Mudahnya cinta, sukarnya kasih

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. 1 Korintus 13: 13

Seorang pria pergi ke sebuah toko buku di sebuah negara dan bertatap muka dengan seorang wanita. Si pria hanya memandang, tetapi itu cukup membuatnya jatuh cinta kepada si wanita. Cinta pada pandangan pertama! Berhari-hari sesudahnya, si pria pergi ke toko buku itu, berharap untuk menjumpai wanita yang sama; tetapi harapannya hanya tinggal impian, si wanita tidak pernah muncul lagi.

Benarkah ada cinta pada pandangan pertama? Mereka yang pernah mengalaminya tentu saja yakin bahwa itu ada. Mata melihat, hati berdebar, dan itu cukup untuk jatuh cinta. Siapa orangnya, apa pekerjaannya, apakah ia masih single, apakah ia orang baik-baik, semua itu mungkin tidak perlu dipertanyakan. Tetapi jelas bahwa penampilan sesaat agaknya sudah menyebabkan timbulnya rasa cinta.

Apa kata Alkitab mengenai cinta, khususnya hal cinta pada pandangan pertama? Alkitab tidak secara spesifik membahas kasus seperti ini, tetapi dari contoh-contoh yang ada, mereka yang merasa tertarik kepada orang lain tanpa berpikir panjang, akhirnya bisa mengalami berbagai kesulitan. Misalnya Simson yang jatuh cinta kepada Delila (Hakim-Hakim 14: 1 – 2), atau raja Daud yang tergiur Batsyeba, istri Uria (2 Samuel 11: 2 – 3). Cinta pada pandangan pertama, atau cinta buta, agaknya bisa berupa eros. Eros adalah cinta yang berdasarkan kepentingan diri sendiri. Aku suka, karena itu aku cinta.

Pada pihak yang lain, konsep cinta yang dikumandangkan dalam Alkitab adalah cinta yang mau berkorban untuk orang lain. Cinta yang memikirkan kebutuhan orang lain, dan bukan untuk kebutuhan diri sendiri. Cinta yang sedemikian adalah kasih atau agape, yang sudah didemonstrasikan oleh Yesus Kristus selama hidupNya di dunia, dan yang mencapai kulminasi dengan kematianNya di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Agape memang selalu menuntut pengorbanan dan karena itu tidak mudah untuk dilaksanakan.

Bagi umat Kristen, kasih adalah satu hal yang paling penting dalam kehidupan, di dunia maupun di surga. Memang mereka yang mau ke surga, harus bisa mengasihi Tuhan. Tetapi untuk bisa mengasihi Tuhan yang tidak terlihat, kita harus bisa mengasihi orang disekitar kita yang dapat kita lihat.

“Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” 1 Yohanes 4: 20

Ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa dari tiga hal yang penting dalam hidup orang Kristen, yaitu iman, pengharapan dan kasih, yang paling besar di antaranya ialah kasih. Kasih adalah yang paling sulit untuk dilakukan karena adanya tanggung-jawab.

Iman kepada Tuhan memang membawa keselamatan. Tetapi iman adalah semata-mata anugrah Tuhan, bukan karena usaha kita. Dengan iman kita menaruh harapan kepada apa yang tidak bisa kita lihat dan hal-hal yang akan datang. Dengan iman kita bisa mengambil keputusan untuk mengikut Yesus selama hidup dan yakin bahwa kita akan bertemu muka dengan muka denganNya di surga. Lalu bagaimana dengan kasih? Kasih menuntut kita untuk mau berkorban, dan bahkan mau mengorbankan nyawa untuk orang lain jika diperlukan demi kebaikan. Ini adalah tanggung jawab yang tidak mudah dilaksanakan, tetapi bukti adanya iman.

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Yohanes 15: 13

Cinta dalam pandangan pertama adalah hal yang lebih mudah dilakukan, karena tidak ada pengorbanan yang perlu dipikirkan. Cinta semacam itu seringkali merupakan refleksi cinta kepada diri sendiri, bukan kasih yang bermaksud untuk memberi kebahagiaan sejati kepada orang lain seperti kasih yang dipunyai Tuhan. Sebagai umat Kristen kita melihat banyak orang yang terlihat murah hati, suka beramal dan menolong orang lain; tetapi, jika itu bukan dimaksudkan sebagai usaha untuk benar-benar mengasihi atau menyelamatkan orang lain, semua itu mungkin hanya membawa kepuasan atau keuntungan pribadi, dan bukannya membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Pagi ini kita belajar untuk menyadari bahwa mengasihi bukanlah hal yang mudah dilakukan. Kasih adalah lebih besar dari iman dan pengharapan, dan karena itu membutuhkan pengabdian yang penuh. Tuhan yang menghendaki agar kita mengasihiNya dengan segenap hati kita, dengan segenap jiwa dan segenap akal budi kita, juga menghendaki agar kita mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri.

“Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” 1 Yohanes 4: 21

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s