Kita adalah duta besar kerajaan Allah

Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2: 6 – 8

Membaca berita yang muncul di koran atau di TV pada zaman ini mungkin seringkali membuat kita menghela nafas atau menggelengkan kepala. Bagaimana tidak? Apa yang diberitakan biasanya adalah hal-hal yang jelek dan jahat, sedangkan hal-hal yang baik biasanya kurang ditonjolkan. Lebih dari itu, orang-orang yang dimunculkan dalam berita seringkali adalah mereka yang perbuatan, perkataan dan hidupnya kurang bisa ditiru. Sayang, banyak diantara mereka mengaku atau dikenal sebagai orang Kristen.

Mengapa orang senang menonton dan membaca berita-berita “miring” tentang orang-orang lain? Mungkin karena hal-hal itu bisa dijadikan bahan pergunjingan. Memang membicarakan kejelekan dan kebodohan orang lain itu mempunyai daya pikat tersendiri. Tetapi, jika kita sendiri yang menjadi bahan pergunjingan masyarakat, itu bisa membawa rasa tidak enak dan malu. Kecuali jika kita sudah terbiasa dalam melakukan hal yang kurang baik, dan tidak lagi peka atas komentar orang lain.

Dalam ayat diatas, rasul Paulus menulis agar para pengikut Yesus bisa menjadi contoh yang baik untuk semua orang, terutama bagi kaum muda, dalam hal menguasai diri. Semua orang Kristen seharusnya hidup jujur dan memberi teladan kepada orang lain dengan cara hidup dan kelakuan yang sehat dan tidak bercela. Hidup mereka seharusnya justru membuat orang lain menjadi malu karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat disebarkan dan dipergunjingkan.

Adalah kenyataan, bahwa sebagai orang Kristen, kita adalah orang-orang yang mendapat sorotan masyarakat di sekeliling kita. Bermula dari cara hidup dalam keluarga, sekolah, dan tempat pekerjaan, sampai apa yang kita lakukan di tempat lain, baik secara nyata maupun maya, semuanya memungkinkan datangnya komentar yang baik atau buruk dari orang lain.

Jika seseorang mendapat malu karena perbuatan atau sifat buruknya, itu adalah sudah sepantasnya. Tetapi banyak orang yang tidak lagi merasa malu atau terpengaruh atas komentar orang lain. Aku adalah aku, itu judul sebuah lagu terkenal. I am what I am. Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Aku merasa damai dengan diriku sendiri.

Bagi kita orang Kristen, hidup kita sebenarnya bukanlah milik kita lagi. Oleh sebab itu, jika kita melakukan hal yang tercela, nama Tuhan ikut dipermalukan. Mungkin kita tidak melakukan hal yang buruk dengan sengaja, mungkin kita hanya terbawa suasana atau kurang waspada. Tetapi pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen, kita adalah duta besar kerajaan surga untuk dunia. Karena itu kita tidak boleh mempermalukan Dia yang sudah mengutus kita.

Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” 1 Petrus 4: 15 – 16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s