Bersatu dalam tubuh Kristus

“Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.”1 Korintus‬ ‭12‬:‭26‬‬-27

Ada satu gambaran yang paling indah dan paling kuat tentang bagaimana umat Tuhan seharusnya hidup—gambaran tubuh. Bukan organisasi, bukan komunitas sosial, bukan kumpulan individu yang kebetulan berada di tempat yang sama, tetapi tubuh.

Paulus memakai gambaran ini bukan tanpa alasan. Sebab hanya tubuh yang bergerak, bernapas, berfungsi, dan merespons sebagai satu kesatuan yang hidup. Dan ketika ia berkata, “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya,” ia sedang membuka mata kita terhadap panggilan yang jauh lebih besar daripada sekadar hadir di gereja pada hari Minggu.

Tubuh adalah organisme yang saling terhubung secara mendalam. Jika satu bagian tersayat, seluruh tubuh memberi respons. Jika satu bagian mendapat penghormatan, seluruh tubuh merasakan getaran sukacita. Tidak ada bagian tubuh yang hidup sendiri. Tidak ada bagian tubuh yang tidak penting, yang boleh diabaikan, atau dianggap remeh. Begitulah Allah memandang gereja-Nya. Dan begitulah kita seharusnya memandang satu sama lain—baik di gereja maupun di tengah keluarga.

Namun keindahan gambaran ini sering kali bertabrakan dengan kenyataan hidup sehari-hari. Di banyak keluarga, orang dapat duduk satu meja tanpa saling berbicara. Di banyak gereja, orang dapat beribadah bersama tanpa tahu nama jemaat yang duduk dua bangku di belakangnya.

Dalam banyak hubungan, penderitaan seseorang tidak selalu menarik perhatian; dan keberhasilan seseorang bisa memicu kecemburuan, bukan sukacita. Itulah mengapa firman Tuhan ini penting—karena ia memanggil kita kembali kepada keutuhan, bukan sekadar kebersamaan lahiriah.

Ketika Paulus berkata bahwa jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita, ia sedang berbicara tentang empati yang lahir dari kasih. Empati bukan sekadar merasa kasihan, tetapi masuk ke dalam rasa sakit saudara kita dan menanggungnya bersama. Dalam tubuh, jika jari tertusuk duri, seluruh tubuh bereaksi. Mata langsung melihat ke arah luka itu, tangan yang lain bergerak mencabut durinya, kaki ikut berhenti melangkah. Begitu pula seharusnya gereja dan keluarga merespons penderitaan anggota-anggotanya.

Bayangkan seseorang yang datang ke gereja dengan beban berat dalam hatinya—entah karena pergumulan keluarga, kesulitan keuangan, atau sakit yang tidak terlihat. Jika gereja benar-benar hidup sebagai tubuh Kristus, beban itu tidak menjadi beban pribadi semata. Ada telinga yang siap mendengar, bahu yang siap menopang, dan hati yang mengerti. Karena tubuh tidak pernah membiarkan satu bagiannya berjuang sendirian.

Namun bagian kedua ayat itu sama pentingnya: “Jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” Ini adalah ujian dari kedewasaan rohani. Tidak semua orang dapat ikut berbahagia ketika orang lain diberkati. Ada yang merasa tersaingi, ada yang tidak bahagia melihat keberhasilan saudara seiman. Tetapi tubuh yang sehat tidak iri terhadap bagian lain. Ketika mata melihat pemandangan indah, seluruh tubuh menikmati kesenangannya. Ketika kaki berhasil mencapai puncak bukit, seluruh tubuh merasakan kemenangan. Demikian pula dalam gereja dan keluarga: keberhasilan seseorang adalah berkat bersama.

Keutuhan tubuh Kristus terlihat ketika orang tidak saling membandingkan peran. Di rumah tangga, tidak ada yang mengatakan bahwa yang memasak kurang penting daripada yang bekerja mencari nafkah. Di gereja, tidak ada yang menganggap bahwa yang berkhotbah lebih mulia daripada yang mempersiapkan tempat duduk. Semua bagian tubuh memiliki fungsi, dan semuanya berharga. Keutuhan hadir ketika setiap orang menghormati peran yang lain.

Namun kenyataannya, keutuhan tubuh sering terganggu oleh luka yang tidak pernah disembuhkan. Ada anggota keluarga yang merasa tidak didengar. Ada jemaat yang merasa tidak dihargai. Ada relasi yang digerogoti oleh kekecewaan lama yang tidak pernah dibereskan. Ketika luka itu tidak disembuhkan, tubuh bergerak pincang. Gereja kehilangan kekuatannya. Keluarga kehilangan kehangatannya. Karena itu, panggilan untuk memulihkan adalah bagian penting dari kehidupan tubuh Kristus.

Keutuhan tubuh tidak berarti tidak ada perbedaan. Sebaliknya, tubuh justru kuat karena keberagaman. Mata, telinga, kaki, tangan—semuanya berbeda, tetapi tidak saling meniadakan. Gereja yang sehat menghargai perbedaan karunia, temperamen, latar belakang, dan cara berpikir. Keluarga yang sehat pun menerima keunikan setiap anggotanya. Kasih menjadi jembatan yang menyatukan semua perbedaan itu.

Mengapa ini penting? Karena dunia di luar sana sedang haus akan kesaksian nyata tentang kasih yang mempersatukan. Dunia penuh dengan perpecahan, persaingan, dan hubungan yang rapuh. Tetapi ketika gereja hidup sebagai tubuh Kristus—saling menanggung, saling mendukung, saling memulihkan—dunia melihat kilau kasih Kristus. Dan ketika keluarga Kristen hidup sebagai tubuh kecil yang utuh—saling menghormati dan saling membangun—dunia melihat terang Injil dalam kehidupan sehari-hari.

Keutuhan tubuh Kristus bukan hanya panggilan teologis; itu adalah kebutuhan praktis. Tanpa keutuhan, gereja menjadi lemah. Keluarga menjadi rapuh. Namun ketika tubuh itu utuh, ada kekuatan yang luar biasa. Doa-doa menjadi lebih kuat. Pelayanan menjadi lebih efektif. Kasih menjadi lebih terlihat. Dan sukacita Tuhan mengalir lebih bebas.

Karena itu, renungan pagi ini mengajak kita semua untuk bertanya dengan rendah hati: “Apakah saya sudah hidup sebagai anggota tubuh Kristus yang memelihara keutuhan?” Apakah saya sensitif terhadap penderitaan orang lain? Apakah saya mampu bersukacita atas berkat yang diterima saudara saya? Apakah saya membangun atau justru melukai? Apakah saya merangkul perbedaan atau menolaknya? Keutuhan tubuh Kristus dimulai dari sikap hati, bukan dari struktur organisasi.

Kiranya kita menjadi pribadi yang menghadirkan kesatuan di mana pun Tuhan menempatkan kita: di rumah, di gereja, dan dalam relasi-relasi kecil yang Tuhan percayakan. Sebab ketika tubuh Kristus hidup dalam kasih yang utuh, dunia dapat melihat gambaran sejati dari Sang Kepala, yaitu Kristus sendiri.

