Keselamatan manusia bukan satu-satunya karunia Allah

” ..akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus…” Efesus 1:16-18


Efesus 1:15–23 merayakan nilai keselamatan kita di dalam Kristus. Doa Paulus untuk orang percaya di Efesus tidak hanya mencakup pujian atas hidup mereka, tetapi juga seruan untuk pertumbuhan mereka. Bagian ini sangat melibatkan kuasa Kristus. Sebagai orang percaya, kita bukan hanya pengikut Yesus, tetapi juga penerima berkat dan kuasa-Nya. Paulus berusaha untuk mengingatkan gereja Efesus bahwa pemahaman yang lengkap tentang Kristus pasti akan menuntun pada kasih yang lebih besar dan iman yang lebih kuat. Pengenalan akan Kristus (Kristologi) yang benar akan membentuk cara hidup yang benar bagi pengikut-Nya.

Ayat ini menambahkan dua detail pada doa Paulus. Pertama, Paulus menjelaskan dengan tepat kepada siapa dia berdoa: Allah Bapa. Namun, Paulus sekali lagi memasukkan referensi ke ketiga Pribadi Trinitas, Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus, dan kemudian menyebutkan “Roh hikmat”. Kata Roh ini dimulai dengan huruf besar, menunjukkan bahwa Paulus mengacu di sini pada Roh Kudus. Ini adalah salah satu dari selusin penyebutan Roh Kudus dalam surat ini.

Paulus juga memberikan dua poin khusus tentang apa yang dia doakan tentang orang Kristen di Efesus. Paulus telah menyebutkan pentingnya hikmat dalam Efesus 1:8. Kemudian, dia mengacu pada “berbagai hikmat Allah” dalam Efesus 3:10. Di sini, Paulus mengacu pada wahyu dalam arti khusus. Pewahyuan yang dibicarakan di sini berhubungan dengan hikmat, dan mencakup mengetahui rencana Allah bagi hidup setiap umat-Nya. Ini berbeda dengan “wahyu umum”, yaitu Allah menyatakan diri-Nya melalui alam (Mazmur 19). Ini juga tidak sama dengan “wahyu khusus”, yaitu firman Allah yang tertulis dalam Alkitab (2 Timotius 3:16).

Ayat di atas adalah salah satu bagian dari doa rasul untuk orang-orang kudus di Efesus, agar mereka dapat bertambah dalam pengetahuan ilahi; baik dalam pengetahuan tentang Tuhan, sebagai Tuhan Kristus, dan Bapa kemuliaan, dan sebagai Tuhan dan Bapa mereka di dalam Kristus; atau tentang Allah, sebagaimana dianggap dalam Kristus Sang Perantara; atau yang lain tentang Kristus sendiri: dan tidak berupa pengetahuan kira-kira dan spekulatif tentang Kristus, tetapi apa yang nyata dan terasa; dan yang digabungkan dengan kasih, iman, dan kepatuhan pada-Nya; dan meskipun tidak sempurna, namun progresif, tetap berkembang terus.

Untuk perkembangan kerohanian mereka, rasul Paulus berdoa; karena sekalipun orang-orang kudus ini memiliki pengetahuan tentang Kristus, tetapi ini tidak sempurna; dan karena itu ukuran yang lebih besar diinginkannya; dan untuk ini, dia berdoa memohon Roh, sebagai “Roh hikmat”; agar menanamkan hikmat rohani di dalam hati mereka, dan mengajar mereka dalam Injil. Hal ini jelas menyatakan bahwa sekalipun kita yakin akan keselamatan kita, kita masih harus berkembang dalam iman dan pengetahuan akan hal yang baik dan benar.

Hikmat Allah yang tersembunyi, menuntun orang percaya ke dalam semua kebenaran, dan membukakan bagi mereka harta hikmat dan pengetahuan, yang tersembunyi di dalam Kristus, hikmat Allah ; dan sebagai “wahyu”; yang mengungkapkan Kristus dan hal-hal tentang Kristus, pada pertobatan pertama; dan kemudian mengungkapkan Dia dan kebenarannya, dan berkat-berkat lain dari Dia secara lebih besar, dan melalui pertumbuhan iman memberikan pandangan yang lebih jelas tentang tujuan hidup mereka. Melalui ayat ini tampak, bahwa Roh hikmat adalah juga karunia Allah; dan bahwa semua cahaya dan pengetahuan spiritual, dan peningkatannya, adalah milik-Nya.

Bahwa orang Kristen sejati harus selalu tumbuh dalam iman dan hikmat adalah suatu karunia Tuhan selama mereka hidup di dunia. Mereka yang sudah lahir baru tidak akan tetap tinggal dalam bentuk bayi yang hanya bisa minum susu dan tidak bisa berjalan atau bekerja. Banyak orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan yang menyelamatkan mereka secara sepihak, adalah Tuhan yang mengubah hidup mereka secara sepihak, tanpa membutuhkan respons manusia. Karena itu mereka tidak mau berusaha untuk menggunakan hikmat dari Tuhan, tetapi hanya mengarapkan Tuhan mengubah hidup merreka. Tetapi itu bukanlah apa yang dinyatakan rasul Paulus dalam ayat ini. Mereka harus bertumbuh dalam iman dan pengertian akan Tuhan, sehingga mereka makin sadar akan harapan Tuhan. Paulus menulis dalam ayat berikutnya:

“Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus.” Efesus 1:18

Baik keselamatan maupun kekekalan bersama Tuhan adalah karunia yang luar biasa yang dimiliki oleh orang Kristen sejati. Keselamatan adalah oleh kasih karunia melalui iman kepada Kristus (Efesus 2:8-9) dan datang dengan harga kematian Yesus di kayu salib. Kekekalan bersama Tuhan adalah karunia masa depan yang dapat diantisipasi oleh setiap orang percaya dalam kehidupan ini, namun tidak akan dialami sampai setelah kehidupan di dunia berakhir. Pengharapan akan masa depan ini merupakan motivasi yang luar biasa untuk hidup suci, berbagi iman, saling mengasihi, dan untuk merrindukan hidup yang kekal.

Doa Paulus bergerak dari hikmat dan wahyu dalam Efesus 1:17 untuk menambah pencerahan dan pengetahuan dalam ayat ini. Penekanan dalam konteks ini adalah pada pemahaman tentang apa yang telah dilakukan dan disediakan oleh Allah. Ini tidak mengacu pada wawasan baru atau prediksi peristiwa masa depan. Orang percaya ini sudah mengetahui fakta keselamatan dan harapan masa depan orang percaya dengan Tuhan. Namun, Paulus ingin mereka lebih memahami pentingnya berkat-berkat ini selama hidup di dunia. Ini adalah kunci untuk mempertahankan hasrat untuk hidup baik dan saling mengasihi sekalipun itu tidak mudah; dan bukannya menjadi tidak bersemangat untuk melakukan apa yang baik.

“Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” Wahyu 2:2-4

Pagi ini, apakah Anda merasa jemu untuk berjalan dalam bimbingan wahyu khusus yang tertulis dalam Alkitab? Apakah Anda merasa bahwa setelah menerima karunia keselamatan, Anda tidak perlu berusaha keras setiap hari untuk menaati firman-Nya ? Apakah Anda merasa tidak akan mampu untuk menjadi umat Tuhan yang mempunyai hidup berlandaskan moral yang baik? Berdoalah kepada Tuhan agar Ia memberikan kepada Anda Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hati Anda terang, agar Anda mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi Anda jika Anda tetap setia!

Apakah dinosaurus anti Tuhan?

“Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu. Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan.” Kejadian 2:1-4

Hari ini saya menyempatkan diri untuk mengunjungi museum negara di kota Brisbane. Saya sudah sering mengunjungi museum di berbagai tempat, tetapi baru sekali ini masuk ke museum di negara bagian Queensland ini. Kali ini saya ingin melihat pameran Dinosaurus sebelum itu berakhir. Di museum itu saya melihat berbagai kerangka dinosaurus, kecil maupun besar. Saya takjub bagaimana Tuhan menciptakan hewan yang aneh dan berbagai jenis, yang secara umum dinamakan dinosaurus. Hewan yang semuanya sudah menjadi fosil itu diperkirakan ada di bumi sejak 270 juta tahun yang lalu.

