Sudah merdeka mengapa mati?

“Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.”  Roma 8: 2

Dalam masa perjuangan 45, bangsa Indonesia pernah punya semboyan: Merdeka atau Mati! Dalam merayakan hari kemerdekaan bulan Agustus yang baru lalu, semboyan ini banyak bermunculan di berbagai media. Setiap orang tahu makna dan pentingnya semboyan itu dalam sejarah terbentuknya negara Indonesia. 

Dikaji lebih jauh, ternyata semboyan itu tidak sekedar punya arti lebih baik mati daripada tidak merdeka. Kalau dirujukkan pada  iman Kristen, semboyan itu juga punya arti pilihan hidup. Kalau kita tidak bisa hidup dengan kemerdekaan dari dosa maka kita akan menjalani hidup dengan kematian. 

Tuhan Yesus sudah datang ke dunia sebagai  anak Allah dalam rupa manusia yang tidak berdosa. Ia jugalah yang disalibkan untuk menebus dosa manusia. Kita tidak dapat dengan usaha sendiri membebaskan diri dari belenggu kematian, tetapi karena darah Kristus kita dapat memperoleh kemerdekaan dari hukuman dosa dan hukuman kematian. Kita telah dimerdekakan dan karena itu tidak perlu menjalani kematian abadi.

Seperti perjuangan kemerdekaan suatu bangsa, perjuangan kita untuk mencapai kemerdekaan dari belenggu kematian menuntut pengorbanan besar. Tetapi, berbeda dengan kemerdekaan suatu bangsa, itu bukannya karena usaha kita, melainkan anugerah Allah semata. Kita bukanlah pahlawan kemerdekaan jiwa kita. 

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”  Efesus 2:  8-9.

Kemerdekaan bangsa adalah sesuatu yang sangat berharga di mata manusia. Kemerdekaan yang dibayar dengan darah para pejuang. Begitu juga kemerdekaan dari hukum dosa seharusnya adalah sesuatu yang sangat berharga di mata orang Kristen  karena dibayar dengan darah Kristus. Benarkah begitu?

Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang sesudah menerima kemerdekaan dari Kristus justru menjadi apatis dan malah mundur dari imannya. Mereka merdeka, tetapi memilih untuk mati rohani atau mati suri dalam menjalankan perintah Tuhan dalam hidupnya.  Mereka mengabaikan ajakan Paulus untuk tidak kendor dalam melayani Tuhan:

“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Roma 12: 11-12

Pada pihak yang lain, ada orang yang merasa bahwa predikat Kristen sudah cukup untuk membuktikan bahwa mereka adalah orang percaya. Mereka mungkin puas dengan adanya harapan untuk menjadi warganegara kerajaan surgawi. Tetapi mereka tidak sadar bahwa tidak semua orang yang berseru: Merdeka! adalah orang yang benar-benar mau dan sudah dibebaskan dari belenggu dosa.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Pagi ini, marilah kita mengevaluasi hidup kita. Jika memang kita sudah menerima Yesus sebagai juruselamat kita, kita tidak boleh lalai dalam menjalankan amanat kasihNya. Tetapi jika kita memang belum bisa menjalani hidup dalam terangNya, masih ada kesempatan untuk kita bertobat dan dimerdekakan dari hukum dosa dan hukum maut. Merdeka atau mati?

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Matius 24: 12-13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s