Pertumbuhan adalah tanda kehidupan (Bagian 1)

“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” 2 Petrus 3:18

Musim dingin hampir berakhir, dan suhu udara makin bertambah hangat. Berlawanan dengan bagian utara dunia yang akan memasuki musim gugur, musim semi di Australia dimulai pada bulan September. Pada akhir musim dingin ini, banyak orang yang membersihkan halamannya dari daun-daun yang jatuh dari pohon selama musim gugur dan musim dingin, sambil memotong ranting-ranting pohon yang berlelebihan. JIka pohon masih sehat, tentu musim semi akan membawa daun-daun baru. Pohon yang masih hidup tentu bisa terus bertumbuh, sekalipun bentuk dan skala pertumbuhannya tidak tetap sama selama hidup.

Pertumbuhan orang Kristen juga seperti pertumbuhan pohon. Dalam Mazmur 84 orang Kristen sebagai peziarah digambarkan sebagai orang yang semakin kuat berjalan sampai dia mencapai Sion. Selain itu, Paulus dalam Kolose 2:6-7 berbicara tentang orang Kristen yang berakar di dalam Kristus dan dibangun di dalam Dia, dan bertumbuh di dalam Dia dalam segala hal. Bagi orang Kristen, tidaklah cukup untuk mengetahui bahwa kita dilahirkan kembal; tetapi, sebagai bayi yang baru lahir mereka harus bertumbuh di dalam Kristus.

Banyak orang Kristen dilahirkan kembali ketika mereka masih muda. Dengan berlangsungnya waktu, mereka tentunya menjadi makin dewasa. Begitu juga ketika sebuah pohon cemara mencapai usia 60 atau 70 tahun, tentunya ia sudah tumbuh menjadi pohon yang besar. Bagaimana dengan kita? Orang Kristen tidak boleh berhenti bertumbuh, tetapi harus tetap bertumbuh di dalam Tuhan. Ini menyiratkan bahwa ketika kita telah mencapai sisi kehidupan yang lebih jauh, kita tidak akan bertindak seperti “anak-anak” lagi. Saat kita menjadi orang Kristen yang dewasa, kita juga bisa menerima makanan yang keras, tidak seperti seorang bayi rohani hanya bisa minum susu.

“Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarang pun kamu belum dapat menerimanya.” 1 Korintus 3:2

Kita patut bertanya pada diri sendiri secara pribadi: Berapa banyak kita telah bertumbuh di dalam Tuhan sejak kita menjadi seorang Kristen? Atau, jika kita telah menjadi dewasa selama beberapa waktu, seberapa besar kita bertumbuh selama ini? Apakah kita masih tumbuh? Apakah kita mau tumbuh?

Kita menemukan dalam kata-kata rasul Petrus di atas suatu pemikiran yang menghibur, tetapi juga nasihat yang menyadarkan – menghibur karena ketika kita bertumbuh kita akan memiliki lebih banyak buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23). Pada pihak yang lain, kita mungkin merasa sedih ketika kita menyadari betapa sedikitnya pertumbuhan kita selama ini.

Dengan cara apa kita harus bertumbuh? Ayat tulisan rasul Petrus di atas mengatakan bahwa kita harus bertumbuh “dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus”. Ini berarti bahwa kita semakin menyadari fakta bahwa keselamatan hanya oleh kasih karunia, dan oleh karena itu Tuhanlah yang layak menerima segala kemuliaan. Bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus berarti kita belajar mengenal Dia lebih dalam melalui pengalaman. “Pengenalan” melibatkan persekutuan kasih. Di sini artinya kita bertambah dalam kasih Kristus, sehingga Dia terus-menerus menjadi Tuhan yang lebih kita kasihi. Ini menyiratkan bahwa kita semakin menaati perintah-perintah-Nya dan hidup menurut Firman-Nya.

Bertumbuh secara rohani pertama-tama berarti kita bertumbuh dalam pengetahuan akan dosa-dosa kita, pengetahuan bahwa kita di dalam diri kita sendiri adalah orang-orang berdosa yang terhilang tanpa harapan dan tak berdaya. Pada usia 50 tahun kita harus mengetahui hal ini lebih dari pada usia 20 tahun. Indikator yang baik dari pertumbuhan (growth) Kristen (bedakan dengan perbuatan baik, good works, dari orang Kristen) adalah kesadaran bahwa dosa-dosa kita membawa rasa sedih, yang kita rasakan bersama Paulus:

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Roma 7:15

Orang yang sering tidak merasakan adanya kesalahan dalam hidupnya, adalah orang yang tidak banyak bertumbuh di dalam Tuhan. Dan orang yang tetap melakukan hal yang salah dengan sengaja sekalipun ia bisa menghindarinya adalah orang yang tidak pernah bertumbuh atau mati rohaninya. Bersama Daud, kita bisa mengenang kembali masa muda kita, dan berkata,

“Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.” Mazmur 25:7

.

Orang yang bagaimana membenci Tuhan?

“Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua” Roma 1:30

Misotheisme adalah “kebencian terhadap Tuhan” atau “kebencian terhadap para dewa” (dari kata sifat Yunani misotheos (μισόθεος) “membenci para dewa” atau “membenci Tuhan” – gabungan dari, μῖσος, “kebencian” dan, θεός, ” Tuhan”).

Roma 1:30 mengatakan bahwa beberapa orang adalah “pembenci Allah.” Mengapa mereka membenci Tuhan? Mereka membenci Tuhan tentunya karena mereka mencintai dan melayani sesuatu yang lain. Alkitab menyebutkan bahwa tidak ada orang yang dapat mengabdi kepada dua tuan. Dia akan membenci yang satu dan mencintai yang lain.

“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Matius 6:24

Sekalipun banyak orang Kristen yang mengabdi kepada dua atau beberapa tuan, mereka biasanya tidak menyadarinya. Malahan, banyak yang menyangka bahwa jika mereka ke gereja setiap hari Minggu dan duduk di sana selama 1-2 jam, itu adalah tanda pengabdian mereka kepada Tuhan.

Alkitab menyatakan bahwa jika kita mencintai satu majikan, kita akan membenci majikan lainnya. Jadi, tidak mungkin kita berkata bahwa kita mencintai Tuhan, tetapi juga menyayangi harta, kedudukan, pekerjaan dan sejenisnya. Sebaliknya, manusia sering, secara sadar atau tidak, membenci Tuhan karena lebih mencintai hal yang lain:

  1. Mereka lebih mencintai diri mereka sendiri: “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama.” 2 Timotius 3:2 
  2. Mereka lebih mencintai dunia: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” 1 Yohanes 2:15-17
  3. Mereka lebih menyukai kesenangan: “Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.” Lukas 8:14
  4. Mereka lebih mencintai uang: “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6:10
  5. Mereka lebih percaya pada apa yang kelihatan: “Orang bebal berkata dalam hatinya: ”Tidak ada Allah.” Mazmur 14:1
  6. Mereka lebih mencintai perdebatan dan teologi: “Tetapi hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka.” Titus 3:9

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa untuk bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati, dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita, kita harus meletakkan Tuhan di atas segalanya. Dan untuk melakukannya, kita harus meninggalkan atau melepaskan kungkungan dan pengaruh dari semua hal yang kita punyai, termasuk harta, kedudukan, dan bahkan orangtua, istri, anak dan sanak saudara. Sebaliknya, dengan sepenuhnya kita harus mau dibimbing oleh firman Tuhan dan Roh Kudus yang diam di dalam kita. Hal inilah satu-satunya pedoman yang harus kita ikuti supaya bisa jadi orang yang benar-benar mengasihi Tuhan.