Ada banyak diskusi bagaimana orang Kristen harus menanggapi berapa usia bumi ini dan segala isinya. Sebagian besar orang Kristen percaya bahwa berdasarkan Alkitab, bumi ini paling lama berumur sekitar 6 ribu tahun dan karena itu tidak mungkin dinosaurus berumur jutaan tahun. Adanya dinosaurus kemudian menjadi persoalan bagi orang yang percaya kebenaran sains, yang kemudian menyatakan bahwa Alkitab bukanlah berisi kebenaran sejati. Untuk sebagian orang Kristen, apa yang diajarkan di sekolah mengenai dinosaurus seakan memusuhi Tuhan.

Apa yang ditulis dalam Alkitab mengenai penciptaan bumi dan isinya?

  • Hari 1 : Langit dan bumi diciptakan dan “Jadilah terang”.
  • Hari 2 : Allah menciptakan cakrawala
  • Hari 3 : Daratan dipisahkan dengan lautan; tumbuh2an diciptakan
  • Hari 4 : Matahari, bulan dan bintang diciptakan
  • Hari 5: Binatang di lautan dan burung di udara
  • Hari 6 : Binatang dibumi, ternak dan binatang melata, manusia pertama diciptakan (Adam dan Hawa)

Sebagai orang Kristen, haruskah kita menyambut baik penemuan-penemuan ilmiah yang tidak sesuai dengan pernyataan Alkitab? Ataukah kita harus menganggap bahwa mereka menyerang prinsip dasar iman kita? Artikel 2 dari Pengakuan Iman Belgia dengan indah menggambarkan wahyu umum Allah (alam semesta) dan wahyu khusus (Alkitab) sebagai dua buku yang ditulis oleh penulis yang sama. Sebagai orang Kristen, kita mengakui bahwa Allah sempurna dalam kedua wahyu dan bahwa Allah tidak bertentangan dengan dirinya sendiri.

Kita mengenal Dia melalui dua sarana.
Pertama, melalui penciptaan, pemeliharaan, dan pemerintahan seluruh alam. Sebab di depan mata kita alam itu bagaikan buku yang indah, yang di dalamnya segala ciptaan Allah, yang besar maupun kecil, menjadi seperti huruf-huruf yang menyatakan kepada kita apa yang tidak tampak dari Allah, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, menurut perkataan Rasul Paulus dalam Rom 1:20. Semua itu cukup untuk membuktikan kesalahan manusia sehingga mereka tidak dapat berdalih.

Kedua, Dia memperkenalkan diri kepada kita dengan lebih jelas dan sempurna lagi oleh Firman-Nya yang kudus dan ilahi, yaitu sekadar kebutuhan kita dalam hidup ini, demi kemuliaan-Nya dan demi keselamatan orang-orang milik-Nya.

Alkitab adalah Firman Tuhan yang kudus dan ilahi, tetapi itu bukan buku sains. Alkitab penuh dengan keajaiban dan peristiwa supranatural. Sains, di sisi lain, adalah studi hukum alam dengan tujuan memprediksi apa yang harus terjadi dalam percobaan dan kemudian secara empiris menguji hipotesis tersebut. Ranah sains terbatas pada hukum alam semesta dan karena itu tidak termasuk keajaiban.

Menurut definisi, keajaiban adalah pelanggaran terhadap hukum alam semesta yang menghasilkan akibat yang tidak terduga. Dengan demikian, para ilmuwan tidak diperbolehkan memasukkan keajaiban ke dalam solusi mereka. Demikian pula, jika seorang pasien meninggal di meja operasi, ahli bedah tidak akan berharap pasien tersebut akan dibangkitkan beberapa hari kemudian dengan semua lukanya sembuh. Dalam kehidupan Kristiani, sains dan agama tidak dipisahkan – tetapi kita perlu membuat perbedaan yang jelas di antara keduanya.

Lebih dari seratus tahun yang lalu, teori relativitas umum Albert Einstein menyatakan adanya gelombang gravitasi. Kemudian tim ilmuwan di Antartika menemukan bukti bahwa gelombang ini memang terjadi. Patut kita ketahui bahwa para ilmuwan telah mempelajari bukti-bukti selama bertahun-tahun. Setiap tim ilmuwan yang berbeda, dengan peralatan yang berbeda dan dengan hipotesis yang berbeda, akan mencoba membuktikan atau menyangkal penemuan yang sudah ada. Sains harus menjelaskan usia alam semesta tanpa menggunakan keajaiban. Tetapi sebagai orang Kristen, kita tahu bahwa Tuhan hidup di dalam dan di atas ruang-waktu, dan bahwa Dia menggunakan cara alami dan supranatural untuk menciptakan alam semesta.

Orang Kristen percaya bahwa Kristus memiliki kodrat manusia dan kodrat ilahi. Kita tentu saja membedakan antara kedua kodrat ini, tetapi kami tidak dapat memisahkannya. Hal yang sama berlaku untuk sains dan teologi. Para astronom telah menemukan planet seukuran bumi di zona layak huni di sekitar bintang yang sangat jauh dari bumi. Ada kemungkinan bahwa pada suatu saat mereka akan menemukan planet yang mirip bumi, yang mengandung udara dan air yang cukup. Apa arti penemuan bumi kembar bagi iman kita? Apa yang telah kita pelajari dari Galileo? Kita telah belajar bahwa sains tidak mengoreksi Alkitab, tetapi itu mengoreksi pengertian kita tentang isi Alkitab.

Apakah bumi berumur 6000 tahun atau 4,54 miliar tahun? Jawaban yang jujur dan rendah hati adalah bahwa kita tidak bisa menjawabnya berdasarkan isi Alkitab. Alkitab dengan jelas memberi tahu kita usia Adam ketika dia meninggal, tetapi tidak dengan jelas memberi tahu kita tentang usia bumi. Teori ilmiah yang dominan adalah bahwa bumi sudah sangat tua, tetapi beberapa orang Kristen percaya bahwa bumi memang terlihat tua, tetapi sebenarnya jauh lebih muda.

Kita harus percaya bahwa Tuhan tidak mencoba menipu manusia dengan menciptakan cahaya bintang dalam perjalanan atau sisa-sisa fosil di bumi yang terlihat sangat tua umurnya. Allah juga tidak menyembunyikan endapan batu bara, minyak, dan gas alam yang telah diproses sebelumnya dan diiletakkan dalam strata geologis yang tepat. Allah adalah Tuhan langit dan bumi. Dia adalah pencipta alam dan supranatural, dan Dia imanen (immanent) – yaitu, di alam semesta, dan transenden (trancendent) – melampaui ruang dan waktu.

Bagaimana orang Kristen dapat mengembangkan sudut pandang yang ilmiah dan juga alkitabiah? Adanya reformasi telah memberi kita wawasan yang memungkinkan kita untuk membedakan antara teologi yang baik dan teologi yang buruk. Banyak dari wawasan itu juga berfungsi untuk membedakan sains yang baik dari sains yang buruk.

Sains dapat memberikan pengalaman yang luar biasa bagi Anda dan anak-anak Anda. Anda dapat mengunjungi temat fosil dan memegang sendiri fosil berusia 30 juta tahun dengan detail fisik yang menakjubkan. Atau jelajahi kawah yang dibentuk oleh meteor yang jatuh yang berusia 50 ribu tahun, atau kagumi lukisan kangguru yang dibuat oleh penduduk asli Australia yang berusia lebih dari 17 ribu tahun. Dengan mengunjungi pameran sains dan teknik di mana Anda dapat melihat, menyentuh, dan menggunakan teknologi terkini.

