Jika kesulitan hidup mendatangi

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Matius 5: 4

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya setiap orang ingin hidup berbahagia. Hanya saja, tiap orang mempunyai pengertian yang berbeda tentang apa yang disebut kebahagiaan. Ada falsafah Jawa yang berbunyi “mangan ora mangan waton kumpul” (makan tidak makan asal kumpul). Artinya, lebih baik hidup susah di desa atau di kampung daripada harus berpisah dengan keluarga dan kerabatnya untuk sekedar mencari makan ditempat lain. Kebahagiaan agaknya bukan ditentukan oleh adanya harta atau kenyamanan. Tetapi, orang yang tidak setuju dengan falsafah itu bisa saja berpendapat bahwa untuk bisa hidup bersama dengan keluarga dan kerabat, orang tetap harus mempunyai penghasilan yang cukup, setidaknya untuk bisa makan.

Memang untuk bisa hidup berbahagia sebagian orang berpikir bahwa dengan adanya harta, semua bisa dibeli. Kebahagiaan seolah bisa diperoleh melalui kemakmuran. Tetapi ini tentu saja tidak benar. Alkitab menyatakan bahwa orang yang gila harta mudah jatuh kedalam berbagai pencobaan (1 Timotius 6: 10). Sebaliknya, orang yang hidup dalam kekurangan yang besar, mungkin juga sulit untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan.

“Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” Amsal 30: 9

Jika kebahagiaan adalah sulit untuk diperoleh, dukacita dan penderitaan sering datang tanpa diundang. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, kata peribahasa. Walaupun demikian, ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa dalam kemalangan masih ada keuntungan, yaitu datangnya penghiburan dari Tuhan.

Tuhan yang mahakasih sebenarnya ingin untuk selalu berkomunikasi dengan umatNya. Setiap saat Ia ingin untuk membimbing dan menguatkan mereka yang mau mendengarkanNya. Tetapi, seperti seorang anak kecil yang melupakan orangtuanya ketika sibuk bermain ayunan di halaman, kita pun sering melupakan Tuhan ketika hidup kita sedang berjalan lancar.

Untuk seorang anak, adanya orangtua adalah suatu berkat. Mereka yang tidak mempunyai orangtua bisa merasakan saat-saat dimana rasa sepi dan takut mendatangi. Anak-anak yang mempunyai orangtua yang baik dan bijaksana adalah orang-orang yang berbahagia karena adanya penghiburan dan perlindungan ketika mereka mengalami hal yang tidak diinginkan.

Semoga pagi ini kita disadarkan bahwa Bapa kita yang di surga tidak pernah meninggalkan kita. Berbahagialah umat Tuhan yang mau memanggil namaNya ketika badai kehidupan menerpa!

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ratapan 3: 22 – 23

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s