Mana yang lebih enak: sukses atau puas?

“Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” 2 Korintus 12: 30

Sewaktu saya masih kecil, sekitar umur 8 tahun, ibu saya menanyakan apa cita-cita saya untuk masa depan. Saya dengan yakin dan bangga berkata bahwa saya akan menjadi seorang tentara dan menikah dengan seorang aktris. Pada waktu itu ibu saya dengan setengah bergurau berkata bahwa kalau itu terjadi, hal itu akan membuatnya menangis setiap hari. Dengan bertambahnya umur saya, cita-cita itu terlupakan dan cita-cita lain pun muncul. Tetapi, kalau teringat akan percakapan saat itu saya sekarang masih bisa merasa geli. Memang cita-cita seorang anak dan juga orang dewasa dibentuk melalui konsep pemikiran manusia yang dipengaruhi keadaan sekitarnya. Konsep tentang kesuksesan dan kebahagiaan manusia umumnya berubah dengan umur kita.

Rasul Paulus adalah seorang Yahudi dari kalangan atas. Pada mulanya ia adalah seorang Farisi yang pandai dan bersemangat berapi-api untuk menghancurkan pengikut Kristus. Ia mempunyai banyak teman dan hidup dalam kejayaan manusiawi. Ia adalah manusia yang sukses menurut ukuran setempat pada waktu itu. Tetapi, pertemuan yang ajaib dengan Yesus di perjalanan menuju Damaskus membuat Paulus bertobat dan menyadari bahwa hidup dan kesuksesannya selama itu adalah sia-sia belaka.

Kehidupan Paulus sebagai pengikut Kristus berubah 180 derajat dari kehidupan lamanya. Tidak lagi bisa menikmati kejayaannya, ia malahan menjadi orang buronan yang seringkali harus menderita dan kelaparan (2 Korintus 11: 26-28). Apakah Paulus pernah bercita-cita untuk menjadi orang yang seperti itu? Sudah tentu tidak demikian. Tetapi, kejadian-kejadian yang dialaminya adalah bagian hidupnya sebagai pengikut Yesus.

Apa yang dianggap Paulus sebagai kesuksesan sebelum menerima Kristus ternyata tidak memberinya kebahagiaan dan kepuasan. Sebaliknya, penderitaan yang dialaminya sesudah mengikut Kristus justru membuatnya bahagia dan bangga. Itu karena hidup lamanya yang sudah disalibkan bersama Kristus sehingga ia menerima hidup baru dalam iman (Galatia 2: 19-20).

Pagi ini, mungkin kita masih memikirkan makna hidup kita sampai saat ini. Hari demi hari, tahun demi tahun berlalu, apa yang terjadi mungkin belum membawa kepuasan hati kita. Kesuksesan yang kita kejar, mungkin belum dapat memberi rasa damai dalam kehidupan kita. Rasa kecewa mungkin muncul karena tidak adanya rasa bahagia dalam hidup kita.

Kita harus sadar bahwa kesuksesan dan kenyamanan duniawi bukanlah tujuan hidup orang percaya. Tujuan hidup kita seharusnya untuk memuliakan Tuhan. Ibadah yang disertai rasa cukup akan memberi keuntungan besar (1 Timotius 6: 6), sebab hal itu akan makin mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Adalah kenyataan bahwa lebih sulit untuk mencapai kepuasan dalam hidup, daripada memperoleh kesuksesan. Tetapi kita bisa memohon agar Tuhan memberi kita iman yang teguh untuk bisa belajar merasa cukup dan puas dalam keadaan apapun.

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Filipi 4: 11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s