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Lukas 14: 26

Memuliakan Tuhan yang mahabesar

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes 3: 30

Siapakah orang yang hidup di zaman Yesus dan yang mempunyai cara hidup yang aneh? Orang ini memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. Ia berkelana dari tempat yang satu ke tempat yang lain dan mengajarkan pertobatan kepada Tuhan. Orang ini dikenal sebagai nabi oleh pengikut agama Islam, Kristen dan bahkan Baha’i. Anda benar, orang itu adalah Yohanes Pembaptis, Yahya Pembaptis, atau  John the Baptist. Ia adalah orang yang “nyentrik” dan unik, dan masih terhitung kerabat Yesus.

Pada waktu itu Yohanes Pembaptis mempunyai beberapa murid dan membaptis orang-orang yang mau percaya kepada Tuhan. Melihat Yesus melakukan hal yang sama, orang-orang yang mendengarkan ajaran Yohanes Pembaptis bertanya-tanya siapakah sebenarnya dia. Yohanes Pembaptis menjelaskan bahwa ia bukanlah Mesias, dan bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Yesus yang datang dari surga.

“Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.” Yohanes 3: 31

Pernyataan Yohanes Pembaptis adalah menarik perhatian. Ia berkata bahwa Yesus yang datang dari surga adalah diatas segalanya, above all. Siapa yang datang dari surga adalah lebih berkuasa dan lebih besar dari apapun dan siapapun. Raja dari segala raja.

Yohanes Pembaptis tahu menempatkan dirinya. Di hadapan Tuhan yang sudah turun dari surga, ia sadar bahwa dirinya  tidak dapat dibandingkan dengan Tuhan. Tugasnya hanyalah untuk menjadi pembuka jalan bagi Yesus. Karena itu, dalam hidup dan tugasnya, ia menempatkan dirinya sebagai hamba yang baik. Ia sadar bahwa seorang hamba tidak bisa lebih besar dari tuannya, dan oleh sebab itu ia memberikan segala kemuliaan kepada Yesus. Yesus harus semakin besar sedangkan ia harus semakin kecil. Tuhan harus semakin dipermuliakan dan ia harus semakin bisa merendahkan diri.

Hal merendahkan diri adalah sesuatu yang sulit dilakukan manusia. Kejatuhan manusia kedalam dosa pada awalnya adalah karena Adam dan Hawa merasa bahwa mereka bisa menyaingi Tuhan pencipta semesta alam. Kejatuhan manusia zaman ini pun sering berawal dari kesombongan. Sekarang ini malah banyak motivator dan bahkan hamba Tuhan yang justru gemar menunjukkan kehebatan mereka dalam berbagai hal yang bisa mereka capai dan lakukan. Memang, mereka yang merasa pandai, kaya, sukses, saleh atau murah hati mungkin percaya bahwa Tuhan mencintai mereka lebih dari orang lain. Betapa keliru pandangan mereka! Perumpamaan orang Farisi yang berdoa di Bait Allah di sebelah seorang pemungut cukai menunjuk kepada kebencian Tuhan akan orang yang tinggi hati. Kita tidak mungkin bisa mengakui kemahabesaran Tuhan jika kita tidak mau menempatkan diri pada posisi yang rendah dihadapan-Nya. Kita tidak mungkin mengenal Tuhan jika kita tidak sadar akan kemahabesaran-Nya.

Pagi ini, jika kita bersiap untuk menjalankan aktifitas sehari-hari, firman Tuhan mengingatkan bahwa jika kita percaya kepada Tuhan, kita harus juga percaya bahwa Dia diatas segala-galanya. Yesus yang datang dari surga haruslah dipermuliakan dalam segala segi kehidupan kita. Seperti Yohanes Pembaptis, kita harus mengambil keputusan untuk memuliakan Tuhan dalam segala perbuatan kita. Jika dunia mengagumi kita karena segala kemampuan dan kebaikan kita, kita harus ingat bahwa segala kemuliaan adalah untuk Dia di tempat yang mahatinggi. Tuhan mengasihi mereka yang memuliakan Dia dalam kerendahan hati.

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Yohanes 14:15

Apakah Anda mengasihi Tuhan?

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: ”Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: ”Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yohanes 21:17

Yesus menetapkan Petrus sebagai gembala.

Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” dalam Yohanes 21:15–17. Ini terjadi ketika Yesus sedang sarapan bersama murid-murid-Nya segera setelah kebangkitan-Nya. Yesus menggunakan kesempatan ini untuk mendorong dan menasihati Petrus tentang tanggung jawabnya yang akan datang dan bahkan untuk menubuatkan bagaimana Petrus akan mati. Dengan bertanya kepada Peter, “Apakah engkau mengasihi Aku?” tiga kali, Yesus menekankan pentingnya kasih Petrus dan ketaatan yang tak tergoyahkan kepada Tuhannya, yang diperlukan untuk pelayanannya di masa depan.

Percakapan ini terjadi di tepi Laut Galilea, yang adalah tempat yang mereka kenal, di mana Yesus telah menghabiskan banyak waktu di sana bersama para nelayan ini. Setelah kebangkitan Yesus, para murid masih bingung dan tidak tahu ke mana harus pergi atau apa yang harus dilakukan selanjutnya. Tidak mengherankan, mereka kembali ke kehidupan yang mereka kenal sebelum Yesus – kehidupan nelayan. Mereka sangat mencintai Yesus, tetapi mereka tidak tahu harus berbuat apa atau bagaimana harus memulai hidup lagi. Seperti yang selalu dilakukan-Nya, Yesus mendatangi mereka ketika mereka mengalami masalah.

Petrus secara khusus tampaknya tidak yakin dengan posisinya bersama Yesus. Ini didasarkan pada kejadian di malam ketika Yesus dikhianati, ditangkap, dan disalibkan. Sebelum penangkapan, Petrus adalah orang yang berbicara paling keras dalam hal membela Yesus, tetapi segera setelah itu ia jatuh paling jauh. Kita membaca dalam Lukas 22:33 bahwa Petrus “siap masuk penjara dan mati” demi Yesus. Tanggapan yang Yesus berikan kepadanya pasti sangat memilukan: ”Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.”” (Lukas 22:34).

Yesus mulai percakapan dengan menanyai Petrus tentang kasih-Nya kepada-Nya, dan setiap kali Petrus menjawab dengan tegas, Yesus melanjutkan dengan perintah agar Petrus menggembalakan domba-domba-Nya. Artinya adalah, jika Petrus benar-benar mengasihi Tuannya, dia harus menggembalakan dan merawat mereka yang menjadi milik Kristus. Ia harus menaati perintah Yesus. Kata-kata Yesus mengungkapkan peran Petrus sebagai pemimpin Gereja baru, Tubuh Kristus di Yerusalem yang akan bertanggung jawab untuk menyebarkan Injil setelah kenaikan Yesus ke surga.

Mengapa Yesus bertanya kepada Petrus sampai tiga Kali? Di sinilah hubungan yang sebelumnya ada antara Yesus dan Petrus ditinggalkan. Namun Petrus masih sangat mengasihi Yesus, dia hanya malu atas tindakannya dan ketidakmampuan untuk menindaklanjuti apa yang dia pernah katakan. Ketika Yesus bertanya kepada Petrus apakah dia mengasihi-Nya, itu adalah pertanyaan retoris. Yesus tahu betul bahwa Petrus mengasihi-Nya (seperti yang juga diketahui Petrus), tetapi Dia meminta kepastian dari Petrus. Ada juga makna yang unik setiap kali Yesus bertanya apakah Petrus “mengasihi” dia.

