Mengerti untuk mendengar, mendengar untuk mengerti

Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: “Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” 1 Samuel 3: 10

Pada waktu Samuel disapa Tuhan, ia tidak mengerti bahwa itu adalah suara Tuhan. Tetapi saat itu Samuel belum mengenal Tuhan secara pribadi. Bagi Samuel, ia mulanya mendengar suara tapi belum mengerti kalau itu suara Tuhan. Untunglah imam Eli menyadarkan Samuel bahwa Tuhanlah yang memanggilnya. Samuel kemudian mengerti bahwa ia harus menyambut sapaan Tuhan itu dengan kesediaan untuk mendengar. Dan setelah Samuel bisa mendengar suara Tuhan, ia bisa mengerti maksud Tuhan. Mengerti untuk mendengar adalah perlu agar setelah mendengar kita bisa mengerti.

Tidak seorangpun yang dapat menyangkal pentingnya pendengaran. Kemampuan mendengar mungkin umumnya tidak terlalu dipikirkan, sampai saat dimana orang lain mulai mengomel ketika kita tidak mendengar apa yang mereka katakan. Juga, ketika orang lain harus mengulangi apa yang dikatakan beberapa kali, barulah kita sadar bahwa ada sesuatu yang mengganggu pendengaran kita.

Buat semua orang, berkurangnya pendengaran memang sering dijumpai. Terutama mereka yang sewaktu muda kurang memperhatikan bahaya bunyi peralatan berisik.  Ketulian dikalangan anak muda pada jaman ini juga cenderung meningkat karena kebiasaan mendengarkan musik yang bervolume tinggi. Memang buat mereka, musik yang hingar bingar seringkali merupakan sesuatu hiburan yang digemari. Dengan mendengarkan musik keras semacam itu mungkin mereka bisa melupakan kesedihan hati.

Ketulian mungkin juga diakibatkan kebiasaan “menulikan diri”. Seringkali, karena merasa terganggu, seseorang mungkin mengabaikan apa yang diucapkan orang lain: masuk telinga kiri, keluar dari telinga kanan. Malah sekarang ini ada banyak alat-alat yang bisa dipakai agar orang tidak mendengar kebisingan atau suara disekelilingnya. Orang juga bisa seakan tuli karena tidak memberikan waktu atau perhatian untuk mendengar. Mungkin mereka tidak mengerti perlunya untuk mendengar. 

Jika telinga kita adalah alat pendengaran jasmani, bagaimana pula dengan pendengaran rohani kita? Dalam hidup ini, suara Tuhan seharusnya dikenal dan bisa didengar oleh semua umatNya  – seperti apa yang terjadi pada Samuel. Yesus berkata bahwa domba-dombaNya mengenal suaraNya (Yohanes 10: 16). Tetapi dalam kenyataannya, tidak semua orang mengerti pentingnya untuk mendengar suara Tuhan tiap hari. Tidak semua orang mau atau bisa mendengar.

Memang, seperti telinga kita, kemampuan kita untuk mendengar suara Tuhan sering tidak bekerja dengan baik. Mungkin karena kita belum benar-benar mengenal Tuhan. Mungkin juga, kenyamanan hidup dan ketidak-pedulian membuat  kita kurang bisa mengenal suara Tuhan. Juga, karena kita sudah berhasil mengatasi tantangan hidup dan merasa sudah beriman, ketulian rohani bisa merupakan manifestasi kepercayaan pada diri sendiri yang terlalu besar.

Kerusakan pendengaran rohani bisa terjadi karena adanya kebiasaan hidup di masa lalu. Kebiasaan mendengarkan suara-suara lantang yang manis menggoda dan menyesatkan  di masa lalu, membuat kita tidak peka atas bisikan Roh Kudus. Terlebih lagi, ada saja hal-hal yang bisa kita pakai untuk membungkam suara Tuhan, seperti pengalaman pribadi dan pikiran duniawi kita. Selain itu, kemalasan dan kesibukan diri sendiri membuat tidak ada waktu untuk memikirkan perlunya untuk mendengar dan mengerti firman Tuhan. 

Pagi ini kita diingatkan untuk memikirkan perlunya mengenali suara Tuhan. Kita harus tahu bahwa ada bunyi-bunyian lain dalam hidup yang bisa mengacaukan suara Tuhan. Jika kita tidak dapat menangkap apa yang difirmankanNya, bagaimana pula kita bisa mengerti bagaimana kita harus hidup sesuai dengan perintahNya? Untuk mau mendengar kita harus mengerti pentingnya untuk mendengar dengan baik; dan untuk bisa mengerti apa yang penting dalam hidup ini, kita harus mau mendengar!

“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar. “Matius 11: 15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s