Bila impian menjadi pudar

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Pagi tadi, selagi saya berjalan kaki, saya melihat sebuah papan tulis di depan sebuah kedai kopi yang berisi sebuah slogan yang lucu dan menarik perhatian: “Jangan biarkan impianmu hilang, lanjutkan tidurmu!”. Do not give away your dreams, keep sleeping! Mengapa itu lucu? Karena kata impian disini diartikan secara harafiah: jika kita tidak mau kehilangan impian kita, lebih baik terus tidur!

Dalam kehidupan sehari-hari nasihat agar tidak kehilangan apa yang kita impikan, biasanya diartikan agar kita jangan kehilangan apa yang kita cita-citakan. Impian masa depan kita, cita-cita, justru bisa hilang jika kita tetap tidur, alias tidak berjuang untuk mencapainya. Tetapi, mempertahankan impian atau cita-cita itu tidaklah semudah yang dibayangkan, karena jika kita tidak mencapainya, lama-lama semangat kita bisa ikut menjadi pudar bersama impian kita, dan kita pun menjadi putus asa dan tertidur.

Murid-murid Tuhan Yesus pun pernah mempunyai impian besar, yaitu bahwa Yesus pada suatu saat akan menjadi seorang raja umat Israel yang akan mengalahkan kerajaan Romawi. Mereka yang akhirnya melihat bahwa Yesus justru mengalami pergulatan di taman Getsemani, menjadi sangat lelah dan berdukacita sehingga mereka tertidur (Lukas 22: 45). Impian mereka tentang datangnya seorang Mesias dengan kebesaranNya kemudian diganti dengan rasa putus asa dan depresi.

Bagi kita pengikut Kristus, tentu tidak ada salahnya jika kita mempunyai sebuah impian, cita-cita, untuk masa depan. Jika itu bukan untuk diri kita sendiri, mungkin untuk anak atau cucu kita, atau juga sanak kita. Kita berharap agar mereka menjadi orang yang baik, yang takut akan Tuhan, dan memperoleh kebahagiaan dalam hidup. Tetapi, jika yang kita harapkan tidak kunjung terjadi, kekuatiran mulai muncul dan rasa putus asa pun bisa mendatangi. Tidur mungkin menjadi suatu pelarian untuk bisa melupakan rasa sedih dan kecewa.

Haruskah kita menyerah dan melupakan segala impian kita jika hal itu tidak kunjung datang? Martin Luther King Jr. pada tahun 1963, membawakan pidato yang terkenal “I have a dream” yang mengutarakan impiannya tentang persamaan hak antara orang kulit berwarna dan orang kulit putih di Amerika. Pada tahun 1964, ia menerima hadiah Nobel untuk perjuangannya melawan ketidakadilan ras melalui jalan damai. Pada tahun 1968 ia ditembak mati, dan karena itu banyak orang yang merasa putus asa. Tetapi, impiannya perlahan-lahan terwujud.

Memang perjuangan hidup seringkali berat. Ayat diatas tidak menyuruh kita untuk menyerah, tetapi untuk menyerahkan segala impian kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Kita tidak boleh jatuh tertidur dalam duka dan rasa putus asa. Selama kita masih dapat memohon dan bersyukur kepada Tuhan, selama itu jugalah kita masih bisa berharap kepadaNya.

“Sebab kepada-Mu, ya TUHAN, aku berharap; Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan, Allahku.” Mazmur 38: 15

Satu pemikiran pada “Bila impian menjadi pudar

  1. Betul. Apa yang kita impikan, harus ada usaha dan memohon Tuhan ikut campur dalam mewujudkannya. Tetapi bila belum terwujud, kita perlu berpikir, apakah yang kita impikan sesuai dengan kehendakNya atau apakah belum saatnya terwujud.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s