Dongeng dan bahayanya

“Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.” 1 Timotius 4: 7

Masih ingat saya akan saat-saat menjelang tidur di masa kecil, dimana ibu saya sering membacakan dongeng-dongeng tradisional. Walau dongeng-dongeng itu sering dibaca ulang, tak jemu-jemunya saya mendengarkannya.

Memang dalam sejarah manusia dari mana saja, dongeng adalah bagian dari kebudayaan setempat yang diteruskan dari generasi ke generasi. Dongeng juga sering dipakai untuk menceritakan kebesaran kuasa-kuasa di balik alam semesta. Dongeng yang sedemikian sering berisi cerita-cerita takhayul dan mistis.

Dalam Alkitab memang ada tertulis hal-hal yang serupa dongeng, yaitu perumpamaan yang disampaikan oleh beberapa orang termasuk Tuhan Yesus. Tetapi, berbeda dengan dongeng, perumpamaan jelas dipakai untuk mengemukakan masalah kehidupan dan pengajaran Tuhan secara tidak langsung.

Jika perumpamaan dalam Alkitab adalah “dongeng” yang berguna untuk orang Kristen, ada hal-hal lain di luar Alkitab yang bisa membuat kekacauan. Dari awal sejarah umat Kristen, ada orang-orang yang mengajarkan firman Tuhan dengan memakai pengertian mereka sendiri. Karena itu, dalam ayat diatas Paulus mengingatkan Timotius untuk berjaga-jaga, agar tidak disesatkan. Segala pengajaran yang tidak benar tidaklah perlu didengar, sekalipun bunyi dan isinya sedap di telinga atau memukau perasaan seperti sebuah dongeng yang membuat orang kagum dan terpesona.

Di gereja zaman modern, ada juga pendeta yang senang mengungkapkan cerita-cerita dan pengalaman pribadi untuk mendukung penyampaian firman Tuhan. Tetapi, seringkali hal-hal itu hanyalah dongeng belaka karena kebenaran firman Tuhan tidak dinyatakan. Bagi umat Kristen, Alkitab seharusnya menjadi tolok ukur untuk segala segi kehidupan.

Pagi ini kita diingatkan, bahwa jika kita terbiasa dengan mendengarkan berbagai dongeng, lambat laun kita kehilangan kepekaan. Pengalaman pribadi dan cerita pendek yang kelihatannya bagus bisa menjauhkan kita dari kebenaran, jika kita tidak berhati-hati. Pengajaran moral dan etika adalah semata-mata dongeng ciptaan manusia jika tidak berdasarkan pengertian Alkitab. Jika kita sempat membaca, mempelajari dan mengagumi hal-hal semacam itu, mengapa kita tidak punya waktu untuk mempelajari firman Tuhan?

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 25-16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s