Kerakusan yang mengundang bencana

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” Matius 6: 11

Seingat saya, di Indonesia jika ada tamu berkunjung ketika tuan rumah sedang makan, pertanyaan kepada tamu itu adalah “sudah makan?”. Memang, di luar negeri pun orang kita terkenal sebagai orang yang ramah, friendly, dan menggunakan acara makan-makan untuk membina kesatuan dalam keluarga dan persahabatan.

Hal makan dan makanan memang bukan soal yang sepele. Allah yang menciptakan manusia di taman Eden sudah mempersiapkan segala yang perlu untuk bisa dinikmati oleh manusia ciptaanNya. “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas…”, begitulah Allah berfirman kepada Adam dan Hawa dalam Kejadian 2: 16.

Makan dengan bebas yang bagaimana? Kalau bebas tak berbatas, tentunya itu akan membawa akibat yang kurang baik untuk kesehatan. Adam dan Hawa pasti tahu bagaimana mereka seharusnya memanfaatkan berkat Tuhan sebelum mereka jatuh kedalam dosa. Bukankah kerakusan, keserakahan dan mencari kepuasan diri sendiri adalah dosa?

Hidup manusia setelah jatuh kedalam dosa menjadi berat, dan hanya dengan bersusah payah mereka dapat memperoleh makanan. Manusia setelah kejatuhannya dengan demikian tentunya sering berebut makanan dan menjadi mahluk yang rakus. Manusia siap membenci, merampok dan membunuh orang lain demi makanan. Manusia dengan keculasannya juga sering memakai makanan untuk menyuap, mempengaruhi dan menguasai orang lain, terutama mereka yang miskin dan kurang terpelajar. Dengan demikian, baik kaya atau miskin, banyak orang yang menjadi pemuja makanan dan minuman.

Kerakusan adalah dosa, dan dalam tradisi sebagian orang Kristen, termasuk dalam 7 dosa besar. Karena soal makanan, bangsa Israel bersungut-sungut kepada Allah dan membuatNya murka dengan mendatangkan hujan burung puyuh sehingga mereka yang rakus dan serakah mati dalam jumlah besar (Bilangan 11: 33 – 34). Karena merasa bebas, mereka yang mampu seringkali mempunyai kebiasaan makan dan minum dalam pesta pora, yang bisa menjauhkan mereka dari Tuhan (Galatia 5: 21).

Pagi ini, bagian Doa Bapa Kami diatas mengingatkan kita bahwa kita hidup bukan untuk memuaskan lidah kita. Untuk bisa hidup memuliakan Tuhan, pikiran kita tidak boleh dipusatkan pada hal makan minum, pesta pora dan kenikmatan badani. Dalam hal makan, dengan kebebasan yang Tuhan berikan kita harus bisa mengendalikan cara hidup kita. Kecukupan adalah lebih penting dari kelimpahan, sebab mereka yang berkelimpahan belum tentu merasa cukup. Lebih dari itu, keserakahan dan kerakusan jelas bisa membawa berbagai bencana dalam hidup. Karena itu, sebagai orang Kristen kita tidak boleh membuat makanan jasmani sebagai prioritas hidup diatas makanan rohani.

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” Yohanes 6: 27

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s