Doa Penutup:

Tuhan, Kepala Gereja yang hidup, kami bersyukur karena Engkau telah menjadikan kami bagian dari tubuh-Mu. Ajarlah kami untuk hidup dalam kasih yang mempersatukan, bukan memecah-belah. Jadikan kami peka terhadap penderitaan saudara kami dan rendah hati untuk bersukacita ketika mereka diberkati. Pulihkanlah bagian-bagian tubuh yang terluka, baik di gereja maupun di keluarga kami. Bentuklah kami menjadi anggota-anggota tubuh yang setia, yang saling menopang dan saling menguatkan. Mampukan kami untuk memantulkan kasih Kristus dalam setiap hubungan yang kami miliki, agar melalui hidup kami, orang lain dapat melihat keindahan tubuh Kristus yang utuh. Di dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Dalam kasih tidak ada ketakutan

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” ‭‭1 Yohanes‬ ‭4‬:‭18‬‬

Kasih adalah satu kata yang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Ada kalanya seseorang berkata, “Saya mengasihi dia,” tetapi kata-kata itu tidak pernah terasa aman di telinga orang yang mendengarnya. Bukan karena cinta itu tidak nyata, tetapi karena hubungan itu dipenuhi tekanan, tuntutan, dan bayangan ketakutan.

Ada orang yang setiap hari berjalan di rumahnya sendiri seperti seseorang yang menginjak lantai rapuh—takut membuat kesalahan kecil, takut suara pintu terlalu keras, takut salah menafsirkan ekspresi orang lain. Pada akhirnya, mereka lebih sibuk menenangkan kecemasan daripada merasakan sukacita dari sebuah hubungan.

Namun firman Tuhan berbicara sangat jelas: “Di dalam kasih tidak ada ketakutan.” Kalimat ini bukan sekadar pepatah rohani yang indah, tetapi sebuah prinsip ilahi yang menembus sampai ke inti kehidupan manusia. Kasih yang sejati memiliki karakter yang begitu kuat, begitu murni, sehingga ia mampu mengusir ketakutan. Ia membongkar rasa cemas yang tersembunyi di lorong-lorong hati manusia. Ia melepaskan seseorang dari rasa terancam. Dan ia membentuk ruang dimana seseorang dapat menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihukum.

Kasih yang benar tidak pernah berdiri berdampingan dengan ketakutan. Jika ada rasa takut yang pekat, rasa bersalah yang berlebihan, atau tekanan yang menggunung, itu menandakan bahwa relasi tersebut tidak berjalan dalam cahaya kasih yang Allah maksudkan. Bukan berarti kasih manusia harus sempurna sejak awal—kita semua bertumbuh, kita semua sedang diproses. Tetapi arah dari kasih itu harus jelas: kasih itu menuntun pada kedamaian, bukan kecemasan; membawa ketenteraman, bukan ancaman.

Ketakutan dalam sebuah hubungan sering kali seperti asap yang tipis. Ia tidak selalu tampak, tetapi dapat dirasakan. Ia membuat seseorang berhati-hati berlebihan. Ia membentuk pola komunikasi yang penuh kewaspadaan. Ia melahirkan jarak yang sulit dijelaskan. Ketika seseorang menjaga diri terlalu ketat, itu mungkin karena ia tidak yakin apakah dirinya aman. Di sinilah firman Tuhan menantang kita untuk melihat lebih dalam: apakah kasih yang kita terima dan berikan benar-benar memerdekakan?

Ketika ketakutan hadir, itu menjadi pesan yang halus namun tegas bahwa ada sesuatu yang kurang benar. Mungkin ada pola kontrol yang tidak disadari. Mungkin ada kata-kata keras yang sering dilontarkan. Atau mungkin ada luka lama yang belum pulih. Ketakutan bukan hanya tanda kelemahan dalam diri seseorang; sering kali ketakutan adalah respon wajar terhadap lingkungan yang tidak aman secara emosional. Karena itu, firman Tuhan tidak mengabaikan ketakutan, tetapi menunjukkannya sebagai indikator yang jujur. Kita tidak dipanggil untuk pura-pura kuat atau menekan perasaan, tetapi untuk menilai kembali apakah relasi kita berakar dalam kasih yang sejati.

Allah tidak pernah menggunakan ketakutan untuk memaksa anak-anak-Nya taat. Ia tidak bermaksud membuat manusia sebagai robot. Ketaatan yang sejati tumbuh dari kasih, bukan dari ancaman. Demikian pula relasi antar-manusia seharusnya berjalan dalam pola yang sama. Kasih yang benar tidak menakut-nakuti atau mendominasi orang lain. Ia tidak mematahkan keberanian seseorang, tidak merendahkan martabatnya, tidak menuntut kesempurnaan yang mustahil. Kasih sejati belajar mendengar sebelum menuntut, memahami sebelum menilai, dan merangkul sebelum mengoreksi. Kasih yang benar adalah kasih yang memberi kesempatan dan kemampuan bagi orang lain. Di dalam suasana seperti itu, ketakutan pun melebur seperti kabut yang tersingkir oleh matahari pagi.

Lebih jauh lagi, kasih yang murni memiliki kuasa yang dahsyat untuk memadamkan api kemarahan dan pertengkaran. Banyak konflik bermula dari ketakutan: takut tidak dihargai, takut kehilangan posisi, takut dianggap lemah. Ketika ketakutan memegang kendali, seseorang mudah tersinggung, mudah tersulut, dan mudah curiga. Namun ketika kasih mengambil alih, reaksi yang tadinya keras berubah menjadi lebih lembut. Seseorang mulai memberi ruang untuk salah paham, karena ia tahu bahwa kasih lebih besar daripada kesalahan kecil. Suara yang tadinya meninggi mulai meluruh menjadi percakapan yang membangun.

Kasih juga menghapuskan pelecehan dalam segala bentuknya. Pelecehan—baik fisik, emosional, maupun verbal— selalu lahir dari keinginan untuk menguasai. Kasih sejati tidak pernah menguasai dengan cara demikian. Kasih mengarahkan seseorang untuk menjadi pelindung, bukan penindas. Ia tidak menekan; ia menopang. Ia tidak mempermalukan; ia memulihkan. Ketika kasih bekerja, pola-pola destruktif mulai tergusur oleh pola-pola yang sehat dan penuh hormat.

Dendam pun kehilangan tempatnya ketika kasih hadir. Dendam hanyalah bentuk ketakutan lain—ketakutan bahwa keadilan tidak akan ditegakkan, bahwa luka tidak akan diperhatikan. Tetapi kasih mengajarkan kita bahwa Allah melihat dan peduli. Ketika seseorang percaya bahwa ia dikasihi dan diperhatikan, ia tidak lagi merasa perlu membalas sakit hati dengan sakit hati. Kasih menyalakan pengampunan, bukan karena pengampunan itu mudah, tetapi karena kasih membuat hati seseorang lebih besar daripada lukanya.

