Gunung Batu yang kekal

“Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal.” Yesaya. 26: 4

Pagi ini, ketika saya bangun tidur, terlihat sebuah bangunan gudang yang menjorok ke laut dari jendela kamar hotel saya di Sydney. Pier One pertama kali dibangun oleh tentara Inggris pada abad ke 18 sewaktu Australia baru diduduki Inggris. Kompleks bangunan ini mulanya sangat berguna untuk keperluan militer, tetapi kehilangan fungsinya sekitar tahun 1900. Entah mengapa ketika saya melihat bangunan tua yang tidak lagi digunakan itu, terasa bahwa manusia dan apa yang diciptakannya tidaklah abadi. Walaupun demikian, adalah mengherankan bahwa manusia seringkali merasa bahwa ia dapat bergantung pada apa yang bisa diperolehnya.

Pada waktu pemazmur menulis ayat diatas, mungkin ia berpikir tentang sesuatu yang ada di dunia yang jauh lebih kuat dari apa yang bisa ditemuinya, yang bisa dipakainya untuk menggambarkan Tuhan yang maha besar dan maha kuasa, yang senantiasa mampu melindungi dan menyelamatkannya dari bahaya apapun. Maka pikirannya kemudian melayang kepada Allah, gunung batu yang kekal, Rock of Ages. Gunung batu yang bisa melindunginya dari badai kehidupan.

Memang hidup manusia tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Seringkali, ditengah perjalanan hidup, badai bisa muncul dengan tiba-tiba dan tanpa peringatan. Adalah hal yang menakutkan jika kita tidak mempunyai tempat berlindung atau tidak tahu kemana kita harus pergi untuk berlindung. Begitu banyak orang yang dalam menghadapi masalah besar kemudian jatuh kedalam perasaan putus asa. Juga, karena mereka kurang mengenal Allah yang sudah mengirim Yesus ke dunia, sangat mudah bagi mereka untuk jatuh kedalam pengaruh kepercayaan lain.

Kesalahan manusia seringkali disebabkan oleh tidak adanya persiapan untuk menghadapi badai yang suatu saat akan datang. Banyak orang yang pada saat ini hidup dalam suasana nyaman, tidak pernah memikirkan kepada siapa ia harus meminta tolong atau dimana ia harus bersembunyi. Itu adalah suatu kenaifan yang memang dikehendaki iblis.

Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka. Amsal 22: 3

Pagi ini, kita diingatkan bahwa untuk semua orang, segala sesuatu ada masanya. Ada masanya untuk tertawa dan ada masanya untuk menangis (Pengkhotbah 3: 4). Tetapi untuk orang yang percaya, kasih Tuhan tidak berubah, dulu, sekarang dan selama-lamanya. Bagi mereka Tuhan adalah seperti gunung batu, pelindung yang kekal, yang tidak pernah berubah dalam hidup mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s