Ada kemungkinan bahwa dengan pertanyaan-Nya yang berulang-ulang, Yesus secara halus mengingatkan Petrus akan tiga penyangkalannya. Tidak diragukan bahwa dengan penyangkalan itu Petrus merasa hancur hatinya ketika Yesus berpaling untuk melihatnya (Lukas 22:61-62). Tidak terpikir oleh Petrus bahwa Yesus mengulangi pertanyaan-Nya kepadanya tiga kali, sama seperti sebelumnya Petrus menyangkal-Nya tiga kali.

Ada juga kontras yang menarik ketika kita melihat kata Yunani untuk “kasih” yang digunakan dalam Yohanes 21:15–17. Ketika Yesus bertanya kepada Petrus, “Apakah kamu mengasihi Aku?” dalam Yohanes 21:15–16, Dia sebenarnya menggunakan kata Yunani agape, yang mengacu pada kasih tanpa syarat. Atas dua pertanyaan Yesus itu, dua kali, Peter menjawab dengan “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”; tetapi ia menggunakan kata Yunani phileo, yang lebih mengacu pada jenis cinta persaudaraan/persahabatan. Petrus belum dapat memakai kata agape.

Tampaknya Yesus berusaha membuat Petrus mengerti bahwa dia harus mengasihi Yesus tanpa syarat untuk menjadi pemimpin yang Tuhan inginkan. Pada ketiga kalinya Yesus bertanya, “Apakah kamu mencintaiku?” dalam Yohanes 21:17, tetapi di sini Dia justru menggunakan kata phileo. Petrus kembali menjawab dengan “”Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Petrus lagi-lagi menggunakan phileo. Maksud dari kata Yunani yang berbeda untuk “kasih” tampaknya menunjukkan bahwa Yesus mendorong Petrus untuk mengganti kasih phileo ke kasih agape.

Dengan tiga pertanyaannya, Yesus menekankan kepada Petrus betapa pentingnya peran barunya dalam menggembalakan kawanan pengikut Kristus nantinya. Ketika seseorang mengulangi instruksi kepada kita berulang kali, kita segera memahami bahwa sangat penting bagi kita untuk memperhatikannya. Yesus ingin memastikan Petrus memahami tugas penting yang Dia tugaskan kepadanya dan alasan utama untuk itu, untuk mengikuti Dia dan memuliakan Allah (Yohanes 21:19). Ini memerlukan komitmen Petrus untuk kasih agape.

Yesus bertanya kepada Petrus pada kesempatan ketiga, apakah Petrus benar-benar mencintai (phileo) Yesus sebagai saudara dan sahabat? Hal ini menyebabkan Petrus merasa sedih, karena dia memang sebelumnya hanya berusaha mengasihi Yesus dengan cara ini, dan karena itu diliputi oleh emosi atas apa yang telah dia lakukan dan pengampunan yang tidak pantas dia terima. Petrus sangat terluka, tetapi itu bukan karena Yesus berusaha menyakitinya. Apa yang Yesus lakukan di sini adalah membangunkan Petrus dan meyakinkannya bahwa dia masih tetap orang yang dipilih-Nya, dan bahwa penyangkalannya tidak cukup kuat untuk menghentikan rancangan yang telah Tuhan mulai.

Pagi ini, interaksi emosional Petrus ini merupakan peringatan akan kasih Juruselamat yang sangat dalam bagi kita. Paulus menulis dalam 2 Timotius 2:13, “jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.” Dengan demikian, ketika kita gagal dalam usaha untuk mengasihi (agape) dan menaati Yesus, Ia tidak akan meninggalkan kita atau membuang kita. Dia selalu memberi rahmat untuk membangun kita, dan terlebih lagi, mengingatkan kita akan kasih agape-Nya. Ketika kita benar-benar mau untuk mengasihi (agape) Kristus, itu akan terlihat dalam tindakan dan cara hidup kita yang terus berusaha keras mencapai apa yang terbaik; dan dengan demikian tidak ada kemunduran atau kegagalan yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya.

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Yohanes 15:15
‭‭

Apakah Tuhan benar-benar mengasihi aku?

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Ayat di atas adalah ayat yang sangat dikenal umat Kristen, terutama untuk menguatkan iman mereka yang mengalami peristiwa yang kurang menyenangkan dalam hidup. Bagaimana kita sanggup menghadapi kesedihan, kegagalan, sakit, kecelakaan dan berbagai penderitaan lainnya jika kita tidak yakin akan adanya Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih? Ayat di atas menasihati kita bahwa jika kita mengasihi Allah, Ia akan ikut bekerja dengan kuasa dan kasih-Nya dalam segala yang kita alami untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Tuhan telah berjanji untuk bekerja sama dalam segala sesuatu untuk kebaikan umat-Nya. Jika Tuhan di pihak kita, maka pada akhirnya, tidak ada yang dapat melawan kita. Itu logis. Jika tidak, Tuhan tidak akan menjadi Tuhan. Jika ada sesuatu yang dapat bangkit melawan Tuhan yang kita percaya, dan mengalahkan Dia, sesuatu itu adalah Tuhan yang asli. Tuhan kita kemudian akan terbukti sebagai tuhan palsu – bukan Tuhan sama sekali. Tetapi sebaliknya, Paulus mengatakan bahwa pada akhirnya, tidak ada yang dapat melawan kita jika Allah di pihak kita (Roma 8:31-39). Tuhan kita adalah Tuhan yang benar-benar Tuhan.

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Walaupun demikian, pertanyaan tetap ada ketika kita mengalami penderitaan atau masalah yang sangat besar: “Apakah Tuhan di pihak kita?” Mungkin yang lebih tajam adalah pertanyaan pribadi: “Bagaimana saya tahu bahwa Tuhan mengasihi saya?” dan sehubungan dengan ayat pembukaan di atas: “Apakah saya termasuk orang yang mengasihi Tuhan?”. Nah, apakah Anda tahu akan hal itu? Bagaimana Anda bisa tahu?

Iblis sangat bersemangat untuk menayakan hal ini kepada kita dan berusaha membuat kita bingung – sesungguhnya, dia telah mengeluarkan pertanyaan ini sejak awalnya. Dia menanyakannya di Taman Eden. Kata-kata pertamanya yang tercatat adalah serangan terhadap karakter Allah yang murah hati (kita tahu betapa dia membenci Allah dan umat-Nya): “Benarkah Allah melarang kamu makan buah daripada sebarang pokok di taman ini?” Tuhan macam apa jika Ia melakukan hal yang semena-mena seperti itu? Bukankah Anda tidak berpikir Dia benar-benar ada untuk Anda, jika Dia melakukan hal semacam itu dalam hidup Anda? Inilah pergumulan yang sering muncul dalam hidup kita karena usaha iblis untuk membuat kita sangsi akan kasih Tuhan.

Anda akan menemukan pertanyaan semacam ini berulang kali dalam berbagai bentuk dan penyamaran sepanjang kehidupan Kristen Anda. Anda perlu memiliki jawaban alkitabiah untuk pertanyaan-pertanyaan ini:

  • Bagaimana Anda tahu bahwa Tuhan benar-benar untuk Anda?
  • Di mana Anda harus mencari bukti bahwa Tuhan ada untuk Anda?
  • Apakah itu bergantung pada kehidupan Kristen yang berisi kebahagiaan yang abadi?
  • Apakah itu bergantung pada kehidupan Kristen yang berisi kegembiraan yang luar biasa?