Yang sering kita lupakan adalah bahwa kasih seperti ini bukan produk usaha manusia semata. Kasih seperti ini berasal dari Allah. “Karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita.” Kasih-Nya adalah sumber keberanian kita. Semakin seseorang mengenal kasih Allah, semakin ia disembuhkan dari ketakutan terdalamnya. Semakin ia dipenuhi oleh kasih yang sempurna, semakin ia mampu mengasihi orang lain dengan cara yang menenangkan, bukan menakutkan.

Kasih Allah menuntun kita untuk bertumbuh menjadi orang yang menjadi tempat aman bagi orang di sekitar kita, terutama dalam lingkungan gereja dan rumah tangga. Tempat aman bukan berarti selalu menyenangkan atau selalu berkata “ya” pada segala hal. Tempat aman berarti seseorang tahu bahwa ia akan diperlakukan dengan hormat, dihargai sebagai manusia, dan dikasihi tanpa syarat. Dalam atmosfer seperti itu, bahkan teguran pun terasa sebagai wujud perhatian, bukan ancaman.

Pagi ini, ayat di atas mengajak kita menengok ke dalam: apakah kasih yang kita bawa membuat orang lain semakin aman atau semakin tertekan? Apakah kehadiran kita menenangkan atau menimbulkan kecemasan? Apakah kata-kata kita membangun atau malah melukai? Kita tidak dipanggil untuk sempurna hari ini juga, tetapi kita dipanggil untuk terus bertumbuh dalam kasih yang menghilangkan ketakutan.

Biarlah kasih Kristus memenuhi hati kita hingga kita menjadi pembawa damai, penangkal ketegangan, pemadam api pertengkaran, dan sumber keberanian bagi orang-orang di sekitar kita. Sebab ketika kasih bekerja, ketakutan memudar dan kebencian menghilang. Ketika kasih memimpin, hubungan dipulihkan. Dan ketika kasih meresap dalam kehidupan kita, dunia yang kita sentuh pun akan merasakan kehangatan dari kasih yang sempurna itu—kasih yang berasal dari Allah sendiri.

Persatuan dan kesatuan umat Kristen

“Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.” 1 Korintus 1:10

Tahukah Anda beda antara kata ‘persatuan” dan “kesatuan”? Berdasarkan istilah, persatuan dan kesatuan berasal dari satu kata “satu” yang berati utuh atau tidak terpecah belah. Tapi dua kata ini berbeda maknanya. Menerut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), persatuan adalah gabungan (ikatan, kumpulan, dan sebagainya) dari beberapa bagian yang sudah bersatu. Sementara kesatuan adalah perihal menjadi satu atau keesaan yang bersifat tunggal.

Dalam sebuah persatuan diharapkan adanya kesatuan, dan dengan demikian semua anggota benar-benar mau bersatu. Tetapi, ini tidak selalu bisa terjadi. Dalam persatuan seperti sebuah organisasi gereja, sering kali ada perbedaan pendapat atau perselisihan yang membuat tidak adanya kesatuan arah pelayanan. Sebaliknya, adanya kesatuan keyakinan atau pendapat sering kali membuahkan sebuah persatuan untuk melaksanakan tujuan bersama. Jelas bahwa dalam hidup kita memerlukan adanya persatuan dan kesatuan, sebab keduanya saling mendukung.

Kitab 1 Korintus 1:10–17 membahas tentang kesatuan umat Kristen. Setelah mengucap syukur kepada Allah atas jemaat Korintus dan tempat mereka dalam kekekalan di masa mendatang, Paulus membahas bagaimana mereka telah terpecah belah menjadi beberapa golongan. Paulus mendesak mereka untuk bersatu, karena Kristus tidak terpecah belah. Paulus menekankan bahwa mereka tidak dibaptis dalam nama manusia, tetapi dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Itu menunjukkan kesatuan.

Paulus telah meletakkan dasar yang kokoh untuk suratnya dalam dua hal. Pertama, ia sama sekali tidak ragu bahwa orang Kristen di Korintus sungguh-sungguh telah diselamatkan, orang percaya yang telah lahir baru, dan sepenuhnya aman di dalam Kristus selamanya. Paulus tidak memikirkan dosa dan pemikiran mereka yang salah, lalu mempertanyakan keselamatan mereka. Kedua, Paulus telah yakin adanya keselamatan mereka di dalam Kristus. Ia menyebut nama Kristus di sini untuk kesekian kalinya karena jemaat Korintus diselamatkan karena mereka ada di dalam Kristus, dan tidak ada alasan lain.

Dalam ayat sebelumnya, Paulus menulis bahwa orang-orang percaya ini telah dipanggil, masing-masing dari mereka, ke dalam persekutuan dengan Kristus. Hal itu mengharuskan, sebagai orang-orang di dalam Kristus, untuk bersekutu satu sama lain dalam kesatuan. Sekarang Paulus sampai pada masalah pertama dari banyak masalah di antara jemaat di Korintus. Bukannya bersatu karena mereka semua ada di dalam Kristus, jemaat Korintus justru tidak memunyai kesatuan, alias terpecah belah karena faktor golongan.

Pada abad pertama Masehi, gereja di Korintus memang dilanda perpecahan dan perpecahan. Gereja terpecah belah karena pemimpin atau misionaris masa awal mana yang menjadi favorit mereka dan siapa yang mereka anggap paling pantas untuk diikuti. Beberapa orang lebih menyukai Paulus, sementara yang lain lebih menyukai Apolos atau Petrus, sebagian besar berdasarkan gaya bicara mereka (lihat “hikmat” dan “kefasihan” dalam 1 Korintus 1:17). Alih-alih bersatu di bawah Kristus, mereka justru terpecah belah karena pemimpin yang mereka pilih. Jadi, untuk melawan godaan perpecahan ini, Paulus memerintahkan mereka untuk seia sekata dan tidak membiarkan perpecahan di antara mereka.

Paulus mendesak mereka dalam nama Kristus untuk bersepakat satu sama lain dalam Kristus. Ia menetapkan harapan yang tinggi bagi gereja ini, dan semua gereja Kristen: tidak ada perpecahan. Karena masing-masing dari mereka ada di dalam Kristus, Paulus menegaskan bahwa mereka dapat hidup dalam kesatuan. Kesatuan ini dapat, dan harus, mencapai tingkat pemikiran dan penilaian yang kooperatif dalam hal-hal yang sangat penting (fundamental) di dalam persatuan orang percaya.

Di sini, seperti dalam bagian-bagian lain (Roma 14), Paulus tidak menuntut setiap orang di persatuan gereja untuk hanya mendukung satu pemimpin yang mereka senangi. Ia juga tidak mengajarkan bahwa orang percaya tidak boleh berselisih pendapat tentang sesuatu. Standar di sini bukanlah untuk mencapai keselarasan yang sempurna, tetapi mereka harus mencapai kesatuan dalam iman. Perbedaan pendapat dan selera tidak harus berarti perpecahan karena semua itu wajar dalam masyarakat apa pun.

