Apakah Tuhan itu adil?

“Sebab nama TUHAN akan kuserukan: Berilah hormat kepada Allah kita, Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.”  Imamat 32: 3-4

Pertanyaan apakah Tuhan itu adil memang sering muncul dalam pikiran manusia karena adanya ketidak-adilan dan penderitaan dalam dunia ini. Untuk sebagian manusia, Tuhan itu, jika memang ada, adalah Tuhan yang tidak berkuasa, tidak peduli atau jahat. Mengapa begitu? 


Beberapa tahun yang silam, sebuah sekolah mengadakan reuni akbar. Yang diundang adalah para lulusan dari segala penjuru negara. Pesta reuni berjalan lancar dan semua undangan nampak gembira. Namun terlihat juga adanya perbedaan diantara hadirin. Semua dulunya adalah murid-murid yang lulus dengan ijazah yang serupa, namun setelah selang waktu puluhan tahun ternyata tiap orang mencapai tingkat kepuasan hidup yang berbeda-beda. Apakah Tuhan memberi berkatNya dengan “pilih kasih”? 

Dalam kisah jatuhnya manusia di taman Firdaus, Tuhan mengutuki tanah sehingga dengan bersusah payah manusia akan mencari rezeki dari tanah untuk seumur hidup (Kejadian 3: 17-19). Kenyataannya, penderitaan manusia di dunia tidaklah sama. Negara-negara tertentu rakyatnya hidup menderita bertahun-tahun karena peperangan, musim kemarau yang berkepanjangan, kegagalan ekonomi dsb. Di berbagai tempat anak-anak yang tidak bersalah mengalami sakit dan bahkan mati karena malnutrisi dan hal-hal jahat. Mungkin Tuhan itu tidak adil? Atau tidak peduli? Atau memang Ia Tuhan yang jahat, yang senang menyiksa manusia?

Untuk mereka yang percaya adanya Tuhan, hukuman dari Tuhan karena manusia jatuh dalam dosa sebenarnya menunjukkan bahwa Ia yang mahasuci itu “fair”; ada hukum, ada sanksinya.  Tetapi keadilan Tuhan dalam hal ini juga tidak mudah dimengerti manusia. Mengapa Tuhan tidak membiarkan manusia mati karena dosa mereka? Padahal itu adalah hukuman yang sudah ditentukan Tuhan sebelumnya (Kejadian 3: 3).  Tuhan justru mengirimkan tebusan termahal, yaitu Yesus Kristus – supaya siapa yang percaya tidak binasa. Kalau begitu, apakah Tuhan tidak benar-benar adil? Mungkinkah Ia bersifat temperamental? Seenaknya sendiri?

Ada orang yang mungkin berpendapat bahwa ketidak adilan Tuhan itu sudah jelas nampak ketika Ia memilih bangsa Israel sebagai bangsa pilihanNya. Tetapi, sebagai bangsa pilihan ternyata bangsa Israel tidak saja harus mengalami berbagai ujian dan kesukaran. Bangsa yang keras kepala itu jugalah yang akhirnya menjadi yang terbelakang dalam hal menerima keselamatan melalui  penebusan darah Kristus. Tuhan ternyata mempunyai rencana-rencana besar yang melibatkan respons manusia! Tuhan memang menjalankan rencanaNya diantara keadaan dunia dan kehidupan manusia. Ia yang mahakuasa tidak dapat dibatasi oleh manusia yang kecil.

Tuhan itu memang adil, tetapi itu sering tidak kita disadari karena kita tidak mengerti jalan pikiran dan rencanaNya. Kita sebagai manusia yang hidup dalam dunia yang penuh dosa ini, mungkin juga tidak dapat mengerti  bahwa sebagai Tuhan yang mahakuasa, Ia bebas memilih tindakan apa saja, tetapi sebagai Tuhan yang mahakasih Ia tetap mengasihi manusia.

Seperti tingginya langit dari bumi,  tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. Yesaya 55: 9

Dunia ini kacau karena dosa dan manusia menderita karena segala sesuatu menjadi seperti tanah yang tandus sehingga hanya dengan bersusah payah kita akan mencari rezeki sampai akhir hayat. Dunia ini tidak adil tetapi Tuhan mempunyai rancangan untuk menggunakannya dengan memberi kesempatan bagi manusia untuk bekerja-sama dan menolong mereka yang menderita.

Keadilan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari rencanaNya. Dengan adanya ketidak adilan di dunia, kasih Tuhan dapat dipancarkan melalui umatNya. Tuhan tidak membuat semua manusia mengalami penderitaan dan kebahagiaan yang sama, tetapi Tuhan memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh umat manusia untuk memilih jalan yang benar, mendengar suaraNya dan hidup menurut perintahNya dalam semua keadaan.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”  Matius 22: 37-39

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s