Hanya ada satu jawaban yang tak terbantahkan untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Itu tidak dapat ditemukan dalam keadaan kita saat ini, karena hidup kita dan apa yang dianggap kebahagiaan di dunia adalah sementara. Itu hanya terletak pada ketentuan yang telah Allah buat bagi kita di dalam Yesus Kristus sejak mulanya.

Inilah inti dari pertanyaan Paulus di ayat 32. Kita dapat yakin bahwa Allah di pihak kita karena Allah ini, Allah dari Alkitab, Allah dan Bapa dari Tuhan kita Yesus Kristus, tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi memberikan Dia naik ke kayu salib untuk kita semua. Itu tidak tergantung pada kasih kita kepada-Nya, tetapi pada kasih-Nya kepada kita yang sangat besar dan abadi.

Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Roma 8:32

Jika ini benar, tegas Paulus, kita dapat yakin bahwa Dia akan memberi kita semua yang kita perlukan. Ini adalah satu-satunya cara yang pasti kita dapat mengetahui bahwa Tuhan ada di pihak kita sampai saat terakhir. Kita harus bisa terus bersukacita karena kasih-Nya kepada kita, yang sudah dinyatakan dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, yang membawa keselamatan abadi bagi kita.

Pagi ini, adakah masalah besar yang harus Anda hadapi? Apakah Anda merasa ragu bahwa Tuhan mengasihi Anda karena Anda merasa bahwa kasih Anda kurang cukup bagi-Nya? Firman Tuhan menyatakan bahwa Tuhan dari awalnya sudah mengasihi kita, sekalipun belum tahu bagaimana kita harus mengasihi Dia. Dia tetap mengasihi kita sekalipun kasih kita kepada-Nya tidak sempurna. Percayalah bahwa segala rencana-Nya adalah baik bagi Anda.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” Roma 8: 38-39

Mengapa Tuhan membiarkan sebagian orang tenggelam dalam dosa mereka

“Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.” Roma 9: 18

Ayat diatas adalah ayat yang sulit dimengerti, yang bersangkutan dengan hal kedaulatan Tuhan dalam memilih manusia untuk menjadi pengikut-Nya. Ayat ini sudah sering didiskusikan di kalangan umat Kristen.

Bagaimana Tuhan yang mahakasih dan mahaadil juga bisa menjadi Tuhan yang menghukum dan seolah berat sebelah? Mengapa Tuhan memilih orang-orang tertentu untuk menjadi pengikut-Nya dan orang-orang lain untuk menjadi musuh-Nya? Mengapa Tuhan membuat musuh-Nya akhirnya dipermalukan dan dihancurkan? Banyak orang Kristen yang menyatakan bahwa Tuhan tentu boleh dan bisa melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Walaupun begitu, kita tahu bahwa orang dapat mengenal Tuhan dan diampuni melalui darah Kristus karena belas kasihan Tuhan. Sebaliknya, banyak orang yang dalam kebebasan mereka memilih hidup dalam dosa dan hidup tanpa mengenal Tuhan yang benar, akhirnya mendapat hukuman yang setimpal. Lalu mengapa Tuhan tidak membuat semua orang di dunia untuk takluk kepada-Nya?

Jauh sebelum Yesus datang ke dunia, ada seorang Firaun di Mesir yang keras kepala. Berkali-kali Musa memintanya agar membiarkan umat Israel untuk keluar dari tanah Mesir, tetapi Firaun itu selalu berkeras hati dan tidak mau memberi izin. Dengan keangkuhannya, ia sudah menentang Tuhan dan utusanNya, Musa dan Harun. Karena tindakan Firaun itu, yang berkali-kali diambilnya dengan kesadaran penuh, Tuhan tidak lagi mau mengasihaninya. Tuhan membuat hati Firaun menjadi semakin keras, dan akhirnya ia harus membayar keangkuhannya dengan berbagai malapetaka di Mesir dan kematiannya yang tragis (baca Keluaran 7 – 14). Semua orang dalam peristiwa ini (orang Israel dan orang Mesir) adalah orang berdosa, tetapi Tuhan tidak menunjukkan perlakuan yang sama. Mereka yang jelas-jelas memusuhi Dia, akan menerima hukuman yang lebih berat; semua itu adalah hak Tuhan, tetapi Dia bukannya Tuhan yang semena-mena.

Menimbang situasi dunia saat ini, mungkin ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita. Mengapa ada orang yang mau dan bisa percaya kepada Tuhan, tetapi ada juga orang yang tidak mau dan tidak bisa percaya? Mengapa ada orang yang bukan saja tidak mau percaya kepada Yesus, tetapi juga sangat membenci Dia dan pengikut-Nya?

Setiap manusia pada hakikatnya adalah orang berdosa yang tidak dapat menyenangkan Tuhan. Dengan demikian, manusia tidak akan bisa mengenal Tuhan jika Tuhan tidak memberinya kemampuan untuk itu. Dengan kodratnya, manusialah yang dari mulanya dengan sadar memilih untuk menjadi musuh Tuhan. Tuhan mungkin membiarkan manusia menentang kehendak-Nya untuk sementara waktu. Cepat atau lambat, Tuhan akan bertindak untuk membuat apa yang dikehendaki-Nya terjadi. Jika demikian, hal ini bisa terjadi melalui kejadian-kejadian yang luar biasa yang bisa membuat manusia sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa tidak dapat dihentikan manusia.

Tuhan bisa memakai reaksi manusia untuk mencapai maksud-Nya dan menunjukkan kebesaran-Nya. Apa yang terjadi pada Firaun di Mesir menunjukkan penolakan Tuhan atas mereka yang menutup hati mereka kepada Tuhan, dan apa yang terjadi pada Saulus dengan pertobatannya kepada Yesus Kristus menunjukkan penerimaan Tuhan atas mereka yang mau mengikut Dia (Kisah Para Rasul 9: 1 – 20). Tuhan berkuasa dan berhak untuk memilih orang-orang tertentu untuk melayani Dia, dan Ia bisa membiarkan orang yang tidak tunduk kepada-Nya untuk memilih jalan kehancuran. Tuhan tidak perlu menjerumuskan manusia yang melawan Dia ke dalam dosa yang lebih besar, atau membuat mereka untuk berbuat dosa terus menerus; karena manusia yang sudah berdosa itu hanya perlu dibiarkannya untuk tetap hidup bebas dalam dosanya sehingga lambat laun akan mati tenggelam dalam dosanya.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa sebagai manusia kita adalah seperti tanah liat di tangan seorang tukang pembuat periuk. Apakah kita mau membiarkan Tuhan menolong kita, ataukah kita ingin berusaha dengan kekuatan diri sendiri untuk tidak tenggelam dalam dosa? Jika kita percaya bahwa Tuhan adalah makakuasa dan mahakasih, haruslah kita menyambut uluran tangan-Nya yang menyelamatkan dengan taat kepada hukum dan firman-Nya!

Kedaulatan Tuhan yang harus diakui dalam hidup kita

“TUHAN melakukan apa yang dikehendaki-Nya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya.” Mazmur 135:6

Salah satu yang paling penting dari hakiki Tuhan adalah kedaulatan-Nya. Karena itu, banyak orang Kristen yang meninggikan kedaulatan Tuhan (souvereignty) di atas sifat mahakasih, mahakuasa, mahatahu, dan mahahadir-Nya. Bahkan, untuk sebagian kecil orang Kristen, kedaulatan Tuhan ini sangat ditonjolkan sehingga bagi mereka manusia tidak mempunyai kemampuan apa-apa, dan tidak dapat diharapkan untuk bertanggung jawab atas hidupnya.

