Bagaimana mendidik orang lain

“Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib; juga sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang.” Mazmur 71: 17 – 18

Hal mendidik bukanlah soal mudah. Sejak dulu orang tua, guru dan majikan selalu harus berusaha keras untuk membimbing anak, murid dan bawahan, agar mereka menjadi orang-orang yang berguna. Jika pada zaman yang telah silam orang seakan menggunakan teknik atau cara yang sederhana untuk mendidik kaum muda, di zaman sekarang berbagai teori muncul untuk memberikan cara pendidikan yang terbaik. Walaupun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa hal mendidik bukannya semakin mudah dilaksanakan.

Alkitab menyatakan bahwa pendidikan harus dimulai dari masa kecil untuk memberi hasil yang maksimal. Penundaan pendidikan tidak hanya memberi kesempatan untuk kebiasaan buruk untuk mulai muncul, tetapi juga membuat orang lebih sulit untuk menerima ajaran baru dengan meningkatnya usia.

“Siapa memanjakan hambanya sejak muda, akhirnya menjadikan dia keras kepala.” Amsal 29: 21

Tuhan yang sudah mengasihi kita, ingin agar kita membagikan kasihNya kepada mereka yang kita didik. Sebagaimana Yesus sudah menebus dosa kita dalam kasihNya, kita mendidik orang-orang disekitar kita dengan kasih dan kesabaran, agar mereka bisa melihat bahwa sebagaimana Tuhan menjaga dan melindungi kita, begitu juga Tuhan yang mahakuasa mau menjaga mereka jika mereka mau menjadi dombaNya.

Tuhan yang di surga, tentunya mengerti sepenuhnya bagaimana sifat dan kemampuan manusia. Dalam ayat pembukaan diatas, pemazmur menulis bahwa Tuhan sudah mengajar dia sejak kecil untuk memberitakan kebesaranNya; dan karena itu, sampai masa tua pun dia ingin agar Tuhan tetap menyertainya agar ia dapat mendidik kaum muda. Mendidik adalah membagikan apa yang kita ketahui kepada orang lain, sehingga mereka pun menjadi orang yang berpengetahuan.

Sebagai orang percaya, tentu ada banyak pengetahuan tentang Tuhan yang kita punyai. Bukan saja kita sadar bahwa Tuhan itu mahakuasa, kita juga mengerti bahwa Dia adalah mahatahu dan mahakasih. Tuhanlah yang sudah membimbing dan melindungi kita sejak kecil, dan dengan demikian apa yang kita sampaikan kepada orang lain adalah kesaksian hidup kita yang menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang takut akan Tuhan. Dalam hal ini, kita menceritakan apa yang kita yakini dan alami kepada orang lain, dan menjalankan apa yang kita ajarkan kepada orang disekitar kita, sehingga kita bukan hanya menjadi pembawa Firman, tetapi juga pelaku Firman. Talk the walk, walk the talk.

“Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2: 6 – 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s