Apakah malapetaka selalu terjadi karena dosa?

Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Lukas 13: 4 – 5

Gempa bumi yang terjadi di berbagai tempat baru-baru ini membuat banyak orang kuatir. Sampai saat ini, sains belum bisa memastikan kapan datangnya gempa dan seberapa besarnya. Manusia mungkin bisa menduga kemungkinan terjadinya berbagai malapetaka dengan mengukur dan menganalisa berbagai data, tetapi apa yang akan terjadi biasanya ada diluar jangkauan pengetahuan mereka.

Apa yang dirasakan banyak manusia jika malapetaka terjadi, biasanya berupa ketakutan atau kekuatiran bahwa Tuhan mungkin sudah membuat semua itu terjadi karena dosa yang diperbuat manusia. Mungkin itu ada benarnya jika membaca kisah nabi Yunus dalam perahu yang dilanda topan. Tetapi, Ayub yang baik di mata Tuhan juga tertimpa malapetaka yang luar biasa dengan seijin Tuhan.

Memang kecenderungan manusia dalam melihat adanya malapetaka adalah untuk mencoba menduga mengapa itu terjadi. Tetapi, seperti manusia sering tidak dapat menduga kapan malapetaka akan terjadi, mereka juga sering tidak tahu mengapa itu terjadi. Selain itu manusia juga sering mengira bahwa:

  1. Penderitaan manusia adalah seimbang dengan dosanya.
  2. Malapetaka selalu menunjukkan kemarahan dan hukuman Tuhan.
  3. Malapetaka hanya terjadi pada orang yang jahat.

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Mereka yang menemui Yesus, menyangka bahwa karena besarnya dosa orang-orang Galilea itu, mereka mengalami nasib yang tragis. Tetapi, Yesus menjawab bahwa pandangan itu tidaklah benar.

Sebagai umat Kristen kita percaya bahwa Tuhan kita mahakasih, dan karena itu tidak mendatangkan bencana untuk umatNya. Manusia yang hidup dalam dunia sesudah kejatuhan Adam dan Hawa, memang harus menghadapi berbagai bencana karena dunia yang tidak lagi sempurna. Manusia, baik mereka yang jahat maupun yang baik, bisa menerima berkat Tuhan seperti sinar matahari. Karena itu, semua manusia juga bisa mengalami bencana yang terjadi sebagai bagian dari hukum alami.

Adanya bencana belum tentu sehubungan dengan hukuman atau peringatan Tuhan akan dosa korban bencana. Tetapi itu seharusnya mengingatkan bahwa kita hidup dalam dunia yang penuh dosa. Bahwa manusia tidak dapat bergantung kepada dunia atau sesama, tetapi kepada Dia yang memiliki alam semesta. Hidup manusia tidak boleh dihakimi berdasarkan apa yang terjadi pada mereka, sebab semua orang bisa mengalaminya. Semua orang sudah berdosa di hadapan Tuhan.

Mereka yang mengalami bencana di dunia, bukanlah selalu akan mengakhiri hidupnya secara sia-sia. Bagi yang percaya kepada Kristus, hidup ini adalah bukan apa yang terlihat mata, tetapi adalah sesuatu yang akan datang. Bencana juga bisa memberi pelajaran dan kesempatan bagi mereka yang diluputkan, agar mereka mau mengakui kebesaran Tuhan dan berjalan dalam kebenaran menuju kearah keselamatan yang sebelumnya mungkin tidak disadari.

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4: 28

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s