitab 1 Yohanes 1:9, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Sebuah janji yang luar biasa! Allah mengampuni anak-anak-Nya saat mereka berdosa, tetapi hanya jika mereka datang kepada-Nya dengan sikap bertobat dan meminta agar diampuni. Belas kasih Allah begitu besar sehingga dapat menyucikan pendosa dari dosa-dosa mereka dan menjadikannya sebagai anak Allah, dan dengan demikian, karena begitu besarnya, bahkan saat kita tersandung, kita masih mendapatkan pengampunan.

Pada saat bersamaan, harus dicatat bahwa bukan hal yang alkitabiah bagi orang yang telah diselamatkan untuk sengaja dan terbiasa melakukan dosa dan menjadikannya sebagai gaya hidup mereka (1 Yohanes 3:8-9). Inilah sebabnya mengapa Paulus mengingatkan kita: “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji” (2 Korintus 13:5).

Sebagai orang Kristen, kita bisa tersandung, namun tidak mungkin hidup dengan gaya hidup yang terus menerus melakukan dosa, tanpa ada pertobatan. Kita semua memiliki kelemahan dan dapat jatuh dalam dosa, bahkan pada saat kita tidak mau berdosa (Roma 7:15). Seperti Paulus, respon orang-percaya seharusnya membenci dosa, bertobat darinya, dan meminta anugerah Allah untuk mengalahkannya (Roma 7:24-25). Meskipun kita seharusnya tidak terjatuh karena anugerah Allah yang memampukan, terkadang kita masih bisa terjatuh karena memilih bersandar pada kekuatan kita sendiri.

Saat iman kita menjadi lemah dan menyangkal Allah dalam perkataan dan hidup kita, seperti yang dilakukan Petrus, masih ada kesempatan untuk bertobat. Saat kita berdosa, Roh Kudus akan menginsyafkan kita dengan dukacita menurut kehendak Allah yang akan menghasilkan pertobatan (2 Korintus 7:10-11). Dia tidak akan menghukum jiwa kita; membuat kita merasa seolah-olah tidak ada harapan, karena tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada dalam Kristus (Roma 8:1). Keyakinan Roh Kudus dalam hati kita adalah gerakan kasih dan karunia. Kasih karunia bukanlah alasan untuk berdosa (Roma 6:1-2). Jangan sampai disalahgunakan. Dosa tetap harus dinyatakan sebagai dosa, dan tidak dapat diperlakukan seolah-olah itu bukan hal yang berbahaya atau tidak mengganggu. Orang-percaya tanpa pertobatan perlu dihadapi dengan kasih dan dibimbing kepada kebebasan. Orang-tidak-percaya perlu untuk diberitakan Injil supaya mereka bertobat.

Pagi ini, mari kita tegaskan cara memperbaiki hidup kita, karena kita telah menerima kasih karunia demi kasih karunia (Yohanes 1:16). Inilah bagaimana kita hidup, bagaimana kita diselamatkan, bagaimana kita dikuduskan, dan bagaimana kita dipelihara dan dimuliakan. Ketika berdosa, mari kita menerima kasih karunia dengan cara: bertobat dan mengaku dosa kita kepada Allah. Mengapa kita hidup dalam kecemaran saat Kristus menawarkan untuk membersihkan kita, dengan membenarkan kita di mata Allah?