Bersukaria boleh saja, asal….

“Oleh sebab itu aku memuji kesukaan, karena tak ada kebahagiaan lain bagi manusia di bawah matahari, kecuali makan dan minum dan bersukaria. Itu yang menyertainya di dalam jerih payahnya seumur hidupnya yang diberikan Allah kepadanya di bawah matahari.” Pengkhotbah 8: 15

Hari ini saya berjalan-jalan ke China Town, Melbourne. Sudah sering saya kesana, maklum dulu saya pernah tinggal di kota Melbourne selama 12 tahun sebelum pindah ke kota-kota lainnya di Australia. Sekalipun saya mengenali hampir seluruh sudut China Town itu, tiap kali saya kesana saya selalu senang menonton dua hal: adanya berbagai restoran yang menjual makanan enak berbagai jenis, dan adanya berbagai manusia yang datang kesana untuk makan enak. 


Melihat lampu-lampu restoran yang berwarna warni, saya berpikir: manakah yang benar – hidup untuk makan ataukah makan untuk hidup? Di China Town itu anda mungkin akan membenarkan keduanya. Ada banyak orang yang pergi kesana untuk menikmati makanan enak,  seolah hidup hanya untuk makan; tetapi jika anda sempat melihat ke ujung jalan yang gelap didekat restoran-restoran itu, anda bisa melihat bayang-bayang mereka yang tidur kedinginan di pinggir jalan, mereka yang kurang makan, mereka yang mencari makan dan sisa makanan untuk bisa hidup. Suatu kontras kehidupan yang terjadi pada saat yang sama.

Pengkhotbah dalam ayat diatas seolah mendukung mereka yang hidup untuk makan dan minum. Seolah itu adalah wajar kalau dalam makanan dan minuman kita menemukan sukacita. Seakan itu adalah hak karunia anak-anak Tuhan. Seolah kasih Allah harus bisa dinikmati dalam bentuk makanan, minuman yang enak dan kegembiraan yang menyertainya. Tetapi bukan itulah yang dimaksudkan ayat-ayat diatas. Ayat-ayat itu bukannya mendukung pesta pora dan pesta kuliner!

Apa yang dimaksud ayat-ayat itu adalah bahwa makanan dan minuman adalah memang berkat Tuhan. Makanan dan minuman dalam bentuk apapun dan jumlah bagaimanapun harus kita sambut dengan sukacita. Tidak ada yang lebih membahagiakan kita jika kita menyadari bahwa Tuhan mengasihi kita dalam keadaan apapun.  Untuk anak-anak Tuhan,  asal ada makanan dan pakaian, cukuplah (1 Timotius 6: 8). Tidak ada yang lebih membawa kebahagiaan jika kita bisa merasa cukup. Mereka yang berlebihan belum tentu merasa cukup untuk bisa berbahagia. Sebaliknya, mereka yang benar-benar dalam kekurangan memang sering sulit untuk merasa cukup. Karena itu, mereka yang punya kelebihan hendaklah bisa menolong sesamanya, agar mereka bisa merasakan sukacita bersama (Lukas 3: 11).

Ayat-ayat Alkitab diatas sebenarnya menyatakan bahwa hidup untuk mencari kesenangan duniawi tidaklah dapat dibenarkan. Tetapi hidup manusia yang didalam kasih Tuhan dan yang bisa membagikan kasihNya untuk orang lain sudah sewajarnya membawa sukacita di dunia. Kita tahu bahwa adanya makanan dan minuman belum tentu menjamin adanya perasaan sukacita. Tapi adanya sukacita membuat keadaan apapun bisa diterima dengan bersyukur.

Pagi ini, jika kita merencanakan sesuatu acara untuk bersukaria, kita harus bertanya apakah kita melakukan hal-hal itu hanya untuk bisa bersukaria. Ataukah kita lebih dulu merasa cukup dalam hidup kita dan karena itu ingin merayakan sukacita kita dengan sesama kita sambil bersyukur kepada Tuhan? Dua hal ini sangat berbeda artinya sebab usaha untuk bersukacita tanpa adanya rasa cukup dan syukur dalam hidup kita adalah sia-sia dan hanya membawa kehampaan.

2 pemikiran pada “Bersukaria boleh saja, asal….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s