Aku seorang musafir

“Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.” 1 Korintus 4: 11-13

Pagi ini saya bangun pukul 4.00 pagi untuk naik bis dari Toowoomba ke Brisbane airport. Rencana saya adalah untuk bisa terbang ke Melbourne, sekitar 2000 km dari Brisbane, untuk menghadiri konferensi pendidikan universitas. Mata rasanya masih mengantuk dan hari masih gelap ketika bis berangkat dari stasiun bis.

Pemandangan dalam bis Toowoomba – Brisbane.

Sebenarnya saya bisa terbang dari Toowoomba langsung ke Melbourne, tetapi ongkosnya mungkin bisa $250 lebih mahal dari ongkos penerbangan  Brisbane – Melbourne. Jadi terpaksalah saya naik bis ke Brisbane selama 2 jam karena ongkos bis cuma $40 yang masih dikorting $10 karena saya sudah tergolong senior.

Perjalanan dengan bis luks ini terasa sangat membosankan walau saya bisa duduk nyaman karena bis hanya terisi penumpang sepertiga jumlah kursi yang ada. Namun saya merasa bersyukur juga karena jaman sekarang ini saya tidak perlu naik kereta berkuda seperti pada tahun 1800an. Apalagi bis ini ber AC dan dilengkapi dengan internet gratis. Sebagai musafir, traveller, saya termasuk musafir beruntung!


Kereta kuda di Toowoomba sekitar tahun 1850.

Sebenarnya saya tidak patut mengeluh karena naik bis selama dua jam.  Kalau kita bayangkan sewaktu Yesus hidup di dunia, Ia sebagai musafir banyak melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Tidurpun seringkali harus dibawah langit. Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Yesus tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya (Matius 8: 20). Selama 3 tahun Yesus tidak mempunyai rumah – Ia adalah “homeless person”. Ia memberi contoh bahwa pengikut Tuhan seringkali kita harus siap menghadapi tantangan dan penderitaan.

Rasul Paulus juga pernah menjadi musafir. Ia mengembara dari kota ke kota mengabarkan Injil dan mengajar cara hidup kekristenan cukup lama. Kepada jemaat di Korintus ia menulis bahwa ia dan rekan-rekannya pernah menderita karena kelaparan, kehausan, kedinginan dan bahkan karena dipukuli dalam hidup mengembara. Sebagai seorang musafir  dia juga melakukan pekerjaan kasar yang berat. Walaupun demikian ketika ia dimaki, ia bisa memberkati yang memaki; kalau ia dianiaya, ia bisa bersabar; kalau ia difitnah, ia tetap bisa menjawab dengan ramah; ia telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu (1 Korintus 4: 11-13). Paulus menjalani hidup seperti Tuhan yang disembahnya, Tuhan Yesus.

Pagi ini sebagai seorang musafir di dunia ini terbetik dalam hati saya perasaan malu. Betapa tidak? Sebagai seorang musafir saya sering mengeluh, marah dan kecewa atas hal-hal yang kurang nyaman dalam hidup saya. Musafir Kristen seperti Paulus belajar untuk bisa menghadapi penderitaan dari gurunya, musafir terbesar yang telah datang dari surga ke dunia sebagai manusia biasa, Yesus Kristus. Di lain pihak, kita bisa melihat betapa banyaknya musafir-musafir yang hanya menginginkan pelayanan terbaik dari Tuhan – hidup enak dan sukses sebagai upah iman. Bagaimana dengan anda sendiri? Tahukah anda bahwa sebagai musafir kita harus tabah dalam menghadapi semua tantangan sepanjang perjalanan hidup kita?

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Filipi 2: 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s