Jangan tunduk dalam ketakutan

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan” Efesus 5: 22

Soal tunduk kepada suami ini sering menjadi bahan perdebatan di kalangan umat beragama. Saya ingin mengulasnya setelah membaca berita ABC Australia kemarin mengenai kasus-kasus penganiayaan istri  oleh suami (domestic violence) diantara umat Kristen.

Sayang bahwa gereja dan pendeta dalam hal ini sering tidak mau campur tangan dan bahkan memilih untuk menekankan bahwa istri harus tetap “tunduk” kepada suami. Banyak pendeta yang kukuh mengajarkan bahwa seperti manusia harus tunduk kepada Tuhan, istri juga harus tunduk dan taat kepada suaminya dalam keadaan apapun.

Memang seperti Tuhan mengasihi manusia, suami harus mengasihi istrinya. Suami juga harus mengasihi istrinya seperti ia mengasihi dirinya sendiri (Efesus 5: 25-28). Masalahnya ialah banyak suami yang tidak mengenal kasih Tuhan dan bahkan tidak tahu bagaimana ia harus mengasihi dirinya sendiri. Inilah masalahnya: bagaimana istri bisa tunduk kepada suami yang demikian?

Membandingkan lelaki dan wanita, mungkin tidak ada orang yang membantah bahwa pada umumnya lelaki lebih kuat fisiknya daripada wanita. Karena itulah, dalam olahraga, tim pria tidak bertanding melawan tim wanita. Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa kejahatan suami terhadap istri, atau kekerasan pria atas wanita secara umum tidak dapat diterima masyarakat manapun.

Dalam rumah tangga, seorang suami mungkin lebih bisa mengerjakan satu hal dan sang istri sering lebih luwes melakukan hal yang lain. Tetapi yang sering terjadi dalam rumah tangga adalah istri diharapkan untuk tunduk kepada suami dalam semua hal, bahkan seperti tunduk kepada Tuhan. Apakah seorang istri harus selalu memandang dirinya kurang berarti? Apakah istri tidak boleh membantah dan menentang perlakuan semena-mena suami? Berita-berita di media sampai sekarang sering menunjukkan bahwa banyak istri yang menderita lahir dan batin karena harus tunduk kepada sang suami. Bahkan ada suami yang mungkin karena saking pintarnya bertinju, suka memukuli istrinya sampai babak belur!

Bagi kita yang sudah lama menikah, mungkin kita sudah terbiasa dengan perlakuan suami atau istri kita. Mungkin perlakuan kita yang dulu kurang baik, jika ada, sudah berhasil  diperbaiki. Syukurlah kalau begitu. Jika tidak, kesempatan masih ada untuk mengubah apa yang keliru. John Piper, pendeta dan penulis buku Kristen terkenal, menulis:

  1. Tunduk bukan berarti selalu setuju.
  2. Tunduk bukan berarti istri harus menanggalkan akal budi.
  3. Tunduk bukan berarti tidak pernah atau mau mempengaruhi suami.
  4. Tunduk bukan berarti mendahulukan kehendak suami diatas kehendak Tuhan.
  5. Tunduk bukan berarti menggantungkan seluruh kekuatan rohani kepada suami.
  6. Tunduk bukan berarti hidup dalam ketakutan.

Marilah kita juga bisa mengajarkan anak-cucu kita agar mereka tidak memperoleh pengertian yang keliru tentang ayat-ayat diatas!

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” 1 Yohanes 4: 18

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s