Ketika orang Kristen menjadikan pendapat manusia dan ego sebagai standar utama mereka, perpecahan selalu menjadi akibatnya. Tetapi, semua perbedaan pendapat akan menjadi hal sekunder jika dibandingkan dengan kesepakatan iman yang fundamental dan persaudaraan dalam kasih melalui Kristus.

Paulus menetapkan Kristus sebagai standar utama untuk setiap pemikiran dan penilaian. Ketika setiap orang menjadi serupa dengan Kristus, mereka akan selaras satu sama lain dalam iman, pengharapan dan kasih. .

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Korintus‬ ‭13‬:‭13‬‬)

Dalam 1 Korintus 1:10, rasul Paulus mendesak orang percaya untuk “seia sekata dalam perkataanmu, dan jangan ada perpecahan di antara kamu.” Dengan mengatakan “jangan ada perpecahan di antara kamu,” Paulus mendorong orang percaya untuk bersatu sebagai “gereja yang am” pada saat mereka membagikan Injil yang satu dan yang mereka yakini, ke seluruh dunia.

“Gereja yang am” artinya gereja yang bersifat umum, universal, atau sedunia. Kata “am” berasal dari bahasa Latin “catholic” yang berarti umum atau universal, merujuk pada seluruh umat yang percaya kepada Yesus Kristus, tidak terbatas pada satu denominasi, tempat, atau waktu tertentu.

Salah satu alasan penting mengapa orang percaya tidak boleh membiarkan perpecahan di antara mereka adalah karena hal itu menghambat kemampuan mereka untuk bertumbuh dan dewasa secara rohani. Jika mereka tidak dapat mencapai kedewasaan rohani, mereka akan selalu bertindak seperti anak-anak.

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” 1 Korintus 13:11

Dalam Efesus 4:3, Paulus memerintahkan orang percaya untuk “berusaha keras memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.” Ia kemudian melanjutkan dengan mengatakan dalam Efesus 4:15 bahwa orang percaya, sebagai Tubuh Kristus yang bersatu, akan “bertumbuh dalam segala hal menjadi tubuh yang dewasa dari Dia, yaitu Kristus, yang adalah Kepala.” Dengan kata lain, jika ada perpecahan di antara kita sebagai orang percaya, kita tidak akan menjadi dewasa seperti yang Allah inginkan. Pertumbuhan rohani terjadi ketika orang percaya selalu bersatu saat mereka berkumpul dan menyembah Allah.

Alasan lain mengapa orang percaya tidak boleh membiarkan adanya perpecahan di antara mereka adalah karena hal itu mengalihkan mereka dari misi mereka untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya (Matius 28:19-20). Setelah Paulus mendesak orang percaya di Korintus untuk sepakat satu sama lain, ia mengatakan bahwa satu-satunya misinya sebagai rasul Kristus adalah untuk memberitakan Injil (lihat 1 Korintus 1:17).

Paulus tidak ingin dikenang karena pengaruhnya, cara bicaranya, atau bahkan orang-orang yang dibaptisnya. Ia hanya ingin dikenang sebagai seseorang yang setia memberitakan Injil. Demikian pula, jika kita sebagai orang percaya berfokus pada perpecahan yang terjadi karena kecenderungan pribadi dan selera pribadi, kita akan kehilangan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita setiap hari untuk membagikan Injil kepada orang-orang di sekitar kita yang melihat cara hidup kita.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Akhirnya, mungkin alasan terbesar mengapa orang percaya tidak boleh membiarkan perpecahan di antara mereka adalah karena hal itu merusak kesaksian mereka kepada dunia dalam mengungkapkan siapa Allah itu. Dalam Yohanes 17, tepat sebelum Yesus ditangkap dan disalibkan, Ia berdoa kepada Allah Bapa untuk semua orang percaya sepanjang sejarah: “Semoga mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, dan semoga mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yohanes 17:21). Dengan kata lain, Yesus berdoa agar semua orang yang mengikuti-Nya bersatu agar dunia dapat percaya siapa Dia, Anak Allah. Jadi, ketika ada perpecahan di antara kita sebagai orang percaya, hal itu menghalangi kemampuan kita untuk menunjukkan kepada dunia siapa Allah itu dan seperti apa Dia—Allah Tritunggal yang bersatu sempurna.

Pagi ini, sebagai umat ​​beriman kepada Kristus hendaknya kita tidak membiarkan preferensi pribadi dan hal-hal sekunder memecah belah kita, sampai-sampai persekutuan kita lebih dikenal karena adanya banyak hal yang tidak kita setujui daripada hal-hal yang kita setujui. Jangan sampai gereja kita dikenal karena adanya banyak pertengkaran. Kita harus ingat bahwa umat Kristen pertama-tama harus dikenal sebagai satu kelompok yang bersatu yang menyembah dan memuji Yesus sebagai Anak Allah yang datang untuk mati menebus dosa dunia.

Ketika iman dipakai sebagai alat

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matus 7:21

Matius 7:15-23 memuat peringatan dua sisi tentang orang Kristen palsu. Seorang pemimpin mungkin tampak terhormat dan bijaksana, tetapi Anda harus melihat buah kehidupannya untuk mengetahui apakah ia benar-benar mewakili Allah.

Dengan cara yang sama, seseorang pemimpin dapat mengaku mengikuti Yesus, menyebut-Nya sebagai “Tuhan,” padahal mereka bukanlah orang percaya sejati. Hanya mereka yang melakukan kehendak Bapa yang akan diizinkan masuk ke dalam kerajaan surga—yang Yesus definisikan sebagai dimulai dengan iman yang sejati (Yohanes 6:28-29). Perbuatan baik kita mungkin menipu orang lain, dan bahkan mungkin menipu diri kita sendiri, tetapi perbuatan baik tidak dapat menipu Allah.

Dalam perjalanan sejarah umat manusia, agama dan kepercayaan selalu memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat. Iman menjadi sumber pengharapan, kekuatan, dan arah moral. Namun, tidak sedikit pula masa ketika iman dipermainkan, dipakai sebagai alat untuk mempengaruhi orang banyak, atau dijadikan simbol kemurnian yang tidak lahir dari pertobatan sejati. Fenomena ini bukan hal baru. Bahkan dalam Alkitab, kita melihat peringatan demi peringatan tentang orang-orang yang menggunakan nama Tuhan, tetapi hidupnya tidak memuliakan Dia.

Yesus berkata bahwa tidak semua orang yang memanggil, “Tuhan, Tuhan,” akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, sebab yang penting adalah melakukan kehendak Bapa. Dengan kata lain, pengakuan iman tidak pernah lebih tinggi daripada ketaatan hidup. Di tengah dunia modern yang dipenuhi oleh suara politik, ajaran agama, opini publik, pencitraan, dan kepentingan pribadi, kita membutuhkan kebijaksanaan lebih besar untuk membedakan antara iman yang sejati dan iman yang diperalat.

