Tuhan tidak pernah berubah pikiran

“Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” Bilangan 23: 19

Di negara manapun anda tinggal, tentu anda tahu bahwa ada masa-masa dimana kaum politisi giat berkampanye. Itu biasanya terjadi pada saat menjelang pemilihan umum atau pemilu. Di Australia, ada 3 pemilu yang bisa diikuti rakyat: tingkat federal atau pusat, tingkat state atau negara bagian, dan tingkat council atau kabupaten.

Pada saat berkampanye di Australia, biasanya para politisi sering muncul diantara rakyat, menyapa orang-orang setempat dan mungkin mencoba menggendong bayi -bayi yang kebetulan dibawa orang tua mereka, supaya terlihat ramah dan akrab. Para politisi itu juga memakai pakaian yang rapi dan menyampaikan janji- janji kepada rakyat yang akan dipenuhinya jika mereka terpilih.

Jika seorang calon politikus berjanji untuk melakukan sesuatu, tidaklah ada orang yang marah jika kemudian janji itu tidak dipenuhi kalau ia tidak terpilih. Tetapi, rakyat akan kecewa jika politikus yang terpilih, kemudian mengingkari janjinya karena ia berubah pikiran. Memang ada beberapa hal yang menyebabkan seorang politikus terlihat berubah pikiran:

  1. Ia tidak mau berbuat sesuatu karena memang dari mulanya ia mungkin sekedar berjanji,
  2. Ia tidak dapat mulai bekerja melaksanakan janjinya karena adanya persoalan besar yang tidak terduga.
  3. Ia sudah berusaha, tapi gagal dalam mencapai apa yang dijanjikannya.

Jika manusia bisa berubah pikiran dan gagal memenuhi janjinya, bagaimana pula dengan Tuhan? Seringkali manusia merasa bahwa Tuhan sudah menjanjikan sesuatu, tetapi apa yang kemudian terjadi adalah lain. Mungkinkah Ia hanya berpura-pura dengan janjiNya? Mungkinkah Dia berubah pikiran? Mungkinkah Dia gagal dalam usahaNya?

Tuhan adalah maha kuasa dan karena itu Ia tidak bisa gagal dalam usahaNya. Tuhan juga maha suci, sehingga Dia tidak bisa berbohong. Tuhan juga maha tahu, jadi Ia tahu apa dan kapan harus dilakukan. Jadi, tinggal satu pertanyaan: apakah Ia memang bisa berubah pikiran. Tetapi ini pun, jika benar, akan bertentangan dengan sifatNya yang maha bijaksana dan maha kasih. Lalu, bagaimana halnya dengan beberapa kejadian dalam Alkitab yang agaknya menunjukkan bahwa Tuhan berubah pikiran tentang apa yang sudah dilakukanNya?

Dalam Kejadian 6: 5 – 6 misalnya, Tuhan seakan menyesali bahwa Ia sudah menciptakan manusia di bumi. Tetapi itu hanyalah cara Alkitab menjelaskan perasaan Tuhan dengan memakai bahasa manusia, agar kita mengerti bahwa Tuhan merasa sedih atas perbuatan jahat manusia. Tuhan bukannya merasa gagal dalam pelaksanaan rencana agungNya. Tuhan tidak pernah berubah dengan kasihNya kepada manusia ciptaanNya. Janji Tuhan kepada Nuh untuk tidak membinasakan segala yang hidup, dan janjiNya untuk mengasihi seluruh umat manusia adalah tidak bersyarat, dan berlaku selamanya.

Dalam berbagai janji Tuhan yang lain, Ia selalu tetap akan dan bisa memenuhinya. JanjiNya kepada Abraham untuk menjadikan keturunannya sebagai bangsa yang besar, dan janjiNya untuk menyelamatkan manusia melalui darah Kristus sudah dipenuhiNya. Janji Tuhan seperti itu adalah janji yang bergantung pada respon manusia.

Memang janji Tuhan seringkali bersifat spesifik, dengan suatu persyaratan tertentu. Ia tidak sekedar berjanji untuk berbuat sesuatu tanpa melihat peran dan keadaan manusia. Ia selalu berjanji untuk orang-orang tertentu yang dalam keadaan tertentu. Begitu juga janjiNya untuk menyertai kita sampai akhir jaman tetap berlaku sampai saat ini, bukanlah untuk semua orang yang mengaku Kristen, tetapi mereka yang melakukan perintahNya.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19 – 20

Pagi ini, jika kita merasa bahwa Tuhan mungkin berubah pikiran karena apa yang terjadi pada hidup kita tidaklah seperti apa yang dijanjikanNya, sebenarnya bukanlah karena Ia berubah. Tuhan tidak berubah dengan rencana dan maksudNya, tetapi Ia melaksanakan semua itu dengan melihat apa yang kita lakukan dan alami dalam hidup kita. Ia yang maha kuasa dan maha bijaksana bisa mencapai apa yang direncanakanNya pada saat yang dikehendakiNya. Biarlah kita bisa menyadari tugas apa yang harus kita lakukan sebelum berharap agar Tuhan menggenapi janjiNya!

3 pemikiran pada “Tuhan tidak pernah berubah pikiran

  1. Yup, perasaan sesal yg diungkapkan Tuhan dlm Alkitab sjtinya bkn dimaksudkan ttg diriNya yg td nya gak tahu shingga kemudian menyesal, tp hrs dikaitkan dg sifatnya yg ksh dan adil; yg tdnya mengasihi kini mngambil posisi utk menghakimi atau sebaliknya. Sesal atau menyesal dlm konteks itu berkaitan dg perasaanNya yg sedih krn umatNya jatuh/brdosa.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Betul sekali tapi apabila keadaan nya berbeda sekali dgn yg kita pikirkan semula maka kita sering meragukan janjinya
    1. Memang Dia mengatakan waktumu bukanlah waktuKu dan rencanamu bukanlah rencanakun
    2 rencananya yg maha besar tidak mungkin kita fahami dgn pikiran manusia yg terbatas.
    3kita yg membuat expectasi kita sendiri ttg rencana allah berdasarkan pikiran kita yg terbatas
    4 kita sering meragukan ketidak terbatasan Nya . Memang kita crnderung berusaha mendefinisikan ketidak terbatasan Nya dgn pikiran kita yg terbatas

    Ini yg jadi pergumulan ku , please pray for me I am still struggling

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s