Orang tua dan kakek nenek kita hidup di dunia di mana sains masih belum populer atau maju. Sebaliknya, anak-anak kita hidup di dunia di mana sains menjadi arus utama, dan mereka harus hidup dengan memakai pengetahuan sains, teknologi, teknik, dan matematika. Kaum muda Kristiani saat ini membutuhkan keterlibatan sains yang kuat dan positif dalam konteks iman. Jadi mari kita mendukung pendidikan sains anak cucu kita sambil mengajarkan bahwa Alkitab mengajarkan hubungan rohani antara manusia dengan Sang Pencipta, dan bukannya tentang kapan dan bagaimana Ia menciptakan seisi jagad raya secara terperinci. Biarlah kita selalu berdoa agar mereka mendapatkan hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.

“Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.” Efesus 1:16-17

Antara kehendak Tuhan dan perintah-Nya

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Manusia yang memilih Tuhannya, ataukah Tuhan yang memilih manusia? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sering diperdebatkan manusia, terutama dikalangan umat Kristen. Pertanyaan yang serupa, tetapi lebih mudah dijawab adalah: manusia yang memilih agama, atau agama yang memilih pengikutnya? Sudah tentu manusia memilih agamanya, tetapi agama tidak sama dengan Tuhan. Hidup beragama belum tentu membawa pengenalan yang benar akan Tuhan. Tuhan memilih kita untuk diselamatkan, tetapi kita memilih gereja yang mengajarkan kabar keselamatan itu.

Tuhan dengan sifat dan eksistensi-Nya sudah tentu tidak dapat dimengerti manusia. Tidak ada seorang pun yang hidup di dunia ini pernah ke surga dan melihat Tuhan. Segala tindakan Tuhan adalah berdasarkan kebijakan-Nya, yang sudah barang tentu tidak terjangkau oleh pikiran manusia. Karena itu, sangat sulit diterima pendapat sebagian orang yang merasa bahwa mereka sudah “menemukan” Tuhannya. Dalam kenyataannya, banyak orang yang sampai akhir hidupnya tidak bisa percaya adanya Tuhan, dan ada juga orang yang percaya kepada sejenis kuasa ilahi tanpa bisa mengenal siapa dia. Selain itu, ada juga orang-orang yang percaya akan adanya kuasa ajaib yang diyakini bisa memberikan apa saja yang mereka inginkan, seperti seorang jin yang bisa diperhamba.

Bagi umat Kristen, terlepas dari hal bagaimana dan sejak kapan manusia mengenal Tuhannya, mereka menerima pernyataan bahwa Tuhanlah yang memilih manusia untuk diperkenalkan kepada Dia. Mereka yang dipilih Tuhan, diberi kesempatan, jalan dan bimbingan untuk dapat merasakan kuasa, kasih dan eksistensi Tuhan, sekalipun mereka tidak lagi dapat melihat Tuhan dengan mata jasmani. Karena itu mereka bisa percaya.

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Yohanes 20: 29

Kepercayaan bahwa Tuhan sudah memilih kita seperti Yesus memilih murid-Nya adalah sebuah hal yang sangat signifikan, karena pikiran manusia tidak bisa membayangkan apa untungnya Tuhan memilih manusia yang penuh dosa, yang selalu ingin berontak dari Tuhan. Mengapa Tuhan begitu ingin untuk memilih umat-Nya? Karena adanya pengurbanan Kristus di kayu salib, barulah kita bisa sadar bahwa itu semua karena kasih-Nya.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8.

Dari ayat pembukaan di atas, kita bisa melihat bahwa Tuhan juga menetapkan umat-Nya untuk menghasilkan buah, yaitu berbagai bentuk kasih untuk sesama manusia. Kata “menetapkan” dalam Alkitab sering diartikan sebagai “membuat”, tetapi dalam ayat ini lebih tepat diartikan sebagai “mengutus” (ethēka). Jika “memilih” adalah sesuatu yang dilakukan Tuhan secara sepihak, “mengutus” memerlukan tanggapan positif dari yang diutus, untuk mau melaksanakan tugas yang diberikan.

Jika buah dari pengurbanan Kristus di kayu salib adalah keselamatan kita, buah dari keselamatan kita, yang tumbuh karena Yesus sudah memilih kita, bisa membawa kemuliaan bagi Tuhan. Mereka yang tidak pernah atau tidak berminat untuk berbuah sudah tentu bukanlah orang taat kepada Tuhan, karena ayat di atas menyatakan bahwa barang siapa yang dipilih-Nya, sudah diperrintahkan-Nya untuk berbuah.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23 

Jika Tuhan sudah memilih kita, tidak ada oknum atau kuasa apa pun yang dapat menggagalkannya, termasuk diri kita sendiri. Tetapi, setiap kali Tuhan menghendaki dan menyuruh manusia untuk berbuat sesuatu, Ia membutuhkan respon mereka atas perintah-Nya. Dengan demikian, jika Tuhan menyuruh kita untuk berbuah, iblis akan mencari kesempatan untuk mencegahnya. Setiap orang Kristen sejati selalu menyambut karunia Roh Kudus untuk bisa berbuah, dan berusaha keras untuk menggunakannya. Walaupun demikian, karena mereka bukanlah orang yang sudah sempurna, terkadang mereka jatuh dalam bujukan iblis.

Pada pihak yang lain, mereka yang dengan sengaja mengabaikan panggilan Roh Kudus adalah orang-orang Kristen yang menolak tugas yang diberikan Tuhan setelah menerima pengampunan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang mendukakan Roh Kudus, dan karena itu tidak dapat berbuah, dan itu dapat terlihat dari cara hidup mereka yang sekalipun mengaku Kristen, selalu berpusat pada diri sendiri dan sibuk dengan apa yang membawa kenikmatan dan kemuliaan diri sendiri. Itu bisa disebabkan oleh dua sebab, diri sendiri adan lingkungan. Mereka yang taat kepada firman Tuhan dan hidup dalam lingkungan yang baik akan berbuah banyak (Matius 13:23).

Ada kalanya jika orang Kristen berusaha untuk berbuat baik dan mengasihi sesama, orang lain dan bahkan orang seiman, menuduhnya sebagai orang yang hanya berpura-pura. Itu mungkin benar, karena tidak mudah bagi siapa pun untuk berbuat baik untuk kemuliaan Tuhan. Terkadang, dari diri sendiri ada juga keseganan untuk berbuat baik karena merasa tidak mampu. Dalam hal ini perlu diingat bahwa buah Roh adalah hasil pekerjaan Tuhan dalam hidup orang yang sudah terpilih. Manusia dalam kodrat lamanya adalah makhluk yang tidak dapat memuliakan Tuhan. Tetapi, mereka yang sudah lahir baru akan menerima kodrat baru sebagai orang yang sudah diselamatkan, dan dapat mengerti dan membedakan apa yang baik dan buruk berdasarkan firman Tuhan.

Umat Tuhan yang sudah diselamatkan, telah dimungkinkan oleh Roh Kudus untuk hidup makin lama makin kudus. Itu adalah janji Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Dengan demikian, setiap umat-Nya akan dapat melakukan apa yang baik, yang sesuai dengan kehendak Tuhan, sekalipun belum bisa secara sempurna. Mereka akan tetap ingin melaksanakan perintah Tuhan untuk berbuah, sekalipun banyak godaan yang berusaha menghentikannya.

Bagaimana dengan kita? Sanggupkah, dapatkah, manusia yang lemah seperti kita menggunakan hidup kita untuk kemuliaan-Nya? Tuhan yang sudah memilih kita adalah Tuhan yang mahakuasa, dan Ia mendengar doa-doa kita, supaya apa yang kita minta kepada Bapa dalam nama Yesus akan diberikan-Nya kepada kita. Karena itu kita harus yakin dalam iman bahwa jika Tuhan berserta kita, tidaklah ada yang perlu kita kuatirkan dalam hidup kita.

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Yohanes 15:5-6

Hubungan antara jemaat dan pendeta

“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” Ibrani 13:17

Sejak 20an tahun yang lalu saya mengamati perubahan yang terjadi dalam hubungan antara jemaat dan pemimpin gereja di negara Australia. Jika pada masa sebelumnya, hubungan itu terlihat formal, sekarang makin banyak jemaat yang memperlakukan pendeta mereka sebagai teman. Memang di zaman ini banyak pendeta yang masih berusia muda, dan dari penampilan mereka kita mungkin tidak akan menduga bahwa mereka adalah seorang pemimpin gereja. Sebenarnya tidak ada masalah dalam hal ini, karena jika hubungan antara pendeta dan jemaatnya akrab, tentunya akan membawa kebaikan.

