Emangnya gue pikirin?

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24:12


Jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain, bahasa Indonesia termasuk hebat karena selain punya kata-kata baku, bahasa ini juga penuh dengan ungkapan atau slang yang singkat dan mengena, seperti “emangnya gue peduli” atau singkatanya “EGP”, yang mungkin bisa diterjemahkan sebagai “what do I care” dalam bahasa Inggris.

Dalam Alkitab, orang pertama yang mengucapkan kata sejenis EGP adalah Kain, yang sewaktu ditanya Tuhan tentang keberadaan adiknya, Habel, menjawab: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?”.  EGP memang mengandung unsur ketidak pedulian terhadap hal-hal yang terjadi didepan mata kita. Kata ini juga berarti menolak untuk bertanggung jawab atas terjadinya sesuatu.

Di jaman ini, orang makin individualis. Cara hidup mereka, cara berpakaian, cara berkomunikasi dll. selalu menonjolkan segi keakuan. Kalau seseorang yang hidupnya amburadul, berpakaian semaunya dan omongnya sembarangan ditegur orang lain, jawabnya mungkin EGPL(emangnya gua pikirin lo). Sebaliknya, biar banyak orang yang melihat orang lain yang hidupnya amburadul, mungkin juga jarang orang yang mau peduli karena kebanyakan orang berpendapat EGP (emangnya gua peduli).

Pemakaian media sosial sering juga mencerminkan perubahan sifat manusia modern yang hanya sering ingin menonjolkan diri sendiri dan menarik perhatian orang-orang lain tanpa peduli akan perasaan orang lain. Begitu banyak komentar-komentar yang dilontarkan dalam Facebook, Twitter dll. tanpa keraguan sedikitpun; sekalipun ada kemungkinan orang lain akan dibuat susah, marah atau menderita. Pokoknya EGP!

Yesus dalam ayat diatas secara tepat mengungkapkan keadaan masa kini. Masa dimana manusia makin cenderung untuk egois dan memuja diri sendiri. Paulus dalam 2 Timotius 3: 2-4 menjelaskan hal ini lebih lanjut:

“Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.”

Bagaimana dengan hidup kita saat ini? Apakah kita sadar bahwa hidup kita sering terpengaruh oleh arus dunia? Apakah tiap hari kita menyadari perbuatan-perbuatan yang tidak layak kita lakukan baik di rumah, di kantor, dan di Facebook, Twitter, Whatsapp dll.? Sadarkah bahwa dalam menumbuhkan iman kita juga harus menumbuhkan kasih kita kepada sesama kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s