Pada pihak yang lain, jika Anda mencoba menemukan kata “daulat” dalam Alkitab, Anda akan kecewa. Dalam Alkitab tidak ditemukan kata “daulat”, baik dalam bentuk “kedaulatan” atau “berdaulat”. Walaupun demikian, kedaulatan Tuhan adalah konsep alkitabiah yang penting. Seorang yang berdaulat adalah seorang penguasa atau seorang raja, dan Kitab Suci sering menyebut Allah sebagai yang memerintah atas segalanya.

Nama Allah yang paling umum, Yahweh (lihat Keluaran 3:14) sering diterjemahkan Tuhan, atau “Lord” dalam Alkitab bahasa Inggris. Dan kata Tuhan, muncul di Alkitab ribuan kali, khususnya sebagai nama Yesus Kristus. Menurut KBBI, Tuhan adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa dan Mahaperkasa. Jadi, membahas kedaulatan Tuhan adalah membahas ketuhanan Tuhan – yaitu membahas sifat-sifat yang membuatnya menjadi Tuhan, dan yang meletakkan apa saja dibawah kehendak dan kuasa-Nya, di mana saja dan kapan saja.

“TUHAN semesta alam telah bersumpah, firman-Nya: ”Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana.” Yesaya 14:24

Komponen utama dari konsep alkitabiah tentang kedaulatan atau ketuhanan ilahi adalah kendali, otoritas, dan kehadiran Allah. Kendali-Nya berarti bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencana dan niat-Nya. Otoritas berarti bahwa semua perintah-Nya harus dipatuhi. Kehadiran berarti bahwa kita menjumpai kendali dan otoritas Tuhan dalam semua pengalaman kita, sehingga kita tidak dapat lepas dari keadilan-Nya atau dari kasih-Nya. Ketiga hal inilah yang harus kita ingat jika kita mengakui bahwa Tuhan adalah berdaulat atas hidup kita. Kita tidak dapat mengakui kedaulatan Tuhan dengan hanya mengakui satu atau dua dari ketiga aspek ini.

Walaupun demikian, jika orang membahas kedaulatan ilahi dan kebebasan manusia, mereka sering hanya berfokus pada salah satu dari tiga aspek kedaulatan Tuhan, yaitu kendali-Nya. Ini jugalah yang menjadi pusat perhatian kelompok orang Kristen tertentu, yang menolak adanya kebebasan manusia dalam segala bentuknya. Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa kendali Tuhan atas dunia hanyalah salah satu aspek dari pemerintahan-Nya. Jika kita hanya mempertimbangkan kendali-Nya, kita cenderung lupa bahwa Tuhan juga mahakasih, mahasabar, mahapemurah dan seterusnya. Kedaulatan Allah adalah penerapan semua atribut ilahi-Nya, bukan hanya kuasa-Nya. Kedaulatan Tuhanlah yang memungkinkan manusia menanggapi firman-Nya.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Tuhan menunjukkan kepada Israel bahwa Dia benar-benar Tuhan dengan mengalahkan kerajaan Mesir dan otoritas Firaun, dan dengan memberikan Israel tanah air yang dijanjikan berabad-abad sebelumnya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub pada saat yang ditentukan-Nya. Tidak ada yang bisa mengalahkan kedaulatan Tuhan. Dia menepati janji-Nya, menunjukkan kekuatan pengendalian yang luar biasa, atau Dia bukan Tuhan. Seperti itu juga, Tuhan yang menjanjikan keselamatan bagi umat manusia setelah kejatuhan Adam dan Hawa, sudah menepati janji-Nya dengan kedatangan Kristus ke dunia, penyaliban dan kebangkitan-Nya.

“Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya!” Mazmur 115:3

Mengingat kekuatan luar biasa dari kendali kedaulatan Tuhan, efektivitas dan universalitasnya, apakah manusia memiliki kebebasan dalam hidupnya? Jika manusia tidak memiliki kebebasan atau pilihan, apakah manusia harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya? Alkitab menjawab bahwa kita memiliki kebebasan dalam batasan tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita berbicara tentang “bebas”, kita mungkin tidak menyadari bahwa kita memikirkan kebebasan yang berupa kompatibilitas, yaitu apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Tuhan menyuruh Adam untuk tidak memakan buah terlarang, tetapi Adam memiliki kemungkinan untuk melakukan apa yang diinginkannya. Pada akhirnya, mereka melakukan hal yang salah, tetapi mereka melakukannya dengan bebas. Kedaulatan Allah tidak menghalangi mereka untuk melakukan apa yang mereka ingin lakukan. Tetapi, apa yang terjadi adalah sesuai dengan kehendak-Nya, sebab apa yang tidak dikehendaki-Nya tentu tidak akan terjadi. Semua yang terjadi di dunia haruslah kompatibel atau sesuai dengan rancangan Tuhan, sekalipun Tuhan belum tentu adalah penyebab langsung dari kejadian itu.

Pagi ini, jika kita memikirkan hidup kita, mungkin kita merasa bahwa Tuhan sudah menetapkan segala sesuatu dalam hidup kita sehingga kita tidak bisa mengambil keputusan. Lebih dari itu, kita tidak perlu memikirkan bagaimana kita harus hidup sesuai dengan kehendak Tuhan karena semua aspek kehidupan kita ada ditangan-Nya. Mungkin juga kita sudah tidak peduli akan kesehatan dan mati-hidup kita karena kita merasa bahwa semua itu terserah pada kedaulatan-Nya. Semua itu adalah salah pengertian kita. Firman Tuhan yang kita pelajari saat ini bukanlah menyatakan bahwa kita adalah boneka Tuhan,

Tuhan berkuasa, tetapi Ia yang berkuasa juga memberikan kuasa dan kemampuan bagi manusia untuk bertanggung jawab atas hidupnya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita, karena semuanya ada dalam kendali-Nya, tetapi kita tetap harus tetap mau tunduk kepada perintah-Nya karena Tuhan adalah pemegang otoritas atas hidup-mati kita. Lebih dari itu, kita harus sadar bahwa kedaulatan Tuhan memungkinkan Dia hadir dalam hidup kita dan membimbing serta menguatkan kita untuk menghadapi segala tantangan dalam hidup ini agar segala yang terjadi akan sesuai dengan rencana-Nya.

Ada berapa jenis orientasi seksual menurut Alkitab?

Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: ”Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.” Kejadian 4:1

Apa itu gender dan apa pula orientasi seksual? Pada zaman sekarang seorang pria bisa saja merasa bahwa dirinya lebih cocok menjadi wanita, dan sekalipun ia berjenis kelamin pria, ia mungkin ingin dianggap sebagai wanita sebagai gendernya. Gender mengacu pada karakteristik perempuan, laki-laki, anak perempuan dan laki-laki yang dikonstruksi secara sosial. Ini termasuk norma, perilaku dan peran yang terkait dengan menjadi perempuan, laki-laki, perempuan atau laki-laki, serta hubungan satu sama lain. Sebagai konstruksi sosial manusia, gender bisa bervariasi dari masyarakat ke masyarakat dan dapat berubah dari waktu ke waktu.

Gender berinteraksi dengan tetapi berbeda dengan jenis kelamin, yang mengacu pada karakteristik biologis dan fisiologis yang berbeda pada perempuan, laki-laki dan orang interseks: seperti kromosom, hormon, dan organ reproduksi yang berlainan. Identitas gender mengacu pada pengalaman gender seseorang yang dirasakan, secara internal dan individual, yang mungkin atau mungkin tidak sesuai dengan fisiologi seseorang atau jenis kelamin yang ditunjuk saat lahir.

