Bukan hanya bermanis-manis di bibir

“Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” Keluaran 20: 7

Di zaman ini, orang agaknya bisa mendengar nama Tuhan disebut-sebut dalam pergaulan sehari-hari dan bahkan juga dalam pidato-pidato para pejabat. Memang dalam kehidupan sehari-hari, nama Tuhan dikaitkan dengan berkat dan kuasaNya. Karena itu, menyebut-nyebut nama Tuhan mungkin bisa membawa kesan baik dalam hubungan antar umat manusia yang mengakui adanya Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih.

Sering kita mendengar orang yang dengan kesungguhan berkata “Tuhan memberkati kamu” atau “semoga Tuhan menyertaimu”. Bisa juga diucapkan “semoga Tuhan membalas kebaikanmu berlipat ganda” atau “puji nama Tuhan”. Dalam sosial media, kita sering pula menjumpai meme yang menyebut-nyebut nama Tuhan, atau pesan-pesan yang diakhiri dengan singkatan “GBU” atau “YLU”. Tetapi selain itu ada orang-orang yang sepertinya “latah”, yang menyatakan rasa terkejut atau heran, dan bahkan memaki, dengan memanggil nama Tuhan. Di negara barat malahan acara komedi dewasa (adult comedy) sering berisi kata-kata kotor dan lelucon yang menyebut-nyebut nama Tuhan.

Ayat diatas adalah bagian yang ketiga dari sepuluh hukum Tuhan yang diterima oleh Musa untuk ditaati bani Israel. Dengan adanya kedua hukum kasih dari Tuhan Yesus (Matius 22: 36 – 40), banyak orang Kristen yang sekarang merasa bahwa sepuluh hukum Taurat itu sudah tidak berlaku, atau tidak penting lagi untuk dibahas. Tetapi itu tidak dapat dibenarkan. Yesus berkata bahwa Ia datang ke dunia bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya (Matius 5: 17).

Jelas bahwa kita tetap harus berusaha untuk tidak menyebut nama Tuhan dengan sembarangan seperti yang ditulis dalam kesepuluh hukum Tuhan yang dinyatakan kepada Musa. Tetapi apa yang dimaksud dengan kata “sembarangan” itu bukanlah sesuatu yang mudah dimengerti, apalagi jika orang mengucapkannya dengan “maksud baik”.

Memang menyebut nama Tuhan secara sia-sia dan tanpa alasan adalah salah. Tetapi ada hal-hal lain yang juga keliru jika kita menyebutkan nama Tuhan:

  • sekedar karena kebiasaan,
  • tanpa adanya kesungguhan,
  • untuk menyenangkan yang mendengar,
  • tanpa mengerti sebab dan akibatnya, dan
  • tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Pagi ini, kita diingatkan bahwa sebagai pengikut Kristus, tiap kali kita menyebut nama Tuhan itu harus benar-benar dimaksudkan untuk memuliakan Dia dan untuk mengasihi sesama kita. Kita menyebut nama Tuhan sebagai wakilNya, dan karena itu harus sadar akan perintah dan kehendakNya. Tidak sepatutnya kita mengeluarkan kata-kata pemanis bibir yang terdengar indah, jika kita tidak benar-benar mengerti apa arti, tujuan dan kebenarannya. Karena itu, setiap kali kita menyebut nama Tuhan, kita harus yakin bahwa Tuhan setuju akan apa yang kita ucapkan. Apa yang kita ucapkan harus selalu berdasarkan firman Tuhan dan bukan berdasarkan kebiasaan saja. Dengan demikian, apa yang kita sampaikan kepada orang lain juga bisa bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3: 16).

Semoga Tuhan membimbing kita dalam melaksanakan perintahNya!

Satu pemikiran pada “Bukan hanya bermanis-manis di bibir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s