Mungkin jarang disadari bahwa sekalipun seorang pendeta menemui banyak orang dalam tugasnya, pelayanan bisa menjadi profesi yang sepi, karena itu adalah tugas berat yang sering harus dilakukan seorang diri. Tentu saja, kesepian merupakan masalah di seluruh masyarakat. Tetapi para pendeta menghadapi dilema yang unik, karena mencari tahu di mana ia bisa menemukan teman bisa sama sulitnya dengan membentuk hubungan itu. Mungkin mereka merasa jemaat tidak bisa berhubungan dengan mereka, dan sebaliknya anggota gereja dapat dengan mudah mengisolasi pendeta secara tidak sengaja.

Satu hal yang mulai berkurang pada zaman modern ini adalah rasa hormat kepada pimpinan gereja, terutama pendeta atau pastornya. Bagi banyak jemaat, mungkin para pimpinan gereja itu hanya orang-orang yang bekerja di gereja, seperti mereka yang bekerja di sebuah badan sosial. Apalagi, mereka sadar bahwa pendapatan pendeta bergantung pada dana gereja yang berasal dari uang persembahan jemaat. Jemaat sering lupa bahwa ada mereka adalah orang-orang yang ditentukan Tuhan sebagai gembala, dan ini tidak berubah sejak terbentuknya gereja pada zaman Perjanjian Baru.

Ayat di atas memberi tahu kita bahwa kita harus menaati dan menghormati pemimpin kita karena “mereka menjaga” jiwa kita. Para pemimpin Kristen yang saleh dan dewasa layak dan wajib kita hormati karena mereka adalah gembala-gembala yang memperhatikan pertumbuhan rohani kita. Kita harus sadar bahwa Yesus, Gembala besar kita yang Ilahi, menggunakan posisi-Nya untuk membantu kita bertumbuh menuju kedewasaan rohani melalui wakil-wakil-Nya yang ada di dunia.

“Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.” 1 Petrus 2:25

Seperti yang telah kita lihat dalam hidup banyak orang Krisen lainnya, salah satu cara kita menghormati gembala kita adalah dengan menjalani kehidupan ibadah yang tercermin dalam pujian kepada Allah dan pelayanan kepada sesama (Ibrani 13:15-16). Itu karena seorang gembala yang baik tentu mengharapkan jemaatnya untuk sepenuhnya taat kepada firman Tuhan. Ayat di atas menyatakan bahwa kita dipersiapkan oleh Tuhan untuk perjuangan iman dan menjalani kehidupan Kristen yang saleh, dengan menaati para pemimpin kita yang memberi bimbingan dalam pertumbuhan iman dan moral kita.

Sepanjang perjalanan kekristenan kita, kita mungkin sudah menghadapi banyak kesulitan dan pencobaan yang berusaha menjauhkan kita dari Yesus. Jika kita harus percaya pada usaha kita sendiri, tentu kita tidak akan pernah berhasil. Jika tidak karena kasih karunia Allah yang menopang, yang menjadi milik kita melalui kehendak-Nya, kita tidak akan bisa bertahan sampai akhir. Dalam hal ini, kasih karunia Allah bisa dinyatakan dalam berbagai bentuk, antara lain berupa gembala gereja yang melayani jemaatnya.

Allah telah menetapkan bahwa selagi Dia menjamin ketekunan kita, kita dipanggil untuk bergantung kepada Yesus; itu berarti bahwa ketekunan terjadi melalui keputusan-keputusan kita. Ketekunan bukanlah secara otomatis datang kepada setiap orang percaya. Allah memastikan keselamatan akhir bagi semua umat pilihan-Nya, tetapi Ia melakukan ini dengan menetapkan dan kemudian memberikan sarana yang dengannya umat pilihan-Nya membuat keputusan untuk tetap dalam iman yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Tuhan berdaulat, tetapi manusia harus bertanggung jawab atas hidupnya. Karena itu, menghormati gembala kita adalah tanggung jawab kita jika kita sadar akan perintah Tuhan. Tuhan memastikan bahwa kita akan membuat keputusan ini dengan memberi kita hati yang mau menuruti nasihat-Nya. Setelah Dia secara berdaulat melahirkan kita kembali, kita menerima keinginan untuk menaati perintah-Nya dan menguatkan diri kita untuk perlombaan yang akan datang (Ibrani 12:12-13).

Jelas bahwa kita harus menaati para pemimpin gereja yang menjaga jiwa kita. Sayangnya, ada banyak orang yang menjadi pemimpin di gereja yang tidak memiliki kepedulian terhadap kawanan domba mereka, dan berada dalam posisi mereka hanya untuk kekuasaan atau untuk ketenaran. Banyak tokoh gereja yang mahir berdebat, tetapi tidak mempunyai hati untuk pertumbuhan kerohanian jemaatnya. John Calvin, dalam komentarnya pada ayat ini, mengingatkan kita bahwa pemimpin yang seperti itu tidak pantas dihormati atau dipercaya. Pemimpin yang patut dihormati adalah orang yang taat kepada ayat ini:

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Markus 10:43-45

Namun, kita tidak boleh membiarkan ayat ini membuat kita berharap bahwa para pemimpin kita sempurna. Selain Yesus, tidak ada hamba Allah yang sempurna. Ketika kita melihat pemimpin gereja yang saleh dan peduli, kita harus mengabaikan kesalahan kecil yang mungkin ada (ini membuktikan bahwa kita adalah manusia) dan tunduk pada bimbingan mereka. Karena dengan tunduk kepada mereka, kita menunjukkan bahwa kita tunduk kepada Kristus.

Seperti orang lain, seorang pendeta membutuhkan teman. Dan masuk akal jika ia menemukan teman dalam satu kelompok yang paling sering dijumpainya. Di sisi lain, persahabatan bisa menjadi rumit. Apakah ada risiko dalam berteman dengan orang-orang yang selalu sependapat dengan dia? Haruskah pendeta menjadi teman dekat anggota gerejanya saja?

Salah satu jawaban adalah bahwa pendeta dapat dan harus mencari persahabatan di antara jemaatnya. Yang lainnya adalah bahwa seorang pendeta dapat melayani jemaatnya dengan lebih baik jika ia mau mencari teman dekat di tempat lain dan belajar dari tokoh-tokoh gereja lain sekalipun mereka berbeda pendapat dalam banyak hal. Ini karena tidak ada hal yang sempurna di dunia ini, dan itu termasuk pengertian kita atas firman Tuhan. Pada akhirnya, mungkin tidak ada jawaban yang cocok untuk semua keadaan. Tapi mempertimbangkan pertanyaan ini dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih tepat tentang bagaimana kita bisa mendukung pendeta kita dalam pelayanannya.

Sebagai jemaat, kita harus prihatin jika pendeta kita terlihat kurang gembira dalam pelayanannya, dan mempunyai banyak keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagi jemaat. Ada kalanya, pendeta mengalami masalah ekonomi, masalah keluarga, masalah dengan organisasi gereja atau masalah dengan gereja atau pendeta lain. Itu akan terlihat dari pelayanannya yang mungkin terasa terpusat pada beberapa hal yang spesifik saja, yang mrngkin merupakan pencetusan pengalaman pribadinya.

Gereja adalah tempat yang tepat bagi orang-orang untuk saling menguatkan, menyemangati, mengasah pikiran dan mendoakan satu sama lain. Karena itu kita harus mau membina hubungan kita satu dengan yang lain untuk bisa mendukung, menasihati, dan menegur berdasarkan firman Tuhan.