Ayat di atas sangat menantang dan sering menjadi bahan perdebatan. Kitab Suci dengan jelas menyatakan bahwa keselamatan sepenuhnya adalah kasih karunia melalui iman, dan bukan diperoleh melalui perbuatan baik (Titus 3:5; Galatia 2:16; Roma 11:6; Yohanes 6:28-29). Alkitab juga dengan tegas mengingatkan orang percaya bahwa semua orang—bahkan mereka yang telah lahir baru—memiliki dosa yang perlu ditebus (1 Yohanes 1:9-10; Ibrani 4:14-16).

Namun, Firman Tuhan juga menunjukkan bahwa mereka yang benar-benar lahir baru akan melihat keselamatan tercermin dalam sikap dan tindakan mereka (Yakobus 2:14-17; Yohanes 14:15). Ketegangan serupa juga terdapat dalam bagian ini—yang menekankan bahwa Kristus, bukan perbuatan, yang menyelamatkan (Yohanes 14:6), namun ketundukan kepada Kristus merupakan hasil yang diharapkan dari keselamatan (Lukas 6:46).

Meskipun ayat ini sering disalahartikan oleh mereka yang mengklaim bahwa perbuatan baik diperlukan untuk diselamatkan, pernyataan Yesus berikutnya justru menghancurkan penafsiran tersebut. Faktanya, mereka yang mendefinisikan iman mereka terutama berdasarkan apa yang telah mereka lakukan bagi Allah telah menempatkan iman mereka pada sesuatu selain Kristus (Matius 7:22-23). ​​Dalam beberapa ayat ini, Yesus secara eksplisit menjelaskan bahwa melakukan kehendak Allah berarti lebih dari sekadar tindakan—membutuhkan iman yang sejati.

Setelah memperingatkan para pendengar-Nya untuk berhati-hati terhadap nabi-nabi palsu, Yesus menjelaskan bahwa orang lain dapat “berpura-pura” beriman dan menipu kita. Orang Kristen harus waspada terhadap para pemimpin palsu, dan orang lain yang mengaku mewakili Allah padahal sebenarnya tidak (Matius 7:15-20). Di sini, Ia menawarkan sisi lain dari peringatan dua bagian ini: waspadalah terhadap pengikut palsu. Secara khusus, Kristus memperingatkan mereka yang mendengarkan-Nya agar tidak menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa mereka adalah orang percaya sejati, padahal sebenarnya tidak.

Yesus menyatakan bahwa tidak semua orang yang menyebut-Nya “Tuhan” akan masuk ke dalam kerajaan surga. Gelar “Tuhan” menyiratkan seorang tuan, seorang pemimpin, dan seseorang yang kepadanya pembicara tunduk. Dalam pengajaran sebelumnya, Yesus menunjukkan bahwa perkataan dan tindakan belaka tidaklah cukup—harus dimotivasi oleh ketulusan dan kebenaran (Matius 6:1, 5, 16).

Dengan cara yang sama, Yesus menyatakan dengan tegas bahwa sekadar menyebut-Nya “Tuhan” tidaklah cukup. Begitu pula tindakan yang dianggap benar. Jalan masuk ke dalam kerajaan surga terbatas bagi mereka yang sungguh-sungguh dan sepenuhnya melakukan kehendak Bapa-Nya di surga (2 Korintus 13:5). Hal itu dimulai dengan iman yang tulus kepada Kristus (Yohanes 6:28-29) dan meluas hingga kerendahan hati dalam cara kita menjalani hidup (Yohanes 14:15).

Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus mengajarkan bahwa kedatangan Yesus di bumi berarti Kerajaan Surga sudah dekat (Matius 3:1-2; 4:17). Inilah Kerajaan Kristus yang kekal, yang akan dimulai di hati semua orang yang benar-benar milik-Nya (Yeremia 31:31-33; Ibrani 8:6-7). Kerajaan ini pada akhirnya akan menjadi kerajaan yang sejati dan kekal di mana kehendak Allah terjadi di bumi seperti di surga (Wahyu 20:4-6). Hanya mereka yang datang kepada Bapa melalui iman sejati kepada Kristus yang akan menjadi warga kerajaan itu selamanya.

1. Iman Yang Sejati Tidak Bersandar Pada Kata-Kata, Tetapi Pada Buah Kehidupan

Yesus mengajarkan prinsip sederhana namun sangat kuat: “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Matius 7:16). Ini berarti bahwa seseorang boleh saja pandai berbicara tentang Tuhan, mengutip ayat, atau mengaku beragama, tetapi buah hidupnya—perilaku, integritas, kerendahan hati, kesabaran, kasih, dan pengendalian diri—lah yang menjadi bukti.

Dalam hidup sehari-hari, kata-kata sering kali jauh lebih mudah diucapkan daripada dipraktikkan. Banyak pemimpin mengucapkan jargon rohani untuk meraih hati pemilih atau untuk mengkritik orang lain, tetapi hidup mereka tidak mencerminkan kasih Kristus. Ketika iman dijadikan alat persuasi atau simbol kekuatan, kita harus ingat bahwa Tuhan tidak melihat penampilan luar. Dia melihat hati. Dan buah kehidupan seseorang tidak dapat dipalsukan dalam jangka panjang.

2. Bahaya Ketika Iman Dijadikan Alat

Sejak zaman Perjanjian Lama, kita melihat bagaimana pemimpin dapat menyalahgunakan nama Tuhan. Nabi Yesaya menegur bangsa yang menghormati Allah dengan bibir, tetapi hati mereka jauh dari-Nya (Yesaya 29:13). Penggunaan agama untuk keuntungan pribadi bukan hanya persoalan moral, tetapi juga persoalan spiritual. Ketika nama Tuhan dipakai untuk membenarkan ambisi manusia, kehendak Allah menjadi kabur, dan umat mudah disesatkan.

Di zaman modern, seorang pemimpin dapat menggunakan citra “religius” untuk menunjukkan dirinya bermoral atau dekat dengan nilai-nilai keagamaan, padahal hidupnya tidak mencerminkan sikap dan kasih seorang murid Kristus. Inilah bahaya besar: ketika masyarakat mulai menganggap simbol-simbol religius sebagai tanda kesalehan, padahal Alkitab secara konsisten mengingatkan bahwa kesalehan tidak terletak pada simbol, tetapi pada karakter.

3. Godaan Orang Percaya: Salah Menafsirkan Identitas Rohani Seorang Pemimpin

Umat Kristen sering kali rindu melihat pemimpin yang takut akan Tuhan. Keinginan ini baik dan wajar. Tetapi kerinduan itu dapat dimanipulasi oleh tokoh-tokoh yang hanya mengklaim iman tanpa hidup dalam pertobatan. Ketika seorang pemimpin mengatakan dirinya seorang Kristen, atau mengangkat tinggi nilai-nilai religius, kita cenderung menyambutnya dengan sukacita, tanpa terlebih dahulu menguji buah hidupnya.

