Mengapa hatiku sedih?

Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!” Maka menangislah Yesus. Yohanes 11: 33-35

Mengapa manusia bisa merasa sedih? Mengapa ada kesedihan? Semua orang tidak mengharapkannya, tetapi kesedihan sering muncul tanpa diundang, pada saat yang tidak terduga. Tuhankah pencipta kesedihan? Apakah Ia yang membuat kita mengalami kesedihan?

Tuhan jelas bisa merasa sedih, dan seperti manusia yang diciptakanNya, Ia merasa sedih jika ada hal-hal yang tidak menyenangkan yang terjadi diantara umatNya. Yesus pun merasa sedih ketika Ia melihat bagaimana Maria, saudara Lazarus, menangisi kematian Lazarus. Tuhan merasa sedih ketika orang-orang yang dikasihiNya mengalami kesedihan dalam hidup mereka.

Jika Tuhan bisa bersedih, apakah Ia yang menciptakan kesedihan di antara umatNya? Sudah tentu tidak, karena jika benar begitu, Ia tidak perlu merasa sedih karena Ia sendiri yang bermaksud untuk membuatnya. Kesedihan, peristiwa yang menyedihkan, dalam hidup umat Tuhan bukanlah ciptaan Tuhan. Kesedihan terjadi karena hilangnya kegembiraan dan kebahagiaan, seperti yang terjadi ketika Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa dan diusir dari taman Firdaus.

Memang hidup manusia di dunia ini selalu mempunyai segi-segi yang menyedihkan. Sekali pun seseorang mencapai apa yang diingininya, baik itu kekayaan, kepandaian, kemasyhuran, kesehatan dan lain-lain, hal-hal yang menyedihkan selalu ada dan akan ada. Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling indah, seringkali tidak dapat mencegah hal-hal yang menyedihkan untuk terjadi dalam hidup mereka. Tetapi, umat Tuhan diberikan kemampuan untuk mencegah lenyapnya kebahagiaan dari hidup mereka, melalui rasa syukur dalam keadaan apapun.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 18

Pagi ini, jika ada rasa sedih dalam hati kita karena adanya hal- hal tertentu, percayalah bahwa Tuhan kita bisa ikut merasakan kesedihan kita. Tuhan kita menghendaki semua umatNya untuk hidup berbahagia dalam hidup mereka. Memang matahari tidak selalu bersinar dalam hidup kita, tetapi matahari bukanlah sumber kebahagiaan kita. Kebahagiaan kita terletak pada Tuhan yang menerbitkan matahari pada waktunya. Kesetiaan dan kasihNya tidak pernah berakhir, dari dulu sampai selama-lamanya. Sekalipun kita tidak mengerti apa yang terjadi dan mengapa itu harus terjadi, kita tetap boleh yakin bahwa Tuhan mempunyai rancangan yang terbaik untuk seluruh umatNya.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. Yesaya 55: 8-9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s