Orientasi seksual adalah tentang dengan siapa seseorang tertarik dan ingin menjalin hubungan. Orientasi seksual termasuk gay, lesbian, lurus, biseksual, dan aseksual. Orientasi seksual berbeda dengan gender dan identitasnya. Orientasi seksual adalah tentang kepada siapa orang tertarik secara romantis, emosional, dan seksual. Ini berbeda dengan identitas gender. Identitas gender bukan tentang siapa Anda tertarik, tetapi tentang siapakah Anda menurut pendapat Anda – pria, wanita, genderqueer, dll.

Ini berarti bahwa menjadi transgender (merasa jenis kelamin yang Anda tetapkan sangat berbeda dari jenis kelamin yang teridentifikasi secara medis) tidak sama dengan menjadi gay, lesbian, atau biseksual. Orientasi seksual adalah tentang dengan siapa Anda ingin bersama. Identitas gender adalah tentang siapa Anda menurut pendapat Anda sendiri. Ini menurut pengertian zaman ini yang tidak sesuai dengan ayat di atas.

Untuk jelasnya, menurut pandangan duniawi, saat ini ada banyak orientasi seksual, amtara lain:

  • Orang yang tertarik pada jenis kelamin yang berbeda (misalnya, wanita yang tertarik pada pria atau pria yang tertarik pada wanita) sering menyebut dirinya heteroseksual atau heteroseksual.
  • Orang yang tertarik pada sesama jenis sering menyebut diri mereka gay atau homoseksual. Wanita gay mungkin lebih suka istilah lesbian.
  • Orang yang tertarik pada pria dan wanita sering menyebut diri mereka biseksual.
  • Orang yang ketertarikannya mencakup banyak identitas gender yang berbeda (pria, wanita, transgender, genderqueer, interseks, dll.) dapat menyebut diri mereka panseksual atau queer
  • Orang yang tidak yakin dengan orientasi seksualnya mungkin menyebut diri mereka “questioning” atau bertanya-tanya
  • Orang yang tidak mengalami ketertarikan seksual kepada siapa pun sering menyebut diri mereka aseksual.

Dunia modern sekarang berusaha menyakinkan kita bahwa orientasi dan identitas seksual Anda dapat Anda pilih untuk tetap sama sepanjang hidup Anda, atau itu dapat bervariasi tergantung pada siapa Anda tertarik, atau ingin berpasangan secara romantis atau aktif secara seksual. Ini dianggap benar-benar normal karena setiap orang dianggap mempunyai kehendak bebas atau free will. Dengan demikian, setelah Anda mengklaim label tertentu, tidak ada alasan mengapa label tidak dapat diubah saat Anda ingin mengubahnya. Banyak orang, tua dan muda, ingin memakai kebebasan mereka untuk menentukan kepada siapa mereka tertarik secara seksual dan bagaimana mereka mengidentifikasi orientasi seksual mereka. Ini disebut “fluiditas”, yang berarti bisa berubah-ubah. Selanjutnya, setiap pasangan dengan gender dan orientasi seksual apa pun dianggap berhak mempunyai keturunan, yang setelah mencapai umur tertentu akan memilih gender dan orientasi seksualnya sendiri. Ini sudah tentu merupakan hal yang mulai menggoncangkan iman Kristen.

Bagaimana sebagai orang Kristen bisa menanggapi fluiditas (variasri bebas) dalam kehidupan seksual manusia di zaman ini? Kebingungan akan terjadi jika kita meninggalkan pesan Alkitab. Keinginan, persepsi, dan penampilan tubuh manusia dari sepanjang zaman, semuanya bersaksi tentang kekacauan ciptaan Tuhan yang dilanda dosa. Ini sudah tentu membuat banyak orang tua Kristen merasa kuatir atas masa depan generasi muda. Tetapi, Tuhan yang mahakuasa tidak akan terancam oleh perubahan keadaan semacam ini.

Pada waktu penciptaan, Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, seorang pria dan seorang wanita. Karena itu, Alkitab hanya mengakui adanya dua jenis seks atau jenis kelamin, yaitu pria dan wanita; dan dengan itu ada dua jenis karakteristik manusia atau gender: pria dan wanita. Sebagai implikasinya, seorang bayi harus dilahirkan oeleh seorang wanita. Karena adanya daya tarik seksual yang diciptakan Tuhan, seorang pria kemudian bersetubuh dengan seorang wanita pasangan hidupnya. Orientasi seksual yang benar akan membuahkan keturunan yang diberkati Tuhan seperti apa yang terjadi pada Adam dan Hawa dalam ayat di atas.

“Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” Matius 19: 5

Kabar baik bagi orang-orang yang mengalami kebingungan gender dan orientasi seksual, seperti bagi kita masing-masing, adalah kenyataan bahwa tubuh kita yang rusak membutuhkan penebusan (Roma 8:18-25). Dan di dalam Yesus Kristus, segala sesuatu dijanjikan untuk dijadikan baru (Yesaya 65:17; Wahyu 21:5). Meskipun kekristenan tidak menjamin kelegaan total dalam hidup ini, kekristenan menjamin kebangkitan di masa depan dari keinginan, persepsi, dan tubuh kita yang mengalami pembusukan dan kematian (1 Korintus 15:50–56). Itulah janji Tuhan kepada setiap orang yang percaya dan bertobat kepada-Nya.

Karena jenis seks secara biologis tidak berbohong dan sebaliknya karena pikiran manusia rentan terhadap kebingungan, pertobatan dan pengudusan individu yang jatuh dalam dosa memerlukan perjuangan berat untuk menyesuaikan kembali identitas gender dengan jenis kelamin biologis mereka. Seseorang mungkin tidak pernah sepenuhnya mencapai kedamaian, tetapi mengenakan diri yang baru, yang dibentuk kembali di dalam Yesus Kristus, berarti merangkul dan mempercayai otoritas Allah atas setiap segi keberadaan kita (Kolose 3:1–11) dan tidak dengan sengaja melanggar perintah Tuhan untuk taat kepada hukum-Nya. Adalah keliru jika ada orang Kristen yang meyakini bahwa Tuhan yang mahakuasa bisa memilih siapa saja untuk diselamatkan, sekalipun hidup mereka tidak sesuai dengan moralitas dan hukum Tuhan. Jika itu dlakukan Tuhan, segala hukum-Nya dan pengurbanan Yesus bagi orang yang bertobat, tidak akan berguna.

Sebagai orang Kristen, kita tidak boleh merasa ragu untuk menyatakan kebenaran ayat di atas. Meskipun itu mungkin membawa kita ke arah percakapan dan pengalaman baru yang banyak dari kita tidak akan mengerti sepenuhnya, melayani mereka yang menderita kebingungan dalam hal gender dan orientasi seksual berarti berjalan dengan setiap jiwa yang berharga, melewati lembah kegelapan psikologis selama bertahun-tahun (Galatia 6:2). Gereja membutuhkan orang Kristen yang mau berjalan bersama orang-orang ini di setiap musim, dalam kemenangan dan kekalahan, mendorong masing-masing menuju iman yang lebih besar kepada Tuhan Yesus (Roma 12:12; Yakobus 1:12). Hanya orang Kristen yang cukup rendah hati untuk mengenali kehancuran mereka sendiri, akan mampu berjalan bersama orang lain melalui pergumulan yang tampaknya sangat berbeda dari perjuangan mereka sendiri. Hanya orang Kristen yang mengerti tuntutan Tuhan untuk hidup dalam kekudusan dapat memberikan bimbingan kepada mereka yang meragukan kebenaran firman Tuhan.

