Apakah Tuhan punya rasa humor?

Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.” Yunus 4: 9

Sekitar tahun 1990 saya mengalami kesulitan besar yang membuat saya merasa bahwa Tuhan itu jauh dan sudah melupakan saya. Dalam kesusahan, saya merasa marah kepada Tuhan. Setiap hari saya bangun tidur dengan perasaan masygul atas masa depan. Tekanan hidup membuat saya mengalami stres yang juga dirasakan oleh orang-orang disekitar saya.

Tahun berikutnya, kemasygulan saya tiba-tiba hilang karena Tuhan memberikan yang saya harapkan. Saya merasa bersyukur, tetapi juga malu kepada Tuhan karena kelakuan saya yang tidak pantas kepadaNya. Apalagi, ketika pada suatu hari yang cerah saya pergi ke sebuah taman, saya melihat ke langit yang biru dan seolah mendengar Tuhan berkata: “Sudah Kubilang!”. Tuhan seolah tersenyum dan berkata: “I told you so!”. Sejak itu saya tahu bahwa Tuhan itu mempunyai rasa humor.

Mengapa manusia sering ngambek atau marah jika Tuhan tidak memenuhi apa yang diharapkan? Mungkin itu menunjukkan iman yang kurang dewasa, tetapi siapapun tentu pernah merasa kecewa jika apa yang diharapkan ternyata tidak terjadi. Nabi Yunus yang agaknya termasuk golongan orang “bandel” itu juga pernah ngambek dan marah kepada Tuhan. Bahkan dalam hal yang nampaknya sepele, seperti pohon jarak yang menaunginya dari panas matahari, Yunus merasa ia lebih baik mati, ketika pohon itu kemudian mati karena dimakan ulat.

Bagaimana Tuhan menanggapi sikap Yunus yang ngambek itu adalah menarik perhatian. Tuhan bertanya apakah Yunus pantas untuk marah karena ia bukanlah yang membuat pohon itu tumbuh. Tuhan seolah merasa geli atas kelakuan Yunus yang kekanak-kanakan.

Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula.” Yunus 4: 10

Pagi ini, jika kita bangun dengan pikiran kusut dan merasa bahwa Tuhan sudah mengecewakan kita, mungkin kita bertingkah laku seperti Yunus. Yunus yang tidak mengerti bahwa hidup yang berat tidak harus selalu dihadapi dengan pikiran yang tegang dan penuh kekuatiran. Tuhan sebaliknya ingin agar kita bisa mengerti bahwa hidup itu lebih baik dihadapi dengan menghindari kemurungan hati.

Tuhan kita yang maha kasih, bukanlah Tuhan yang pemuram. Karena itu, sebagai ciptaanNya kita seharusnya bisa melihat “the lighter side of life”, segi kehidupan yang bisa membawa senyuman. Tuhan terkadang menunjukkan rasa humorNya, sekalipun untuk sesaat kita mungkin merasa itu tidak lucu. Tetapi, jika kita mau memikirkannya dalam-dalam, kita akan bisa melihat bahwa Tuhan itu memang baik adanya. God is love.

Satu pemikiran pada “Apakah Tuhan punya rasa humor?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s