Jadilah burung rajawali

“Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” Yohanes 5: 39-40

Sekitar tahun 1970-an, lagu “Burung dalam sangkar” menjadi lagu dangdut yang sangat populer di Indonesia. Lagu yang dinyanyikan oleh Emilia Contessa ini sebenarnya lagu ciptaan musisi legendaris Melayu di era 50-an yang bernama Ahmad Wan Yet. Syairnya berisi rasa kasihan kepada burung yang tidak bisa melepaskan diri dari derita kungkungan sangkar. Memang burung yang dipelihara manusia dalam sangkar tidak berdaya untuk merubah keadaan hidupnya.

Lain burung, lain manusia. Pernahkah anda memikirkan bagaimana seorang anak bisa menjadi orang dewasa yang sopan dan jujur, sedangkan anak yang lain menjadi orang dewasa yang kejam dan tidak jujur? Akibat pendidikan orang tua? Akibat lingkungan hidup? Akibat teman pergaulan? Ataukah karena nasib? Mungkinkah karena sudah dikehendaki Tuhan? Mungkinkah karena manusia hidup bagai burung dalam sangkar?

Manusia diciptakan oleh Tuhan bukan sebagai burung atau hewan yang lain. Manusia diciptakan Tuhan sebagai peta dan teladan Allah dan karena itu, berbeda dengan mahluk yang lain, ia bisa dan harus mengambil keputusan dalam hidup. Perintah Allah kepada manusia untuk menguasai bumi dan isinya (Kejadian 1: 28-29), menunjuk kepada keharusan bagi manusia untuk mengatur hidupnya. Tiap orang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Dalam keadaan apapun, apa yang terjadi dalam hidup manusia biasanya bergantung kepada reaksinya terhadap keadaan di sekelilingnya. Manusia menjadi oknum yang baik atau buruk biasanya karena pilihannya sendiri. Manusia seharusnya hidup bagai burung rajawali yang bebas, bukan bagai burung kutilang dalam sangkar.

Firman Tuhan diatas mengatakan bahwa Ia sudah menyatakan diriNya melalui Alkitab, dan hukumNya juga bisa dibaca dan dipelajari. Walaupun demikian, tidak semua orang mau menerima kabar baik tentang keselamatan dan menjalankan perintah Tuhan dalam hidupnya. Setiap orang mempunyai kesempatan dan bisa mengambil keputusan, tetapi tidak semua orang mau menggunakan kesempatan untuk datang kepada Tuhan dan menjadi manusia baru didalam Yesus.

Jelas bahwa sekalipun Tuhan selalu mengambil inisiatif, hidup kita masih juga bergantung kepada keputusan yang kita ambil. Mungkin kita selama ini belum mau mengambil keputusan sendiri untuk menjadi manusia baru dalam Tuhan.

Mungkin selama ini kita mengikuti keputusan atau pendapat orang di sekitar kita. Mungkin kita masih mempertanyakan apakah eksistensi kita memang sudah final dan tidak bisa diubah. Pagi ini kita harus sadar bahwa kita bertanggung jawab atas reaksi dan keputusan kita dalam hidup ini.

Dalam hidup kita dihadapkan kepada berbagai pilihan. Life is a series of choices. Maukah kita hidup merdeka seperti burung rajawali yang bisa terbang tinggi?

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” Yesaya 40: 31

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s