Ada berapa jenis manusia yang diciptakan Tuhan?

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 1: 27

Istilah seks memiliki beberapa definisi. Ini sering merujuk pada tindakan hubungan seksual, tetapi juga dapat berarti kategori jenis kelamin sebagai laki-laki atau perempuan, yangmerupakan kategori biner objektif yang menggambarkan klasifikasi reproduksi tubuh. Untuk ulasan di bawah ini, kita akan berfokus pada definisi seks yang kedua.

Ayat di atas menjelaskan bahwa pada waktu penciptaan, Tuhan menciptakan manusia dalam dua jenis seks: lali-laki dan perempuan. Hanya dua jenis. Seks dalam hal ini adalah berbeda dengan gender. WHO (Badan Kesehatan PBB) menyatakan bahwa gender mengacu pada karakteristik perempuan, laki-laki, anak perempuan dan anak laki-laki yang dikonstruksi secara sosial. Ini termasuk norma, perilaku dan peran yang terkait dengan menjadi perempuan, laki-laki, perempuan atau laki-laki, serta hubungan satu sama lain. Sebagai konstruksi sosial, gender bervariasi dari masyarakat ke masyarakat dan dapat berubah dari waktu ke waktu.

Sekarang, jika ada orang yang melamar pekerjaan, jenis gender yang bisa dipilih dalam pendaftaran bukan hanya dua fungsi yaitu pria dan wanita, tetapi ada beberapa macam, termasuk non-gender. Bahkan, ada laporan bahwa jika semua jenis sebutan gender diperhitungkan, lebih dari 30 jumlahnya. Ini tentunya bisa membuat banyak orang bingung, terutama karena dalam bahasa Inggris umumnya hanya ada dua macam kata ganti orang ketiga tunggal yaitu he (untuk pria) dan she (untuk wanita). Dengan demikian, jika ada orang yang memakai nama pria, belum tentu ia senang jika kita memakai kata ganti orang he untuk dia karena dirasa tidak cocok dengan gender yang dipilihnya. Karena itu, makin banyak orang yang dalam komunikasi bisnis mencantumkan panggilan apa (he atau she) yang diharapkannya di bawah tanda tangan dan namanya.

Jika pada awalnya seks adalh identik dengan gender, sekarang tidaklan begitu. Secara umum hanya ada dua jenis seks, tetapi ada banyak jenis gender. Jika jenis seks seorang bayi adalah sesuatu yang dapat dipastikan oleh dokter sejak dalam kandungan, sekarang tidak ada seorang pun yang bisa menduga apakah jenis gender bayi itu di masa depan. Di banyak negara, hanya orang yang bersangkutan yang berhak memilih gender apa yang disukainya. Di beberapa negara, seorang anak di bawah umur boleh memilih jenis seks dan gendernya. Meskipun masyarakat modern telah kehilangan batas-batasnya dan menampilkan sejumlah besar pilihan gender, bagaimana seharusnya orang Kristen memahami redefinisi gender yang terjadi saat ini dalam terang Kitab Suci?

Banyak orang saat ini mengklaim bahwa penentuan jenis seks tidak objektif tetapi sewenang-wenang—misalnya, jika seorang dokter menyatakan jenis seks pada saat lahirnya seorang bayi. Tapi ini tidak sembarangan: jenis kelamin bayi yang baru lahir ditentukan secara fisik dari organ kelamin bayi yang terlihat dan dapat dipastikan secara genetik melalui tes DNA. Jenis kelamin memiliki fenotipe yang sangat eksplisit. Mengatakan sebaliknya sama sekali tidak ilmiah dan berarti kita harus menulis ulang setiap buku pelajaran biologi yang pernah ditulis.

Tapi bagaimana dengan orang yang mengaku sebagai “interseks”? Apakah kondisi yang sangat langka ini (dalam segala hal, satu dari ribuan, bukan ratusan) membuktikan bahwa seks adalah non-biner dan dalam spektrum? Tidak. Interseksualitas adalah fenomena biologis di mana seseorang mungkin memiliki ambiguitas genital atau varian genetik. Namun, dalam biologi manusia, anomali yang tidak umum ini tidak boleh meniadakan kategori yang binari.

Redefinisi modern tentang “gender” mengacu pada realitas psikologis sosial yang terlepas dari seks secara biologis. Ini adalah persepsi diri subjektif tentang menjadi laki-laki atau perempuan. Mengingat bahwa seks itu objektif dan gender itu subjektif, kita seharusnya menghargai penyesuaian ide subjektif seseorang dengan kebenaran objektif. Sebaliknya, yang terjadi adalah bukan demikian: budaya kita sekarang menghargai pengubahan objektif, mengubah realitas fisik tubuh kita untuk mengakomodasi kesan subjektif dari diri kita sendiri.

Di pasal pertama Alkitab, Tuhan menciptakan langit dan bumi dan memenuhi bumi dengan makhluk hidup. Mahkota penciptaan adalah Adam, atau manusia (manusia). Dan di antara berbagai karakteristik manusia, Tuhan menyoroti satu secara khusus: laki-laki dan perempuan. Kejadian 1:27 menyampaikan hubungan yang tak terbantahkan antara “gambar Allah” dan kategori ontologis laki-laki dan perempuan. Ayat ini terdiri dari tiga baris puisi, dengan baris kedua dan ketiga disusun secara paralel, menyampaikan korelasi antara citra Allah dan “laki-laki dan perempuan”.

Diciptakan menurut gambar Allah dan menjadi laki-laki atau perempuan adalah penting untuk menjadi manusia. Jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) tidak hanya bersifat biologis atau genetik, seperti halnya manusia tidak hanya bersifat biologis atau genetik. Seks, dalam definisi pertama dan terutama adalah realitas spiritual dan ontologis yang diciptakan oleh Tuhan. Menjadi laki-laki atau perempuan tidak dapat diubah oleh tangan manusia; seks adalah kategori karya tangan Tuhan, rancangan asli dan rancangan-Nya.

Sekeras apa pun orang mencoba mengubah fakta ini di tubuhnya sendiri, yang paling bisa dilakukan adalah menghilangkan atau menambah bagian tubuh secara artifisial atau menggunakan obat-obatan untuk menekan secara tidak wajar realitas biologis dan hormonal dari esensi seseorang sebagai pria atau wanita. Dengan kata lain, sekarang ini psikologi sosial menindas biologi; itu berarti “apa yang saya rasakan menjadi diri saya”. Saat menyangkal realitas fisik dan genetik ini, kita membiarkan pengalaman menggantikan esensi dan, yang lebih penting, citra Tuhan. Transgenderisme bukan semata-mata pertarungan untuk apa yang laki-laki dan perempuan, melainkan pertarungan untuk apa yang benar dan nyata.

Jadi bagaimana kita sampai di sini? Transgenderisme adalah buah postmodernitas. Postmodernisme, yang muncul dari romantisme dan eksistensialisme, memberi tahu kita bahwa “Anda adalah apa yang Anda rasakan”. Jadi, pengalaman berkuasa, dan segala sesuatu yang lain harus tunduk padanya. Sola experientia (“hanya melalui pengalaman sendiri”), oleh banyak orang Kristen yang tidak mau dianggap kolot, telah dimenangkan atas Sola Scriptura (“hanya melalui Alkitab saja”).