Namun Alkitab memerintahkan kita untuk menguji segala sesuatu (1 Tesalonika 5:21) dan membedakan roh (1 Yohanes 4:1). Kita dipanggil bukan untuk menghakimi keselamatan seseorang—karena hanya Tuhan yang mengetahui hati—tetapi untuk mengenali apakah seseorang memimpin dengan semangat yang sesuai dengan Kristus atau tidak.

Di sinilah orang percaya harus bersikap bijaksana: jangan sampai kita mendukung ambisi manusia karena kita terkecoh oleh simbol rohani yang kosong.

4. Ketika Pemimpin Menggunakan Iman Untuk Memecah Belah

Salah satu tanda paling bahaya dari iman yang diperalat adalah ketika seorang pemimpin, secara sadar atau tidak, menggunakan keyakinan pribadinya untuk membelah masyarakat dengan menciptakan pandangan “kami versus mereka” dan selalu menyalahkan pihak lain sebagai “tidak benar” serta membuat dirinya seolah-olah selalu benar.

Jika kita melihat pemimpin yang memakai bahasa religius hanya untuk menguatkan argumennya, sementara hidupnya jauh dari kasih, kesabaran, dan kerendahan hati, kita harus berhati-hati. Iman tidak boleh menjadi alat untuk membenarkan kekerasan, kemarahan, atau penghinaan terhadap sesama.

Yesus berkata bahwa dunia akan mengenal para murid-Nya dari kasih mereka, bukan dari ajaran atau kekuasaan (Yohanes 13:35). Ketika seorang pemimpin mengaku beriman tetapi memakai retorika amarah dan kebencian secara bebas, jelas ada ketidaksesuaian yang perlu kita waspadai.

5. Sikap Orang Kristen: Tidak Naif, Tidak Sinis

Bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap pemimpin kita, baik pemimpin negara, perusahaan atau gereja?

Pertama, jangan naif. Jangan mudah terpesona oleh pemimpin yang memakai simbol rohani tetapi hidupnya tidak mencerminkan buah Roh. Kita harus menguji integritas, karakter, dan perilaku mereka.

Namun kedua, jangan menjadi sinis. Dunia ini memang sering mengecewakan, tetapi Tuhan tetap bekerja dalam hidup manusia. Kita dapat tetap mengharapkan pemimpin yang berintegritas, sambil menjaga hati agar tidak pahit atau kehilangan pengharapan.

6. Iman Tidak Seharusnya Menjadi Alat Manusia, Melainkan Jalan Hidup

Pada akhirnya, iman bukan dekorasi luar. Iman bukan slogan. Iman bukan sarana untuk mengejar kekuasaan atau dukungan orang lain. Iman adalah jalan hidup—jalan yang menuntut kerendahan hati, pengampunan, belas kasihan, dan kesiapan untuk memikul salib.

Ketika seorang pemimpin menjadikan iman sebagai alat untuk mencari dukungan atau kepentingan pribadi, ia sebenarnya sedang menjauhkan diri dari fungsi iman itu sendiri. Sebab iman pada akhirnya harus digunakan untuk memuliakan Tuhan. Dan ketika umat percaya tidak berhati-hati, mereka dapat turut terjebak dalam politik identitas yang mengaburkan Injil.

7. Kembali Kepada Kristus

Dalam dunia yang semakin bising dan penuh manipulasi, kita dipanggil untuk kembali kepada Kristus sebagai sumber hikmat. Kita tidak boleh tertipu oleh penampilan lahiriah atau kata-kata manis. Kita harus melihat dengan mata rohani, menilai dengan kasih, dan tetap setia pada Injil yang sejati.

Biarlah kita selalu mengingat firman Tuhan yang memperingatkan kita:

“Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka menyangkal Dia.” (Titus 1:16)

Semoga kita menjadi umat yang bijaksana dan berhati-hati, tidak mudah disesatkan oleh pemimpin mana pun yang memanfaatkan iman hanya sebagai topeng. Dan lebih daripada itu, semoga hidup kita sendiri menjadi kesaksian bahwa iman yang sejati bukanlah alat untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk melakukan perjalanan menuju keserupaan dengan Kristus. Soli Deo Gloria. Hanya untuk kemuliaan Tuhan.

Jangan bakar jembatanmu

“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.” Roma 12:18

Bertambahnya usia dan hidup jauh dari keluarga sering kali membuat seseorang lebih sadar bahwa hidup tidak hanya diukur dari harta, pencapaian, atau fasilitas kesehatan, tetapi dari hubungan. Kehadiran orang lain—saudara, teman, atau anggota gereja—sering kali menjadi sumber kekuatan ketika ada masalah dalam hidup. Namun tidak semua orang memiliki orang yang bisa mendampingi. Ada yang hidup sendirian, dan itu membuat relasi dengan orang-orang di sekitar menjadi semakin penting. Dalam kondisi seperti itu, Firman Tuhan di atas mengingatkan kita dengan sederhana namun mendalam: “hidup dalam perdamaian dengan semua orang.” Artinya, jagalah relasi—bahkan relasi yang tidak sempurna sekalipun.

Jangan bakar jembatanmu. Dalam bahasa Inggris, istilah “do not burn your bridge” sebenarnya berasal dari sebuah kisah motivasional yang terkenal. Konon katanya ada seorang jenderal perang yang membuat sebuah jembatan sehingga bisa sampai ke pihak musuh. Namun, agar para serdadunya berperang secara maksimal, maka setelah jembatan itu selesai dan dilewati, jembatan itu pun dibakar. Dengan demikian para serdadu hanya punya satu pilihan yakni bertempur sampai titik darah penghabisan sebab tidak ada lagi jembatan untuk kembali.

Dalam bahasa rohani, frasa ini bisa diartikan: jangan menutup pintu pengampunan dan persahabatan, jangan mengucapkan kata yang menghancurkan tanpa perlu, jangan memutus hubungan sampai tidak ada jalan kembali. Percayalah bahwa Tuhan adalah Allah yang mampu memulihkan. Ia adalah Bapa yang membuka pintu bagi anak yang hilang untuk pulang. Demikian pula, kita dipanggil untuk menjaga jembatan agar tetap dapat dilalui suatu hari nanti—baik untuk kita maupun untuk orang lain. Relasi yang renggang masih bisa dipulihkan, tetapi relasi yang sudah “dibakar habis” membuat hidup menjadi jauh lebih sunyi.

Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk relasional. Bahkan Adam pun, yang hidup dalam taman yang sempurna, tidak dibiarkan sendirian. Tuhan juga dapat memakai saudara, kerabat, jemaat gereja, atau bahkan tetangga sebagai saluran kasih-Nya. Namun relasi itu tidak muncul begitu saja—itu harus dijaga dan dipelihara. Dalam hal ini, sikap pragmatis adalah bagian dari hikmat Tuhan.

