Hanya Tuhan yang tahu

“Sebab bangsa-bangsa yang daerahnya akan kaududuki ini mendengarkan kepada peramal atau petenung, tetapi engkau ini tidak diizinkan TUHAN, Allahmu, melakukan yang demikian.” Ulangan 18: 14

Suatu kelebihan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang tertinggi derajatnya di bumi ini adalah rasa ingin tahu akan segala sesuatu: ingin tahu akan asal usul, pelaku, alasan, akibat, tujuan dan guna dari segala yang ada di bumi. Makhluk lain mungkin ada yang memiliki rasa ingin tahu, tetapi itu hanya sangat terbatas dan tidak muncul pada setiap saat. Manusia memang menggunakan sifat ingin tahu, curiosity, itu sehingga ilmu pengetahuan, budaya dan juga agama bisa berkembang.

Dari satu segi, rasa ingin tahu itu memang baik. Walaupun begitu, rasa ingin tahu yang berlebihan bisa saja membawa masalah. Mereka yang “kepo” misalnya, mungkin dianggap orang yang sok tahu, usil dan ingin mencampuri urusan orang lain. Orang yang demikian seringkali mengundang kesulitan kepada dirinya sendiri. Tidak hanya kemarahan orang bisa timbul bagi mereka yang usil, hal-hal yang lebih buruk bisa terjadi pada mereka yang secara sengaja atau tidak, menemukan rahasia orang lain. Curiosity killed the cat, tulis Shakespeare.

Rasa ingin tahu tidak terbatas pada hal-hal yang terjadi dalam hidup sehari-hari. Manusia dari awalnya ingin tahu bagaimana segala sesuatu di bumi ini bisa muncul. Siapa yang bisa menciptakan segala sesuatu yang bernafas dan yang mati? Dalam hal ini umat Kristen percaya bahwa hanya karena kemurahan Tuhan, manusia bisa mempunyai kesadaran tentang adanya Tuhan semesta alam, pertama-tama melalui segala ciptaanNya, kemudian melalui firmanNya, dan yang paling nyata adalah dalam diri Yesus, Firman yang hidup.

Pengenalan akan adanya Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu tidaklah menghentikan usaha manusia untuk mencari jawaban akan apa yang akan terjadi di masa depan. Sejarah membuktikan dimana saja ada orang-orang yang dikenal sebagai manusia istimewa, yang bisa melihat ke masa depan. Sebagian dari ramalan mereka, seperti apa yang ditulis Jayabaya dan Nostradamus, masih sering menjadi topik diskusi masyarakat tertentu.

Sampai sekarang tentu kita bisa menemukan orang-orang yang mengaku bisa melihat jalan kehidupan manusia, meramalkan masa depan seseorang, atau meramalkan apa yang bakal terjadi di dunia. Mereka bisa melakukan hal itu dengan memakai kartu, membaca garis tangan, melalui ritual tertentu, atau menafsirkan mimpi dan semacamnya.

Dalam Alkitab memang Tuhan pernah menyatakan apa yang akan terjadi kepada orang-orang tertentu, baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tetapi Alkitab juga menulis adanya orang-orang yang disesatkan oleh iblis yang bekerja melalui berbagai cara. Apa yang pasti adalah Tuhan menyatakan kehendakNya sesuai dengan cara dan pada saat yang ditentukanNya, bukan untuk memenuhi rasa ingin tahu manusia pada saat dan melalui cara yang mereka sukai. Pada pihak yang lain, manusia dari awalnya selalu ingin tahu apa yang akan terjadi dan karena itu iblis seringkali menggunakan kesempatan untuk menyesatkan melalui cara-cara yang dipilih manusia.

Ayat diatas adalah peringatan Musa kepada bani Israel untuk tidak mencari nasihat dari para peramal dan petenung, karena perbuatan itu tidak hanya merendahkan Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu, tetapi juga membuka kesempatan bagi iblis untuk menyesatkan umatNya. Pada masa sekarang peramal dan petenung masih bisa ditemui. Bagi mereka yang merasa berpikiran “maju”, mungkin sudah ada rasa segan atau malu untuk mempercayai ramalan mereka. Tetapi, apa yang dianggap tetap aktuil dalam masyarakat saat ini adalah ramalan masa depan berdasarkan kartu tarrot, garis tangan, zodiak, shio, impian dan pengelihatan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi, karena segala sesuatu yang terjadi harus sesuai dengan kehendak atau izin Tuhan. Usaha manusia untuk meramalkan masa depan tidak lain adalah perbuatan sia-sia yang merendahkan Tuhan. Usaha merampas kemahakuasaan Tuhan. Bagi umat Tuhan yang sejati, masa depan mereka berada dalam tangan kasihNya; karena itu, mereka seharusnya tidak memusatkan perhatian kepada apa yang fana, tetapi kepada apa yang kekal yaitu firmanNya.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Yakobus 4: 13 – 14

2 pemikiran pada “Hanya Tuhan yang tahu

  1. Aneh jg ya, zaman yg katanya smakin “maju” tp kok justru praktek2 semcam itu (peramal, petenung dll) kian marak dan berkembang ya… apakah itu artinya pekerjaan iblis yg menyesatkan itu makin gencar, menjelang akhir zaman?

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s