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3:16

Kita memahami bahwa persahabatan bisa rumit. Tetapi hubungan apa pun bisa menjadi berat dengan masalah dan ketegangan. Pikirkan tentang mereka yang perlu dilayani. Anda sering melihat mereka dalam keadaan terburuk, ketika mereka sangat membutuhkan bantuan kerohanian dari pendeta. Jika seorang pendeta hanya sibuk dengan apa yang ada dalam hidupnya, dan memusatkan pikiran dan tenaga untuk mencetuskan apa yang ada dalam pikirannya saja, ia akan kurang dapat melayani kebutuhan jemaatnya dari hati ke hati. Tingkat kerentanan itu dapat menciptakan kegelisahan dan ketidaknyamanan dalam kehidupan jemaat sehari-hari.

Pagi ini, firman Tuhan menyatakan bawa kita harus menghormati para pemimpin gereja kita. Kita harus mendukung mereka dan menggiatkan hubungan persahbatan yang baik dengan mereka, sehingga kita bisa menyokong, menolong, menasihati dan menegur jika perlu. Kita harus bisa ikut merasakan pergumulan mereka baik secara jasmani maupun rohani. Kita harus peka akan apa yang mungkin menjadi masalah yang mereka hadapi dan bersedia untuk menolong. Hilangnya kesabaran, kelemahlembutan dan munculnya kemarahan dan keluh kesah pada diri mereka, baik di luar gereja maupun didalam gereja, bisa menunjukkan adanya masalah. Sebagai jemaat kita harus mau menolong mereka, agar mereka dapat melakukan tugasnya dengan baik dan memberitakan Injil agar makin banyak orang yang diselamatkan.

Dapatkah kita menjadi murtad?

“Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum. Ibrani 6:4-6

Kemurtadan (apostasi) secara ringkas berarti berpaling dari iman. Istilah Apostasi berasal dari kata Yunani apostasia (“ἀποστασία”) yang berarti pembelotan atau pemberontakan. Seorang yang murtad adalah orang yang pernah mengaku sebagai orang Kristen, tetapi telah meninggalkan Kekristenan secara permanen. Ini bisa dibayangkan seperti seorang anak yang hilang yang sudah kembali ke rumah bapanya, tetapi tidak mau bekerja dengan jujur, dan kemudian pergi menghilang untuk selamanya. Sang bapa sudah memberi segala sesuatu, baik bimbingan, dukungan, dan kesempatan kepada anak itu, tetapi ia memutuskan untuk tidak mau tunduk kepada bapanya.

Kemurtadan secara tegas merupakan perbuatan serong manusia yang berlawanan dengan iman yang menuntut kesetiaan orang Kristen kepada Yesus dalam hidupnya. Seorang murtad adalah orang yang pernah mengaku sebagai seorang pengantin Kristus, tetapi telah menanggalkan dan meninggalkan ikatan suci itu secara permanen.

Alkitab menggambarkan hal murtad seperti sebuah koin yang mempunyai dua sisi; namun, dalam kenyataannya ada orang Kristen yang terlalu menekankan pentingnya satu sisi saja. Di satu sisi, Alkitab memperingatkan orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus: Allah pada akhirnya tidak akan menyelamatkan mereka jika mereka tidak bertekun dalam iman dan melakukan perbuatan baik. Di sisi lain, Alkitab menghibur para pengikut Kristus yang sejati dengan kepastian: Allah melestarikan iman semua orang Kristen sejati sebagai jaminan abadi (dengan pemeliharaan-Nya) dan semua orang Kristen sejati akan bisa memakai iman itu (dengan ketekunan).

Kemurtadan, pelestarian, ketekunan, dan kepastian adalah empat konsep teologis berbeda yang saling berhubungan dalam hal iman. Sulit untuk membicarakan salah satu dari mereka tanpa membicarakan tiga lainnya. Tetapi kita perlu untuk menyadari bahaya kemurtadan. Apa yang terjadi jika pemberitaan gereja hanya menekankan pentingnya kepastian keselamatan dari Allah (dengan pelestarian-Nya)? Kalau ini terjadi, ada bahaya bahwa jemaat tidak akan mengerti perlunya orang Kristen sejati melanjutkan iman (dengan ketekunan) sampai mati.

Lalu bagaimana jika pemberitaan gereja terlalu mementingkan pentingnya ketekunan untuk hidup baik? Ada risiko bahwa jemaat gereja akan berlomba-lomba melalukan hal-hal yang dianggap dapat membeli keselamatan. Tetapi, kemungkinan ini secara logis tentunya lebih baik dari yang pertama jika kita benar-benar orang pilihan; karena dengan ketekunan kita nama Tuhan bisa dipermuliakan. Ini adalah satu hal yang harus diingat, terutama karena Yesus menyatakan bahwa moralitas kita harus lebih baik dari orang Farisi.

“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius‬ ‭5‬:‭20‬ ‭

Mengenai kemungkinan murtad, ada semacam ketegangan di seluruh Perjanjian Baru antara perlunya pesan Alkitab yang berisi peringatan dan penghiburan. Di satu sisi, Allah memperingatkan orang-orang yang mengaku beriman, bahwa pada akhirnya Ia tidak akan menyelamatkan mereka jika mereka tidak bertekun dalam iman dan perbuatan baik. Di sisi lain, Tuhan menghibur orang Kristen sejati, bahwa Dia akan memelihara mereka sampai akhir. Mengambil kedudukan yang seimbang antara kedua fungsi ayat Alkitab ini terkadang sulit dilakukan oleh mereka yang memilh salah satu dan merasa bahwa Tuhan sudah memberi pengertian yang paling benar.

Sisi 1: Tuhan akhirnya tidak akan menyelamatkan Anda jika Anda tidak bertekun dalam iman dan perbuatan baik

Martin Luther pernah berkata bahwa manusia diselamatkan hanya oleh iman saja, tetapi bukan oleh iman yang tidak menghasilkan perbuatan. Tidak semua orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus sebenarnya adalah pengikut Kristus (Matius 7:21–23). Apa yang tampak sebagai iman yang sejati bisa jadi sebenarnya palsu (Matius 13:1–23). Itulah sebabnya Alkitab berulang kali memperingatkan mereka yang mengaku Kristen untuk berhati-hati terhadap bahaya kemurtadan (misalnya, Yohanes 15:1–8; 1Korintus 15:1–2).

Bagian-bagian peringatan adalah sarana yang ditetapkan Allah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan Allah. Yaitu, mereka adalah salah satu cara Tuhan memastikan bahwa semua orang percaya sejati akan bertahan. Tetapi, peringatan-peringatan ini juga memberi gambaran bagaimana orang yang tidak benar-benar beriman akan gagal menghasilkan buah-buah yang baik selama hidupnya.

Sisi 2: Tuhan akan menjaga orang Kristen sejati sampai akhir

Seseorang yang pernah mengaku Kristen bisa menjadi murtad. Tetapi seorang Kristen sejati tidak bisa menjadi murtad. Mereka yang murtad dan meninggalkan persekutuan orang beriman, menunjukkan bahwa mereka tidak pernah menjadi orang Kristen sejati: “Mereka keluar dari kita, tetapi mereka bukan dari kita; karena jika mereka adalah dari kita, mereka akan terus bersama kita. Tetapi mereka keluar, agar menjadi jelas bahwa mereka semua bukan dari kita” (1Yohanes 2:19).

Allah memelihara semua orang Kristen sejati melalui pelestarian. Pelestarian (atau pengamanan kekal) adalah karya berdaulat Allah untuk memelihara semua orang Kristen sejati melalui iman sebagai jaminan keselamatan kekal (Yohanes 6:39). Semua orang yang benar-benar percaya memiliki keamanan kekal dan tidak dapat kehilangannya karena Allah itu setia dan mahakuasa. Semua orang Kristen sejati bertekun dalam iman. “Mereka tidak akan binasa sampai selama-lamanya” (Yohanes 10:28).

