Sulitnya mendengar suara Tuhan ditengah keramaian

Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. 1 Timotius 6: 6

Hari ini saya bermobil meninggalkan kota kecil Banff, menuju kota Calgary untuk terbang kembali ke kota Vancouver. Banff terletak dalam taman margasatwa nasional, karena itu jumlah penduduknya tidak banyak dan kita bisa menjumpai berbagai hewan seperti tupai, rusa dan bahkan beruang. Lingkungan yang relatif sepi memungkinkan kita mendengar suara burung-burung dan menghirup udara segar.

Berbeda dengan Banff, kota Vancouver di provinsi British Columbia adalah kota kosmopolitan yang besar dan karena itu kota ini cukup ramai dengan banyaknya penduduk yang menggunakan jalan raya dan menjalankan tugas pekerjaan mereka. Di tengah kesibukan kota besar biasanya lebih sulit bagi kita untuk bisa mendengar suara burung dan hewan liar lain.

Tempat yang sepi memang bisa membawa suasana damai, dan dengan demikian kita bisa merasa lebih dekat dengan alam disekitar kita. Yesus pun, jika berdoa biasanya mencari tempat yang sepi supaya bisa berkomunikasi dengan Allah Bapa dengan lebih baik.

“Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.” Matius 14: 23

Lingkungan yang sepi dan tenteram memang membantu ibadah kita, baik itu untuk mempelajari firman Tuhan, berdoa ataupun merenungkan kebesaranNya.

Suasana yang sepi dan hening tidak selalu berhubungan dengan absennya bunyi. Seringkali, sekalipun di tempat yang sepi, pikiran kita ramai diisi dengan berbagai kekacauan dan kegundahan, atau mungkin juga tubuh kita berada dalam keadaan lelah dan perut kita keroncongan. Dalam keadaan demikian, sukarlah kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan mencari kehendakNya. Bagaimana pula dengan orang-orang yang hidup dalam berkelimpahan? Apakah mereka mempunyai keuntungan dalam beribadah? Belum tentu! Mereka yang nampaknya jaya, belum tentu merasa cukup. Selama mereka tidak merasa puas atau cukup, hidup dan pikiran mereka terus dipusatkan pada bagaimana mereka bisa merasa puas, lebih jaya, dan mencapai apa saja yang diinginkan mereka.

Pagi ini, Paulus dalam suratnya kepada Timotius menjelaskan bahwa hubungan kita dengan Tuhan akan diperkokoh jika kita mempunyai rasa cukup, rasa damai dalam hidup kita. Sekalipun hidup kita berkekurangan, atau mengalami berbagai masalah, namun jika kita bisa merasakan bahwa Tuhan mengasihi kita, kita akan yakin bahwa Ia selalu menyertai kita. Dengan rasa cukup, kita memperoleh ketenangan yang kita butuhkan untuk bisa mendengarkan suara Roh Kudus dalam mencari kehendak Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s