Kapan diam, kapan pula bicara?

“Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” Kisah 4: 20

Dalam hidup ini kita selalu mengalami berbagai peristiwa yang mengharuskan kita untuk mengambil keputusan. Dalam hal ini, biasanya pilihan kita hanya dua: berbuat sesuatu (do something) atau tidak berbuat apa-apa (do nothing). Namun ada orang yang berpendapat bahwa sekalipun kita tidak berbuat apa-apa, itupun adalah tindakan yang sudah kita pilih dan perbuat. Memang, berdiam diri, tidak berbuat atau berkata apa-apa, bisa merupakan tindakan yang tepat dalam hal-hal tertentu, sebelum menemukan jalan yang lebih baik.

Silence is golden, begitulah peribahasa mengatakan bahwa berdiam diri adalah sebuah tindakan yang bijaksana, daripada salah omong. Peribahasa ini dipakai untuk membenarkan seseorang dalam tidak mengambil tindakan atau menyuarakan pendapatnya. Sayang sekali banyak orang yang menggunakan prinsip ini dengan tujuan yang salah, yaitu untuk melindungi dirinya sendiri dari konsekuensi yang mungkin ada jika ia menyuarakan pendapatnya. Prinsip ini sering dipakai oleh orang yang tidak bisa atau tidak mau mengambil tindakan. Prinsip ini jugalah yang sering menyebabkan terjadinya hal-hal yang menyedihkan dalam rumah tangga dimana pelecehan anggota keluarga terjadi secara tersembunyi karena tidak ada orang yang berani bersuara.

Sejarah memang membuktikan bahwa ada banyak orang yang dipermalukan, mengalami kecaman, penistaan, hukuman, penderitaan, dan bahkan penyiksaan karena mereka “salah omong”. Sejarah gereja pun penuh dengan kejadian-kejadian tragis yang disebabkan karena adanya orang-orang yang melakukan tindakan atau menyuarakan pendapat yang dianggap keliru oleh orang lain. Tetapi kita tahu bahwa Tuhan Yesus pun mati di kayu salib karena Ia mengaku bahwa diriNya adalah Anak Allah.

Sesudah Yesus naik ke surga, murid-muridNya memenuhi amanah agung (Matius 28:18-20) untuk mengabarkan Injil kepada semua bangsa. Dengan penyertaan Roh Kudus mereka menjadi berani dan mempunyai semangat yang berapi-api, menghadapi masyarakat dan pemerintah di mana pun guna memberitakan kebenaran Kristus. Karena itu kita sekarang dapat melihat begitu banyak orang dan pemerintah yang mengenal prinsip-prinsip keKristenan baik dalam hukum maupun etika sehari-hari.

Sebagai orang Kristen, kita semua juga memperoleh panggilan yang sama untuk menjadi garam dan terang dunia.

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Matius 5: 13-14

Karena itu kita harus bisa menunjukkan sifat, sikap dan perbuatan keKristenan kita agar orang lain bisa melihatnya dan mengenal Allah kita. Dengan demikian, “do nothing” adalah sesuatu yang seharusnya dihindari oleh orang Kristen. Kita justru harus mempunyai “passion”, semangat, dan “compassion”, rasa sehati, dalam menghadapi kejanggalan, kemiringan, kesenjangan, dan ketidakadilan apapun dalam hidup bermasyarakat dan bernegara; dan dalam mencari penyelesaiannya. Ini bukan saja dalam soal hukum dan ekonomi, tetapi juga dalam hal budaya dan hidup sehari-hari, baik kecil maupun besar.

Pagi ini kita belajar untuk mengerti akan tanggung jawab kita selaku pengikut Yesus. Dalam hal ini kita harus sadar bahwa tidak semua orang mempunyai kemampuan dan kesempatan yang sama. Umat Kristen adalah individu-individu yang berbeda yang mempunyai karunia-karunia yang berlainan sekalipun Roh Kudus yang sama ada dan bekerja dalam hidup setiap orang percaya. Setiap orang mempunyai talenta yang berbeda dan karena itu ada yang terpanggil untuk berbicara atau bertindak dalam lingkungan dan situasi tertentu, tetapi ada juga yang terpanggil untuk berdiam diri, mendukung dan mendoakan yang lain. Biarlah Roh sendiri yang membimbing kita dalam mengambil tindakan dalam hidup kita!

“Jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.” Roma 12: 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s