Antara pilon dan bunglon

“Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.”  Kisah 17: 30

Omong-omong soal berbuat kesalahan, mungkin paling enak kalau kita bisa berlagak pilon. Kita bisa mengaku gaptek, lupa, atau kurang paham aturan dan hukum. Selain itu, kita mungkin juga bisa menyesuaikan diri dengan keadaan setempat. Selama keadaan disekitar kita memperbolehkan, kita merasa bebas untuk berbuat apa saja yang kita mau. Lain tempat, lain sikap. Seperti bunglon…

Anda mau coba? Bagaimana kalau anda ngebut di freeway Australia untuk melanggar batas kecepatan mengemudi yang 100 km/jam sampai tertangkap polisi? Kepada polisi yang menangkap kita, mungkin kita bisa memakai salah satu alasan ini supaya dibebaskan dari denda:

  • Kan tidak ada rambunya, pak?
  • Maaf pak, tadi saya tidak lihat rambunya
  • Pak, orang lain juga begitu …
  • Maaf, saya perlu buru-buru…
  • Ini cuma sekali koq..
  • Wah, GPS saya mati!

Mungkin sulit dibayangkan bagaimana reaksi polisi itu, tetapi yang jelas pasti anda akan ditilang. Peraturannya sudah ada dan anda memiliki SIM, dengan demikian tidak ada alasan untuk melanggar batas kecepatan sekalipun anda tidak melihat rambunya.

Seperti itu jugalah hidup orang Kristen di dunia.  Kita mempunyai buku yang dinamakan Alkitab yang berisi firman Tuhan yaitu pedoman hidup. Kita mungkin tidak hafal semua ayatnya, tetapi kita tahu bahwa kita harus hidup sesuai dengan pedoman-pedoman pokok dalam Alkitab yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 22:40).Tetapi, jika hidup kita tidak sejalan dengan itu, mungkinkah  kita memakai salah satu dari alasan dibawah ini?

  • Ayatnya mana?
  • Saya kurang paham isi Alkitab.
  • Orang lain juga begitu.
  • Tapi ini membawa untung.
  • Ini cuma sekali saja.
  • Tadi pendeta tidak bilang apa-apa.

Mungkin kita tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi Tuhan, tetapi yang jelas pasti Ia tidak menyukai jawaban kita! Alkitab sudah ada dan jika kita mengaku Kristen, tidak ada alasan bagi kita untuk melanggar firman Tuhan sekalipun lingkungan kita memungkinkan; apalagi Roh Kudus ada dan selalu siap untuk mengingatkan kita.  

Bacaan dari Kisah 17: 30 diatas menjelaskan bahwa jaman dimana manusia bisa berlagak pilon dan bertingkah laku seperti bunglon sudah lewat. Setelah Yesus datang ke dunia dan menggenapi hukum Taurat, setiap umat Tuhan, Yahudi dan bukan Yahudi, harus dapat mengerti apa yang dikendaki Tuhan dalam hidup kita (Matius 5: 17-48). 

Sebelum Kristus datang, apa yang diketahui manusia tentang Tuhan dan perintahNya masih belum jelas dan sering dipengaruhi oleh lingkungan hidup mereka.

“Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing.” Kisah 14: 16

Tetapi kedatangan Kristus membuat setiap orang percaya tidak bisa berdalih lagi dalam menjalani hidup Kristen. 

Pagi ini, marilah kita memikirkan apa yang biasa kita lakukan dalam hidup kita. Mungkin, karena kita berbeda, baik dalam hal latar belakang keluarga, pendidikan, suku, negara, pekerjaan dll., kita memiliki standar etika, hukum, budaya dan tingkah laku yang juga berbeda. Tetapi itu bukan alasan untuk mempunyai pengertian yang berbeda tentang firman Tuhan.

Seringkali sebagai manusia kita memilih apa yang paling mudah dijalankan dan yang paling menguntungkan. Dimanapun kita tinggal, Indonesia, Austalia, Amerika atau negara lain, sering kita berlagak pilon, dan terkadang hidup seperti bunglon. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa kita tidak lagi bisa mempunyai hidup seperti itu. Ada hukum yang sama untuk semua orang Kristen.

Setiap orang yang mengaku anak Tuhan harus bisa menyadari apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan firman Tuhan. Ini sering tidak mudah dimengerti, apalagi jika kita kurang berdisiplin. Oleh karena itu, kita harus mau dibimbing oleh Roh Kudus agar mau belajar dengan giat; supaya kita bisa menyadari kekeliruan dan kelemahan kita, untuk bisa bertobat dari praktik-praktik lama yang keliru, sebelum kita berjumpa dengan Dia.

“Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya,” Kisah 17: 31a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s