Mengapa tidak ada waktu untuk bermesraan?

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” Yohanes 10: 14

Di zaman modern ini kehidupan keluarga di negara manapun mengalami perubahan besar. Dimulai dengan adanya TV, DVD dan berbagai computer game, kemudian muncullah HP dan sosial media yang membuat hubungan antar anggota keluarga menjadi renggang. Masing-masing sibuk dengan kegiatan dan kegemarannya sendiri, dan jarang ada waktu yang bisa dinikmati bersama.

Jika di Indonesia banyak orang tua kehilangan kesempatan untuk mengantar anak-anak ke sekolah atau ke rumah teman mereka karena adanya sopir, di luar negeri tiap anak yang sudah punya SIM akan membeli mobil dan jarang bertemu dengan orang tua. Hubungan orang tua dan anak sepertinya menjadi hubungan casual, tidak teratur dan hanya kalau ada perlunya saja. Pada pihak lain,  hubungan antara suami dan istri cenderung jadi formal, untuk sekedar memberi laporan keuangan dan jadwal acara masing-masing. Hubungan personal jadi luntur, tidak ada lagi keintiman dan kemesraan.

Perubahan yang terjadi dalam masyarakat umum terjadi juga di antara umat Kristen. Hubungan umat Israel dengan Allah sebelum Yesus disalibkan adalah hubungan formal dan satu arah. Allah berfirman dengan perantaraan para nabi dan umat Israel tidak bisa berkomunikasi secara langsung dengan Allah. Sekalipun hubungan yang ada bukanlah casual, secara umum tidak ada kemesraan antara Allah dan umatNya. 

Allah tidak menyukai hubungan dengan umatNya yang serba formal seperti yang tertulis dalam kitab Perjanjian Lama, tetapi itu tidak bisa dihindari karena penebusan Yesus belum terjadi. Allah yang mengasihi manusia, menginginkan hubungan yang intim dengan umatNya. Karena itu Ia mengirimkan anakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Dengan penebusan Kristus, hubungan kita dengan Tuhan bisa menjadi hubungan pribadi yang intim sesuai dengan tujuan penciptaan manusia pada awalnya.

Adalah kenyataan yang menyedihkan bahwa sesudah pengurbanan Kristus, tidak semua orang yang mengaku sebagai domba-domba Kristus di zaman ini mengenal suaraNya. Mereka terlalu sibuk dengan acara dan kesibukan mereka sehingga sebagian kembali memakai hubungan formal dengan Tuhan: berdoa bersama dan ke gereja sekali seminggu. Mereka mendengarkan khotbah dan pengalaman pribadi pendeta. Tetapi hubungan yang personal dan intim dengan Tuhan tidak terjadi karena “tidak ada waktu”.

Lebih parah lagi, banyak orang Kristen yang dalam hidup bebasnya hanya mempunyai hubungan casual dengan Tuhan. Jarang-jarang, tidak teratur, dan hanya kalau perlu, atau kalau sempat. Apalagi, saat ini rasanya lebih asyik dan nikmat untuk “bersekutu” dengan teman-teman lama lewat sosmed dan sesekali mengirim gambar-gambar “rohani” dan semboyan-semboyan agama. Seolah kita tidak lagi memerlukan seorang Gembala yang nyata dan hidup. 

Kita harus sadar bahwa Yesus, sebagai gembala yang baik, menjaga domba-dombaNya siang dan malam. Ia juga yang dengan setia selalu memanggil domba-dombaNya untuk mengikuti jalanNya.

“Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.” Yohanes 10: 4

Pagi ini, kita dihadapkan pada dua pilihan. Hidup dengan usaha untuk membina hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan, atau hidup untuk diri kita sendiri dan merasa puas mempunyai hubungan formal atau casual denganNya. Mana pilihan anda?

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Mazmur 23: 1

2 pemikiran pada “Mengapa tidak ada waktu untuk bermesraan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s