Tuhan sumber berkat

 “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”  Matius 7: 7

Puluhan tahun yang silam, saya menghadiri sebuah kebaktian kebangunan rohani (KKR) yang dipimpin oleh seorang evangelis ternama dari luar negeri. Ketika itu ribuan orang datang ke lapangan sepakbola Persebaya di sebelah Taman Hiburan Rakyat (THR) di Surabaya. Dalam kebaktian itu ada juga acara doa untuk kesembuhan penyakit, dan banyak orang yang maju kedepan untuk mendapat kesembuhan Ilahi.

Waktu itu saya tidak sakit apapun, kecuali kedua mata saya yang rabun jauh. Kekurangan dalam soal pengelihatan ini saya terima sebagai kenyataan hidup dan masyarakat di sekeliling saya juga menganggapnya jamak. Malahan kata orang, cacat mata seperti itu biasanya tanda “kutu buku”. Walaupun saya percaya bahwa Tuhan bisa menyembuhkan segala penyakit, saya tidak mengharapkan kesembuhan untuk mata saya. Saya melihat bahwa yang minta kesembuhan kebanyakan adalah orang yang sakitnya parah dan bukannya “sakit” berkacamata.

Sesudah KKR, seseorang yang saya kenal bertanya mengapa saya tidak meminta kesembuhan kalau saya percaya Tuhan bisa menyembuhkan segala penyakit. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena saya tidak tahu apa yang harus saya katakan. Untuk menjawab pertanyaan itu ternyata saya harus menunggu bertahun-tahun……

Ayat diatas sangat dikenal oleh umat Kristen. Ayat yang sering dipakai untuk mengajak orang berdoa, memohon sesuatu dari Tuhan Sang Pencipta. “Name it, claim it” atau “minta dan dapatkan” adalah pandangan sebagian orang Kristen yang yakin bahwa Tuhan akan memberikan apa saja yang mereka minta. Siapa yang menginginkan sesuatu hendaknya rajin berdoa memohon kepada Tuhan untuk hal itu, dan Tuhan pasti mengabulkannya.

Sebagian umat Kristen juga berpendapat bahwa jika berkat Tuhan tidak juga datang, itu mungkin karena kurang berdoa atau kurang iman. Tambahan lagi, jika kita percaya bahwa Tuhan sudah memberikannya, pastilah itu akan benar-benar terjadi. Tuhan adalah sumber hidup, sumber rezeki; dan berkatNya yang pasti akan datang sesuai dengan permintaan umatNya.

Berdasarkan prinsip diatas, saya bayangkan jika saya benar-benar memohon kepada Tuhan waktu itu, saya pasti tidak perlu memakai kacamata tebal lagi sejak SD.  Mungkin dokter mata dan optometris juga pada tutup kalau seluruh kota mendapat kesembuhan serupa. Tetapi, apa yang terjadi ternyata lain dari yang dibayangkan. Bahwa sekarang saya bisa menyetir mobil tanpa kacamata, itu adalah karena operasi mata yang saya alami.

Tuhan memberkati saya dan dokter yang merawat saya sehingga operasi mata berjalan sukses, 50 tahun sesudah saya mengikuti acara KKR di Surabaya. Tuhan bekerja tetapi tidak seperti yang saya harapkan dan bayangkan. Tuhan ternyata membuat mujizat yang berbagai ragam di tempat dan waktu yang berbeda-beda sesuai dengan prioritasNya.

Dengan bertambahnya umur, hubungan kita dengan Tuhan seharusnya makin berkembang dan dewasa. Pengertian kita akan apa yang dikerjakan Tuhan, apa yang disukaiNya, apa yang dibenciNya dll. tentunya akan berubah. Itu semua karena pekerjaan Roh Kudus yang bekerja tiap saat untuk mencelikkan mata rohani umat percaya. Karena itu jugalah iman tumbuh makin subur lewat pergumulan hidup.