Tapi Tuhan berkata melalui ayat di atas bahwa Anda adalah siapa yang Ia tetapkan untuk menjadi apa, melalui penciptaan. Kebenaran bukanlah sesuatu yang kita rasakan; itu tidak didasarkan pada persepsi diri kita. Faktanya, kita tidak dapat mempercayai pikiran dan perasaan kita sendiri, jadi kita perlu menyerahkannya kepada Tuhan karena kita dapat “percaya kepada Tuhan untuk selama-lamanya, sebab Tuhan Allah adalah gunung batu yang kekal” (Yesaya 26:4).

Persepsi diri tentang gender dari orang yang berpegang kepada Alkitab adalah sesuai dengan jenis kelamin biologis mereka. Untuk sebagian orang lain, tidak demikian. Tekanan mental dari disonansi ini disebut disforia gender. Orang yang memilih untuk mengidentifikasi sebagai laki-laki bergender perempuan atau sebagai perempuan yang bergender laki-laki, atau sebagai pria atau wanita dengan bentuk-bentuk gender lainnya, pada dasarnya mengangkat psikologi di atas biologi.

Diletakkan dalam konteks kehancuran manusia, ketidaksesuaian antara gender dan seks pada diri seseorang mungkin tidak seaneh yang dipikirkan banyak orang. Sama seperti menyerah pada godaan adalah dosa sementara dicobai bukanlah dosa, menyerah pada persepsi diri tentang gender adalah dosa, tetapi pergulatan yang muncul dalam pikiran bukanlah dosa selama kita tidak menyerah.

Sebagai orang Kristen, marilah kita semua bersatu untuk menolak penempatan psikologi sosial di atas biologi kita. Sebaliknya, marilah kita menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan mengakui bahwa Dia tidak membuat kesalahan dalam menciptakan kita menurut gambar-Nya sendiri.

Menikmati adanya kemiskinan

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Matius 5: 3

Tempat berkemah yang dipenuhi tenda di sebuah kota kecil di Australia tidak seperti yang terlihat sebelumnya – penduduknya bukanlah wisatawan, melainkan penduduk setempat yang tidak dapat menemukan rumah untuk disewa. Lebih dari 50 keluarga tahun ini telah pindah ke kota tenda di Moruya, sebuah kota tepi pantai yang indah di pesisir selatan negara bagian New South Wales, sehingga tempat berlibur tersebut tidak lagi dibuka untuk wisatawan.

Tempat berkemah biasanya memiliki batas berapa lama orang yang dapat tinggal di sana – di bawah dua bulan – tetapi pemerintah setempat sekarang mengesampingkan ini karena mereka tidak punya tempat lain untuk pergi. Keadaan yang menyedihkan itu bukan sekadar fakta bahwa tidak ada pekerjaan di daerah tersebut. Sebaliknya, memang ada kelas baru tunawisma yang disebut pekerja miskin yang memiliki pekerjaan tetap, tetapi tidak dapat menemukan sewa jangka panjang yang terjangkau di daerah mereka. Mengapa demikian? Para penghuni kota-kota besar yang meninggalkan kota mereka selama pandemi Covid telah membeli banyak properti di daerah tersebut. Apa yang tersisa di Moruya, dimiliki oleh investor yang menyimpannya sebagai persewaan liburan jangka pendek atau persewaan untuk pekerja sementara. Harga tarif rumah sewaan kemudian melonjak tinggi.

Seorang ibu yang bernama Cassie telah menyewa tempat akomodasi dan hotel selama lebih dari enam bulan – pada akhirnya harus memilih antara membayar ongkos tempat tinggal atau biaya makan. Ia membangun tendanya di Moruya agar dapat membeli bahan makanan sehari-hari. “Aku sebenarnya ingin rumah untuk anakku. Aku hanya ingin anak laki-lakiku tumbuh bahagia dan sehat dan tahu bahwa mereka punya tempat tidur setiap malam,” katanya. Sayang, sekalipun kesejahteraan masyarakat adalah salah satu hal yang penting, mereka yang menderita selalu ada di negara mana pun. Kebahagiaan adalah hal yang sulit dicari.

Ucapan bahagia atau the Beatitudes adalah ucapan berkat yang disampaikan Yesus sewaktu Ia masih di dunia. Tempat dimana Yesus menyampaikan ucapan ini diduga adalah sebuah bukit dekat kota Tabgha dan Kapernaum di Israel. Apa yang disebutkan Yesus dan dikenal umat Kristen sebagai ucapan-ucapan bahagia adalah pernyataan Yesus mengenai apa yang baik bagi manusia untuk dipakai sebagai pedoman hidup (Matius 5: 1 – 12). Meskipun ada yang mengatakan bahwa jumlahnya ada 8, 9 atau 10, secara tradisional ada 8 ucapan bahagia karena ayat 11 dan 12 memakai kata “kamu” dan bukan “orang”.

Ucapan bahagia seringkali dipakai untuk bahan renungan atau khotbah, tetapi pada umumnya umat Kristen kurang bisa memahami artinya. Itu karena apa yang dikatakan Yesus adalah berlawanan dengan apa yang bisa diterima akal manusia. Ayat di atas misalnya, mempunyai 2 hal yang sulit dimengerti: yaitu “miskin di hadapan Allah” dan “empunya kerajaan surga”. Miskin tapi kaya? Bagaimana kita bisa berbahagia jika kita hidup dalam kemiskinan seperti Cassie?

Hal miskin di hadapan Allah adalah sesuatu yang tidak mudah dijelaskan. Sudah tentu ini bukan mengenai kemiskinan jasmani. Yesus tidak mengatakan bahwa mereka yang ingin dekat dengan Allah harus menjadi orang yang tidak berharta. Bagi Tuhan, orang berharta dan orang miskin tidak ada bedanya: mereka adalah orang berdosa yang sama-sama membutuhkan Dia. Walaupun demikian, mereka yang mengejar dan mencintai harta bisa menemui kesulitan untuk menjadi muridNya.

Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Markus 10: 21

Pada pihak yang lain, Yesus menyatakan bahwa mereka yang tidak kaya justru bisa mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan. Ketika Yesus melihat janda miskin yang mempersembahkan seluruh nafkanya, Ia bisa melihat bahwa hati janda ini dipenuhi dengan rasa syukur kepada Tuhan yang sudah membimbingnya. Sebagai manusia, janda ini adalah orang yang miskin di hadapan Allah, yang selalu bergantung kepada Tuhan.

Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” Markus 12: 43 – 44

Kemiskinan jasmani di dunia adalah konsekuensi dosa, tetapi itu tidak harus berarti kemiskinan rohani. Sebaliknya, mereka yang hidupnya terlihat kaya dan nyaman tetapi tidak merasakan kebutuhan spiritualnya adalah orang-orang yang jauh dari Tuhan dan miskin secara rohani. Kaya tapi miskin.

Baik kekayaan maupun kemiskinan jasmani bukanlah hal yang bisa memadamkan kasih dan kemuliaan Tuhan jika orang selalu sadar akan ketergantungannya kepada Tuhan. Kemiskinan di hadapan Allah (poor in spirit) dengan demikian menyatakan adanya penyerahan hidup secara total kepada Tuhan. Mereka yang miskin di hadapan Allah adalah orang kaya rohani karena dekat denganNya (yang empunya kerajaan surga). Mereka akan menjadi orang yang berbahagia.

Tuhan tidak selalu menghendaki atau menjanjikan umatNya kekayaan jasmani, tetapi Ia akan memberikan kekayaan rohani jika orang selalu merasa membutuhkan Tuhan atau merasa miskin di hadapanNya. Tuhan memerintahkan mereka yang diberkati Tuhan dengan kekayaan jasmani, agar mau menolong mereka yang miskin secara jasmani agar setiap umat-Nya dapat merasakan kebahagiaan rohani.

“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” Amsal 19:17