Menghadapi kekecewaan

Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” Yunus 4: 8

Hidup manusia ini sungguh menarik. Berbeda dengan hewan, manusia mempunyai ingatan dan daya pikir yang sangat kompleks. Dengan otaknya, manusia bisa mempunyai impian atau harapan untuk masa depan dan menyesuaikan hidup mereka untuk mencapai apa yang diharapkan. Sebaliknya, hewan mempunyai hidup yang hanya berdasarkan naluri dan karena itu bekerja hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dengan kemampuannya, manusia bisa mengembangkan rencana untuk hari depan, untuk mencapai yang lebih baik dari apa yang ada sekarang; dan dengan membuat berbagai rencana, manusia tentunya mengharapkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan.

Kemampuan manusia  untuk memikirkan masa depan agaknya adalah sesuatu yang baik, tetapi juga bisa membawa kekecewaan jika apa yang diharapkan tidak terjadi. Pada waktu Yunus tahu bahwa Tuhan bermaksud untuk menghukum penduduk kota Niniwe, ia keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya, menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu (Yunus 4: 5). Yunus mempunyai rencana untuk melihat bagaimana murka Tuhan akan turun, seperti orang yang menonton bioskop layar lebar di zaman ini.

Untuk menambah kenyamanan Yunus dalam penantiannya, Tuhan menumbuhkan sebatang pohon jarak yang bisa menaungi Yunus agar ia terlindungi dari panas matahari. Yunus sangat bersukacita karena adanya pemberian pohon jarak itu. Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas kehendak Tuhan datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu (Yunus 4: 6-7).

Yunus tentunya menjadi kecewa karena keteduhan dibawah pohon jarak yang dinikmatinya tidaklah berumur panjang. Ketika angin panas dan sinar matahari mengenai kepala Yunus, hilanglah seleranya untuk menonton turunnya murka Tuhan atas penduduk kota Niniwe. Kekecewaan yang besar bagi Yunus sangatlah menghancurkan hatinya, karena ia merasa bahwa Tuhan tidaklah berlaku adil atas dirinya. Bagaikan seorang anak manja yang tidak mendapat kembang gula yang diinginkannya, Yunus menjatuhkan dirinya ke tanah dan berseru kepada Tuhan bahwa ia ingin mati saja.

Memang hidup kita pun terkadang seperti apa yang dialami Yunus, ketika apa yang kita rencanakan atau harapkan tidak terjadi seperti yang kita ingini. Apa yang terjadi dalam hidup kita atau hidup orang lain yang kita cintai mungkin justru mengecewakan dan membuat kita meragukan keadilan dan kebijaksanaan Tuhan. Sering juga kita kecewa ketika Tuhan seolah tidak mengasihi umatNya dan malahan membiarkan orang lain berbuat semaunya. Mengapa Tuhan seringkali tidak berbuat sesuatu yang bisa menyenangkan umatNya?

Seperti Yunus, kita harus belajar untuk menghormati Tuhan yang maha kuasa, maha kasih dan maha adil. Ia adalah Tuhan yang berdaulat, yang bisa melakukan apa saja yang sesuai dengan kehendakNya. Ialah yang menerbitkan matahari di pagi hari dan meletakkan bulan dan bintang di langit di malam hari. Tuhan adalah Tuhan yang maha tahu dan maha bijaksana, dan segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencanaNya yang agung. Ketaatan dan rasa tunduk kepada Tuhan memang lebih mudah untuk kita jalani sewaktu kita berada dalam keadaan enak, tetapi ujian akan datang jika kita mengalami sesuatu yang diluar dugaan atau harapan kita.

Pagi ini biarlah kita bisa menyadari bahwa apapun yang terjadi di sekitar kita, dan bagaimanapun besarnya kekecewaan kita, kita harus bisa menerima bahwa segala sesuatu ada maksudnya dan kehendak Tuhan haruslah terjadi di muka bumi ini. Walaupun demikian, kita boleh yakin bahwa Yesus Kristus adalah gembala kita yang baik. Ia tidak akan meninggalkan kita dalam keadaan apapun.

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” Mazmur 23: 1-3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s