Itu tidak berarti bahwa orang Kristen sejati tidak pernah kehilangan iman mereka untuk sementara waktu, menentang Allah, atau berbuat dosa. Orang Kristen adalah pendosa~pendosa yang sudah bertobat, tetapi bukan orang yang sudah sempurna. Dalam hal ini, mereka yang mengaku Kristen harus berhati-hati dengan iman palsu. Merasa aman dengan jaminan palsu (bahwa setiap orang yang mengaku Kristen adalah orang pilihan) bisa berakhir dengan neraka, bertentangan dengan harapan mereka (Matius 7:21-23). Maka itu, mereka yang mengaku Kristen harus rajin meneguhkan panggilan dan pilihannya dengan memupuk kualitas iman, kebajikan, pengetahuan, pengendalian diri, ketabahan, kesalehan, kasih persaudaraan, dan kasih (2 Petrus 1:5–7, 10) . Orang Kristen harus memupuk “iman yang bekerja oleh kasih” (Galatia 5:6).

“Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya, Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.” Yudas 1:24-25

Tuhan harus makin besar, tetapi kita harus makin kecil

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes 3:30

Ayat di atas mungkin cukup dikenal, tetapi agaknya tidak terlalu sering dikhotbahkan di gereja. Perlu diketahui, ayat itu menjelaskan dua aspek kehidupan orang Kristen:

  • Hubungan antara dua tokoh
  • Hubungan umat Kristen dengan Tuhan

Ayat di atas adalah tentang hubungan vertikal dan bukan meengenai hubungan horisontal manusia, yaitu hubungan antar manusia secara umum.

Yohanes Pembaptis datang untuk mengumpulkan orang bagi Mesias yang akan datang, yaitu Yesus (Yohanes 1:23; Yohanes 3:28). Seiring waktu, ketika Yesus sudah dikenal, lebih banyak orang mengikuti Dia daripada Yohanes. Ini sama sekali tidak menunjukkan adanya suatu masalah. Tidak ada yang salah dengan pesan Yohanes, atau pelayanannya. Tujuan dia berkhotbah adalah untuk mendorong orang untuk mengikuti Mesias. Jadi, ketika Yesus nenjadi lebih terkenal, dia justru senang. Di ayat 29, dia membuat analogi tentang seorang sahabat dari pengantin pria di pesta pernikahan. Sahabat itu merasakan kegembiraan ketika pengantin pria mendapat perhatian. Tidak ada iri hati, tidak ada penyesalan.

Yohanes Pembaptis juga tahu bahwa orang tidak dapat mengikuti dia dan Yesus secara bersamaan. Jika pesannya diturut pengikutnya, mereka pindah dari pelayanannya, dan menjadi murid Yesus. Ini adalah situasi yang sama yang dialami oleh para pemimpin Kristen saat ini. Tujuan utama penginjilan, pengajaran dan khotbah seharunya untuk mengajak masyarakat untuk mengikut Yesus, bukan untuk memenuhi gereja mereka. Dan pada titik tertentu, orang-orang itu harus tumbuh dan menjadi dewasa dalam iman. Inti dari pelayanan bukanlah untuk membuat pendeta dan gerejanya terlihat baik, atau membuat pendeta dan gereja lain terlihat buruk, tetapi untuk membantu sesama manusia, siapa pun juga, dalam kerohanian mereka.

Dengan meniru jejak Yohanes, pemimpin Kristen yang baik tidak akan menjelek-jelekkan orang atau gereja yang berlainan teologinya. Seorang Kristen sejati akan percaya bahwa Tuhanlah yang harus makin dipermuliakan, dan bukan diri sendiri atau pengajarannya. Dalam segala tindak tanduk, cara mengajar dan memimpin, pemimpin Kristen sejati tidak akan meninggikan egonya dan menganggap semua orang yang berbeda teologinya adalah keliru. Ini tentu saja berbeda dengan kenyataannya, di mana banyak tokoh-tokoh gereja di saat ini sering saling menyerang dan menista di berbagai media elektronik. Mereka lupa bahwa membesarkan nama Tuhan dan menggembalakan domba-Nya adalah tugas utama mereka.

Sebenarnya, Yohanes Pembaptis lebih tepat disebut, Yohanes Saksi. Dari saat konsepsinya, dia bersaksi tentang Mesias. Malaikat mengumumkan bahwa Yohanes akan dipenuhi dengan Roh Kudus ketika dia masih dalam kandungan, dan dia akan memimpin orang Israel kembali kepada Tuhan, Allah mereka. Dia adalah pendahulu Yesus yang dinubuatkan, yang datang dalam roh dan kuasa Elia. Ayah Yohanes mengumumkan bahwa Yohanes akan menjadi seorang nabi besar dan membawa umat Allah ke arah pengetahuan tentang keselamatan melalui pengampunan dosa mereka.

Dalam pelayanannya, Yohanes memberikan kesaksian tentang pribadi dan karya Kristus. Seperti Yohanes, setiap orang Kristen sejati yang sudah dikaruniai Roh Kudus patutlah disebut sebagai saksi Kristus. Kita menjadi saksi-Nya di rumah, di sekolah, di kantor dan di mana saja, dan mau mengajak orang lain ke jalan yang benar dengan kesabaran dan kelemahlembutan. Dalam kita bersaksi kita harus menghindari debat terbuka, karena hal itu sama sekali tidak berguna untuk kemuliaan Tuhan, dan malah mengacaukan jemaat gereja yang mendengarnya (2 Timotius 2: 14). Kita harus dengan sabar dan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat (2 Timotius 3: 24-25). Kita harus memimpin mereka sehingga mereka rajin mencari kebenaran firman Tuhan. Kita menempatkan diri kita sebagai hamba Kristus.

Jika kita mempertimbangkan cara Yohanes memberikan kesaksian tentang Kristus, kita memahami mengapa dia menulis, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Meskipun Yohanes mendapat pujian besar sebagai nabi Allah setelah 400 tahun keheningan kenabian, Yohanes tidak segan untuk menyatakan bahwa Yesus harus menjadi semakin penting, sementara ia menjadi semakin tidak penting. Tidak ada nabi yang lebih besar dari Yohanes Pembaptis, tetapi dia menyatakan bahwa dirinya tidak cukup layak untuk membawa kasut Yesus, untuk siapa dia bersaksi.

Yohanes mengidentifikasi Yesus sebagai Mesias yang diurapi, setara dengan Bapa. Dia memproklamasikan Dia sebagai Dia yang kekal, yang datang setelah dia dan sudah ada sebelum dia. Yohanes juga mengidentifikasi Yesus sebagai Dia yang diutus untuk menghalau kegelapan rohani dan yang datang sebagai Tuhan dari surga.

Baik Yohanes maupun para pengikut setianya harus sepakat bahwa Yesus, dan bukan Yohanes, adalah Manusia yang harus diikuti. Seandainya Yohanes tidak setia pada wahyu yang diterimanya, dia dapat membujuk para pengikutnya untuk menghormatinya lebih tinggi daripada Tuhan Yesus, tetapi Yohanes mengetahui kebenaran dan dia bersaksi, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

Seperti Yohanes, kita harus menahan godaan untuk menjadi hebat di hadapan orang lain, sedemikian rupa sehingga mengurangi pentingnya Kristus dan panggilan-Nya – agar setiap orang mau bertobat untuk menerima keselamatan. Kita juga tidak boleh mengabaikan berbagai perintah Yesus yang sudah diberikan kepada murid-murid-Nya, sebab kita tidaklah lebih tinggi dari mereka yang sudah dikuduskan sebelum kita. Jika mereka tunduk kepada perintah Yesus, kita pun harus demikian. Apa yang diperintahkan-Nya (yang sering dimulai dengan kata “hendaklah”) sering kali kita baca di Alkitab, tetapi karena berbagai alasan kita mungkin merasa segan untuk melakukannya. Yohanes mengingatkan kita: “Yesus harus bertambah penting dan berpengaruh dalam hidup saya, dan saya harus tunduk kepada perintah-Nya”.

Ketika kita mau memberikan Yesus tempat yang selayaknya dalam hidup kita, sebagai Raja kita, kita dapat yakin bahwa kita berada dalam kehendak Allah, dan dapat melayani tujuan-Nya dalam hidup kita. Di mana pun kita berada, apa pun pekerjaan kita, apa pun peran kita dalam Tubuh Kristus, dan betapapun luas atau kecilnya pelayanan kita – ketika Yesus menjadi pusat dalam setiap bidang kehidupan, kita harus mau berkata, “Peran Dia harus ditinggikan, tetapi peran saya harus direndahkan.” Jika kita dapat bersaksi tentang kebenaran ini, kita dapat yakin bahwa kita adalah umat-Nya yang sejati, yang berada di tempat yang tepat dan berada di pusat tujuan dan rencana-Nya bagi hidup kita.

“Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.” Filipi 2:2

Apakah Anda masih kehilangan kemuliaan Allah?

Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3:23-24

Roma 3:23 adalah sebuah ayat yang sangat dikenal dalam mendalami iman Kristen. Mereka yang menolak iman Kristen biasanya menentang pernyataan bahwa semua orang sudah berdosa dan tidak layak di hadapan Tuhan. Sebagian merasa bahwa jika mereka hidup sebagai “orang yang baik”, itu sudah cukup untuk menjamin keselamatan mereka sesudah meninggalkan dunia ini. Sebagian lagi mungkin berusaha berbuat baik untuk mendapatkan keselamatan di surga. Tetapi, ayat itu menyatakan semuanya sia-sia jika tidak melalui Kristus Yesus.

Ayat 23 sangat dalam artinya karena menyangkut hakikat manusia berdosa yang tidak dapat dengan usaha sendiri untuk memenuhi standar kesucian Allah. Walaupun demikian, ayat ini tidak boleh dibaca tanpa dilanjutkan dengan ayat 24, karena kedua ayat ini adalah sebuah kesatuan. Kedua ayat ini tidak boleh dibalik urutannya karena keduanya menunjukkan dua fase kehidupan orang Kristen: sebelum dan sesudah diselamatkan. Before and after. Dua keadaan akibat dari satu kejadian.

Manusia yang sudah ditebus oleh darah Kristus adalah manusia sudah lahir baru, menjadi ciptaan baru. Ini diulas oleh Paulus dalam 2 Korintus 5:17: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Kata “jadi” merujuk kepada ayat 14-16 di mana Paulus memberitahu bahwa semua orang percaya telah mati bersama Kristus dan menjadi manusia baru yang layak di hadapan Allah. Paulus juga menulis hal yang serupa kepada jemaat di Efesus:

“dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang. Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.” Kolose 1:12-14

Kehidupan kita yang dulunya diarahkan ke hal-hal duniawi; sekarang diarahkan ke hal-hal yang rohani. “Kelepasan dari kuasa kegelapan” adalah kematian atas dosa lama kita yang telah disalib bersama Kristus. Kita telah dikuburkan bersama-Nya, dan sama seperti Ia telah dibangkitkan oleh Allah Bapa, kita juga dibangkitkan untuk “hidup yang baru” (Roma 6:4). Kita sudah dilayakkan oleh darah Kristus sebagai anak-anak Allah karena dosa kita sudah dicuci bersih.

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Di dalam kodrat lama kita, ada kesombongan, ketamakan, iri hati, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan, kemalasan dan berbagai hal yang jahat, yang sering kita lakukan. Dalam kodrat yang diperbarui, semua hal yang dahulunya kita kasihi telah berlalu, terutama kasih akan diri-sendiri dan pembenaran diri dan promosi diri sendiri. Ciptaan yang baru menatap kepada Kristus, bukan menatap kepada diri sendiri. Semua hal yang lama telah mati, disalibkan bersama kodrat lama kita. Semua ini adalah satu proses yang terjadi pada saat seseorang menerima keselamatan yang tidak bisa dibalik lagi, kecuali jika seseorang yang belum benar-benar menjadi orang Kristen, kemudian kembali ke kodrat asalnya (Ibrani 6: 4-6), dan dengan demikian kehillangan kesempatan untuk diselamatkan.

Dengan berlalunya yang lama, “yang baru sudah datang”. Ini terhadi pada saat lahir baru. Hal-hal yang usang dan mati telah digantikan dengan hal-hal baru, yang penuh dengan kehidupan dan kemuliaan Allah. Jiwa yang baru lahir ini berkenan terhadap hal-hal ilahi dan membenci hal-hal duniawi serta berbau kedagingan. Tujuan, perasaan, keinginan, dan pengertian kita baru dan sangat berbeda dari yang lama. Itu seharusnya terjadi melalui pertobatan yang benar, yaitu saat dimulainya proses pengudusan dengan adanya kemampuan yang diberikan kepada kita untuk mengerti apa yang dikehendaki Tuhan.

Apa yang terjadi pada saat lahir baru adalah dimulainya hidup baru di mana proses pengudusan bekerja melalui pekerjaan Roh Kudus, dan itu berlangsung terus sampai mati. Lalu bagaimana dengan orang Kristen yang masih terus berdosa? Ada perbedaan antara berdosa dan terus hidup dalam dosa. Tidak seorang pun yang dapat mencapai kesempurnaan tanpa dosa dalam kehidupan di dunia ini, namun orang Kristen sejati dikuduskan setiap hari, di mana kuasa dosa akan terasa semakin kecil dan kebencian akan dosa akan semakin besar. Ini bukan berarti hidup kekristenan kita akan semakin mudah dijalani! Karena kita makin sadar akan kelemahan kita, kita akan merasakan perjuangan berat seperti Paulus. Orang Kristen yang sejati tidak akan terus puas melihat “kesuksesan” nya dalam mengikuti Yesus, tetapi justu bisa berduka atas kegagalannya. Karena itu, ia akan makin bergantung kepada pertolongan dari Roh Kudus.

Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7:19

Sebagai orang yang sudah layak di hadapan Allah, yaitu orang kudus, kita masih dapat berbuat berdosa, dan sebagian besar dosa kita mungkin secara tidak disengaja. Tetapi, karena proses pengudusan kita yang terus berlangsung, kita akan semakin sensitif atas dosa kita. Diri kita yang sudah lahir baru membenci dosa yang masih muncul, dan menyesalinya, bukan mengabaikannya seperti pada saat sebelum itu. Karena itu, semakin lama kita hidup sebagai orang pilihan, semakin keras kita berusaha untuk hidup baik, seperti seorang pelari maraton yang ingin menyelsaikan perlombaan dengan baik sekalipun kaki sudah terasa sangat sakit menjelang garis finis.

“Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.” 1 Yohanes 3: 6

Pagi ini, firman Tuhan menegaskan bahwa menurut kodratnya semua orang sudah berdosa, tetapi tidak semua tetap tinggal dalam dosa. Mereka yang sudah menerima karunia keselamatan Kristus sudah menerima pengampunan atas semua dosa lamanya, dan karena itu tidak mau mengulanginya. Setiap orang Kristen sejati tidak mempunyai alasan untuk hidup dalam dosa lama. Mereka tidak dapat menolak untuk berbuat baik karena sudah disucikan Allah. Sebagai umat pilihan, mereka akan mati-matian melawan godaan dosa-dosa baru yang setiap hari muncul, dengan mempertahankan kesuciaan mereka sebagai mempelai Kristus melalui kekuatan yang sudah diberikan Tuhan, sampai saat berjumpa dengan Dia.

“Hai ssaudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; Karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar”. Filipi 2:12a

Siapakah yang dapat melihat Allah?

“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Matius 5: 8

Siapakah yang pernah melihat Allah? Tidak seorang pun. Walaupun demikian, Allah bisa menampakkan diri dalam bentuk yang bisa dilihat atau dirasakan manusia. Ini yang dalam teologi dinamakan teofani. Teofani merupakan manifestasi atau penjelmaan Allah di Alkitab, yang dapat diterima atau dirasakan oleh indera manusia. Makna yang paling tepat dari istilah teofani bisa dimengerti dari Alkitab, khususnya pada masa Perjanjian Lama di mana Allah menampakkan diri sehingga dapat dilihat oleh manusia, yang seringkali, walaupun tidak selalu, dalam bentuk manusia.

Allah yang merupakan Roh yang mahasuci tidak dapat dilihat oleh Musa yang bertemu dengan Dia dalam wujud api di semak-semak. Kita pun tidak dapat melihat-Nya sampai kita berjumpa dengan Dia muka dengan muka di surga. Lalu, bagaimana Yesus dalam ayat di atas menyebutkan kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang suci hatinya karena ia bisa melihat Allah?

