Dari pembenci menjadi pembunuh

“Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.” 1 Yohanes 3: 15

Semalam, di TV ditayangkan kisah persepakbolaan di satu negara. Di negara itu sepakbola adalah olahraga yang sangat populer di kalangan rakyat jelata, terutama diantara kaum muda. Saking populernya, tiap tim mempunyai tim suporter yang boleh dikatakan fanatik, yang selalu hadir pada tiap pertandingan yang melibatkan tim mereka. Karena itu, pada tiap pertandingan selalu ada resiko bentrokan fisik antar tim suporter yang bisa berakibat fatal.

Bagaimana suatu hal yang seharusnya bisa dinikmati bersama, kemudian membawa kekacauan dan bencana? Pertanyaan ini tidak hanya untuk dunia sepakbola, tetapi juga berlaku di segala bidang kehidupan di negara manapun. Bahkan sejarah menunjukkan bahwa diantara orang Kristen pun pernah ada bentrokan fisik antar pengikut aliran gereja. Bermula dengan ketidaksenangan terhadap gaya hidup, pandangan hidup, kelakuan atau penampilan yang berbeda, kebencian kepada sesama manusia memang bisa tumbuh. Adanya kebencian kepada orang lain inilah yang kemudian bisa membawa akibat lain yang lebih serius.

Alkitab mencatat bahwa karena kebencian kepada saudaranya, Kain menjadi seorang pembunuh dan menerima kutukan Tuhan. Karena kebencian juga, orang Farisi menghasut banyak orang untuk menyalibkan Yesus. Adanya perbedaan memang bisa membawa rasa kurang suka, iri hati, rasa benci dan kemarahan. Kebencian dan kemarahan yang tidak segera diatasi, akan membuat manusia kehilangan akal sehat dan kemudian melakukan dosa-dosa lain.

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Efesus 4: 26 – 27

Kebencian antar manusia bukan saja bisa terjadi dalam masyarakat umum karena hal-hal yang nampaknya sepele, tetapi sering juga terjadi dalam kehidupan keluarga. Kebencian bisa terjadi antara suami dan istri, orangtua dan anak, dan antar saudara.

Bagi banyak orang, menerima adanya perbedaan dan melupakan atau mengampuni orang yang kita anggap bersalah adalah suatu hal yang sulit. Prinsip “aku yang benar dan dia yang salah” seringkali mengisi hidup kita. Mungkin sebagian ada yang mau mengampuni, tetapi tidak bisa melupakan perbuatan orang lain. Ada juga yang berusaha melupakan, tetapi karena tidak bisa mengampuni, mereka juga sulit untuk benar-benar melupakan apa yang sudah terjadi. Selama ingatan masih ada, tentu saja kebencian masih bisa muncul.

Pagi ini, sebagai orang Kristen kita tahu bahwa Tuhan yang mahatahu tidaklah mungkin untuk lupa. Tetapi Ia sudah memilih untuk melupakan dan mau mengampuni dosa-dosa lama kita karena kita sudah menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita. Dengan demikian, kita yang ingin diampuni oleh Tuhan atas dosa-dosa yang kita perbuat setiap hari, haruslah mau untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Kita juga harus memilih untuk melupakan kekurangan orang lain dan mau menerima adanya perbedaan antar manusia, agar kita bisa menghapus rasa benci dari hati kita. Bukankah Tuhan juga memerintahkan kita untuk mengasihi sesama kita, yaitu semua orang, dan bukannya orang-orang tertentu saja?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s