Tetapi, ada banyak orang yang suka menjaga jarak selama bertahun-tahun: tidak mau dekat dengan keluarga atau teman segereja, mudah tersinggung, menghindar karena pernah kecewa, tidak mau ke gereja, dan memilih kesendirian. Tetapi ketika usia senja tiba, atau jika masalah besar mendatangi, hati mulai merindukan kehangatan dan dukungan. Ayat di atas mengingatkan kita bahwa relasi itu seperti jembatan—jika tidak dirawat, bisa rapuh; jika dibakar, tidak dapat dilalui lagi. Firman Tuhan di atas mendorong kita untuk menurunkan ego, belajar mengalah, memilih kata-kata yang mendamaikan, dan membuka pintu bagi pemulihan demi kebaikan kita sendiri.

“Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.” (1 Petrus‬ ‭2‬:‭15‬‬)

Tidak semua relasi harus disukai, tetapi bisa kita hadapi dengan sikap pragmatis atau praktis yang penuh kasih. Pragmatis bukan berarti munafik, tetapi bijaksana—melakukan yang terbaik agar hubungan tetap terjaga, selama itu memungkinkan. Dalam hal ini, “Don’t Burn Your Bridge” berarti “Jangan Membakar Jembatan Relasimu“.

Tuhan mengajar kita untuk mengambil langkah pertama, seperti Ia sudah mengirimkan Yesus ketika kita masih hidup dalam dosa.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5:8

Dengan demikian, kita juga harus menunjukkan kasih kita sekalipun orang lain sering memusuhi kita. Roma 12:9-21 adalah daftar berbagai perintah singkat yang berisi poin-poin penting. Secara keseluruhan, perintah-perintah tersebut melukiskan gambaran tentang bagaimana seharusnya kehidupan Kristen yang hidup dan berkorban. Tema pemersatu dari daftar tersebut adalah mengesampingkan diri kita sendiri, untuk secara efektif mengasihi dan melayani Tuhan, satu sama lain, dan bahkan musuh kita.

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:26-27)

Tujuan kita sebagai orang Kristen adalah untuk saling mengasihi dan menghormati. Kita harus memfokuskan pengharapan kita pada kekekalan dan menanti dengan sabar dan berdoa agar Bapa kita menyediakan kebutuhan kita. Kita harus menolak untuk jatuh ke dalam kejahatan, memberikan kebaikan kepada mereka yang menyakiti kita, alih-alih membalas dendam.

Apa yang dibutuhkan untuk bisa hidup seperti ini? Kita harus mau mengambil tindakan: mengakui kesalahan kita, meminta maaf, memperbaiki keadaan, dan memaafkan. Di sinilah gagasan “sejauh itu bergantung padamu” berperan. Ego, kesombongan, keinginan, dan prasangka kita sendiri tidak boleh menghalangi kita untuk hidup damai dengan orang lain. Itu berarti kita tidak boleh melakukan tindakan yang “keliru” terhadap orang lain.

Sebagai orang percaya, kita harus hidup damai dengan semua orang. Ini termasuk saudara-saudara kita di dalam Kristus, serta orang-orang yang tidak percaya. Cara lain untuk membaca perintah ini adalah, “Jangan pernah membiarkan diri Anda menjadi alasan untuk hubungan yang tidak damai dengan orang lain. Sebakiknya, tunjukkanlah kasih Anda.”

Untuk menunjukkan kasih kita, kdang satu sapaan kecil sudah cukup: “Apa kabar?” “Selamat ulang tahun.” “Semoga sehat selalu.” “Saya minta maaf kalau dulu ada salah.”

Langkah kecil itu bisa menjadi awal dari jembatan yang baru. Dan sering kali, Tuhan bekerja melalui langkah-langkah kecil seperti ini untuk memulihkan fungsi jembatan relasi kita.

Namun, ini bukan pernyataan pasifisme total atau apatis sepenuhnya. Paulus memberikan dua syarat yang jelas: “Jika mungkin” dan “sejauh itu bergantung padamu.” Perintah ini mengakui bahwa konflik terkadang tidak dapat dihindari. Beberapa orang memang tidak tertarik untuk berdamai dengan kita. Ada waktu dan tempat yang tepat untuk tidak setuju, untuk berdebat, atau bahkan untuk bertengkar. Tidak semua tindakan yang menyenangkan orang lain adalah sesuatu yang baik, atau sesuatu yang Tuhan inginkan agar kita lakukan.

Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa ketika menciptakan “perdamaian” hanya mungkin dengan mengkompromikan kebenaran atau perintah-perintah Allah (Kisah Para Rasul 5:28-29), penyelesaiannya tidak lagi bergantung pada pendapat kita. Kita harus lebih taat kepada Allah daripada manusia. Sikap ini mungkin bisa mengakibatkan penderitaan atau penganiayaan kita sendiri. Tetapi Paulus telah menunjukkan bahwa lebih penting bagi kita untuk mewakili Kristus dengan baik daripada mendapatkan hasil yang kita anggap menguntungkan (Filipi 4:11-13).

Doa Penutup:

Tuhan yang penuh kasih, ajarlah kami untuk menjaga hubungan dengan orang-orang yang Engkau hadirkan dalam hidup kami. Berikan kami hati yang rendah, sabar, dan penuh hikmat, khususnya dalam menghadapi sanak keluarga yang sulit atau tidak cocok dengan kami. Jangan biarkan kami membakar jembatan yang Engkau maksudkan sebagai saluran berkat di masa depan. Tolong kami menabur benih kasih dan kedamaian hari ini, agar ketika kami menghadapi masalah, kami menuai ketenangan, bukan kesunyian. Di dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Orang Kristen adalah atlit pilihan

“Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!”1 Korintus 9:24

Sejak kapan Anda menjadi orang Kristen? Sebagian orang mungkin bisa menjawab dengan menyebut tahun tertentu, tetapi sebagian lagi mungkin tidak bisa menjawabnya dengan pasti. Mengapa demikian? Karena menjadi orang Kristen bukanlah hal identitas administratif seperti surat baptis, dan bukan pula kebiasaan yang melekat sejak kecil. Paulus tidak pernah menggambarkan kehidupan Kristen sebagai sesuatu yang santai, statis, atau sekadar label yang dipakai tanpa proses perjuangan.

Sebaliknya, Paulus memakai gambaran seorang pelari yang sedang bertanding, yang berlari dengan tekun, yang memandang lurus ke depan, dan yang tidak berhenti sebelum mencapai garis finis. Dengan demikian, orang Kristen sejati bukanlah orang biasa dalam pengertian umum. Bukan karena mereka lebih mulia dari siapa pun, tetapi karena mereka hidup dalam sebuah panggilan yang jauh lebih besar daripada sekadar rutinitas keagamaan atau warisan orang tua.

Paulus memahami kehidupan sebagai sebuah perlombaan. Ia berkata bahwa kita semua dipanggil untuk “berlari dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” dengan tekun, sambil menyingkirkan segala beban dan dosa yang begitu mudah memperlambat langkah (Ibrani 12:1)

Gambaran ini menunjukkan bahwa iman bukanlah perjalanan pasif. Iman menuntut gerak, arah, fokus, dan komitmen. Seseorang tidak mungkin berlari tanpa kesadaran bahwa ia sedang menuju ke suatu tujuan. Demikian pula orang Kristen sejati tidak hidup tanpa arah; mereka tahu bahwa hidup ini memiliki garis finis rohani yang harus dicapai—suatu tujuan surgawi di mana Kristus sendiri menanti.

