Reuni yukk….

“Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.” Wahyu 7: 9


Dimana-mana ada reuni. Disini reuni, disana reuni. Kemarin reuni, besok reuni. Memang sekarang ini lagi demam reuni di Indonesia. Dengan majunya berbagai aplikasi internet, orang makin bisa menemukan teman-teman lama yang sudah lama tidak dijumpai. Pertemuan lewat internet kemudian bisa berlanjut dengan kopdar, pertemuan di darat, mulai dengan reuni kecil, reuni besar, dan kemudian reuni akbar.

Reuni adalah kesempatan untuk bertemu, makan-makan, bertukar cerita, bernostalgia dan malah  juga untuk berbagi gosip. Bagi sebagian orang, reuni sangat menyenangkan karena adanya kesempatan untuk “show-off” atau pamer untuk pakaian, status dan bahasa; tetapi bagi yang lain, adanya reuni itu bisa merepotkan dan kurang menyenangkan. Memang pertemuan dengan orang yang disenangi, orang yang cocok dengan kita, adalah menyenangkan. Tetapi pertemuan dengan orang yang dulu kurang kita senangi, apalagi yang dulu kita benci, bisa merusak suasana sekalipun sudah lama tidak bertemu. Belum lagi kenangan pahit masa lalu, sewaktu kita berbuat hal-hal yang konyol, mungkin juga dijadikan bahan pembicaraan pada saat reuni. Karena hal-hal ini, sebagian orang mungkin menghindari acara reuni.

Ingatan akan masa lalu, terutama hal-hal yang kurang baik memang seringkali menghantui manusia. Manusia sering mengalami penderitaan dan bahkan depresi karena munculnya perasaan bersalah, rasa sedih atau perasaan kurang enak mengenai hal-hal yang terjadi pada masa yang silam. Buat orang beriman, satu-satunya hal yang bisa membesarkan hati kita ialah kenyataan bahwa Tuhan yang mahakuasa dan yang tidak bisa lupa, ternyata memilih untuk melupakan kelemahan kita:

“Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.” Yesaya 43: 25

Jaminan bahwa Tuhan akan melupakan dosa dan kelemahan kita adalah suatu yang membuat orang Kristen tabah dan kuat dalam menghadapi masa depan. Jaminan ini tidak boleh dilupakan dan bahkan harus diingat-ingat untuk kita bisa memasuki masa depan dengan segala tantangan yang ada. Jika iblis mengingatkan kita akan masa lalu kita agar hidup kita di masa depan bisa diisi dengan kemurungan dan kesengsaraan, jaminan Tuhan inilah yang akan bisa menepis tuduhan-tuduhan iblis itu. Jika pikiran kita mudah melupakan berkat Tuhan hari ini, kita harus tetap ingat bahwa Tuhan dulu sudah memilih kita apa adanya untuk bisa bereuni bersama saudara-saudara seiman di surga dimasa depan.

Reuni di surga akan lain dengan reuni didunia. Kitab Wahyu diatas menjelaskan bahwa ini adalah reuni super akbar yang dihadiri oleh orang percaya yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa. Mereka yang diundang ke reuni ini akan berdiri di hadapan takhta Allah Bapa dan Yesus, semuanya memakai pakaian yang sama yaitu jubah putih, dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Mereka terlihat suci dan bahagia, memuliakan dan memuji kemuliaan Tuhan. Sekalipun mereka terdiri dari berbagai suku dan bangsa, mereka dapat berkomunikasi satu dengan yang lain. Sekalipun mereka dulunya tidak saling mengenal, mereka bisa bersatu dalam kasih karunia Tuhan.

Reuni yang kita alami di dunia ini, seharusnya mengingatkan bahwa pada saatnya kita akan menghadiri reuni di surga. Selagi kita masih bisa bereuni di dunia, kesempatan masih ada untuk kita mempersiapkan diri guna bereuni di rumah Bapa. Kesempatan masih ada juga untuk mengundang teman-teman yang belum sadar bahwa pada suatu saat kita semua akan bertemu dengan Sang Pencipta melalui penebusan darah Kristus.

Reuni dengan teman sekolah mungkin sangat menarik, tetapi reuni dengan teman seiman seharusnya jauh lebih menarik, sesuatu yang dirindukan setiap orang percaya. Dalam reuni dunia, pelan-pelan kita akan menyadari bahwa kemampuan manusia ada batasnya; ingatan mungkin berkurang, kesehatan mungkin menurun. Tetapi kesadaran tentang bakal adanya reuni di surga seharusnya makin membuat kita makin ingat akan kasih Tuhan dan makin dikuatkan dalam menghadapi apa yang masih harus kita perjuangkan dalam hidup ini. Kesadaran ini jugalah yang seharusnya mengubah hidup kita selama ada di dunia karena hidup kita bukannya milik kita, tetapi Kristus yang hidup didalamnya (Galatia 2: 20). Apapun yang pernah kita alami di dunia tidaklah menentukan apa yang akan kita alami setelah itu; hanya iman kepada Kristus yang memungkinkan kita untuk bereuni didepan Tuhan!

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s