Jika dulu kita seringkali mau memohon kepada Tuhan apapun yang kita inginkan, sekarang kita mungkin hanya berdoa untuk apa yang kita butuhkan. Jika dulu kita mengaku bahwa semua yang kita inginkan adalah sesuatu yang kita butuhkan, sekarang mungkin kita sering berdoa untuk bisa melihat apa yang benar-benar kita butuhkan. Jika dulu kita, seperti anak kecil, sering memusatkan diri kepada apa yang kita butuhkan, mungkin sekarang kita lebih dewasa dalam iman dan bisa melihat apa yang dibutuhkan orang lain. Jika dulu kita yakin bahwa Tuhan ada untuk melayani permintaan kita, sekarang kita harus sadar bahwa manusia diciptakan untuk kemuliaan Sang Pencipta.

Satu hal lain yang juga penting untuk pengertian umat percaya adalah soal prioritas Tuhan dalam rencanaNya. Bagi sebagian umat Kristen, Tuhan sebagai Bapa, seharusnya memgutamakan soal kebutuhan anak-anakNya. Karena itu banyak ajaran yang menekankan kasih Tuhan dalam memenuhi kebutuhan jasmani manusia. Ajaran ini sekarang banyak pengikutnya karena seolah Tuhan itu akan memberi apapun yang kita minta pada saat yang kita kehendaki. Kehendak kita yang terjadi, bukan kehendakNya.

Iblis dari awalnya tahu bahwa manusia memiliki kecederungan untuk mementingkan diri sendiri. Ia tahu jika manusia dibuai dengan kesuksesan dan kemewahan, mereka akan lebih mudah dipengaruhinya. Itulah sebabnya begitu banyak gereja yang saat ini sukses dalam menarik jemaat, karena manusia lebih tertarik untuk hidup berlebihan dalam kemewahan dan keberhasilan daripada hidup dalam iman dan merasa cukup dalam setiap keadaan. 

Kebahagiaan yang ditawarkan banyak pembicara sekarang ini juga sering dilandaskan pada kepercayaan manusia kepada diri sendiri dan bukan kepada Tuhan (positive thinking). Seringkali manusia dianjurkan untuk percaya bahwa mereka pada hakekatnya adalah baik, dan karena itu mereka tidak perlu memikirkan dosa mereka. Tidak perlu punya “negative thinking” tentang diri sendiri dan orang lain. Akibatnya, sekalipun hidup manusia kacau balau, bayangan akan Tuhan yang mahakasih seolah memberi mereka kepercayaan diri bahwa hidup mereka sudah benar. Dengan itu, tumbuh juga kepercayaan bahwa doa mereka selalu didengar Tuhan.

Ada banyak contoh dalam Alkitab dimana Yesus dan murid-muridNya menyembuhkan orang sakit dan bahkan membangunkan orang mati. Yesus juga membuat air menjadi anggur dan meredakan topan. Tetapi harus kita sadari bahwa prioritas tugas Yesus waktu itu adalah penyelamatan manusia dari dosa. Prioritas tugas murid-murid Yesus waktu itu adalah mengabarkan Injil keselamatan. Prioritas hidup kita sebagai umat percaya adalah untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Setelah kita sadar dan menerima apa yang kita harus prioritaskan dalam hidup, bolehlah kita menyampaikan permohonan kita kepada Tuhan. Apa yang diminta secara benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan akan terjadi.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kita harus berdoa dengan sikap dan tujuan yang benar. Kita adalah tanah liat dan Tuhan adalah penjunan kita. Kita adalah manusia berdosa dan Tuhan adalah mahasuci. Manusia  dalam kebodohannya tidak akan dapat mengerti cara berpikir Tuhan yang maha bijaksana. Jika kita berdoa, seringkali kita tidak tahu bagaimana caranya. Orang lain yang ditanya mungkin malah mengajarkan hal yang tidak benar. Hanya Roh Kudus yang bisa mengajar kita secara pribadi untuk berdoa secara benar (Roma 8: 26). Kita harus tetap ingat bahwa doa yang benar selalu mengandung kata-kata “jadilah kehendakMu” dan “secukupnya” (Matius 6: 10-11).

Kembali ke ayat Matius 7: 7 diatas:

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” 

Apakah anda tahu apa yang harus diminta dan dicari?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s