Banyak orang menganggap bahwa menjadi Kristen sejak kecil sudah cukup untuk menjamin kualitas rohani seseorang. Namun Paulus tidak pernah mengatakan bahwa awal yang baik menjamin akhir yang baik. Ia justru menekankan pentingnya ketekunan, karena di tengah perjalanan iman akan ada kejenuhan, kelelahan, pencobaan, dan pergumulan yang menguji kemurnian hati.

Seorang pelari yang hanya mengandalkan awal yang cepat tetapi tidak memiliki daya tahan tidak akan pernah menyelesaikan lomba. Demikian juga, orang Kristen yang hanya mengandalkan kebiasaan masa kecil tanpa komitmen pribadi untuk mengikut Kristus akan mudah berhenti di tengah jalan. Kekristenan bukan tentang siapa yang berangkat paling awal, tetapi siapa yang setia sampai akhir.

Paulus sendiri adalah contoh pelari yang pantang menyerah. Ia pernah mengalami kapal karam, dipukul, dipenjara, dan ditolak oleh bangsanya sendiri. Namun ia tidak berhenti. Ia berkata, “Aku melupakan apa yang di belakang dan mengarahkan diri kepada apa yang di depan.” Kata-kata ini menegaskan bahwa seorang pelari tidak boleh terus menoleh ke masa lalu.

Penyesalan, kegagalan, keberhasilan, kebosanan, kesibukan, luka batin, atau nostalgia dapat menjadi beban yang membuat seseorang tersangkut dalam apa yang sudah lewat. Paulus memilih untuk tetap bergerak maju. Ia tidak menyangkal masa lalunya, tetapi ia tidak membiarkan masa itu menentukan masa depannya. Ini adalah sikap iman yang matang: hidup bukan dari kenangan, tetapi dari panggilan Allah yang terus mendorong kita ke depan.

Bila seorang atlet dunia saja rela berlatih keras demi sebuah mahkota yang fana, betapa lebih lagi orang percaya dipanggil untuk bertekun demi mahkota kehidupan yang kekal? Di sinilah letak perbedaan orang Kristen sejati dan mereka yang hanya memakai label Kristen.

Orang Kristen yang asli tidak hidup hanya untuk apa yang terlihat, tetapi untuk apa yang kekal. Mereka berlari bukan untuk mendapat penghargaan manusia, tetapi untuk menyenangkan Tuhan. Mereka menolak gaya hidup yang longgar dan kompromistis, bukan karena ingin terlihat lebih suci, tetapi karena mereka tahu bahwa beban apa pun dapat menghambat larinya.

Banyak hal yang dianggap lumrah oleh masyarakat, tetapi tetap bisa menjadi beban. Kesibukan yang berlebihan, ambisi pribadi, rasa iri, hobi yang mengikat, kemarahan yang dipelihara, atau kenyamanan hidup yang membuat seseorang malas mengejar hal-hal rohani—semua itu dapat memperlambat laju seorang pelari rohani.

Kita hidup di dunia di mana identitas Kristen mudah dipakai, tetapi komitmen Kristen semakin jarang diperjuangkan. Banyak orang ingin berkat Kristus, tetapi tidak ingin memikul salib. Banyak yang ingin damai sejahtera, tetapi tidak mau hidup dalam ketaatan. Mereka ingin sampai ke garis finis, tetapi larinya sering terhenti karena hal-hal kecil: sedikit ejekan, sedikit kekecewaan, sedikit ketidakadilan, atau sedikit pertentangan dalam gereja.

Paulus tahu bahwa perjalanan iman seperti ini penuh tantangan. Karena itu ia menasihati, “Jangan hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala, dan layanilah Tuhan.” (Roma 12:11). Pernyataan ini seakan berkata: jangan berhenti hanya karena perjalanan terasa berat. Jangan biarkan kelesuan menggantikan panggilan. Teruslah berlari, meskipun langkah terasa lambat.

Banyak orang Kristen mulai dengan semangat, tetapi mengakhiri dengan kekecewaan. Ada yang merasa imannya tidak lagi sekuat dulu. Ada yang merasa pelayanan pernah begitu menggairahkan, tetapi kini terasa hambar. Ada yang melihat masalah hidup bertambah, sementara tenaga dan usia menurun. Dalam kondisi seperti ini, seorang pelari rohani mungkin bertanya, “Apakah aku masih mampu mencapai finis?”

Jawaban Paulus tegas: kita mampu, bukan karena kekuatan kita, tetapi karena Kristus yang sudah memanggil kita. Kita berlari bukan sendirian; Yesus berlari bersama kita. Bahkan Ia telah lebih dulu berlari dan menang, sehingga kita memiliki teladan sekaligus jaminan kemenangan. Kita tidak mengejar kegelapan yang tidak pasti; kita mengejar Kristus yang sudah menanti.

Ketika usia bertambah, banyak orang mengira bahwa iman akan bisa menjadi semakin kuat. Namun pengalaman menunjukkan sebaliknya. Justru pada usia lanjut, perjuangan iman bisa menjadi lebih berat karena tubuh melemah, relasi berubah, dan banyak sahabat mulai dipanggil Tuhan. Namun panggilan untuk tetap berlari justru menjadi semakin relevan.

Bagi banyak orang Kristen, garis finis semakin dekat, tetapi godaan untuk menyerah juga semakin besar. Paulus memahami dinamika ini ketika ia berkata bahwa perjalanan iman harus diselesaikan, bukan ditinggalkan di tengah jalan. Ada sukacita besar menanti bagi mereka yang setia sampai akhir. Ada mahkota kebenaran yang dijanjikan Tuhan kepada setiap orang yang tetap setia dalam mengasihi Dia.

Oleh sebab itu, mari kita hidup sebagai orang Kristen yang benar-benar mengerti panggilan kita. Jangan biarkan diri kita menjadi “orang Kristen biasa” hanya karena kita sudah lama berada dalam lingkungan gereja atau karena lahir dalam keluarga Kristen.

Kekristenan bukan warisan pasif; itu adalah komitmen aktif untuk mengikuti Yesus setiap hari, dalam suka dan duka, dalam pengharapan maupun kelelahan. Bila langkah kita melemah, mari kita kembali menguatkan diri dalam firman, doa, dan persekutuan. Bila hati kita mulai dingin, mintalah agar Roh Kudus kembali menyalakan bara kerinduan kepada Tuhan. Bila kita jatuh, bangkitlah lagi dan lanjutkan perlombaan.

Kita semua sedang berlari menuju garis finis yang sama. Tidak ada yang tahu kapan kita akan mencapainya, tetapi kita tahu siapa yang menanti kita di sana. Kristus sendiri—Dia yang memulai dan yang akan menyempurnakan iman kita. Karena itu, jangan berhenti. Jangan menyerah. Teruslah berlari, sampai hari ketika kita dapat berkata bersama Paulus, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman.” (2 Timotius 4:7).