Syarat untuk bisa melihat Allah dan merasakan kehadirann-Nya adalah hati yang suci. Mengapa keadaan hati sangat penting dalam hubungan kita dengan Tuhan? Matius 15:18-19 menyebutkan bahwa apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Jadi apa yang kita pikirka, katakan atau perbuat, yang merupakan hal yang baik maupun yang jahat, bersumber dari hati kita. Lalu siapakah yang bisa mempunyai hati yang suci? Bukankah semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23)?

Kita tidak dapat melihat Allah jika hati kita berisi kenajisan. Jadi hati manusia sangat penting bagi Yesus yang datang ke dunia. Apa yang kita berada di relung pribadi yang dalam dari hidup kita adalah apa yang paling Dia pedulikan. Yesus tidak datang ke dunia hanya karena kita memiliki beberapa kebiasaan buruk yang perlu dihilangkan. Ia tidak datang untuk menegur orag Farisi. Dia datang ke dunia karena kita memiliki hati yang begitu kotor yang perlu disucikan. Karena Yesus, mereka yang benar-benar percaya kepada-Nya dan bertobat dari dosa mereka akan dapat melihat hadirnya Allah dalam hidup mereka.

“Damai wsejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4:7

Orang Kristen harus mau memancarkan terang dalam masyarakat

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” 1 Timotius 2: 1 – 2

Tidak terasa, Pemilu akan kembali dilaksanakan pada tahun 2024. Sejumlah persiapan telah dilakukan oleh KPU dalam tahapan penyelenggaraan Pemilu. Jika pencalonan anggota DPD, DPR, DPRD, calon Presiden dan wakil Presiden akan berlangsung di akhir 2023, pemungutan suara akan dilangsungkan pada bulan Februari 2024. Semua rakyat tentunya diharapkan untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi terbesar di Indonesia itu.

Bagaimana dengan tanggung jawab orang Kristen dalam kehidupan bernegara? Alkitab menekankan pentingnya agar setiap umat Tuhan untuk tunduk kepada pemerintahnya.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Sebagian orang Kristen di zaman ini mungkin tidak memandang ayat di atas sebagai sesuatu yang masih berlaku saat ini karena adanya pemisahan antara gereja dan agama. Selain itu, hampir tidak ada negara di dunia yang sepenuhnya dipimpin oleh orang-orang Kristen. Walaupun demikian, kita harus tetap percaya bahwa adanya sebuah pemerintah ditetapkan oleh Allah untuk kesejahteraan/kebaikan rakyatnya. Salah satu perbuatan baik yang lahir dari iman orang Kristen adalah ketundukan kepada pemerintah.

Sebagian orang Kristen berpendapat bahwa manusia mana pun tidak bisa melakukan apa yang baik di hadapan Allah. Tetapi jika pandangan ini diterapkan pada sebuah pemerintahan, konsekuensinya akan menyatakan bahwa kita tidak mungkin bisa tunduk kepada pemerintah, dan bahwa Tuhan mungkin memilih pemimpin-pemimpin yang tidak bisa berbuat baik untuk melakukan apa yang baik untuk rakyatnya. Benarkah begitu?

Jawab pertanyaan ini ada di Alkitab, yang menyatakan bahwa sekalipun pemimpin yang terpilih bukanlah orang yang kita senangi, kita harus tetap menghormati hasil pemilu. Tuhan tetap bekerja dalam keadaan apa pun untuk kebaikan umat-Nya. Apa yang baik harus dipisahkan antara apa yang baik untuk kemuliaan Tuhan, dan apa yang baik untuk kesejahteraan manusia. Seluruh rakyat harus bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan siapa pun yang terpilih haruslah dihormati sebagai wakil Tuhan. Apa yang dilakukan oleh pemerintah dan semua orang di dunia , sebaik apa pun, tidak akan bisa dipandang suci oleh Tuhan, tetapi bisa dipakai untuk maksud-maksud suci-Nya di dunia.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Roma 8:28

Karena pemerintah negara mana pun seharusnya mewakili Tuhan, sudah sewajarnya kalau setiap umat Kristen memilih pemimpin yang takut akan Tuhan. Ini adalah syarat utama, bahwa pemimpin yang baik, sekalipun bukan orang Kristen, adalah orang yang mau dan bisa mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang penting, seperti kerohanian, hak asasi, perdamaian, keamanan, keadilan, kejujuran, dan sebagainya. Semua itu adalah hal yang baik yang disenangi Tuhan karena Ia tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.

Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.1 Korintus 14:33

Jika pekerjaan pemerintah yang baik adalah syarat untuk kesejahteraan rakyatnya, semua orang Kristen juga dituntut (dan lebih diharuskan) untuk bisa melebihi apa yang bisa dilakukan oleh orang yang bukan Kristen, karena adanya Roh Kudus yang sudah dikaruniakan kepada mereka. Orang Kristen harus bisa melakukan apa yang baik untuk kemuliaan Tuhan dan menjadi terang di antara mereka yang belum mengenal Kristus. Orang Kristen tidak dapat menolak keewajiban untuk menjadi terang dunia dengan alasan apa pun. Tuhan memberi setiap orang beriman kemampuan untuk berbuat baik dalam keterbatasan mereka.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Adalah baik jika semua orang yang duduk dalam pemerintahan adalah orang-orang yang takut akan Tuhan. Tetapi, dalam kenyataan hidup, orang-orang yang tidak disenangi Tuhan bisa saja terpilih sebagai pemimpin-pemimpin negara sekalipun tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Dan kalau itu terjadi, seisi negara harus bertanggung jawab kepada Tuhan, sekalipun apa yang terjadi adalah seizin-Nya.

“Mereka telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan-Ku; mereka mengangkat pemuka, tetapi dengan tidak setahu-Ku. Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan.” Hosea 8: 4

Apa yang terjadi di muka bumi ini tentunya dengan seizin Tuhan, tetapi apa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan tidak akan menyenangkan Tuhan. Karena itu, Tuhan tidak akan memberkati adanya pemerintah dan bangsa yang menentang hukum-Nya, dan yang tidak akan berfungsi seperti yang diharapkan-Nya. Walaupun demikian, Tuhan dalam hal ini tidak akan kehilangan kontrol, Ia berkuasa untuk mewujudkan rencana-Nya di tengah kebingungan manusia. Dalam keadaan sedemikian, orang Kristen justru harus bisa memberikan sumbangan yang positif dalam memberi teladan kepada orang lain dalam cara hidup yang baik.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen kita mempunyai Tuhan yang hidup, Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana. Karena itu, umat Kristen harus selalu mau menaikkan permohonan dan doa syafaat agar orang-orang yang terpilih dalam pemerintahan dapat memberi rakyat mereka hidup yang tenang dan tenteram. Itu juga salah satu perbuatan baik yang muncul dari iman yang sejati. Orang Kristen tidak boleh menuruti bujukan iblis yang sering menyatakan bahwa segala perbuatan baik kita di dunia adalah sia-sia dihadapan Tuhan, dan segala tindakan kita sudah ditetapkan Tuhan, agar kita tidak ikut melakukan hal-hal yang baik untuk bangsa, negara, dan sesama manusia.

Sebagai orang Kristen, kita harus ikut berpartisipasi dalam memikirkan, dan dalam mengemukakan pendapat kita secara kritis , tentang apa yang akan dan sudah dilakukan oleh para pemimpin kita – agar mereka dapat mawas diri dan bisa melaksanakan mandat mereka dengan baik dan adil. Kita harus berdoa agar mereka dapat mempunyai kebijaksanaan untuk bisa menciptakan kehidupan yang tenang dan tenteram bagi seluruh rakyat, seperti yang dikehendaki Tuhan kita. Biarlah kita boleh mengingat pesan terakhir Raja Daud kepada rakyatnya:

“Allah Israel berfirman, gunung batu Israel berkata kepadaku: Apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah.” 2 Sanuel 23: 3 – 4