Maaf, tidak sedia gado-gado!

“Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!” Roma 16: 17

Kita semua tentu tahu apa gado-gado itu. Makanan yang sangat populer di Indonesia dan juga diluar negeri, terutama di Belanda. Salad campur yang berbumbu kacang itu juga termasuk favorit saya, walaupun saya kurang suka ketimun dan kubisnya. Karena itu saya biasanya pesan gado-gado tanpa sayur-sayur itu. Memang itulah enaknya, gado-gado bisa disesuaikan dengan selera pembeli.

Kalau gado-gado dibuat dari berbagai jenis makanan yang setelah dicampur mempunyai rasa “sreg”, istilah “gado-gado” biasanya dipakai untuk menunjuk pada suatu campuran berbagai hal yang kurang cocok. Penampilan “gado-gado” misalnya, adalah penampilan campur aduk yang tidak memberi kesan bersatu dan harmonis.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, mengingatkan agar jemaat berhati-hati akan mereka yang  mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan pengajaran yang telah mereka terima sebelumnya, yang menimbulkan perpecahan dan godaan. Pengajaran “gado-gado” yang kacau dan menyesatkan, yang membuat jemaat menjadi bingung.

Paulus lebih lanjut menjelaskan (Roma 16: 18) bahwa pemimpin-pemimpin umat yang demikian tidak melayani Kristus, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis bagaikan gado-gado, mereka menipu jemaat yang tidak sadar akan hal itu. Mereka dengan semangat berkobar-kobar menarik perhatian jemaat yang hanya menginginkan sesuatu yang sedap untuk didengar telinga mereka.

Memang manusia dari awalnya selalu tertarik akan hal-hal yang “enak” dan “hebat” daripada hal-hal yang benar. Mereka di jaman ini lebih senang mendengar “kabar baik” yang memberikan kesan bahwa orang percaya pasti hidup dalam keberhasilan karena Tuhan maha kasih. Mereka juga ada yang yakin bahwa Tuhan mengasihi semua manusia termasuk mereka yang memilih untuk tetap hidup dalam dosa. Ada juga yang imannya bergantung pada keajaiban-keajaiban yang terjadi dalam gereja. 

Hari Minggu ini jika kita ke gereja, kita tentunya bermaksud untuk berbakti kepada Tuhan dan mendengarkan FirmanNya. Tetapi sadarkah kita bahwa ada kemungkinan bahwa kita akan menjumpai “gado-gado” dalam menu gereja?

Gado-gado bisa kita jumpai di gereja antara lain ketika kita melihat adanya hal-hal ini:

  1. Firman Tuhan disampaikan dengan campuran pendapat/pengalaman pribadi yang muluk-muluk dan tidak alkitabiah.
  2. Puji-pujian dinyanyikan untuk membangkitkan gairah jemaat dan kebaktian menjadi  “show besar” guna memenuhi keinginan manusia saja.
  3. Kebaktian sepertinya untuk memuliakan Tuhan tetapi sebenarnya untuk mencapai maksud-maksud eksklusip golongan/orang tertentu.
  4. Firman Tuhan disampaikan dengan bumbu pemanis dan bahan penyedap supaya bisa menyenangkan dan memuaskan keinginan jemaat.
  5. Firman Tuhan dicampur dengan pesan-pesan lain untuk memotivasi jemaat. Firman Tuhan  berubah menjadi pesan pemikiran positip saja.

Sebagai umat kristen kita harus senantiasa berwaspada jika kita menjumpai lingkungan yang tidak membawa kita kepada Firman, yang tidak berlandaskan Alkitab dan yang tidak memberitakan Firman. Kita harus tahu mana/siapa yang menghidangkan “gado-gado” dan mana yang tidak. Bersyukurlah jika anda bisa melihat tanda “Maaf, tidak sedia gado-gado!” di gereja anda pada hari Minggu ini!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s